Oleh:
Muhammad Rusydi
William
Arthur Ward, seorang motivator pendidikan Amerika Serikat, mengungkapkan bahwa
“pendidik biasa memberitahukan, pendidik baik biasa menjelaskan, pendidik
ulung biasa memeragakan, sementara pendidik hebat selalu mengilhami”. Ungkapan
ini menjadi sebuah pijakan dalam pengembangan konsep pendidikan Rabbani dalam
kerangka epistemologisnya. Merujuk pada definisi yang dikembangkan oleh
al-Raghib al-Asfahani bahwa pendidikan Rabbani merupakan paradigma pendidikan
yang mendudukkan Allah swt. sebagai rujukan pengembangannya, internalisasi
nilai pendidikan kepada peserta didik harus senantiasa dikaitkan dengan
komitmen primordial kepada Rabb-nya sebagaimana terekam dalam QS. al-A’raf/07:172
yang terjemahnya “Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab:
"Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi".
Pendidikan
Rabbani berupaya mendudukkan peserta didik sebagai subyek pendidikan aktif
karena diilhami oleh pancaran hidayah dari Rabb-nya. Penggunaan kata “Rabb”
ketika Allah swt mengkonfirmasikan komitmen primordial dari yang dicipta (al-Makhluq)
kepada Pencipta (al-Khaliq), dari yang menyembah (al-‘Abid)
kepada yang disembah (al-Ma’bud) menunjukkan bahwa kata “Rabb”
yang kemudian diderivasi menjadi kata “Tarbiyah” memiliki makna
pembimbingan Allah swt dalam proses pendidikan. Konsekuensinya, pendidikan
Rabbani melihat bahwa keaktifan peserta didik dalam proses pembelajaran sangat
ditentukan oleh kedekatannya pada Dzat yang Maha Aktif yang dalam hal ini
adalah Allah swt. Seorang hamba yang telah memproklamirkan komitmen
primordialnya untuk ber-i’tiraf dalam lokus ta’abbudi yang
bersifat holistik harus senantiasa meningkatkan potensi yang dimilikinya
sehingga sifat-sifat nasut yang dimilikinya dapat dieliminir untuk dapat
mendekati sifat-sifat lahut yang imanen dengan Rabb-nya.
Disinilah kerangka aksiologis dari pendidikan Rabbani yang menjembatani
transformasi nasut menuju lahut, dari yang dimensi yang profane
ke dimensi yang sacred.
Upaya untuk
mewujudkan paradigma pendidikan yang betul-betul mampu membawa peserta didik
sebagai hamba Ilahi yang membutuhkan “tarbiyah” yang tidak terputus dari
Rabb-nya, pendidikan Rabbani meniscayakan bahwa penguatan nilai-nilai
akidah, syariah, dan akhlak harus ditanamkan dalam diri peserta didik melalui
proses pendidikan yang dimulai dari buaian sampai ke liang lahat (long life
education). Meminjam analogi kereta api, peserta didik hanya akan sampai
pada stasiun yang ditujunya apabila mereka berjalan pada rel yang telah
ditentukan yang dalam hal ini adalah penguatan nilai-nilai akidah, syariah, dan
akhlak dalam sebuah proses pendidikan yang ditempuhnya. Oleh karena itu,
pendidikan Rabbani selalu berupaya untuk mendudukkan proses pendidikan pada
pengembangan potensi fitrah ruhiyah yang imanen dengan penciptaan mereka
seperti yang termaktub dalam QS. al-Hijr/15:29
serta QS. al-Sajadah/32:9.
