Oleh:
Dr. Muhammad Rusydi, S.Pd.I., M.Pd.I.
Sekretaris Lembaga Penjaminan Mutu IAIN Bone
Hari Amal Bakti ke-78 Kementerian
Agama Republik Indonesia memiliki suatu makna tersendiri dalam memahami
keberadaannya sebagai salah satu lokomotif pembinaaan kehidupan umat beragama
di Indonesia dalam berbagai dimensinya. Dengan mengusung motto “Indonesia Hebat Bersama Umat”, Kementerian
Agama Republik Indonesia menunjukkan komitmen yang kuat dalam memberikan
pelayanan maksimal bagi umat dalam spektrum budaya kerja berbasis integritas, profesionalitas,
inovasi, tanggung jawab, serta keteladanan. Usia 78 tahun dalam ukuran umur
manusia bukan usia yang bisa dikatakan masih muda tapi bagi sebuah institusi
besar sekelas Kementrian Agama Republik Indonesia usia tersebut masih bisa
dikatakan muda dan masih harus disikapi dengan terus melakukan pembenahan serta
akselerasi berbagai potensi di dalamnya dalam mewujudkan pelayanan yang lebih
dekat bagi umat sejalan dengan motto yang diusung pada Hari Amal Bakti ke-78
kali ini. Motto “Ikhlas Beramal”, dengan pijakan yuridis normatif KMA
No. 58 Tahun 1979, sebagai suatu refleksi simbolik dari komitmen Kementerian
Agama Republik Indonesia dalam mewujudkan pelayanan yang ikhlas tidak cukup
hanya dipahami sebagai komitmen untuk memberikan pelayanan semata-mata
mengharapkan ridha Allah swt. atau memaknai
ikhlas pelayaanan tanpa pamrih. Kata “ikhlas” memiliki makna yang sangat
filosofis dan esoteris sejalan dengan visi dan misi kelembagaan yang diusung
oleh kementerian yang didirikan pada 03 Januari 1946 ini. Sikap ikhlas identik
dengan kemurnian “ego” manusia yang berpusat pada hari yang murni untuk
selanjutnya ditransformasikan pada langkah-langkah praktis dalam kehidupan
berbangsa, bernegara, dan beragama yang bersifat empiris. Konsekuensinya, mereka yang ikhlas beramal
akan mampu untuk menetralisir berbagai bentuk ego destruktif yang sangat
rentang muncul dan mengalihkan komitmen mewujudkan budaya kerja berbasis
integritas, profesionalitas, inovasi, tanggung jawab, serta keteladanan dari
sumbu axis-nya yang murni.
Keberadaan
posisi ikhlas sebagai posisi yang terbebas dari jeratan dan belenggu ego
destruktif berupa keinginan untuk meraih berbagai keuntungan pribadi atau
kelompok yang bersifat profan, pragmatis, atau bahkan hedonis meski boleh jadi
harus menghalalkan segala macam cara dengan mengambil hak-hak individu atau
komunitas lain tergambar dalam QS. an-Nahl/16:66 yang terjemahannya “Dan sungguh, pada hewan ternak itu benar-benar
terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari apa yang ada dalam
perutnya (berupa) susu murni antara kotoran dan darah, yang mudah ditelan bagi
orang yang meminumnya”. Susu murni yang dalam redaksi teks bahasa
Arabnya adalah “labanan khalisan” digambarkan tetap berada dalam kondisi
murni dan tidak tercemar meskipun terletak antara kotoran dan darah. Kondisi
kejiwaan yang sama juga akan dirasakan oleh pegawai Kementerian Agama Republik
Indonesia yang tercerahkan dengan motto “Ikhlas Beramal” akan senantiasa
berkomitmen untuk menjalankan tugas pokok dan fungsi masing-masing sesuai
aturan yang berlaku serta tidak akan terpengaruh ataupun terperdaya oleh
berbagai sikap dan tindakan yang bertentangan dengan bisikan ego konstruktifnya yang “khalisan”. Dalam
perspektif filsafat perennialisme, Huston Smith menggambarkan bahwa posisi
ikhlas dengan identitas kemurniaannya adalah suatu kondisi spiritualitas yang
mempertemukan antara ego konstruktif sebagai The Spirit pada Levels
of Selfhood dengan “Dzat yang Maha Sumber dan Maha Tujuan” sebagai The
Infinite pada Levels of Reality. Dalam kondisi tersebut, berbagai
jubah duniawi yang profan, pragmatis, atau bahkan hedonis yang dapat merusak
integritas, profesionalitas, inovasi, tanggung jawab, serta keteladanan pegawai
Kementerian Agama Republik Indonesia tidak akan berpengaruh karena ego
konstruktifnya yang “khalisan” mampu untuk menghidupkan spiritualitas
dalam dirinya dalam relasi (shilah) yang tidak terputus antara The Spirit
danThe Infinite, shilah jismiyah, shilah nafsiyah, dan shilah
ruhiyah. Ibarat ikan di lautan yang tidak menjadi asin sekalipun berenang
dalam air garam yang asin tapi ketika ikan tersebut mati dan digarami maka ikan
tersebut akan menjadi asin.
