Rabu, 05 Juli 2023

HAJI MABRUR, ETIKA TAUHIDIK, DAN SPIRITUALITAS KEBANGSAAN

 

Penulis:

Dr. Muhammad Rusydi, S.Pd.I., M.Pd.I.

Dosen IAIN Bone/Komunitas Gusdurian

            Perjalanan ibadah haji merupakan salah satu bentuk perjalanan spiritual yang dilakukan oleh seorang hamba Allah swt. dalam menegaskan relasi vertikal ibadah pada visi mula penciptaannya berbasis ta’abbudi. Dalam ritual haji yang sarat dengan berbagai syiar-syiar pengasahan, pendalaman, dan pencerahan spiritualitas, seorang hamba Allah swt. yang mampu untuk menangkap berbagai pesan-pesan simbolik yang imanen dalam setiap penyelenggaraan berbagai ritual haji, pada gilirannya, akan bertransformasi menjadi haji mabrur. Tidak berlebihan apabila dikatakan bahwa mereka yang berhasil memperoleh dimensi aksiologis ritual tahunan tersebut akan bermetamorfosis dimensi spiritualnya layaknya seekor ulat dalam kepompong yang awalnya terlihat biasa-biasa saja tapi ketika menjadi seekor kupu-kupu maka perhatian akan tertuju kepadanya karena kualitas elok rupa yang disandangnya. Demikian pula halnya dengan predikat haji mabrur, seorang hamba Allah swt. yang sampai pada pencapaian tersebut sebagai sebuah predikat kesuksesaan dalam menunaikan ibadah haji, akan mampu untuk menghayati berbagai pesan-pesan simboliknya berbasis ta’aqquli sehingga tidak berlebihan apabila dikatakan bahwa haji mabrur akan berimplikasi praktis pada penghayatan samudera hikmah yang berproses dari ‘ilm al-yaqin, ‘ain al-yaqin, haq al-yaqin, atau bahkan sampai pada ikmal al-yaqin. Basis ta’aqquli, dalam proses ini berproses dari belajar haji, belajar tentang haji, dan belajar “melalui” ibadah haji.

            Dalam perjalanan haji sebagaimana tergambar dalam QS. Ali Imran Ayat 97 yang terjemahnya “Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, di antaranya Maqam Ibrahim. Barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia. Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah swt., yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah swt.  Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”, tersirat napak tilas kehidupan manusia di muka bumi. Keberadaan Baitullah yang digambarkan sebagai tempat yang aman untuk dimasuki mengisyaratkan bahwa manusia dalam kehidupannya akan mendapatkan berbagai fenomena kehidupan yang sangat rentang mereduksi nilai lahut yang pada dasarnya imanen dalam fitrah penciptaannya. Ketika manusia semakin jauh dari sumbu axis penciptaanya yang fitrah maka pada saat itulah manusia semakin terjebak dalam kebutuhan-kebutuhan nasut-nya yang berdimensi profan, pragmatis, atau bahkan hedonis. Kembalinya manusia ke jalan Allah swt. yang diilustrasikan dengan masuknya manusia ke dalam Baitullah sebagai tempat yang aman merupakan jalan keselamatan bagi mereka dalam kehidupan dunia lebih-lebih dalam kehidupan akhirat.

