Oleh:
Muhammad
Rusydi, Sekretaris LPM IAIN Bone
Nalar
moderat adalah suatu paradigma bernalar yang meniscayakan kelapangan dada dengan
mendudukkan obyek nalar pada lokus inklusivitas relasi antara penilai dan yang
dinilai. Pada satu sisi, penilai harus mendudukkan yang dinilai sebagai bagian
internal yang imanen dalam keberaadaannya sebagai relasi persenyawaan kosmik
yang tidak terpisahkan satu sama lain (mutual belonging) sementara pada sisi yang lainnya penilai
harus mendudukkan yang dinilai sebagai bagian eksternal dari dirinya yang pada
gilirannya memunculkan obyektivitas bernalar dalam memahami keberadaan yang
dinilai sebagai suatu obyek kosmik yang tidak rigid memahami adanya perbedaan
wujud satu sama lain (mutual understanding). Relasi antara penilai dan yang dinilai,
pada gilirannya, akan bertransformasi dari ontologi pasif (being)
menjadi epistemologi aktif (becoming) sehingga nalar moderat selalu
mengarah untuk membuka ruang terjadinya dialog lintas iman, mereduksi
nilai-nilai sakral ke altar profan demi terjewantahkannya semangat agama-agama
untuk menghadirkan nilai-nilai universal dalam kehidupan berupa kemanusiaan,
keadilan, egalitarian, cinta, kasih sayang, dan semacamnya. Salam lintas iman
merupakan wujud praktis dari nalar moderat yang mengarah pada adanya dialog
spiritualitas antara agama-agama yang memiliki persentuhan ontologis,
epistemologis, ataupun aksiologis dalam nilai-nilai universal tersebut.
Hadirnya tembok sakral yang membatasi ruang dialog spiritualitas antara agama-agama
telah menjadi suatu bendungan dalam menyumbat arus inklusivitas dalam beragama
dan berkeyakinan. Isyarat teologis normatif al-Qur’an “untukmu agamamu dan
untukku agamaku” seakan-akan menjadi teks yang bermakna tunggal dan statis
bahwa salam lintas agama merupakan suatu perilaku yang telah menodai dan
menciderai nilai-nilai sakral yang imanen dalam beragama dan berkeyakinan. Sebagai
suatu paradigma yang bersifat responsif terhadap kemaslahatan umat manusia yang
secara fitrah terbentuk dalam realitas keberagamaan yang plural, nalar moderat
selalu berupaya untuk membuka ruang dialog spiritualitas antara agama-agama
untuk saling menyapa dalam ikatan nilai-nilai universal dalam kehidupan berupa
kemanusiaan, keadilan, egalitarian, cinta, kasih sayang, dan semacamnya dengan
menggeser ruang pemaknaan salam lintas iman tersebut dari dimensi sakral ke
dimensi profan (Watampone, 05 Juni 2024)