Oleh: Muhammad Rusydi
Berawal dari buku kecil bersampul
putih dengan judul “Smart Taching: 5 Metode Efektif Lejitkan Prestasi Anak Didik” karya Agung
Webe, penulis memperoleh inspirasi yang luar biasa terkait upaya inovatif dalam
melejitkan prestasi anak didik. Ketika Agung Webe, dalam buku tersebut,
memberikan suatu ungkapan bahwa “kegagalan sebuah metode adalah ketika
metode tersebut menjadi tempat bersandar terlalu lama sehingga membuat
seseorang tidak bisa mandiri dan tergantung pada metode tersebut”, penulis
langsung teringat pada ungkapan popular dari salah seorang sosok pembaharu
pembelajaran bahasa Arab di Indonesia,
Mahmud Yunus, yaitu “metode lebih penting dari materi, dan pendidik lebih penting
dari metode, dan ruh pendidik lebih penting dari pendidik itu sendiri”.
Dalam ungkapan tersebut, Agung Webe ingin menunjukkan bahwa metode, dari sisi
konseptual dan praksisnya, merupakan suatu alat yang sangat ditentukan oleh
pendidik sehingga sukses atau tidaknya suatu metode sangat ditentukan oleh
kreativitas berinovasi dari pendidik dalam mengakomodasi dan mengakselerasi
iklim pembelajaran yang sangat dinamis. Peran
sentral pendidik dalam konteks ini seperti peran sentral seorang dalang dalam
pentas wayang yang harus kreatif dan inovatif mengatur alur lakon yang
dipentaskan termasuk dalam memainkan ritme emosi pemirsanya. Hal ini pula yang
pernah diilustrasikan oleh Bobby De Potter dan Mike Hernacki dalam Quantum
Teaching bahwa pendidik harus mampu mengorkestrasi semua potensi anak didik
yang berbeda-beda untuk menghasilkan nada “learning community” yang padu
dan indah.
Dalam upaya untuk melejitkan
prestasi anak didik, Agung Webe menggambarkan bahwa ada 5 metode yang dalam hal
ini adalah, a) Magical Opening, b) Emotional Synchronizing, c) Telling,
d) Kharisma, e) serta Emotional Persuasion Treatment yang penjabaran
konseptual dan praktisnya dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. Magical Opening. Metode pertama dari Smart Teaching yang
dikemukakan oleh Agung Webe ini mengingatkan penulis pada prinsip negoisasi
bahwa kesan pertama adalah penentu sukses atau tidaknya negoisasi yang
dilakukan. Proses pembelajarannya, pada dasarnya, juga bisa dianggap sebagai
proses negoisasi transformasi ilmu pengetahuan dari pendidik ke anak didik
dimana mereka bisa mengatakan setuju atau tidak setuju, menerima atau menolak.
Pembukaan suatu proses pembelajaran berupa apersepsi yang mampu menarik
perhatian anak didik untuk bisa tertarik pada apa yang akan diajarkan bisa dikatakan
sebagai pembelajaran yang telah sukses mencapai tujuan utamanya, paling tidak,
sudah ada pijakan yang kokoh untuk melangkah ke tahap berikutnya. Ibarat mata
jarum jahit yang telah berhasil menembus kain yang dijahit, benang yang
mengikut pada jarum tersebut akan dapat menjalankan fungsinya dengan baik.
Dalam proses ini, Agung Webe menawarkan 3 langkah yaitu, 1) menggugah otak
bawah sadar untuk menerima pesan, 2) membuka mental block, 3) serta
membentuk persepsi.
2.Emotional Synchronizing. Metode kedua dari Smart Teaching
yang dikemukakan oleh Agung Webe ini mengisyaratkan perlunya sinkronisasi emosi
antara pendidik dan anak didik. Penulis tertarik dengan pesan yang disampaikan
oleh salah seorang “Anregurutta”, gelar yang lazim disematkan pada ulama
kharismatik di daerah Bugis, saat menimba ilmu pada Pondok Pesantren As’adiyah
Pusat Sengkang. Saaat itu beliau berpesan bahwa mendidik itu kuncinya adalah
bagaimana menghubungkan hati dengan hati dengan mendudukkan pikiran hanya
sebagai pendukung dari relasi hati tersebut. Pesan beliau ini mengingatkan
penulis pada isyarat normatif dalam QS. al-Hajj, 146 yang terjemahanya “Maka
apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang
dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka
dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang
buta, ialah hati yang di dalam dada”. Emotional Synchronizing dengan mengacu pada relasi hati akan menghadirkan sikap
saling peduli yang pada dasarnya tidak semua bisa mewujud dalam konteks
pembelajaran seperti kata Marva Collins “kita bisa membayar orang untuk
mengajar tapi kita tidak bisa membayar mereka untuk peduli”. Dalam perspektif
penulis, “mengajar” merupakan Emotional Synchronizing yang melibatkan
pikiran sementara “peduli” merupakan Emotional Synchronizing yang
melibatkan hati.
