Minggu, 21 Juni 2020

Smart Teaching ala Agung Webe


Oleh: Muhammad Rusydi

      Berawal dari buku kecil bersampul putih dengan judul “Smart Taching: 5 Metode Efektif  Lejitkan Prestasi Anak Didik” karya Agung Webe, penulis memperoleh inspirasi yang luar biasa terkait upaya inovatif dalam melejitkan prestasi anak didik. Ketika Agung Webe, dalam buku tersebut, memberikan suatu ungkapan bahwa “kegagalan sebuah metode adalah ketika metode tersebut menjadi tempat bersandar terlalu lama sehingga membuat seseorang tidak bisa mandiri dan tergantung pada metode tersebut”, penulis langsung teringat pada ungkapan popular dari salah seorang sosok pembaharu pembelajaran bahasa  Arab di Indonesia, Mahmud Yunus, yaitu “metode lebih penting dari materi, dan pendidik lebih penting dari metode, dan ruh pendidik lebih penting dari pendidik itu sendiri”. Dalam ungkapan tersebut, Agung Webe ingin menunjukkan bahwa metode, dari sisi konseptual dan praksisnya, merupakan suatu alat yang sangat ditentukan oleh pendidik sehingga sukses atau tidaknya suatu metode sangat ditentukan oleh kreativitas berinovasi dari pendidik dalam mengakomodasi dan mengakselerasi iklim pembelajaran yang sangat dinamis.  Peran sentral pendidik dalam konteks ini seperti peran sentral seorang dalang dalam pentas wayang yang harus kreatif dan inovatif mengatur alur lakon yang dipentaskan termasuk dalam memainkan ritme emosi pemirsanya. Hal ini pula yang pernah diilustrasikan oleh Bobby De Potter dan Mike Hernacki dalam Quantum Teaching bahwa pendidik harus mampu mengorkestrasi semua potensi anak didik yang berbeda-beda untuk menghasilkan nada “learning community” yang padu dan indah.
     Dalam upaya untuk melejitkan prestasi anak didik, Agung Webe menggambarkan bahwa ada 5 metode yang dalam hal ini adalah, a) Magical Opening, b) Emotional Synchronizing, c) Telling, d) Kharisma, e) serta Emotional Persuasion Treatment yang penjabaran konseptual dan praktisnya dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. Magical Opening. Metode pertama dari Smart Teaching yang dikemukakan oleh Agung Webe ini mengingatkan penulis pada prinsip negoisasi bahwa kesan pertama adalah penentu sukses atau tidaknya negoisasi yang dilakukan. Proses pembelajarannya, pada dasarnya, juga bisa dianggap sebagai proses negoisasi transformasi ilmu pengetahuan dari pendidik ke anak didik dimana mereka bisa mengatakan setuju atau tidak setuju, menerima atau menolak. Pembukaan suatu proses pembelajaran berupa apersepsi yang mampu menarik perhatian anak didik untuk bisa tertarik pada apa yang akan diajarkan bisa dikatakan sebagai pembelajaran yang telah sukses mencapai tujuan utamanya, paling tidak, sudah ada pijakan yang kokoh untuk melangkah ke tahap berikutnya. Ibarat mata jarum jahit yang telah berhasil menembus kain yang dijahit, benang yang mengikut pada jarum tersebut akan dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Dalam proses ini, Agung Webe menawarkan 3 langkah yaitu, 1) menggugah otak bawah sadar untuk menerima pesan, 2) membuka mental block, 3) serta membentuk persepsi.
2.Emotional Synchronizing. Metode kedua dari Smart Teaching yang dikemukakan oleh Agung Webe ini mengisyaratkan perlunya sinkronisasi emosi antara pendidik dan anak didik. Penulis tertarik dengan pesan yang disampaikan oleh salah seorang “Anregurutta”, gelar yang lazim disematkan pada ulama kharismatik di daerah Bugis, saat menimba ilmu pada Pondok Pesantren As’adiyah Pusat Sengkang. Saaat itu beliau berpesan bahwa mendidik itu kuncinya adalah bagaimana menghubungkan hati dengan hati dengan mendudukkan pikiran hanya sebagai pendukung dari relasi hati tersebut. Pesan beliau ini mengingatkan penulis pada isyarat normatif dalam QS. al-Hajj, 146 yang terjemahanya “Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada”.  Emotional Synchronizing dengan mengacu pada relasi hati akan menghadirkan sikap saling peduli yang pada dasarnya tidak semua bisa mewujud dalam konteks pembelajaran seperti kata Marva Collins “kita bisa membayar orang untuk mengajar tapi kita tidak bisa membayar mereka untuk peduli”. Dalam perspektif penulis, “mengajar” merupakan Emotional Synchronizing yang melibatkan pikiran sementara “peduli” merupakan Emotional Synchronizing yang melibatkan hati.
