Kamis, 01 Desember 2022

AS’ADIYAH: DULU, KINI, DAN NANTI: TRANSFORMASI NILAI WASATHIYAH AS’ADIYAH MENUJU INDONESIA TANGGUH DAN BERMARTABAT

 

Dr. Muhammad Rusydi, S.Pd.I., M.Pd.I.

Alumni MAK As’adiyah Tahun 2000/Dosen IAIN Bone

 

   Muktamar As’adiyah XV kali ini memiliki makna tersendiri bagi seluruh warga As’adiyah ketika pemilihan Kota Santri Sengkang menjadi pilihan tempat pelaksanaannya. Bagaimana tidak, momen muktamar kali ini bisa jadi menjadi suatu momen bernostalgia tersendiri bagi banyak alumni yang boleh jadi setelah menyelesaikan pendidikanjnya pada berbagai jenjang pendidikan di lingkungan As’adiyah tidak pernah lagi kembali berkunjung ke Kota Santri Sengkang ataupun kalau pernah maka hal tersebut hanya terjadi dengan intensitas yang jarang karena jauhnya tempat berkarir atau karena terpasung rutinitas kerja yang susah untuk mengatur jadwal berkunjung ke Kota Santri Sengkang. Momen Muktamar As’adiyah XV adalah momen untuk menembus sekat-sekat rutinitas tersebut atas nama rindu untuk bernostalgia dengan semua anregurutta’ ataupun gurutta’ serta sesama alumni yang boleh jadi berbilang puluhan tahun tiada pernah bersua. Tidak salah kalau momen muktamar kali ini dikatakan sebagai ajang “mappalisu sumange” serta menjadi momen penguatan komitmen dalam ber-As’adiyah.

Tema Muktamar As’adiyah XV kali ini yaitu “Transformasi Nilai Wasathiyah As’adiyah menuju Indonesia Tangguh dan Bermartabat” sangat tepat seiring dengan upaya pemerintah Republik Indonesia dalam mengarusutamakan moderasi beragama, sebagai nama lain dari wasathiyah, seperti yang termaktub dalam Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2020 tentang RPJMN 2020-2024 yang berisi program prioritas memperkuat moderasi beragama yang bertujuan untuk mengukuhkan toleransi, kerukunan dan harmoni sosial, menjadi tanggung jawab Kementerian Agama. Ibarat semangat yang bersambut karena kesamaan visi dalam mewujudkan kehidupan berbangsa, bernegara dan beragama yang damai dalam ikatan Bhinneka Tunggal Ika maka Kementerian Agama merespon dalam Peraturan Menteri Agama Nomor 18 Tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian Agama 2020-2024 yang berisi pedoman bagaimana menjadikan Kementerian Agama sebagai lembaga yang professional dan andal dalam membangun masyarakat yang shaleh, moderat, cerdas, dan unggul untuk mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian berdasarkan gotong royong. Semangat moderasi beragama yang imanen dalam tema Muktamar As’adiyah XV kali ini yang kemudian penulis jadikan sebagai anak judul dalam tulisan ini merupakan penjabaran praktis dari dua kerangka yuridis normatif tersebut di samping keberadaan As’adiyah sebagai lembaga pendidikan Islam yang dalam paradigma keilmuannya, dulu, kini, dan nanti, tidak bisa dipisahkan dari nilai wasathiyah tersebut.

