Minggu, 07 Juni 2020

Pendidikan Rabbani

Oleh: Muhammad Rusydi

     William Arthur Ward, seorang motivator pendidikan Amerika Serikat, mengungkapkan bahwa “pendidik biasa memberitahukan, pendidik baik biasa menjelaskan, pendidik ulung biasa memeragakan, sementara pendidik hebat selalu mengilhami”. Ungkapan ini menjadi sebuah pijakan dalam pengembangan konsep pendidikan Rabbani dalam kerangka epistemologisnya. Merujuk pada definisi yang dikembangkan oleh al-Raghib al-Asfahani bahwa pendidikan Rabbani merupakan paradigma pendidikan yang mendudukkan Allah swt. sebagai rujukan pengembangannya, internalisasi nilai pendidikan kepada peserta didik harus senantiasa dikaitkan dengan komitmen primordial kepada Rabb-nya sebagaimana terekam dalam QS. al-A’raf/07:172  yang terjemahnya “Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi".
Pendidikan Rabbani berupaya mendudukkan peserta didik sebagai subyek pendidikan aktif karena diilhami oleh pancaran hidayah dari Rabb-nya. Penggunaan kata “Rabb” ketika Allah swt mengkonfirmasikan komitmen primordial dari yang dicipta (al-Makhluq) kepada Pencipta (al-Khaliq), dari yang menyembah (al-‘Abid) kepada yang disembah (al-Ma’bud) menunjukkan bahwa kata “Rabb” yang kemudian diderivasi menjadi kata “Tarbiyah” memiliki makna pembimbingan Allah swt dalam proses pendidikan. Konsekuensinya, pendidikan Rabbani melihat bahwa keaktifan peserta didik dalam proses pembelajaran sangat ditentukan oleh kedekatannya pada Dzat yang Maha Aktif yang dalam hal ini adalah Allah swt. Seorang hamba yang telah memproklamirkan komitmen primordialnya untuk ber-i’tiraf dalam lokus ta’abbudi yang bersifat holistik harus senantiasa meningkatkan potensi yang dimilikinya sehingga sifat-sifat nasut yang dimilikinya dapat dieliminir untuk dapat mendekati sifat-sifat lahut yang imanen dengan Rabb-nya. Disinilah kerangka aksiologis dari pendidikan Rabbani yang menjembatani transformasi nasut menuju lahut, dari yang dimensi yang profane ke dimensi yang sacred.
Upaya untuk mewujudkan paradigma pendidikan yang betul-betul mampu membawa peserta didik sebagai hamba Ilahi yang membutuhkan “tarbiyah” yang tidak terputus dari Rabb-nya, pendidikan Rabbani meniscayakan bahwa penguatan nilai-nilai akidah, syariah, dan akhlak harus ditanamkan dalam diri peserta didik melalui proses pendidikan yang dimulai dari buaian sampai ke liang lahat (long life education). Meminjam analogi kereta api, peserta didik hanya akan sampai pada stasiun yang ditujunya apabila mereka berjalan pada rel yang telah ditentukan yang dalam hal ini adalah penguatan nilai-nilai akidah, syariah, dan akhlak dalam sebuah proses pendidikan yang ditempuhnya. Oleh karena itu, pendidikan Rabbani selalu berupaya untuk mendudukkan proses pendidikan pada pengembangan potensi fitrah ruhiyah yang imanen dengan penciptaan mereka seperti yang termaktub dalam QS. al-Hijr/15:29 serta QS. al-Sajadah/32:9.
Potensi ruh dalam lokus pendidikan Rabbani dipandang sebagai suatu chip yang dititipkan dalam diri manusia supaya bisa senantasa terhubung dengan sumber ilmu pengetahuan yaitu “Rabb”. Keaktifan chip tersebut dalam tradisi keilmuan filsafat perennial dipandang sebagai upaya untuk menjaga ketersambungan antara Rabb yang Mengajar dengan hamba yang diajar ataupun antara Rabb yang Membimbing dengan hamba yang dibimbing. Dalam konteks ini, pendidikan Rabbani berfungsi untuk mengaktifan chip sehingga ada relasi kosmik, mikrokosmos ataupun makrokosmos, yang kuat antara manusia dengan berbagai dimensi kosmos yang imanen dengan penciptaannya untuk selanjutnya menjadi wasilah bagi manusia untuk ber-tarbiyah kepada Rabb-nya. Kekuatan dari ruh ini telah diisyaratkan oleh Huston Smith dalam karyanya “The Forgotten Truth” menggambarkan relasi kosmos tersebut dimana mikrokosmos dibahasakan sebagai level diri sementara makrokosmos dibahasakan sebagai level realitas. Tubuh (body) pada level