3. Telling. Metode ketiga dari Smart Teaching
yang dikemukakan oleh Agung Webe ini menegaskan perlunya seorang pendidik
menyampaikan materi pembelajaran dengan memadukan tiga aspek yang terjalin sistemik yaitu visual (50%), vokal (35%), dan verbal (15%). Hal ini, secara tidak langsung, mengisyaratkan bahwa seorang pendidik harus menciptakan iklim
pembelajaran yang seluruh komponennya dapat “berbicara (telling)” menguatkan
apa yang disampaikan kepada anak didiknya. Merupakan suatu hal yang kontra
produktif, misalnya, apabila seorang pendidik menyampaikan pentingnya disiplin waktu
sementara kegiatan pembelajaran dimulai lebih lambat dan diselesaikan lebih
cepat. Maria Montessori menyatakan “jika anda memberitahu mereka, mereka
hanya akan melihat gerakan bibirmu, tapi jika anda menunjukkan pada mereka,
mereka akan tergoda untuk melakukannya sendiri”
4. Kharisma. Metode keempat dari Smart Teaching
yang dikemukakan oleh Agung Webe ini menunjukkan bahwa seorang pendidik
merupakan sosok yang dipandang memiliki kelebihan oleh anak didiknya sehingga
mereka menjadi sosok yang layak digugu dan ditiru yang selanjutnya menjadi
akronim kata “guru”. Dalam pandangan Agung Webe, seorang pendidik yang
memiliki kharisma adalah mereka yang memiliki 5 langkah rahasia yang harus
diwujudkan pada anak didiknya yaitu, 1) mendorong cita-cita, 2) memaklumi kegagalan,
3) menyingkirkan ketakutan, 4) membenarkan kecurigaan, 5) serta membantu menyingkirkan
penghalang. Henry Adam menyatakan “menggandeng
tangan, membuka pikiran, menyentuh hati, serta membentuk masa depan adalah ciri pendidik yang berpengaruh selamanya dan dia tidak akan pernah tahu kapan
pengaruhnya berakhir”
5.Emotional Persuasion Treatment. Metode kelima dari Smart Teaching
yang dikemukakan oleh Agung Webe ini terkait dengan upaya penanganan
emosi oleh pendidik secara persuasif bagi anak didiknya selama proses pembelajaran. Penanaman
sugesti positif dalam penanganan berbagai persoalan pembelajaran yang
melibatkan emosi anak didik. Dalam proses ini, Agung Webe menawarkan Single Binding
Pattern dan Triangle Code. Single Binding Pattern merupakan
upaya pendidik untuk melekatkan dua kalimat yang pada dasarnya berjumlah dua
sehingga menjadi satu dengan tujuan memberi sugesti pada anak didik untuk
melakukan apa yang diinstruksikan dengan memberikan konsekuensi logis dari
penerimaan atau penolakan atas instruksi tersebut. Adapun Triangle Code
merupakan upaya pendidik untuk mendukung Single Binding Pattern dengan
kode segitiga pernafasan. Rumusnya adalah apabila pendidik bernapas 1x, jantung
berdetak 3x dan otak berdenyut 9x. Dalam Emotional Persuasion Treatment, orang
yang denyut otaknya di bawah 120x/menit maka akan memilik kemampuan
mempengaruhi orang lain yang lebih efektif dan efisien. Apabila pendidik biasa denyut
otaknya sekitar 120x/menit sebagai manusia normal maka pendidik yang luar biasa
harus mengatur pernapasannya supaya denyut
otaknya di bawah 120x/menit pada Emotional Persuasion Treatment melalui Triangle
Code sebagai pendukung dari Single Binding Pattern dalam pemberian sugesti.
Agung Webe,
seorang penulis buku dan mantan pramugara Garuda Indonesia ini, telah
memberikan sepercik inspirasi terkait bagaimana pembelajaran dapat diterapkan
dengan memahami potensi yang pada
dasarnya telah ada dalam diri anak didik. Kedudukan seorang pendidik adalah
pemantik dalam mengaktifkan potensi tersebut. Penulis teringat pernyataan
Galileo Galilei “kita kadang tidak bisa mengajari orang apa pun karena kita hanya bisa membantu
mereka menemukannya dalam diri mereka”