3. Telling. Metode ketiga dari Smart Teaching yang dikemukakan oleh Agung Webe ini menegaskan perlunya seorang pendidik menyampaikan materi pembelajaran dengan memadukan tiga aspek yang terjalin sistemik yaitu visual (50%), vokal (35%), dan verbal (15%). Hal ini, secara tidak langsung, mengisyaratkan bahwa seorang pendidik harus menciptakan iklim pembelajaran yang seluruh komponennya dapat “berbicara (telling)” menguatkan apa yang disampaikan kepada anak didiknya. Merupakan suatu hal yang kontra produktif, misalnya, apabila seorang pendidik menyampaikan pentingnya disiplin waktu sementara kegiatan pembelajaran dimulai lebih lambat dan diselesaikan lebih cepat. Maria Montessori menyatakan “jika anda memberitahu mereka, mereka hanya akan melihat gerakan bibirmu, tapi jika anda menunjukkan pada mereka, mereka akan tergoda untuk melakukannya sendiri
4. Kharisma. Metode keempat dari Smart Teaching yang dikemukakan oleh Agung Webe ini menunjukkan bahwa seorang pendidik merupakan sosok yang dipandang memiliki kelebihan oleh anak didiknya sehingga mereka menjadi sosok yang layak digugu dan ditiru yang selanjutnya menjadi akronim kata “guru”. Dalam pandangan Agung Webe, seorang pendidik yang memiliki kharisma adalah mereka yang memiliki 5 langkah rahasia yang harus diwujudkan pada anak didiknya yaitu, 1) mendorong cita-cita, 2) memaklumi kegagalan, 3) menyingkirkan ketakutan, 4) membenarkan kecurigaan, 5) serta membantu menyingkirkan penghalang.  Henry Adam menyatakan “menggandeng tangan, membuka pikiran, menyentuh hati, serta membentuk masa depan adalah ciri pendidik yang berpengaruh selamanya dan dia tidak akan pernah tahu kapan pengaruhnya berakhir
5.Emotional Persuasion Treatment. Metode kelima dari Smart Teaching yang dikemukakan oleh Agung Webe ini terkait dengan  upaya penanganan emosi oleh pendidik secara persuasif bagi anak didiknya selama proses pembelajaran. Penanaman sugesti positif dalam penanganan berbagai persoalan pembelajaran yang melibatkan emosi anak didik. Dalam proses ini, Agung Webe menawarkan Single Binding Pattern dan Triangle Code. Single Binding Pattern merupakan upaya pendidik untuk melekatkan dua kalimat yang pada dasarnya berjumlah dua sehingga menjadi satu dengan tujuan memberi sugesti pada anak didik untuk melakukan apa yang diinstruksikan dengan memberikan konsekuensi logis dari penerimaan atau penolakan atas instruksi tersebut. Adapun Triangle Code merupakan upaya pendidik untuk mendukung Single Binding Pattern dengan kode segitiga pernafasan. Rumusnya adalah apabila pendidik bernapas 1x, jantung berdetak 3x dan otak berdenyut 9x. Dalam Emotional Persuasion Treatment, orang yang denyut otaknya di bawah 120x/menit maka akan memilik kemampuan mempengaruhi orang lain yang lebih efektif dan efisien. Apabila pendidik biasa denyut otaknya sekitar 120x/menit sebagai manusia normal maka pendidik yang luar biasa harus mengatur pernapasannya  supaya denyut otaknya di bawah 120x/menit pada Emotional Persuasion Treatment melalui Triangle Code sebagai pendukung dari Single Binding Pattern dalam pemberian sugesti.
 Agung Webe, seorang penulis buku dan mantan pramugara Garuda Indonesia ini, telah memberikan sepercik inspirasi terkait bagaimana pembelajaran dapat diterapkan dengan  memahami potensi yang pada dasarnya telah ada dalam diri anak didik. Kedudukan seorang pendidik adalah pemantik dalam mengaktifkan potensi tersebut. Penulis teringat pernyataan Galileo Galilei “kita kadang tidak bisa mengajari  orang apa pun karena kita hanya bisa membantu mereka menemukannya dalam diri mereka 