Pondok Pesantren yang pada awal berdirinya bernama Madrasah Arabiyah Islamiyah yang disingkat MAI ini memiliki komitmen yang kuat dalam menghadirkan paradigma keberagamaan yang diwarnai dengan nilai-nilai moderasi beragama. Hal ini telah tergambar dari apa yang dilakukan oleh para pendirinya terutama Anregurutta’ Pung Aji Sade’ beserta dengan beberapa murid beliau yang telah menghadirkan sistem pendidikan Islam berbasis pesantren yang terus bertransformasi dari waktu ke waktu dalam tata kelola kelembagaannya seperti sistem pendidikan yang pada awalnya hanya mewujud dalam bentuk sistem pengajian halaqah yang berlangsung di kediaman beliau lalu pada akhirnya bergeser ke Mesjid Jami Sengkang pada akhirnya mengadopsi sistem pendidikan klasikal dengan berbagai tingkatan pendidikan formal merupakan salah satu fakta historis bagaimana lembaga pendidikan Islam yang beliau rintis tidak bersikap ekslusif tapi sangat inklusif dalam mengadopsi berbagai tuntutan administrasi penyelenggaraan pendidikan yang berada pada wilayah otoritas negara dan kebijakan ini merupakan salah satu pengejewantahan dari salah satu indikator moderasi beragama yaitu komitmen kebangsaan. Dengan tetap mempertahankan sistem pengajian halaqah yang biasa juga dikenal dengan “mangaji tudang” sebagai suatu tradisi yang telah eksis mendahului pendidikan formal dalam lokus historisnya, As’adiyah pada masa-masa awal telah menasbihkan diri sebagai lembaga pendidikan Islam yang teguh pada kaidah “al-muhafazah ‘ala al-qadim al-shalih, wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah” Seperti dalam metafora permainan bola, As’adiyah dengan konsep wasathiyah-nya harus mampu menjadi gelandang bertahan pada suatu waktu dalam menjaga otentitas keilmuan berbasis tradisi sementara pada sisi yang lain harus mampu menjadi gelandang serang dalam mengakselerasi progresivitas keilmuan berbasis inovasi dan kreativitas. Masih dengan metafora permainan bola, As’adiyah dengan konsep wasathiyah-nya meniscayakan lembaga pendidikan Islam rintisan Anregurutta’ Pung Aji Sade’ ini harus mampu menjadi wasit, suatu konstruk morfologis dari kata “wasathiyah”, sebagai pihak yang berdiri pada posisi tengah dari dua kutub yang secara konseptual-paradigmatik berseberangan dan perlu diasimilasikan ataupun diakulturasikan seperti antara yang tradisionalis dan yang modernis, antara yang skriptual-tekstualis dan yang empiris-kontekstualis, antara yang konservatif dan yang progresif.

Perhelatan Muktamar As’adiyah XV kali ini menjadi suatu momen dalam menguji para warga As’adiyah dalam komitmen wasathiyah-nya. Prinsip wasathiyah yang terbangun atas relasi triadik dari 1) pengakuan atas keragaman dan perbedaan, 2) penghargaan atas keragaman dan perbedaan, serta 3) bekerja sama dalam keragaman dan perbedaan akan menjadi barometer ujian tersebut karena proses muktamar nantinya tentu tidak akan rigid mewujud dalam keragaman dan perbedaan pandangan para muktamirin dalam beberapa hal. Merujuk pada teori Quantum Learning ala Bobbi De Porter dan Mike Hernacki, area muktamar dengan proses dialektikanya yang sangat dinamis dapat diilustrasikan seperti sebuah orkes simfoni yang justru karena adanya keragaman dan perbedaan berbagai instrumen musiknya yang kemudian menghasilkan alunan nada yang indah. Penulis yakin dengan haqqul yaqin harapan dalam menjadikan muktamar kali ini sebagai transformasi nilai wasathiyah As’adiyah menuju Indonesia tangguh dan bermartabat hanya akan dapat terwujud apabila komitmen wasathiyah dari seluruh warga As’adiyah yang menjadi muktamirin kali ini mampu mentransformasikan prinsip wasathiyah tersebut dari tataran das sollen ke das sein. Area muktamar yang dihadiri oleh warga As’adiyah lintas generasi dari Anregurutta’, Gurutta’, Tomatowatta’, Lettitta’, sampai ke Anritta’ kali ini tentu akan menjadi wadah dalam menampung proses dialektika yang cukup dinamis dari para muktamirin lintas generasi tersebut sebagai bukti kecintaan dan semangat dalam memajukan As’adiyah sebagai lokomotif pendidikan Islam tertua dan terkemuka di Sulawesi Selatan. Kolektivitas para muktamirin dalam memposisikan diri sebagai gelandang bertahan (menjaga tradisi berbasis otentitas) sekaligus gelandang serang (memodifikasi tradisi berbasis inovasi dan kreativitas) sangat diperlukan sehingga bisa menjadi penghubung proses dialektika lintas generasi tersebut dan semua itu hanya akan terwujud dalam spektrum ber-wasathiyah. Perhelatan Muktamar As’adiyah XV dengan kehadiran para muktamirin lintas generasi tersebut merupakan miniatur As’adiyah dulu, kini, dan nanti. Semoga dari muktamar ini akan hadir keputusan-keputusan konstruktif dalam penguatan transformasi nilai wasathiyah As’adiyah menuju Indonesia tangguh dan bermartabat. Selamat atas Muktamar As’adiyah XV, As’adiyahku, As’adiyahta’, As’adiyah kita semua !

