Selasa, 02 Januari 2024

IKHLAS BERAMAL: INDONESIA HEBAT BERSAMA UMAT

 Oleh:

Dr. Muhammad Rusydi, S.Pd.I., M.Pd.I.

Sekretaris Lembaga Penjaminan Mutu  IAIN Bone

           Hari Amal Bakti ke-78 Kementerian Agama Republik Indonesia memiliki suatu makna tersendiri dalam memahami keberadaannya sebagai salah satu lokomotif pembinaaan kehidupan umat beragama di Indonesia dalam berbagai dimensinya. Dengan mengusung motto Indonesia Hebat Bersama Umat”, Kementerian Agama Republik Indonesia menunjukkan komitmen yang kuat dalam memberikan pelayanan maksimal bagi umat dalam spektrum budaya kerja berbasis integritas, profesionalitas, inovasi, tanggung jawab, serta keteladanan. Usia 78 tahun dalam ukuran umur manusia bukan usia yang bisa dikatakan masih muda tapi bagi sebuah institusi besar sekelas Kementrian Agama Republik Indonesia usia tersebut masih bisa dikatakan muda dan masih harus disikapi dengan terus melakukan pembenahan serta akselerasi berbagai potensi di dalamnya dalam mewujudkan pelayanan yang lebih dekat bagi umat sejalan dengan motto yang diusung pada Hari Amal Bakti ke-78 kali ini. Motto “Ikhlas Beramal”, dengan pijakan yuridis normatif KMA No. 58 Tahun 1979, sebagai suatu refleksi simbolik dari komitmen Kementerian Agama Republik Indonesia dalam mewujudkan pelayanan yang ikhlas tidak cukup hanya dipahami sebagai komitmen untuk memberikan pelayanan semata-mata mengharapkan ridha Allah swt.  atau memaknai ikhlas pelayaanan tanpa pamrih. Kata “ikhlas” memiliki makna yang sangat filosofis dan esoteris sejalan dengan visi dan misi kelembagaan yang diusung oleh kementerian yang didirikan pada 03 Januari 1946 ini. Sikap ikhlas identik dengan kemurnian “ego” manusia yang berpusat pada hari yang murni untuk selanjutnya ditransformasikan pada langkah-langkah praktis dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan beragama yang bersifat empiris.  Konsekuensinya, mereka yang ikhlas beramal akan mampu untuk menetralisir berbagai bentuk ego destruktif yang sangat rentang muncul dan mengalihkan komitmen mewujudkan budaya kerja berbasis integritas, profesionalitas, inovasi, tanggung jawab, serta keteladanan dari sumbu axis-nya yang murni.

Keberadaan posisi ikhlas sebagai posisi yang terbebas dari jeratan dan belenggu ego destruktif berupa keinginan untuk meraih berbagai keuntungan pribadi atau kelompok yang bersifat profan, pragmatis, atau bahkan hedonis meski boleh jadi harus menghalalkan segala macam cara dengan mengambil hak-hak individu atau komunitas lain tergambar dalam QS. an-Nahl/16:66 yang terjemahannya “Dan sungguh, pada hewan ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari apa yang ada dalam perutnya (berupa) susu murni antara kotoran dan darah, yang mudah ditelan bagi orang yang meminumnya”. Susu murni yang dalam redaksi teks bahasa Arabnya adalah “labanan khalisan” digambarkan tetap berada dalam kondisi murni dan tidak tercemar meskipun terletak antara kotoran dan darah. Kondisi kejiwaan yang sama juga akan dirasakan oleh pegawai Kementerian Agama Republik Indonesia yang tercerahkan dengan motto “Ikhlas Beramal” akan senantiasa berkomitmen untuk menjalankan tugas pokok dan fungsi masing-masing sesuai aturan yang berlaku serta tidak akan terpengaruh ataupun terperdaya oleh berbagai sikap dan tindakan yang bertentangan dengan bisikan ego konstruktifnya yang “khalisan. Dalam perspektif filsafat perennialisme, Huston Smith menggambarkan bahwa posisi ikhlas dengan identitas kemurniaannya adalah suatu kondisi spiritualitas yang mempertemukan antara ego konstruktif sebagai The Spirit pada Levels of Selfhood dengan “Dzat yang Maha Sumber dan Maha Tujuan” sebagai The Infinite pada Levels of Reality. Dalam kondisi tersebut, berbagai jubah duniawi yang profan, pragmatis, atau bahkan hedonis yang dapat merusak integritas, profesionalitas, inovasi, tanggung jawab, serta keteladanan pegawai Kementerian Agama Republik Indonesia tidak akan berpengaruh karena ego konstruktifnya yang “khalisan” mampu untuk menghidupkan spiritualitas dalam dirinya dalam relasi (shilah) yang tidak terputus antara The Spirit danThe Infinite, shilah jismiyah, shilah nafsiyah, dan shilah ruhiyah. Ibarat ikan di lautan yang tidak menjadi asin sekalipun berenang dalam air garam yang asin tapi ketika ikan tersebut mati dan digarami maka ikan tersebut akan menjadi asin.