Potensi ruh dalam lokus pendidikan Rabbani dipandang sebagai suatu chip
yang dititipkan dalam diri manusia supaya bisa senantasa terhubung dengan
sumber ilmu pengetahuan yaitu “Rabb”. Keaktifan chip tersebut
dalam tradisi keilmuan filsafat perennial dipandang sebagai upaya untuk menjaga
ketersambungan antara Rabb yang Mengajar dengan hamba
yang diajar ataupun antara Rabb yang Membimbing dengan hamba yang
dibimbing. Dalam konteks ini, pendidikan Rabbani berfungsi untuk mengaktifan chip
sehingga ada relasi kosmik, mikrokosmos ataupun makrokosmos, yang kuat
antara manusia dengan berbagai dimensi kosmos yang imanen dengan penciptaannya
untuk selanjutnya menjadi wasilah bagi manusia untuk ber-tarbiyah kepada
Rabb-nya. Kekuatan dari ruh ini telah diisyaratkan oleh Huston Smith
dalam karyanya “The Forgotten Truth” menggambarkan relasi kosmos
tersebut dimana mikrokosmos dibahasakan sebagai level diri sementara
makrokosmos dibahasakan sebagai level realitas. Tubuh (body) pada level
diri bersenyawa dengan alam benda (terrestrial) pada level realitas,
pikiran (mind) pada level diri bersenyawa dengan alam cakrawala (intermediate)
pada level realitas, jiwa (soul) pada level diri berseyawa dengan alam
langit (celelstial) pada level realitas, sedangkan ruh (spirit) pada
level diri bersenyawa dengan yang alam tak terhingga (infinite) pada
level realitas. Persenyawaan kosmik pada level terakhir dalam lokus pendidikan
Rabbani diisyaratkan seperti pada firman Allah swt. QS. al-Kahfi/18:65 yang
terjemahnya “Lalu mereka
bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba kami, yang telah kami
berikan kepadanya rahmat dari sisi kami, dan yang telah kami ajarkan kepadanya
ilmu dari sisi Kami”
Pendidikan
Rabbani merupakan suatu upaya pengaktifan potensi fitrah ruhiyah peserta
didik sehingga mereka bisa melakukan transformasi diri dari being ke becoming.
Ketika konsep peserta didik sebagai being dipahami sebagai sesuatu yang
bersifat pasif dan statis, maka konsep mereka sebagai becoming harus
berimplikasi praktis pada upaya untuk memahami mereka sebagai subyek “tarbiyah”
yang aktif dan progresif. Kekuatan ruh yang menjadi chip penghubung
manusia pada Dzat yang Maha Tahu (al-‘Alim) harus diakselerasi
sedemikian rupa. Seperti analogi sumur yang digambarkan oleh Quraish Shihab
bahwa untuk menjadikannya sebagai sumur yang memiliki air maka tidak cukup
dilakukan hanya mengisi sumur tersebut dengan memompa air dari luar tapi yang
juga bisa dilakukan adalah dengan menggali dan terus menggali dasar sumur
tersebut sampai ada mata air yang memancar dari dasarnya. Cara yang pertama
lebih berdimensi hushuli sementara cara yang kedua lebih berdimensi hudhuri.
Ketika pendidikan Rabbani selalu menekankan perlunya ketersambungan kepada Dzat
yang Maha Tahu (al-Alim), ruh ini harus selalu dibersihkan dari berbagai
kotoran jiwa yang bisa dilakukan dengan beberapa tahapan seperti mengosongkan
jiwa dari berbagai ego destruktif (takhalli), mengisi jiwa dengan ego
konstruktif (tahalli), untuk selanjutnya melangkah ke ketersambungan
kepada Rabb (tajalli). Konsep pendidikan Rabbani yang ditandai
dengan pengaktifan potensi fitrah ruhiyah peserta didik ini, pada
dasarnya, telah diisyaratkan oleh beberapa pemikir Islam seperti Ibnu Rusyd
dengan konsep indra batinnya, az-Zarnuji dengan konsep syarat pemerolehan
ilmunya, Mulla Shadra dengan konsep akal praktisnya, dan yang lainnya.
Ketika William
Arthur, pada awal tulisan ini, menekankan perlunya sosok pendidik hebat yang
selalu mengilhami, dapat dipahami bahwa pendidikan Rabbani telah memberikan
sebuah kerangka ontologis terkait pendidik terbaik yang selalu mengilhami
adalah Rabb, Dzat yang Maha Tahu (al-Alim). Konsekuensinya,
seorang pendidik, dalam konteks pendidikan Rabbani, dapat menjadi pendidik
terbaik yang selalu mengilhami dengan mengambil contoh dari bagaimana Rabb, Dzat yang Maha Tahu (al-Alim)
mengajar para hamba-Nya atau paling tidak berupaya memposisikan dirinya sebagai
agen dalam transformasi ilmu pengetahuan dari Rabb kepada seluruh umat
manusia sekaligus sebagai wadah “tarbiyah” baginya sebagai bagian imanen
dari umat manusia itu sendiri. Menarik apa yang Jalaluddin Rumi pernah tanyakan
“adakah pelukis yang melukis sebuah lukisan indah demi lukisan itu sendiri?” Jawabnya?
Wallahu a’lam!
Makasi ilmunya kanda Doktor
BalasHapusBerkah, menemukan jalan Fitrah sebagai mahasiswa dan pendidik
BalasHapusMantap pak doktor
BalasHapusMari berusaha menjadi pendidik hebat yang mengilhami.
BalasHapusMari berusaha menjadi pendidik hebat yang mengilhami.
BalasHapusMari berusaha menjadi pendidik hebat yang mengilhami.
BalasHapus