Jumat, 27 Mei 2022

Nalar Konotatif “Kampus Hadis”: Dari Kelembagaan Sampai Keilmuan

 Oleh: Dr. Muhammad Rusydi, S.Pd.I., M.Pd.I.

        Tagline “Kampus Hadis” menjadi salah satu pijakan aksiomatik dari pengembangan berbagai kebijakan kelembagaan lingkup IAIN Bone dalam implementasi tri dharma perguruan tinggi yang terdiri atas pendidikan dan pengajaran, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat pada perguruan tinggi keagamaaan Islam negeri di pesisir timur Sulawesi Selatan ini. Sebagai sebuah akronim dari kampus yang humanis, adaptif, dedikatif, inovatif, dan selebritif, tagline tersebut memiliki nalar epistemologi yang kuat sebagai sebuah entitas yang terjalin sistemik-konstruktif dengan beberapa tagline pengembangan kelembagaan lingkup kampus kebanggaan masyarakat Kabupaten Bone ini seperti “Kampus Unggul dan Humanis”, “Kampus Ber-K4 (Berkualitas, Berkesesuaian, Berkarakter, serta Berkelanjutan)”, dan beberapa tagline yang mendahuluinya dengan akar filosofis yang kuat, baik pada wilayah normativitas ataupun historitasnya. Merujuk pada semiotika Roland Barthes yang merupakan kelanjutan dari apa yang telah dilakukan Ferdinand de Saussure bahwa relasi konstruktif antara signifier dan signified, antara penanda dan petanda, terlihat bahwa “Kampus Hadis” dengan nalar epistemologi yang bersifat konstruktif-transformatif disamping bisa dinalar dalam makna denotatifnya sebagai akronim dari humanis, adaptif, dedikatif, inovatif, dan selebritif, juga bisa dinalar dengan memahaminya sebagai makna konotatif dari berbagai deiksis kata “hadis” itu sendiri yang dalam hal ini di antaranya adalah:

1.  Makna konotatif dari kata “hadis” identik dengan posisi sumber otoritas kedua setelah al-Qur’an yang menjadi magnum opus dalam tradisi keilmuan Islam yang dalam hal ini adalah segala perkataan, perbuatan, ataupun taqrir Rasulullah saw. Relasi triadik yang menghubungkan antara perkataan, perbuatan, serta taqrir Rasulullah saw. dalam makna konotatif kata “hadis” mengisyaratkan bahwa “Kampus Hadis” selalu menekankan konsistensi antara perkataan dan perbuatan, konsistensi antara aturan dengan penerapan, meskipun taqrir dalam proses pemaknaan konotatif tersebut bisa mengisyaratkan bahwa penjabaran dari dimensi perkataan ke dimensi perbuatan, dari dimensi aturan ke dimensi penerapan, selalu menyisakan ruang dialektis antara antara normativitas yang ideal-ahistoris dan historitas yang empiris-historis. Lahirnya kebijakan-kebijakan pengembangan kelembagaan yang inovatif, kolaboratif, serta inklusif dalam bingkai ke-Islaman dan ke-Indonesiaan sebagaimana termaktub dalam rancang bangun visi kelembagan IAIN Bone 2022-2026 menjadi suatu hal yang perlu selama tidak melanggar esensi ataupun substansi berbagai aturan tata kelola kelembagaan yang ada.

