Sabtu, 25 September 2021

Pantha Rei ala Haraklitos

 

Ketika Haraklitos dalam tradisi filsafat Yunani mengemukakan konsep “Panta Rhei” yang berarti “semua yang ada dalam konstruk kosmos itu mengalir dan tidak ada yang abadi selain perubahan” maka bisa dipahami bahwa belajar tidak pernah mengenal kata berhenti sesuai dengan isyarat teologis normatifnya bahwa menuntut ilmu harus dari buaian sampai ke liang lahat. Konsep “Panta Rei” sarat dengan ajakan untuk terus berproses menuju perubahan yang terus bergerak sistemik dalam ruang-ruang hidup kita. Mereka yang terus berubah itulah yang bisa dikatakan abadi, paling tidak, dari kesan orang-orang yang ditinggalkan nantinya. Apakah kita anggap layak kalau nama kita hanya sebatas tertulis di batu nisan sekedar penanda bahwa kita ada di bawahnya? Ataukah nama kita lebih layak lagi kalau juga tertulis dalam karya-karya keilmuan kita, seperti pada sampul-sampul buku yang kita tulis, yang dinikmati oleh mereka yang hidup beberapa generasi setelah kita tiada? Konsep “Panta Rhei” mengisyaratkan bahwa mereka yang tanpa karya akan berhenti saat ajalnya telah tiba sementara mereka yang berbekal karya akan terus hidup melintasi masa. Semuanya kembali pada kita dimana perwujudannya  ditentukan oleh relasi sintesis i’tikad dan ikhtiar kita untuk menggelorakan semangat mencari ilmu dari dulu, sekarang, dan sampai saatnya nanti

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berlebaran Serba Baru: Idul Fitri sebagai Momentum Pembaruan Diri

Menyambut Idul Fitri kerap dimaknai sebagai perayaan kemenangan. Kemenangan yang dimaksud bukanlah sekadar keberhasilan melewati fase Ramadh...