Memahami puasa sekedar menahan
diri dari makan hanya akan mereduksi fungsi puasa sebagai wadah untuk
mendengarkan. Puasa mengajak manusia beralih sejenak dari hiruk piruk inderawi
menuju ruang batin yang luas seumpama semesta. Dalam keadaan terperdaya dengan
kenyang, daya dengar manusia melemah karena keinginan ego begitu kuat ibarat
gema yang saling bersahutan. Sebaliknya, ketika lapar hadir dalam keberkahan
puasa, gema itu mulai mereda sehingga yang tersisa adalah kesunyian, bukan
ketiadaan, melainkan kepenuhan yang belum berlabel nama. Kesunyian puasa menyerupai samudra
sebelum ombak lahir. Di situ manusia merasakan bahwa dirinya tidak berdiri
sebagai pusat semesta melainkan sebagai getaran kecil dalam irama kosmik. Lapar
mengikis ilusi kedaulatan diri lalu menghapus klaim kepemilikan. Tubuh yang
melemah justru membuka mata batin bahwa ternyata kehidupan tidak digerakkan
oleh apa yang kita genggam tetapi oleh apa yang terus mengalir tanpa kita
kuasai. Diam adalah
bahasa hakikat terdalam dan tidak cukup dinarasikan dengan kata-kata. Kata-kata
lahir dari jarak sementara hakikat lahir dari kedekatan. Puasa memperpendek
jarak itu. Saat perut tidak lagi memerintah, hati mulai mendengar sesuatu yang
tak pernah diucapkan yaitu panggilan asal. Kehadirannya bukan suara yang
terdengar oleh telinga tetapi kejelasan yang tiba-tiba memenuhi kesadaran seperti
cahaya fajar yang tidak berbunyi namun mengubah seluruh warna langit. Kesunyian kosmik ini menyingkap bahwa
diri manusia bukan entitas tertutup. Setiap napas adalah titipan, setiap detak
adalah gema dari kehendak yang lebih luas. Karena itu orang yang berpuasa
sering merasakan kelembutan tanpa sebab. Mudah memaafkan, ringan memberi, dan
enggan melukai. Bukan karena ia berusaha menjadi baik, tetapi karena ia tidak
lagi merasa terpisah. Di
penghujung hari, saat seteguk air membasuh dahaga setelah seharian berpuasa, rasa
syukur muncul bukan hanya karena dahaga berakhir. Ada pengenalan spiritualitas
bahwa yang memberi minum bukan semata air melainkan realitas yang sejak awal
menopang keberadaan. Puasa pun menjadi titik balik perjalanan pulang dari
kebisingan ego menuju keheningan asal, tempat suara yang tak terucap selalu
memanggil, dan akhirnya terdengar.
Jumat, 20 Februari 2026
Puasa dan Kesunyian Kosmik: Menemukan Suara yang Tak Terucap
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Berlebaran Serba Baru: Idul Fitri sebagai Momentum Pembaruan Diri
Menyambut Idul Fitri kerap dimaknai sebagai perayaan kemenangan. Kemenangan yang dimaksud bukanlah sekadar keberhasilan melewati fase Ramadh...
-
Ketika seseorang menahan lapar saat berpuasa dalam altar Ramadhan, hakikatnya, dia sedang menjalani transformasi spiritualitas dari “aku” me...
-
Memahami puasa sekedar menahan diri dari makan hanya akan mereduksi fungsi puasa sebagai wadah untuk mendengarkan. Puasa mengajak manusia be...
-
Dalam ritme kehidupan yang dipenuhi hiruk-pikuk dan tuntutan duniawi, hadirnya bulan Ramadhan seperti semesta yang merendah. Menjelma dalam ...
Keren Kiyai
BalasHapusMasih proses belajar Cappo
BalasHapus