diri bersenyawa dengan alam benda (terrestrial) pada level realitas, pikiran (mind) pada level diri bersenyawa dengan alam cakrawala (intermediate) pada level realitas, jiwa (soul) pada level diri berseyawa dengan alam langit (celelstial) pada level realitas, sedangkan ruh (spirit) pada level diri bersenyawa dengan yang alam tak terhingga (infinite) pada level realitas. Persenyawaan kosmik pada level terakhir dalam lokus pendidikan Rabbani diisyaratkan seperti pada firman Allah swt. QS. al-Kahfi/18:65 yang terjemahnya “Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba kami, yang telah kami berikan kepadanya rahmat dari sisi kami, dan yang telah kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami”
Pendidikan Rabbani merupakan suatu upaya pengaktifan potensi fitrah ruhiyah peserta didik sehingga mereka bisa melakukan transformasi diri dari being ke becoming. Ketika konsep peserta didik sebagai being dipahami sebagai sesuatu yang bersifat pasif dan statis, maka konsep mereka sebagai becoming harus berimplikasi praktis pada upaya untuk memahami mereka sebagai subyek “tarbiyah” yang aktif dan progresif. Kekuatan ruh yang menjadi chip penghubung manusia pada Dzat yang Maha Tahu (al-‘Alim) harus diakselerasi sedemikian rupa. Seperti analogi sumur yang digambarkan oleh Quraish Shihab bahwa untuk menjadikannya sebagai sumur yang memiliki air maka tidak cukup dilakukan hanya mengisi sumur tersebut dengan memompa air dari luar tapi yang juga bisa dilakukan adalah dengan menggali dan terus menggali dasar sumur tersebut sampai ada mata air yang memancar dari dasarnya. Cara yang pertama lebih berdimensi hushuli sementara cara yang kedua lebih berdimensi hudhuri. Ketika pendidikan Rabbani selalu menekankan perlunya ketersambungan kepada Dzat yang Maha Tahu (al-Alim), ruh ini harus selalu dibersihkan dari berbagai kotoran jiwa yang bisa dilakukan dengan beberapa tahapan seperti mengosongkan jiwa dari berbagai ego destruktif (takhalli), mengisi jiwa dengan ego konstruktif (tahalli), untuk selanjutnya melangkah ke ketersambungan kepada Rabb (tajalli). Konsep pendidikan Rabbani yang ditandai dengan pengaktifan potensi fitrah ruhiyah peserta didik ini, pada dasarnya, telah diisyaratkan oleh beberapa pemikir Islam seperti Ibnu Rusyd dengan konsep indra batinnya, az-Zarnuji dengan konsep syarat pemerolehan ilmunya, Mulla Shadra dengan konsep akal praktisnya, dan yang lainnya.
Ketika William Arthur, pada awal tulisan ini, menekankan perlunya sosok pendidik hebat yang selalu mengilhami, dapat dipahami bahwa pendidikan Rabbani telah memberikan sebuah kerangka ontologis terkait pendidik terbaik yang selalu mengilhami adalah Rabb, Dzat yang Maha Tahu (al-Alim). Konsekuensinya, seorang pendidik, dalam konteks pendidikan Rabbani, dapat menjadi pendidik terbaik yang selalu mengilhami dengan mengambil contoh dari bagaimana  Rabb, Dzat yang Maha Tahu (al-Alim) mengajar para hamba-Nya atau paling tidak berupaya memposisikan dirinya sebagai agen dalam transformasi ilmu pengetahuan dari Rabb kepada seluruh umat manusia sekaligus sebagai wadah “tarbiyah” baginya sebagai bagian imanen dari umat manusia itu sendiri. Menarik apa yang Jalaluddin Rumi pernah tanyakan “adakah pelukis yang melukis sebuah lukisan indah demi lukisan itu sendiri?” Jawabnya? Wallahu a’lam!








6 komentar:

  1. Makasi ilmunya kanda Doktor

    BalasHapus
  2. Berkah, menemukan jalan Fitrah sebagai mahasiswa dan pendidik

    BalasHapus
  3. Mari berusaha menjadi pendidik hebat yang mengilhami.

    BalasHapus
  4. Mari berusaha menjadi pendidik hebat yang mengilhami.

    BalasHapus
  5. Mari berusaha menjadi pendidik hebat yang mengilhami.

    BalasHapus

Berlebaran Serba Baru: Idul Fitri sebagai Momentum Pembaruan Diri

Menyambut Idul Fitri kerap dimaknai sebagai perayaan kemenangan. Kemenangan yang dimaksud bukanlah sekadar keberhasilan melewati fase Ramadh...