Selasa, 16 Juni 2020

Ngainun Naim: Sang Inspirator Literasi



Oleh: Muhammad Rusydi
          Perkenalan saya dengan sosok Ngainun Naim, yang selanjutnya cukup saya sapa dengan Gus dalam tulisan ini, berawal dari kegiatan review proposal penelitian dosen IAIN Bone yang difasilitasi oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) pada awal 2019. Kesan pertama yang saya tangkap dari sosok Gus adalah sosok akademisi yang sangat terbuka untuk diajak berdiskusi tanpa memperdulikan posisi beliau sebagai seorang reviewer dalam kaitannya dengan posisi saya sebagai seorang calon peneliti, yang pada dasarnya, memiliki reviewer lain atas proposal penelitian yang kami ajukan dengan judul “Penguatan Antropologi Pembelajaran Bahasa Arab dalam Tradisi Keilmuan PTKIN di Sulawesi Selatan: Perspektif Antropolinguistik”. Mungkin ini salah satu ikhitiar peneliti dalam menghadapi review proposal penelitian dari reviewer yang berbeda sebagai  review awal dari reviewer lain seperti nasehat orang dulu bahwa menghadapi guru silat harus dihadapi dengan jurus guru silat yang setara. Konsekuensinya, untuk sukses menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari seorang reviewer maka yang saya harus lakukan adalah belajar pada reviewer lain yang setara. Tiap masukan yang beliau berikan demi perbaikan proposal penelitian yang kami ajukan menjadi catatan tersendiri sehingga mengantarkan penelitian kami lolos pada Kategori Penelitian Pengembangan Pendidikan Tinggi.
Proses pendampingan Gus kemudian berlanjut setelah  Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) IAIN Bone memberikan waktu tersendiri bagi beliau untuk membimbing literasi dosen dalam sebuah workshop sehari. Ada beberapa inspirasi menulis yang beliau kemukakan dalam workshop tersebut seperti perlunya menuangkan ide dalam bentuk tulisan agar seorang dosen dapat melakukan aktualisasi diri. Menurut beliau, aktulisasi diri dengan menulis boleh jadi memiliki efek apresiasi dari pihak lain yang melebihi dari sekedar berkomunikasi langsung sekalipun. Kita mungkin pernah mengagumi seseorang dari berbagai karya tulis ilmiah yang ditulisnya sehingga sterotip yang tertanam dalam benak kita tentang sosok penulis tersebut adaah orang yang sangat sempurna tapi saat bertemu langsung dengan penulisnya maka kita sendiri kaget karena sosoknya adalah orang yang biasa-biasa saja dari sisi penampilannya. Penulis sendiri pernah merasakan hal tersebut dimana sosok Mujamil Qomar adalah sosok penulis yang sangat menginspirasi perjalanan akademik penulis dengan beberapa karya tulis beliau terkhusus “Epistemologi Pendidikan Islam: Dari Metode Rasional hingga Metode Kritik” yang kemudian menginspirasi pemilihan judul disertasi penulis pada Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tentang “Epistemologi Pembaharuan Pembelajaran Bahasa Arab dalam Pemikiran Azhar Arsyad” Sosok Mujamil Qomar yang penulis bayangkan serba “wow” sebelum bertemu ternyata beliau adalah sosok yang sangat sederhana dari sisi penampilan meski jujur penulis rela duduk berlama-lama untuk mendengarkan kuliah-kuliah beliau yang sangat berisi dan menginspirasi. Oleh karena itu, Gus selalu mendorong peserta workshop saat itu untuk menulis apapun yang bisa ditulis sebagai proses pembelajaran ke depannya. Satu lembar yang ditulis hari ini boleh jadi akan bermetamorfosis menjadi buku tebal yang di sampulnya tertulis nama kita di masa mendatang karena buku tebal yang di sampulnya tertulis nama orang juga pada awalnya berawal dari satu lembar yang ditulis oleh mereka pada saat mereka mau memulai untuk menulis. Persoalannya bukan seberapa “mampu” kita untuk menulis tapi seberapa “mau” kita untuk memulai menulis seperti kata orang bijak “Don’t ask me, am I able? But, ask yourself, do I want?