Motto “Ikhlas Beramal” sarat dengan pesan filosofis dan esoteris untuk mentransformasikan motto Hari Amal Bakti ke -78 Kementerian Agama kali ini yaitu “Indonesia Hebat Bersama Umatsebagai komitmen menuju aksi. Kata “Ikhlas” dan kata “Beramal” sebagai dua entitas yang bersintesis dalam motto tersebut mengisyaratkan bahwa apabila ikhlas adalah komitmen maka beramal adalah aksi. Sebuah komitmen yang tidak terjabarkan pada aksi tidak ada bedanya dengan pohon yang tidak berbuah “al-ilm bi la amalin ka as-syajari bi la tsamarin”. Perayaan Hari Amal Bakti ke-78 Kementerian Agama kali ini dengan mengusung motto “Indonesia Hebat Bersama Umat”mengisyaratkan perlunya suatu keterlibatan semua pihak untuk hadir dalam pelayanan yang lebih dekat pada umat sebagai stakeholder pertama dan utama dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya. Motto “Indonesia Hebat Bersama Umat” bisa melahirkan makna transformatif sebagai keberasamaan yang terbangun atas hubungan emosional sebagai umat yang yang dalam genealogi historisnya terikat dalam ikatan nasab kebangsaan dan kenegaraan yang bernama Indonesia. Upaya untuk mendudukkan motto “Ikhlas Beramal” sebagai sebuah komitmen yang perlu ditransformasikan ke tataran aksi dengan menjadikannya sebagai basis paradigmatik perayaan Hari Amal Bakti ke -78 Kementerian Agama kali ini dengan mengusung motto “Indonesia Hebat Bersama Umat” akan berpulang pada kata “ikhlas” itu sendiri yang kemudian bermuara pada kata “amal”.

Dengan adanya semangat ikhlas beramal dalam memberikan pelayanan yang lebih dekat pada umat, konsep ikhlas beramal sebagai basis paradigmatiknya bisa dipahami sebagai kondisi yang mengakselerasi makna persenyawaan kosmik segala sesuatu yang ada pada lingkup kosmos. Surat ke-112 dalam al-Qur’an disebut dengan “al-Ikhlas”, meskipun tidak sekalipun dalam ayat-ayatnya tidak disebutkan kata “ikhlas” tersebut secara eksplisit, mengajarkan tentang makna etika tauhidik yang sarat dengan makna persenyawaan kosmik tersebut. Dalam perspektif semantik Toshihiko Izutsu yang merekomendasikan bahwa bahasa adalah alat untuk membaca dunia di sekeliling bahasa, penamaan surat ke-112 al-Qur’an yang sarat dengan etika tauhidik dengan “al-Ikhlas” merekomendasikan bahwa ikhlas beramal dalam memberikan pelayanan yang lebih dekat pada umat merupakan wujud penyatuan komitmen bahwa setiap umat yang ada di muka bumi ini pada dasarnya adalah satu “kana an-nasu ummatan wahidah (QS. al-Baqarah/02:213)”. Dalam lokus etika tauhidik, ikhlas beramal menunjukkan bahwa pelayanan yang diberikan kepada pihak lain yang terikat dalam persenyawaan kosmik satu sama lain merupakan pelayanan yang efek kemaslahatannya mengarah secara resiprokal kepada si pemberi layanan “in ahsantum ahsantunm li anfusikum (QS. al-Isra/17:07)”. Makna lain dari motto “Ikhlas Beramal” dalam lokus etika tauhidik sesuai dengan akar kata “tauhid” yang berasal dari derivasi wahhada, yuwahhidu, tauhidan adalah menyatukan segala potensi dan sumber daya yang ada dalam memberikan pelayanan yang lebih dekat pada umat yang berbasis integritas, profesionalitas, inovasi, tanggung jawab, serta keteladanan sebagai budaya kerja Kementerian Agama Republik Indonesia. Potensi dan sumber daya yang terfokus dalam penerapannya akan memberikan efek konstruktif dalam mencapai visi kelembagaan ataupun meminimalisir berbagai hambatan yang ada dalam pencapaian visi kelembagaan tersebut layaknya sinar matahari yang dapat membakar selembar kertas ketika cahayanya difokuskan dengan kaca pembesar sebagai ilustrasi metaforisnya. Selamat Hari Amal Bakti ke-78 Kementerian Agama Republik Indonesia. Selamat berkarya dengan ikhlas beramal dalam mewujudkan Indonesia hebat bersama umat. Meminjam adagium Aa Gym, mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil, dan mulai dari sekarang.

Berlebaran Serba Baru: Idul Fitri sebagai Momentum Pembaruan Diri

Menyambut Idul Fitri kerap dimaknai sebagai perayaan kemenangan. Kemenangan yang dimaksud bukanlah sekadar keberhasilan melewati fase Ramadh...