Penyebutan Maqam Ibrahim dalam QS. Ali Imran Ayat 97 yang pemaknaan denotatifnya dipahami sebagai batu tempat Nabi Ibrahim as. berpijak saat membangun Baitullah dalam pemaknaan konotatifnya dapat dipahami sebagai upaya manusia untuk membangun semangat ber-etika tauhidik kepada Allah swt. yang pada dasarnya menjadi semangat mendasar dari Nabi Ibrahim as. ketika membangun Baitullah. Hal ini yang kemudian menjadikan sosok ayah kandung dari Nabi Ismail as. ini dikenal sebagai Bapak Tauhid dari manusia. Hal ini mengisyaratkan bagaimana kehidupan manusia di dunia yang sarat dengan berbagai godaan yang bersifat profan, pragmatis, atau bahkan hedonis harus senantiasa dinetralisir dengan nilai-nilai tauhid kepada Dzat yang Maha Pencipta yang dalam hal ini adalah Allah swt. Hanya dengan semangat tauhid tersebut, manusia bisa terlepas dari jebakan unsur-unsur nasut yang sangat rentang membawa mereka pada pengingkaran akan hakikat penciptaannya sebagai hamba Allah swt. Disini haji memberikan suatu penekanan terkait napak tilas kehidupan manusia yang harus senantiasa berada pada posisi yang dekat terhadap “Sumber Awal” yang dalam pandangan Huston Smith diilustrasikan sebagai relasi gnosis antara “The Infinite” pada dimensi teosentris yang memiliki samudera ke-Maha-an dengan “the spirit” pada dimensi antroposentris yang imanen dalam transformasi spiritualitas manusia menuju Tuhannya. Semakin manusia mendekat kepada “Sumber Awal”nya maka akan semakin terpancar potensi dasar penciptaan manusia yang luar biasa dalam menjalankan fungsi-fungsi kekhalifahan mereka sebagai khalifatullah fil ardh. Ibarat sebuah handphone yang pancaran sinyal yang diterimanya akan semakin kuat ketika handphone tersebut digunakan dekat pada antena pemancar sinyal dari penyedia seluler yang kartu datanya dipakai pada handpohone tersebut. Hal ini pula yang tergambar ketika manusia melakukan thawaf di sekitar Baitulllah yang di dekatnya ada Maqam Ibrahim sebagai jejak Bapak Tauhid, maka manusia dalam kehidupan sehari-harinya yang cenderung profan, pragmatis, atau bahkan hedonis harus senantiasa bergerak siklis dalam pusaran tauhid sehingga mereka tidak terperdaya oleh berbagai fatamorgana duniawi yang mereduksi potensi lahut yang pada dasarnya juga ada dalam diri manusia untuk menetralisir potensi nasut mereka. Kemampuan manusia untuk bertransformasi ke dalam nilai-nilai tauhid pada proses haji tersebut akan menjadikan mereka pribadi-pribadi yang ber-etika tauhidik dengan berbagai karakter akhlak mulia yang menghiasi kehidupannya pasca menunaikan ibadah haji.

Perjalanan ibadah haji dalam konteks ke-Indonesiaan yang setiap tahunnya memberangkatkan demikian banyak umat Islam tentu diharapkan mampu menjadi wadah dalam melahirkan hamba-hamba Allah swt. berpredikat haji mabrur yang dihiasi etika tauhidik yang pada gilirannya berimplikasi konstruktif dalam menciptakan spiritualitas kebangsaan di altar nusantara tercinta, Indonesia. Apabila mereka yang menunaikan ibadah haji adalah “duta-duta Indonesia” yang diberangkatkan ke tanah suci melalui Kementerian Agama RI sebagai lokomotif penyelenggaraannya maka sudah sepantasnya mereka yang memperoleh predikat haji mabrur akan menjadi “duta-duta Baitullah” dalam mengaktualisasikan etika tauhidik dalam kehidupan berbangsa dengan menjadi pribadi-pribadi yang progresif dalam mengarusutamakan kehidupan berbangsa yang lebih inklusif, moderat, dan toleran dalam beragama. Aktualisasi menjadi penting karena predikat “haji mabrur” bukan sekedar predikat “Being” yang statis melainkan ikhtiar “Becoming” yang teraktualisasikan. Mengutip pandangan Rene Descartes dalam membangun gagasan filosofisnya bahwa segala sesuatu harus terbangun dari pertanyaan bagaimana menilai kualitas sesuatu dan dari mana memulai sesuatu, maka kualitas pengarusutamaan nilai-nilai  predikat haji mabrur berupa etika tauhidik dalam kehidupan berbangsa oleh “duta-duta Baitullah” akan terasa sangat bermakna konstruktif apabila mengaktualiasikan apa yang biasa dikemukakan Aa Gym yaitu mulai dari sendiri, mulai dari hal-hal yang kecil, dan  mulai dari sekarang. Selamat Datang di Tanah Air Tamu-Tamu Allah, Duta-Duta Baitullah, Semoga Menjadi Haji Mabrur (Watampone, 06 Juli 2023)

Berlebaran Serba Baru: Idul Fitri sebagai Momentum Pembaruan Diri

Menyambut Idul Fitri kerap dimaknai sebagai perayaan kemenangan. Kemenangan yang dimaksud bukanlah sekadar keberhasilan melewati fase Ramadh...