Penulis:
Dr. Muhammad Rusydi,
S.Pd.I., M.Pd.I.
Dosen IAIN Bone/Komunitas Gusdurian
Perjalanan
ibadah haji merupakan salah satu bentuk perjalanan spiritual yang dilakukan
oleh seorang hamba Allah swt. dalam menegaskan relasi vertikal ibadah pada visi
mula penciptaannya berbasis ta’abbudi. Dalam ritual haji yang sarat
dengan berbagai syiar-syiar pengasahan, pendalaman, dan pencerahan spiritualitas,
seorang hamba Allah swt. yang mampu untuk menangkap berbagai pesan-pesan
simbolik yang imanen dalam setiap penyelenggaraan berbagai ritual haji, pada
gilirannya, akan bertransformasi menjadi haji mabrur. Tidak berlebihan apabila
dikatakan bahwa mereka yang berhasil memperoleh dimensi aksiologis ritual
tahunan tersebut akan bermetamorfosis dimensi spiritualnya layaknya seekor ulat
dalam kepompong yang awalnya terlihat biasa-biasa saja tapi ketika menjadi
seekor kupu-kupu maka perhatian akan tertuju kepadanya karena kualitas elok
rupa yang disandangnya. Demikian pula halnya dengan predikat haji mabrur, seorang
hamba Allah swt. yang sampai pada pencapaian tersebut sebagai sebuah predikat
kesuksesaan dalam menunaikan ibadah haji, akan mampu untuk menghayati berbagai pesan-pesan
simboliknya berbasis ta’aqquli sehingga tidak berlebihan apabila dikatakan
bahwa haji mabrur akan berimplikasi praktis pada penghayatan samudera hikmah
yang berproses dari ‘ilm al-yaqin, ‘ain al-yaqin, haq al-yaqin, atau
bahkan sampai pada ikmal al-yaqin. Basis ta’aqquli, dalam proses
ini berproses dari belajar haji, belajar tentang haji, dan belajar “melalui”
ibadah haji.
Dalam perjalanan haji sebagaimana tergambar dalam QS. Ali Imran Ayat 97 yang
terjemahnya “Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, di antaranya Maqam
Ibrahim. Barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia.
Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah swt., yaitu (bagi)
orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari
(kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah swt. Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari
semesta alam”, tersirat napak tilas kehidupan manusia di muka bumi.
Keberadaan Baitullah yang digambarkan sebagai tempat yang aman untuk dimasuki
mengisyaratkan bahwa manusia dalam kehidupannya akan mendapatkan berbagai
fenomena kehidupan yang sangat rentang mereduksi nilai lahut yang pada
dasarnya imanen dalam fitrah penciptaannya. Ketika manusia semakin jauh dari
sumbu axis penciptaanya yang fitrah maka pada saat itulah manusia semakin
terjebak dalam kebutuhan-kebutuhan nasut-nya yang berdimensi profan,
pragmatis, atau bahkan hedonis. Kembalinya manusia ke jalan Allah swt. yang
diilustrasikan dengan masuknya manusia ke dalam Baitullah sebagai tempat yang
aman merupakan jalan keselamatan bagi mereka dalam kehidupan dunia lebih-lebih
dalam kehidupan akhirat.