2.  Makna konotatif dari kata “hadis” adalah adanya tawaran-tawaran kebaruan, sesuai dengan salah satu makna denotatif dari kata “hadis” adalah baru, pada setiap periode kepemimpinan yang ada sebagai sebuah siklus transformasi kelembagaan IAIN Bone yang dalam relung sanubari terdalam semua civitas akademika ada harapan bisa naik level dari institut ke universitas. Berbagai upaya konstruktif yang telah dilakukan oleh siklus kepemimpinan sebelumnya dalam merintis jalan menuju transformasi kelembagaan tersebut tentu menjadi kontribusi yang sangat berharga dalam meramu tawaran-tawaran kebaruan dalam tagline “Kampus Hadis”. Meminjam kaidah Ushul Fiqhi “al-Muhafazah ala al-Qadim al-Shalih wa al-Akhdzu ala al-Jadid al-Ashlah”, relasi sintesis antara paradigma keilmuan yang imanen pada tagline-tagline kelembagaan sebelumnya dengan tagline “Kampus Hadis” akan melahirkan kekuatan yang bersifat konstruktif-transformatif sebagai sebuah weltanschauung dalam setiap siklus kepemimpinan dan kelembagaan sebagaimana tiga fase yang digambarkan George Wilhelm Friedrich Hegel dalam pemikiran filsafatnya yaitu tesis, antitesis, serta sinteis. Dalam jejak historisnya, IAIN Bone telah memberikan suatu kerangka pengembangan paradigma keilmuan yang memberikan tawaran-tawaran kebaruan tapi tetap menjadikan tagline sebelumnya sebagai salah satu pijakan pengembangannya. Terbentuknya tagline “Kampus Unggul dan Humanis” tidak bisa terlepas dari Tagline sebelumnya yaitu “Kampus Ber-K4 (Berkualitas, Berkesesuaian, Berkarakter, serta Berkelanjutan)” sehingga makna yang imanen dalam kata “unggul” merujuk pada konsep ber-K4 tersebut. Hal yang sama juga terlihat dalam tagline “Kampus Hadis” yang mendudukkan kata “humanis” sebagai makna yang imanen pada huruf awal dari kata “hadis” yang tentu memiliki sintesis ontologis, epistemologis, ataupun aksiologis dengan makna yang imanen dari kata “humanis” dari tagline “Kampus Unggul dan Humanis” yaitu “Sipakatau, Sipakalebbi, Sipakainge”. Semangat dalam menawarkan kebaruan dalam setiap tagline pengembangan kelembagaan yang mewarnai transformasi kepemimpinan lingkup IAIN Bone yang memiliki ikatan filosofis dengan berbagai tagline sebelumnya tersebut merupakan pengejewantahan dari sikap yang inovatif, kolaboratif, dan inklusif yang bisa secara ekplisit terlihat sebagai relasi triadik pada visi kelembagaan IAIN Bone 2022-2026. Penulis teringat dengan pembaharuan ala Jepang yang tetap kokoh dalam mengakomodir tradisi yang telah ada dan ternyata mampu mengantarkan Jepang sebagai bangsa yang disegani dengan suar peradabannya sementara pembaharuan ala Turki di bawah kepemimpinan Mustafa Kemal Ataturk dengan semangat westernisme, sekularisme, dan nasionalisme yang justru membawa Turki pada kegamangan peradabannya.

3. Makna konotatif dari kata “hadis” adalah modernisasi ilmu pengetahuan berbasis integrasi keilmuan yang interkonektif. Tagline “Kampus Hadis” meniscayakan IAIN Bone harus terus mengembangkan corak keilmuan yang dikembangkan di dalamnya yang bukan hanya berkutat pada ilmu-ilmu agama tapi juga ilmu-ilmu umum dengan menekankan integrasi keilmuan yang interkonektif. Kesuksesan saintis Muslim asal Pakistan, Abdus Salam, yang bekerjasama dengan saintis Barat non-Muslim, Steven Winberg dan Sidney Glashow, yang pada gilirannya meraih penghargaan Nobel Fisika pada 1979 membuktikan bahwa integrasi keilmuan yang interkonektif yang dikembangkan dalam semangat inovatif, kolaboratif, dan inklusif selalu memberikan modernisasi ilmu pengetahuan demi kemaslahatan manusia dalam jejak peradabannya. Ketika makna konotatif dari kata “hadis” dikaitkan dengan modernisme sebagai suatu aliran dalam filsafat kemanusiaan,  modernisasi ilmu pengetahuan berbasis integrasi keilmuan yang interkonektif tidak cukup hanya mendudukkan IAIN Bone sebagai lembaga pendidikan tinggi yang mampu menciptakan luaran yang memiliki kemampuan berpikir dan bernalar sebagai corak aliran modernisme tapi jauh lebih dari itu modernisasi ilmu pengetahuan berbasis integrasi keilmuan yang interkonektif dalam tagline “Kampus Hadis” membawa semangat post-modernisme sebagai sintesis aras filosofis dari modernisme sehingga kemampuan berpikir harus dibarengi dengan progresivitas berpikir sementara kemampuan bernalar harus dibarengi dengan emosi konstruktif sebagai ciri luaran IAIN Bone ke depannya yang disebut dengan generasi “mattolapalallo” dalam Nawacita IAIN Bone 2022-2026.