Motto
“Ikhlas Beramal” sarat dengan pesan filosofis dan esoteris untuk
mentransformasikan motto Hari Amal Bakti ke -78
Kementerian Agama kali ini yaitu “Indonesia Hebat Bersama Umat” sebagai
komitmen menuju aksi. Kata “Ikhlas” dan kata “Beramal” sebagai
dua entitas yang bersintesis dalam motto tersebut mengisyaratkan bahwa apabila
ikhlas adalah komitmen maka beramal adalah aksi. Sebuah komitmen yang tidak
terjabarkan pada aksi tidak ada bedanya dengan pohon yang tidak berbuah “al-ilm
bi la amalin ka as-syajari bi la tsamarin”. Perayaan Hari Amal Bakti ke-78
Kementerian Agama kali ini dengan mengusung motto “Indonesia Hebat Bersama
Umat”mengisyaratkan perlunya suatu keterlibatan semua pihak untuk hadir
dalam pelayanan yang lebih dekat pada umat sebagai stakeholder pertama dan
utama dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya. Motto “Indonesia Hebat
Bersama Umat” bisa melahirkan makna transformatif sebagai keberasamaan yang
terbangun atas hubungan emosional sebagai umat yang yang dalam genealogi
historisnya terikat dalam ikatan nasab kebangsaan dan kenegaraan yang bernama
Indonesia. Upaya untuk mendudukkan motto “Ikhlas Beramal” sebagai sebuah
komitmen yang perlu ditransformasikan ke tataran aksi dengan menjadikannya
sebagai basis paradigmatik perayaan Hari Amal Bakti ke -78 Kementerian Agama
kali ini dengan mengusung motto “Indonesia Hebat Bersama Umat” akan
berpulang pada kata “ikhlas” itu sendiri yang kemudian bermuara pada
kata “amal”.
Dengan
adanya semangat ikhlas beramal dalam memberikan pelayanan yang lebih dekat pada
umat, konsep ikhlas beramal sebagai basis paradigmatiknya bisa dipahami sebagai
kondisi yang mengakselerasi makna persenyawaan kosmik segala sesuatu yang ada
pada lingkup kosmos. Surat ke-112 dalam al-Qur’an
disebut dengan “al-Ikhlas”, meskipun tidak sekalipun dalam ayat-ayatnya
tidak disebutkan kata “ikhlas” tersebut secara eksplisit, mengajarkan
tentang makna etika tauhidik yang sarat dengan makna persenyawaan kosmik
tersebut. Dalam perspektif semantik Toshihiko Izutsu yang merekomendasikan
bahwa bahasa adalah alat untuk membaca dunia di sekeliling bahasa, penamaan
surat ke-112 al-Qur’an yang sarat dengan etika tauhidik dengan “al-Ikhlas”
merekomendasikan bahwa ikhlas beramal dalam memberikan pelayanan yang lebih
dekat pada umat merupakan wujud penyatuan komitmen bahwa setiap umat yang ada
di muka bumi ini pada dasarnya adalah satu “kana
an-nasu ummatan wahidah (QS.
al-Baqarah/02:213)”. Dalam lokus etika tauhidik, ikhlas beramal
menunjukkan bahwa pelayanan yang diberikan kepada pihak lain yang terikat dalam
persenyawaan kosmik satu sama lain merupakan pelayanan yang efek
kemaslahatannya mengarah secara resiprokal kepada si pemberi layanan “in
ahsantum ahsantunm li anfusikum (QS. al-Isra/17:07)”. Makna lain dari motto
“Ikhlas Beramal” dalam lokus etika tauhidik sesuai dengan akar kata “tauhid”
yang berasal dari derivasi wahhada, yuwahhidu, tauhidan adalah
menyatukan segala potensi dan sumber daya yang ada dalam memberikan pelayanan
yang lebih dekat pada umat yang berbasis integritas, profesionalitas, inovasi,
tanggung jawab, serta keteladanan sebagai budaya kerja Kementerian Agama
Republik Indonesia. Potensi dan sumber daya yang terfokus dalam penerapannya
akan memberikan efek konstruktif dalam mencapai visi kelembagaan ataupun
meminimalisir berbagai hambatan yang ada dalam pencapaian visi kelembagaan
tersebut layaknya sinar matahari yang dapat membakar selembar kertas ketika
cahayanya difokuskan dengan kaca pembesar sebagai ilustrasi metaforisnya. Selamat
Hari Amal Bakti ke-78 Kementerian Agama Republik Indonesia. Selamat berkarya
dengan ikhlas beramal dalam mewujudkan Indonesia hebat bersama umat. Meminjam
adagium Aa Gym, mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil, dan mulai
dari sekarang.