Oleh: Muhammad Rusydi
Manusia
adalah makhluk pedagogis yang meniscayakan manusia selalu terkait dengan proses
pendidikan. Pendidikan, pada gilirannya, dapat dipahami sebagai proses
akselerasi segala potensi yang imanen dalam diri manusia yang salah satunya
adalah potensi pikir. Ada sebuah cuitan tweeter dari Rocky Gerung yang cukup
menggelitik tapi pada hakikatnya menggugah nalar kritis kita terkait sejauhmana pendidikan telah mampu mengakselerasi potensi pikir tersebut. Rocky Gerung
dalam cuitannya kira-kira seperti ini “ijazah itu tanda pernah sekolah,
bukan tanda pernah berpikir”. Pendidikan dan berpikir merupakan dua entitas
yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Hubungan keduanya terjalin seperti
lampu dengan pancaran cahayanya yang dalam lokus teori performatif bisa
dikatakan bahwa pendidikan bisa dikatakan memiliki validitas apabila mampu
membawa manusia pada suatu proses pendidikan yang disebut berpikir.
Dalam jejak historisnya, berpikir telah menjadi suatu tradisi keilmuan
umat manusia sehingga Aristoteles menyebutnya dengan hewan yang rasional (animal
rationale). Dengan menggunakan analisis rasionya, manusia membangun
kerangka pikir untuk memahami berbagai fenomena kosmos, baik itu
mikrokosmos seperti yang tergambar dalam QS. ar-Rum/30:8 ataupun makrokosmos
seperti yang tergambar dalam QS. ar-Rad/13:3. Munculnya teori pembentukan alam
semesta yang berasal dari air menurut Thales, dari udara menurut Anaximenes,
dan yang lainnya pada masa-masa awal sampai pada teori terbentuknya alam semesta
seperti teori Nebula menurut Immanuel Kant dan Patere de Laplece, teori Tidal
menurut James Jeans dan Harold Jeffrey, dan yang lainnya pada masa berikutnya
merupakan bukti dari transformasi berpikir kosmosentris manusia dalam memahami
berbagai fenomena kosmos yang sangat masif. Di samping itu, kemampuan berpikir
juga telah membawa manusia pada suatu lokus peradaban dari yang tadinya
terjebak pada hal-hal yang bersifat mitosentris untuk selanjutnya menuju ke
hal-hal yang bersifat logosentris. Berpikir merupakan suatu jalan yang harus
ditempuh oleh manusia sebagai “being” untuk membuktikan keber “ada”
annya sehingga sangat tepat apabila Rene Descartes, yang merupakan tokoh aliran
Rasionalisme, menyatakan bahwa “saya berpikir maka saya ada (cogito
ergo sum)”
Sebagai suatu proses pendidikan, berpikir merupakan suatu prasyarat
dalam pemerolehan pengetahuan. Tidak heran apabila Kahlil Gibran menyatakan “tanpa saudara kandungnya pengetahuan, akal yang
merupakan instrumen berfikir manusia bagaikan si miskin yang tidak memiliki
rumah, sedangkan pengetahuan tanpa akal seperti rumah yang tidak terjaga.
Bahkan, cinta, keadilan, dan kebaikan akan terbatas kegunaannya jika akal yang
merupakan instrumen berfikir manusia tidak hadir”. Mendidik untuk berpikir merupakan suatu paradigma
pendidikan yang perlu dikembangkan dengan memposisikan peserta didik sebagai
subyek pembelajaran yang aktif daripada sekedar mendudukkan mereka sebagai
obyek pasif yang tinggal diisi dengan seperangkat pengetahuan yang sifatnya taken
for granted. Mereka adalah negoisator yang berhak untuk melakukan konstruk
berpikir sekaligus autokritik dalam menyikapi materi pembelajaran yang disajikan kepada mereka, baik
mereka menerima secara langsung, menerima dengan beberapa catatan, atau bahkan
menolak sama sekali. Ilustrasi sederhananya adalah mereka seperti disajikan
semangkuk bakso dimana boleh jadi masing-masing individu memiliki respon yang
berbeda-beda. Ada yang langsung menyantapnya sampai habis karena memang suka
dengan bakso sebagai ilustrasi dari mereka yang berpikir lalu memutuskan untuk
menerima materi pembelajaran secara langsung, ada yang tidak langsung
menyantapnya tapi meminta beberapa bumbu tambahan terlebih dahulu seperti jeruk nipis sebagai ilustrasi dari mereka yang berpikir lalu
memutuskan untuk menerima materi pembelajaran dengan beberapa catatan, bahkan
ada yang langsung menolak karena alergi bakso misalnya sebagai ilustrasi dari
mereka yang berpikir lalu memutuskan untuk menolak materi pembelajaran sama
sekali. Merujuk pada pernyataan Kahlil Gibran di atas, dapat dipahami bahwa
cinta, keadilan, dan kebaikan hanya akan bisa dirasakan sebagai sesuatu yang
ada dalam proses pendidikan apabila mendidik untuk berpikir tersebut
diwujudkan.
Implikasi
praktis dari mendidik untuk berpikir akan sangat terasa bagi peserta didik
setelah mereka berada di tengah-tengah kehidupan masyarakat di luar lembaga
pendidikan. Mereka yang terbiasa diajarkan untuk berpikir akan memahami bahwa
seperangkat pengetahuan yang diperolehnya merupakan stimulus berpikir yang
dapat menghasilkan berbagai alternatif keputusan dalam penyelesaian masalah.
Berbeda dengan peserta didik yang lebih banyak diajarkan untuk menerima materi
pembelajaran dengan taken for granted cenderung akan banyak mengalami
kesulitan karena apa yang dipelajari dalam lingkup ruang pembelajaran yang kira-kira seluas
delapan meter persegi tidak sama persis dengan apa yang dihadapi dalam kehidupan
sosial yang memiliki skala bertingkat dari lokal, regional, nasional, bahkan
sampai internasional. Mendidik untuk berpikir merupakan upaya untuk membangun weltanschauung
peserta didik agar mereka memiliki landasan pengembangan ilmu pengetahuan dalam
menghadapi situasi sosial yang berbeda-beda. Ketika fakta yang dihadapi
oleh peserta didik tersebut dalam kehidupan sosial dikatakan sebagai dimensi
empiris sementara kurangnya kemampuan mereka untuk mentransfomasikan
analogi-analogi pengetahuan yang telah diperoleh karena disampaikan dengan taken
for granted dikatakan sebagai dimensi rasional, penulis memahami bahwa
mendidik untuk berpikir merupakan perpaduan dimensi empiris dan rasional karena
teringat dengan pernyataan Immanuel Kant dalam filsafat kritis sintetisnya
ketika mencoba mendamaikan empirisme dan rasionalisme yaitu “pengamatan
tanpa konsep berpikir adalah buta sementara tanggapan tanpa penglihatan adalah
hampa.”
Boleh
jadi, pembahasan nantinya bukan hanya berkutat pada fakta pedagogis, andragogis ataupun heutagogis bagaimana peserta didik
yang semakin terdidik semakin berpikir, tapi kita sebagai pendidik akan merasakan bahwa semakin
kita mendidik juga semakin "mendidik" kita untuk berpikir dalam artian terus meng-upgrade berbagai pendekatan,
metode, teknik dan semacamnya agar maksimal dalam mendidik peserta didik untuk
berpikir.