 Tulisan ini hanya sebagai nalar pembacaan penulis yang masih sangat terbatas terhadap tagline “Kampus Hadis” itu sendiri. Semangat yang mendasari penulis dalam menulis artikel lepas ini adalah rasa kecintaan pada lembaga tempat penulis mengabdi kurang lebih 10 tahun ini. Mengutip kata Jalaluddin Rumi “ketika otakmu tidak mampu lagi bernalar, maka biarkan cintamu menulis ceritanya”. Semoga Allah swt. membalas kebaikan para pemimpin-pemimpin kami sebelumnya yang telah berjasa dalam membangun kampus ini dan semoga Allah swt. senantiasa memberikan keberkahan bagi pemimpin kami sekarang ini dalam membawa IAIN Bone yang inovatif, kolaboratif, dan inklusif dalam bingkai ke-Islaman dan ke-Indonesiaan sebagaimana termaktub dalam rancang bangun visi kelembagan IAIN Bone 2022-2026. Jayalah selalu kampusku. IAIN Boneku, IAIN Boneta, IAIN Bone kita semua.

Minggu, 01 Mei 2022

Spiritualitas Idul Fitri: Dari Antroposentrisme ke Teosentrisme

 Dr. Muhammad Rusydi, S.Pd.I., M.Pd.I. dan Muh. Yakub, S.Pd.I.

Hari ini, Senin, 02 Mei 2022, gema takbir, tahlil, tasbih, dan tahmid memenuhi angkasa raya, sahut bersahut menembus rasa, dayu mendayu mengguncang sukma sebagai sebuah deklarasi kemenangan manusia yang telah sukses meraih sebuah transformasi spiritual dalam spektrum idul fitri. Pertanyaan menarik yang kemudian menarik untuk diajukan adalah seberapa penting pencapaian ini harus diklaim sebagai sebuah kemenangan? Bukankah idul fitri tidak lebih dari sebuah proses kembalinya manusia pada titik kulminasi penciptaannya yang fitrah setelah setahun lamanya mereka terpasung oleh berbagai ego destruktif duniawi yang profan, hedonis, dan pragmatis? Dengan menjadikan fitrah, sebuah realitas spiritualitas yang terbebas dari pasungan ego destruktif duniawi yang profan, hedonis, dan pragmatis tersebut, sebagai maqam pencapaiannya, deklarasi kemenangan manusia di hari raya idul fitri ini adalah sebuah gerak siklis kehidupan yang akan terus berputar dimana manusia akan terus berproses dalam lokus gerak siklis tersebut setiap tahunnya layaknya perputaran kosmos siang dan malam, pagi dan petang, dan sebagainya. Tidak berlebihan apabila dikatakan bahwa idul fitri bukan pencapaian yang bersifat progresif dan eksploratif tapi sekedar pencapaian yang bersifat statis karena maqam fitrah tersebut sebenarnya sudah imanen dengan penciptaan manusia yaitu ketika mereka dilahirkan “kullu mauluidin yuladu ala al-fitrah”. Dalam usia kita sekarang ini, 20 tahun, 30 tahun, 40 tahun, dan seterusnya, predikat “idul fitri” tersebut sedikit menggugah nalar kritis kita untuk mempertanyakan ulang apa makna progresif dan eksploratif dari kehidupan yang selama ini kita jalani kurang lebih 20 tahun, 30 tahun, 40 tahun, dan seterusnya ketika pada hari ini kita kembali pada fitrah penciptaan layaknya ketika ketika pertama kali dilahirkan.

