Oleh: Dr. Muhammad Rusydi, S.Pd.I., M.Pd.I.
Tagline “Kampus Hadis” menjadi salah satu pijakan aksiomatik dari pengembangan berbagai kebijakan kelembagaan lingkup IAIN Bone dalam implementasi tri dharma perguruan tinggi yang terdiri atas pendidikan dan pengajaran, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat pada perguruan tinggi keagamaaan Islam negeri di pesisir timur Sulawesi Selatan ini. Sebagai sebuah akronim dari kampus yang humanis, adaptif, dedikatif, inovatif, dan selebritif, tagline tersebut memiliki nalar epistemologi yang kuat sebagai sebuah entitas yang terjalin sistemik-konstruktif dengan beberapa tagline pengembangan kelembagaan lingkup kampus kebanggaan masyarakat Kabupaten Bone ini seperti “Kampus Unggul dan Humanis”, “Kampus Ber-K4 (Berkualitas, Berkesesuaian, Berkarakter, serta Berkelanjutan)”, dan beberapa tagline yang mendahuluinya dengan akar filosofis yang kuat, baik pada wilayah normativitas ataupun historitasnya. Merujuk pada semiotika Roland Barthes yang merupakan kelanjutan dari apa yang telah dilakukan Ferdinand de Saussure bahwa relasi konstruktif antara signifier dan signified, antara penanda dan petanda, terlihat bahwa “Kampus Hadis” dengan nalar epistemologi yang bersifat konstruktif-transformatif disamping bisa dinalar dalam makna denotatifnya sebagai akronim dari humanis, adaptif, dedikatif, inovatif, dan selebritif, juga bisa dinalar dengan memahaminya sebagai makna konotatif dari berbagai deiksis kata “hadis” itu sendiri yang dalam hal ini di antaranya adalah:
1. Makna konotatif dari kata “hadis” identik dengan posisi sumber otoritas kedua setelah al-Qur’an yang menjadi magnum opus dalam tradisi keilmuan Islam yang dalam hal ini adalah segala perkataan, perbuatan, ataupun taqrir Rasulullah saw. Relasi triadik yang menghubungkan antara perkataan, perbuatan, serta taqrir Rasulullah saw. dalam makna konotatif kata “hadis” mengisyaratkan bahwa “Kampus Hadis” selalu menekankan konsistensi antara perkataan dan perbuatan, konsistensi antara aturan dengan penerapan, meskipun taqrir dalam proses pemaknaan konotatif tersebut bisa mengisyaratkan bahwa penjabaran dari dimensi perkataan ke dimensi perbuatan, dari dimensi aturan ke dimensi penerapan, selalu menyisakan ruang dialektis antara antara normativitas yang ideal-ahistoris dan historitas yang empiris-historis. Lahirnya kebijakan-kebijakan pengembangan kelembagaan yang inovatif, kolaboratif, serta inklusif dalam bingkai ke-Islaman dan ke-Indonesiaan sebagaimana termaktub dalam rancang bangun visi kelembagan IAIN Bone 2022-2026 menjadi suatu hal yang perlu selama tidak melanggar esensi ataupun substansi berbagai aturan tata kelola kelembagaan yang ada.
2. Makna konotatif dari kata “hadis” adalah adanya tawaran-tawaran kebaruan, sesuai dengan salah satu makna denotatif dari kata “hadis” adalah baru, pada setiap periode kepemimpinan yang ada sebagai sebuah siklus transformasi kelembagaan IAIN Bone yang dalam relung sanubari terdalam semua civitas akademika ada harapan bisa naik level dari institut ke universitas. Berbagai upaya konstruktif yang telah dilakukan oleh siklus kepemimpinan sebelumnya dalam merintis jalan menuju transformasi kelembagaan tersebut tentu menjadi kontribusi yang sangat berharga dalam meramu tawaran-tawaran kebaruan dalam tagline “Kampus Hadis”. Meminjam kaidah Ushul Fiqhi “al-Muhafazah ala al-Qadim al-Shalih wa al-Akhdzu ala al-Jadid al-Ashlah”, relasi sintesis antara paradigma keilmuan yang imanen pada tagline-tagline kelembagaan sebelumnya dengan tagline “Kampus Hadis” akan melahirkan kekuatan yang bersifat konstruktif-transformatif sebagai sebuah weltanschauung dalam setiap siklus kepemimpinan dan kelembagaan sebagaimana tiga fase yang digambarkan George Wilhelm Friedrich Hegel dalam pemikiran filsafatnya yaitu tesis, antitesis, serta sinteis. Dalam jejak historisnya, IAIN Bone telah memberikan suatu kerangka pengembangan paradigma keilmuan yang memberikan tawaran-tawaran kebaruan tapi tetap