Dalam kaitannya dengan kiat menulis, Gus memberikan  penekanan untuk selalu mendahulukan prior knowledge yang kami miliki untuk selanjutnya diperkuat dengan kutipan dari berbagai referensi yang ditulis orang lain. Jangan yang terjadi adalah sebaliknya dimana seorang penulis memberi kalimat sedikit kalimat pembuka lalu mengumpulkan kutipan-kutipan panjang dari berbagai referensi yang ditulis orang lain untuk selanjutnya ditutup dengan komentar pendek dari penulis itu sendiri. Dalam konteks ini, penulis tersebut tidak lebih dari “master of ceremony” yang membuka sebuah acara dengan “basmalah” dan menutup dengan “hamdalah” sementara acara inti diisi oleh pembicara-pembicara lain. Untuk menjadi seorang penulis yang bisa menjadi “keynote speaker” dalam tulisan yang dibuatnya, Gus menegaskan perlunya banyak membaca memperluas wawasan sehingga ide dalam menulis akan mengalir seiring dengan pemahaman yang mendalam atas topik yang ditulis. Banyak kiat-kiat menulis yang Gus sampaikan dalam workshop tersebut yang pada intinya penulis tangkap bahwa untuk bisa menulis maka syaratnya hanya ada tiga yaitu, mau, mau dan mau.
Dalam mengakselerasi budaya literasi di kalangan dosen, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) IAIN Bone memfasilitasi Gus untuk melakukan pendampingan budaya literasi melalui group WA dimana masing-masing peserta diwajibkan menyetor satu artikel wajib setiap pekan dan artikel sunnah yang tidak dibatasi jumlahnya. Strategi ini juga telah beliau terapkan pada beberapa PTKIN lain yang meminta jasa beliau untuk melakukan pendampingan budaya literasi. Dari kegiatan pendampingan budaya literasi beliau pada dosen IAIN Bone, telah terbit buku dengan judul “Guru Inspiratif” yang merupakan kumpulan tulisan peserta pendampingan ditambah puluhan artikel lintas keilmuan berbasis blog yang siap diterbitkan sebagai buku berikutnya. Penulis sendiri, berbekal dari inspirasi dari beliau untuk terus menulis dengan pendampingan kiat-kiat menulis tentunya, dalam dua tahun terakhir 2019 dan 2020, telah menulis dua buku dengan judul “Pembelajaran Bahasa Arab Komunikatif: Perspektif Psikolinguistik” dan “Filsafat Analitik: Menyelami Makna dalam Semantik Bahasa Arab” yang dibiayai oleh Program Buku Referensi dan Program Gemuk, dua program penulisan buku di kalangan dosen yang dibiayai oleh DIPA IAIN Bone.
Ketika Rene Descartes menyatakan bahwa “segala sesuatu harus diragukan (du omnibus dubitandum)”, penulis sepakat karena tokoh sekelas Imam al-Ghazali sendiri membangun konstruk epistemologi pemikiran beliau dalam lokus keraguan (skeptitisme), tapi penulis sangat tidak sepakat terhadap “keraguan” untuk mengakui peran Gus Ngainun Naim sebagai salah seorang inspirator literasi yang banyak menginspirasi penulis dan penulis lainnya.
              
              
                 

Berlebaran Serba Baru: Idul Fitri sebagai Momentum Pembaruan Diri

Menyambut Idul Fitri kerap dimaknai sebagai perayaan kemenangan. Kemenangan yang dimaksud bukanlah sekadar keberhasilan melewati fase Ramadh...