Penyebutan Maqam Ibrahim dalam QS. Ali Imran Ayat 97 yang pemaknaan denotatifnya dipahami sebagai batu tempat Nabi
Ibrahim as. berpijak saat membangun Baitullah dalam pemaknaan konotatifnya
dapat dipahami sebagai upaya manusia untuk membangun semangat ber-etika
tauhidik kepada Allah swt. yang pada dasarnya menjadi semangat mendasar dari
Nabi Ibrahim as. ketika membangun Baitullah. Hal ini yang kemudian menjadikan
sosok ayah kandung dari Nabi Ismail as. ini dikenal sebagai Bapak Tauhid dari
manusia. Hal ini mengisyaratkan bagaimana kehidupan manusia di dunia yang sarat
dengan berbagai godaan yang bersifat profan, pragmatis, atau bahkan hedonis
harus senantiasa dinetralisir dengan nilai-nilai tauhid kepada Dzat yang Maha
Pencipta yang dalam hal ini adalah Allah swt. Hanya
dengan semangat tauhid tersebut, manusia bisa terlepas dari jebakan unsur-unsur
nasut yang sangat rentang membawa mereka pada pengingkaran akan hakikat
penciptaannya sebagai hamba Allah swt. Disini haji memberikan suatu penekanan
terkait napak tilas kehidupan manusia yang harus senantiasa berada pada posisi
yang dekat terhadap “Sumber Awal” yang dalam pandangan Huston Smith diilustrasikan
sebagai relasi gnosis antara “The Infinite” pada dimensi teosentris yang
memiliki samudera ke-Maha-an dengan “the spirit” pada dimensi antroposentris yang imanen dalam transformasi spiritualitas manusia menuju
Tuhannya. Semakin manusia mendekat kepada “Sumber Awal”nya maka akan semakin
terpancar potensi dasar penciptaan manusia yang luar biasa dalam menjalankan
fungsi-fungsi kekhalifahan mereka sebagai khalifatullah fil ardh. Ibarat
sebuah handphone yang pancaran sinyal yang diterimanya akan semakin kuat ketika
handphone tersebut digunakan dekat pada antena pemancar sinyal dari penyedia
seluler yang kartu datanya dipakai pada handpohone tersebut. Hal ini pula yang
tergambar ketika manusia melakukan thawaf di sekitar Baitulllah yang di
dekatnya ada Maqam Ibrahim sebagai jejak Bapak Tauhid, maka manusia dalam
kehidupan sehari-harinya yang cenderung profan, pragmatis, atau bahkan hedonis
harus senantiasa bergerak siklis dalam pusaran tauhid sehingga mereka tidak
terperdaya oleh berbagai fatamorgana duniawi yang mereduksi potensi lahut yang
pada dasarnya juga ada dalam diri manusia untuk menetralisir potensi nasut
mereka. Kemampuan manusia untuk bertransformasi ke dalam nilai-nilai tauhid
pada proses haji tersebut akan menjadikan mereka pribadi-pribadi yang ber-etika
tauhidik dengan berbagai karakter akhlak mulia yang menghiasi kehidupannya
pasca menunaikan ibadah haji.
Perjalanan ibadah haji dalam konteks ke-Indonesiaan yang
setiap tahunnya memberangkatkan demikian banyak umat Islam tentu diharapkan
mampu menjadi wadah dalam melahirkan hamba-hamba Allah swt. berpredikat haji
mabrur yang dihiasi etika tauhidik yang pada gilirannya berimplikasi
konstruktif dalam menciptakan spiritualitas kebangsaan di altar nusantara
tercinta, Indonesia. Apabila mereka yang menunaikan ibadah haji adalah “duta-duta
Indonesia” yang diberangkatkan ke tanah suci melalui Kementerian Agama RI
sebagai lokomotif penyelenggaraannya maka sudah sepantasnya mereka yang
memperoleh predikat haji mabrur akan menjadi “duta-duta Baitullah” dalam
mengaktualisasikan etika tauhidik dalam kehidupan berbangsa dengan menjadi
pribadi-pribadi yang progresif dalam mengarusutamakan kehidupan berbangsa yang
lebih inklusif, moderat, dan toleran dalam beragama. Aktualisasi menjadi
penting karena predikat “haji mabrur” bukan sekedar predikat “Being”
yang statis melainkan ikhtiar “Becoming” yang teraktualisasikan. Mengutip
pandangan Rene Descartes dalam membangun gagasan filosofisnya bahwa segala
sesuatu harus terbangun dari pertanyaan bagaimana menilai kualitas sesuatu dan
dari mana memulai sesuatu, maka kualitas pengarusutamaan nilai-nilai predikat haji mabrur berupa etika tauhidik
dalam kehidupan berbangsa oleh “duta-duta Baitullah” akan terasa sangat
bermakna konstruktif apabila mengaktualiasikan apa yang biasa dikemukakan Aa
Gym yaitu mulai dari sendiri, mulai dari hal-hal yang kecil, dan mulai dari sekarang. Selamat Datang di Tanah
Air Tamu-Tamu Allah, Duta-Duta Baitullah, Semoga Menjadi Haji Mabrur (Watampone,
06 Juli 2023)