Sabtu, 25 September 2021

PIJAR-PIJAR FILSAFAT BAHASA ARAB

Muhammad Rusydi dan Kurniawan
 

Seorang anak Aristoteles yang bernama Nicomachus mengedit karyanya dalam lokus teleologisnya. Hasilnya menyatakan bahwa semua obyek akan bergerak sesuai dengan daya dorong yang imanen dalam hakikat penciptaannya. Ibarat api yang melangit maka nyalanya selalu berdiri tegak menyapa langit sementara air yang membumi maka alirannya selalu memilih mengalir rendah ke sela-sela bumi. Demikian manusia ketika belajar bahasa sebagai suatu obyek ilmu yang sangat dipengaruhi oleh semangat mereka yang mempelajarinya. Angin yang bisa menggoyang tegaknya nyala api menjadi simbol tantangan sementara tanah yang legowo menyerap air menjadi simbol keikhlasan dalam lokus belajar.  Etika nikomachea ala Aristoles bisa menjadi pijakan filosofis dari belajar bahasa Arab sebagai alat komunikasi. Bahasa Arab dapat dipahami dalam empat sebab wujudnya yaitu sebab material, sebab formal, sebab efisien sampai bermuara pada sebab final. Dalam sebab material, bahasa Arab dipelajari sebagai sekumpulan unsur-unsur bahasa seperti mufradat, tata bahasa, sampai pada pelafalannya ataupun seperangkat keterampilan berbahasa seperti mendengar, berbicara, membaca, sampai menulis. Dalam sebab formal, bahasa Arab dipelajari sebagai sebuah proses pedagogis-sistemik yang berlangsung interaktif antara pendidik dengan peserta didik demi pembentukan dimensi kognitif, psikomotorik, dan afektif mereka seperti dalam taksonomi Benjamin S. Bloom. Dalam sebab efisien, pembelajaran bahasa Arab dilihat sebagai pihak-pihak yang harus aktif dalam merespon setiap stimulus menuju perubahan dari yang tidak tahu menjadi tahu dan aktor tersebut tidak lain adalah peserta didik sementara pendidik sebatas fasilitator. Adapun dalam sebab final, dimana bahasa Arab harus dilihat dalam kerangka aksiologisnya mengarahkan peserta didik pada sisi fitrah penciptaannya, maka kemampuan proses pembelajaran bahasa Arab untuk semakin mendekatkan diri pada Dzat yang Maha Tahu merupakan barometer sukses atau tidaknya proses pembelajaran yang dijalankan. Etika nikomachea ala Aristoteles tersebut telah mengajarkan kita bahwa setiap gerak siklis dalam pusaran kosmik akan kembali titik energinya pada pusaran yang paling awal dan menjadi motor penggerak pada kemunculan energi berikutnya. Temukan semangat belajar dengan berpasrah pada Dzat yang Maha Tahu beraltar ikhtiar karena semua akan mengarah pada-Nya sebagai “Titik Spot” pusaran kosmos (QS. al-An’am/06:162). Semoga Allah selalu merahmati ikhtiar kita untuk terus mempelajari bahasa Arab.

Pantha Rei ala Haraklitos

 

Ketika Haraklitos dalam tradisi filsafat Yunani mengemukakan konsep “Panta Rhei” yang berarti “semua yang ada dalam konstruk kosmos itu mengalir dan tidak ada yang abadi selain perubahan” maka bisa dipahami bahwa belajar tidak pernah mengenal kata berhenti sesuai dengan isyarat teologis normatifnya bahwa menuntut ilmu harus dari buaian sampai ke liang lahat. Konsep “Panta Rei” sarat dengan ajakan untuk terus berproses menuju perubahan yang terus bergerak sistemik dalam ruang-ruang hidup kita. Mereka yang terus berubah itulah yang bisa dikatakan abadi, paling tidak, dari kesan orang-orang yang ditinggalkan nantinya. Apakah kita anggap layak kalau nama kita hanya sebatas tertulis di batu nisan sekedar penanda bahwa kita ada di bawahnya? Ataukah nama kita lebih layak lagi kalau juga tertulis dalam karya-karya keilmuan kita, seperti pada sampul-sampul buku yang kita tulis, yang dinikmati oleh mereka yang hidup beberapa generasi setelah kita tiada? Konsep “Panta Rhei” mengisyaratkan bahwa mereka yang tanpa karya akan berhenti saat ajalnya telah tiba sementara mereka yang berbekal karya akan terus hidup melintasi masa. Semuanya kembali pada kita dimana perwujudannya  ditentukan oleh relasi sintesis i’tikad dan ikhtiar kita untuk menggelorakan semangat mencari ilmu dari dulu, sekarang, dan sampai saatnya nanti

Berlebaran Serba Baru: Idul Fitri sebagai Momentum Pembaruan Diri

Menyambut Idul Fitri kerap dimaknai sebagai perayaan kemenangan. Kemenangan yang dimaksud bukanlah sekadar keberhasilan melewati fase Ramadh...