Senin, 04 Mei 2020

Literasi: Menjadi Penulis Terinspirasi

Oleh: Muhammad Rusydi

Apa yang saya dapatkan dari workshop?
Ketika mencari jawaban dari pertanyaan di atas, saya teringat dengan sebuah pesan bijak bahwa apa yang diperoleh dari suatu proses pembelajaran dapat diukur dari sejauh mana rentang perbedaan antara kemampuan sebelum mengikuti proses pembelajaran dan setelahnya. Tapi saya ingin menambahkan bahwa rentang perbedaan dari sisi progresivitas kemampuan dalam hal menulis belum cukup tanpa dibarengi dengan kemampuan untuk bermetamorfosis menjadi penulis yang tidak mampu menjadi penulis yang mampu lalu dari penulis yang mampu menjadi penulis yang terinspirasi.
Kemampuan untuk melewati fase metamorfosis menjadi penulis yang terinspirasi memerlukan suatu ikhtiar, ini kalau dianggap berlebihan dengan mengatakannya sebagai jihad, ilmiah untuk mengawali sebuah pemaparan ide dengan menulis. Dalam salah satu status instagram pada rusydi59, saya pernah menulis bahwa dengan menulis maka nama tidak hanya tertulis pada batu nisan tapi juga tercetak pada sampul-sampul buku sebagai bukti bahwa kita pernah ada. Kenapa menjadi bukti bahwa kita pernah ada? Rene Descartes pernah menyatakan bahwa “Cogito Ergo Sum” yang artinya “Saya Berpikir Maka Saya Ada, yang membuat saya yakin bahwa sebuah proses untuk disebut ada harus melewati metamorfosis meng”ada” yang disebut berpikir dan menulis tanpa berpikir itu ti”ada” yang dalam lokus rasa itu adalah non”sense” dan rasa (sense) itu adalah inspirasi.
Hadirnya sebuah workshop sebagai altar akademik dalam mengembangkan inspirasi  menulis telah memberikan suatu pengalaman yang sangat berharga bagi orang yang dalam menggugah inspirasi menulis saya sebut sebagai bimbingan me”rasa”.  Merasa itu perlu bagi seorang penulis khusunya untuk mengebangkan kreativitas menulis dengan memadukan dimensi mikrokosmos dan makrokosmos yang menjadi potensi fitrahnya meng”ada” di muka bumi. Workshop ini telah menginspirasi saya untuk lebih jeli memahami refleksi mikrokosmos dalam diri saya terkait dengan  fenomena makrokosmos yang melingkupi saya yang tidak hanya dituntut membaca ayat-ayat, baik qauliyah ataupun kauniyah, tapi juga dituntut mentransformasikannya dalam bentuk tulisan dengan pembacaan lintas perspektif. Dalam sistem persenyawaan kosmik seperti yang digambarkan Huston Smith, penulis yang terinspirasi itu, saya pahami,  lahir dari mereka yang mampu menjembatani dimensi tidak terbatas (infinite)  dengan dimensi ruh (spirit) yang juga saya pahami bahwa penulis terinspirasi itu selalu lahir dari mereka yang memiliki “spirit”





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berlebaran Serba Baru: Idul Fitri sebagai Momentum Pembaruan Diri

Menyambut Idul Fitri kerap dimaknai sebagai perayaan kemenangan. Kemenangan yang dimaksud bukanlah sekadar keberhasilan melewati fase Ramadh...