Rabu, 05 Juni 2024

NALAR MODERAT SALAM LINTAS IMAN

 Oleh:

Muhammad Rusydi, Sekretaris LPM IAIN Bone

        Nalar moderat adalah suatu paradigma bernalar yang meniscayakan kelapangan dada dengan mendudukkan obyek nalar pada lokus inklusivitas relasi antara penilai dan yang dinilai. Pada satu sisi, penilai harus mendudukkan yang dinilai sebagai bagian internal yang imanen dalam keberaadaannya sebagai relasi persenyawaan kosmik yang tidak terpisahkan satu sama lain (mutual belonging) sementara pada sisi yang lainnya penilai harus mendudukkan yang dinilai sebagai bagian eksternal dari dirinya yang pada gilirannya memunculkan obyektivitas bernalar dalam memahami keberadaan yang dinilai sebagai suatu obyek kosmik yang tidak rigid memahami adanya perbedaan wujud satu sama lain (mutual understanding). Relasi antara penilai dan yang dinilai, pada gilirannya, akan bertransformasi dari ontologi pasif (being) menjadi epistemologi aktif (becoming) sehingga nalar moderat selalu mengarah untuk membuka ruang terjadinya dialog lintas iman, mereduksi nilai-nilai sakral ke altar profan demi terjewantahkannya semangat agama-agama untuk menghadirkan nilai-nilai universal dalam kehidupan berupa kemanusiaan, keadilan, egalitarian, cinta, kasih sayang, dan semacamnya. Salam lintas iman merupakan wujud praktis dari nalar moderat yang mengarah pada adanya dialog spiritualitas antara agama-agama yang memiliki persentuhan ontologis, epistemologis, ataupun aksiologis dalam nilai-nilai universal tersebut. Hadirnya tembok sakral yang membatasi ruang dialog spiritualitas antara agama-agama telah menjadi suatu bendungan dalam menyumbat arus inklusivitas dalam beragama dan berkeyakinan. Isyarat teologis normatif al-Qur’an “untukmu agamamu dan untukku agamaku” seakan-akan menjadi teks yang bermakna tunggal dan statis bahwa salam lintas agama merupakan suatu perilaku yang telah menodai dan menciderai nilai-nilai sakral yang imanen dalam beragama dan berkeyakinan. Sebagai suatu paradigma yang bersifat responsif terhadap kemaslahatan umat manusia yang secara fitrah terbentuk dalam realitas keberagamaan yang plural, nalar moderat selalu berupaya untuk membuka ruang dialog spiritualitas antara agama-agama untuk saling menyapa dalam ikatan nilai-nilai universal dalam kehidupan berupa kemanusiaan, keadilan, egalitarian, cinta, kasih sayang, dan semacamnya dengan menggeser ruang pemaknaan salam lintas iman tersebut dari dimensi sakral ke dimensi profan (Watampone, 05 Juni 2024)

 

 

Berlebaran Serba Baru: Idul Fitri sebagai Momentum Pembaruan Diri

Menyambut Idul Fitri kerap dimaknai sebagai perayaan kemenangan. Kemenangan yang dimaksud bukanlah sekadar keberhasilan melewati fase Ramadh...