Melalui tulisan singkat ini, penulis ingin mencoba menghadirkan sebuah sudut pandang alternatif dalam memahami spiritualitas idul fitri dari antroposentrisme ke teosentrisme. Fitrah manusia ibarat sebuah cermin ego yang pada dasarnya selalu aktif dalam merefleksikan berbagai obyek visual di depannya yang dalam term al-Ghazali digambarkan sebagai hati yang perlu untuk terus disucikan. Hati yang suci seperti cermin yang bersih yang pada gilirannya akan selalu merefleksikan semua obyek visual dengan terang sehingga hati yang tercerahkan dalam spektrum idul fitri akan memiliki sikap yang positif, optimistis, konstruktif, dan transformatif dalam kehidupan manusia yang profan, hedonis, dan pragmatis. Dengan kata lain, hati yang tercerahkan selalu berpikir positif dan konstruktif sementara hati yang belum tercerahkan cenderung terjebak dalam pikiran-pikiran negatif dan destruktif sehingga bertabir dengan maqam fitrah yang seharusnya imanen dalam deklarasi kemenangan di hari raya idul fitri pada hari ini. Maqam fitrah tersebut, pada dasarnya, identik dengan dimensi teosentrisme dalam spiritualitas idul fitri. Sebuah kondisi dimana manusia selalu teringat dengan komitmen primordialnya untuk hanya berharap pada “sentris” segala yang ada yang dalam hal ini adalah Allah swt. Ibarat perputaran kosmik, manusia dan kehidupannya akan selalu bergerak siklis dalam berbagai dimensi kehidupannya seperti planet-planet dalam sistem tata surya yang terus berotasi pada garis orbitnya dalam lokus ta’abbudi sebagaimana tergambar dalam munajat Maulana Abd. Khaliq al-Ghudjuwani yang artinya“Ya Allah hanya Engkaulah yang hamba maksud, ridha-Mu yang hamba dambakan, berikanlah hamba kemampuan untuk dapat mencinta-Mu dan bermakrifat kepada-Mu” atau lebih spesifik lagi apa yang tergambar dalam al-Qur’an sebagai magnum opus ajaran Islam tepatnya pada QS. al-An’am/06:162 yang terjemahnya “Sesungguhnya sembahyangku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam

Dalam perkembangannya, dimensi antroposentrisme rentang menjauhkan manusia dari fitrah penciptaannya yang suci. Dimensi antroposentrisme tersebut membuat manusia merasakan superioritas dengan sikap yang ber-egosentries atas makhluk yang lainnya. Disinilah awal mula bergesernya manusia dari titik kulminasi fitrahnya sebagaimana digambarkan Sayyed Hossein Nasr bahwa kesalahan manusia biasa disebabkan kesalahan dalam mengkonsepsikan dirinya. Deklarasi kemenangan atas berbagai pasungan ego destruktif duniawi yang profan, hedonis, dan pragmatis jangan sampai justru kontra produktif membawa kita pada sebuah klaim yang sangat deklaratif, prediktif, bahkan spekulatif. Spiritualitas idul fitri masih terjebak pada berbagai dimensi antroposentrisme dan jauh dari dimensi teosentrisme. Spiritualitas idul fitri sangat identik dengan kekuatan ruh yang menjadi transmisi kearifan manusia dalam memahami berbagai fenomena kehidupan manusia yang profan, hedonis, dan pragmatis. Kekuatan dari ruh ini telah diisyaratkan oleh Huston Smith dalam karyanya “The Forgotten Truth” menggambarkan relasi kosmos tersebut dimana mikrokosmos dibahasakan sebagai level diri sementara makrokosmos dibahasakan sebagai level realitas. Tubuh (body) pada level diri bersenyawa dengan alam benda (terrestrial) pada level realitas, pikiran (mind) pada level diri bersenyawa dengan alam cakrawala (intermediate) pada level realitas, jiwa (soul) pada level diri berseyawa dengan alam langit (celestial) pada level realitas, sedangkan ruh (spirit) pada level diri bersenyawa dengan yang alam tak terhingga (infinite) pada level realitas. Persenyawaan kosmik pada level terakhir dalam memahami transformasi sipitualitas idul fitri dari antroposentrisme ke teosentrisme diisyaratkan seperti pada firman Allah swt. QS. al-Kahfi/18:65 yang terjemahnya “Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba kami, yang telah kami berikan kepadanya rahmat dari sisi kami, dan yang telah kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami”. Ketika spiritualitas berangkat dari kata “spirit” yang bermakna ruh maka seorang hamba Allah swt. yang tercerahkan dengan keberkahan “idul fitri” pada hari ini akan mampu melewati proses transformasi spiritual dari dimensi antroposentrisme ke dimensi teosentrisme sehingga ruh tersebut akan bermetamorfosis menjadi ruh(ani) yang menjadikan nur(ani) sebagai orbit ego bervisi progresif dan eksploratif.

Keluarga Besar Program Studi Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah IAIN Bone Mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1443 H. Taqabbalallahu Minna wa Minkum wa Taqabbal ya Karim.

 

Berlebaran Serba Baru: Idul Fitri sebagai Momentum Pembaruan Diri

Menyambut Idul Fitri kerap dimaknai sebagai perayaan kemenangan. Kemenangan yang dimaksud bukanlah sekadar keberhasilan melewati fase Ramadh...