menjadikan tagline sebelumnya sebagai salah satu pijakan pengembangannya. Terbentuknya tagline “Kampus Unggul dan Humanis” tidak bisa terlepas dari Tagline sebelumnya yaitu “Kampus Ber-K4 (Berkualitas, Berkesesuaian, Berkarakter, serta Berkelanjutan)” sehingga makna yang imanen dalam kata “unggul” merujuk pada konsep ber-K4 tersebut. Hal yang sama juga terlihat dalam tagline “Kampus Hadis” yang mendudukkan kata “humanis” sebagai makna yang imanen pada huruf awal dari kata “hadis” yang tentu memiliki sintesis ontologis, epistemologis, ataupun aksiologis dengan makna yang imanen dari kata “humanis” dari tagline “Kampus Unggul dan Humanis” yaitu “Sipakatau, Sipakalebbi, Sipakainge”. Semangat dalam menawarkan kebaruan dalam setiap tagline pengembangan kelembagaan yang mewarnai transformasi kepemimpinan lingkup IAIN Bone yang memiliki ikatan filosofis dengan berbagai tagline sebelumnya tersebut merupakan pengejewantahan dari sikap yang inovatif, kolaboratif, dan inklusif yang bisa secara ekplisit terlihat sebagai relasi triadik pada visi kelembagaan IAIN Bone 2022-2026. Penulis teringat dengan pembaharuan ala Jepang yang tetap kokoh dalam mengakomodir tradisi yang telah ada dan ternyata mampu mengantarkan Jepang sebagai bangsa yang disegani dengan suar peradabannya sementara pembaharuan ala Turki di bawah kepemimpinan Mustafa Kemal Ataturk dengan semangat westernisme, sekularisme, dan nasionalisme yang justru membawa Turki pada kegamangan peradabannya.
3. Makna konotatif
dari kata “hadis” adalah modernisasi ilmu pengetahuan berbasis integrasi keilmuan
yang interkonektif. Tagline “Kampus Hadis” meniscayakan IAIN Bone harus terus mengembangkan
corak keilmuan yang dikembangkan di dalamnya yang bukan hanya berkutat pada
ilmu-ilmu agama tapi juga ilmu-ilmu umum dengan menekankan integrasi keilmuan
yang interkonektif. Kesuksesan saintis Muslim asal Pakistan, Abdus Salam, yang
bekerjasama dengan saintis Barat non-Muslim, Steven Winberg dan Sidney Glashow,
yang pada gilirannya meraih penghargaan Nobel Fisika pada 1979 membuktikan
bahwa integrasi keilmuan yang interkonektif yang dikembangkan dalam semangat inovatif,
kolaboratif, dan inklusif selalu memberikan modernisasi ilmu pengetahuan demi
kemaslahatan manusia dalam jejak peradabannya. Ketika makna konotatif dari kata
“hadis” dikaitkan dengan modernisme sebagai suatu aliran dalam filsafat
kemanusiaan, modernisasi ilmu
pengetahuan berbasis integrasi keilmuan yang interkonektif tidak cukup hanya
mendudukkan IAIN Bone sebagai lembaga pendidikan tinggi yang mampu menciptakan
luaran yang memiliki kemampuan berpikir dan bernalar sebagai corak aliran modernisme
tapi jauh lebih dari itu modernisasi ilmu pengetahuan berbasis integrasi keilmuan
yang interkonektif dalam tagline “Kampus Hadis” membawa semangat
post-modernisme sebagai sintesis aras filosofis dari modernisme sehingga
kemampuan berpikir harus dibarengi dengan progresivitas berpikir sementara
kemampuan bernalar harus dibarengi dengan emosi konstruktif sebagai ciri luaran
IAIN Bone ke depannya yang disebut dengan generasi “mattolapalallo”
dalam Nawacita IAIN Bone 2022-2026.
Tulisan ini hanya sebagai nalar pembacaan penulis yang masih sangat terbatas terhadap tagline “Kampus Hadis” itu sendiri. Semangat yang mendasari penulis dalam menulis artikel lepas ini adalah rasa kecintaan pada lembaga tempat penulis mengabdi kurang lebih 10 tahun ini. Mengutip kata Jalaluddin Rumi “ketika otakmu tidak mampu lagi bernalar, maka biarkan cintamu menulis ceritanya”. Semoga Allah swt. membalas kebaikan para pemimpin-pemimpin kami sebelumnya yang telah berjasa dalam membangun kampus ini dan semoga Allah swt. senantiasa memberikan keberkahan bagi pemimpin kami sekarang ini dalam membawa IAIN Bone yang inovatif, kolaboratif, dan inklusif dalam bingkai ke-Islaman dan ke-Indonesiaan sebagaimana termaktub dalam rancang bangun visi kelembagan IAIN Bone 2022-2026. Jayalah selalu kampusku. IAIN Boneku, IAIN Boneta, IAIN Bone kita semua.