Oleh: Muhammad
Rusydi
Apa
yang saya dapatkan dari workshop?
Ketika mencari jawaban dari
pertanyaan di atas, saya teringat dengan sebuah pesan bijak bahwa apa yang
diperoleh dari suatu proses pembelajaran dapat diukur dari sejauh mana rentang
perbedaan antara kemampuan sebelum mengikuti proses pembelajaran dan setelahnya.
Tapi saya ingin menambahkan bahwa rentang perbedaan dari sisi progresivitas
kemampuan dalam hal menulis belum cukup tanpa dibarengi dengan kemampuan untuk
bermetamorfosis menjadi penulis yang tidak mampu menjadi penulis yang mampu
lalu dari penulis yang mampu menjadi penulis yang terinspirasi.
Kemampuan untuk melewati fase
metamorfosis menjadi penulis yang terinspirasi memerlukan suatu ikhtiar, ini
kalau dianggap berlebihan dengan mengatakannya sebagai jihad, ilmiah untuk
mengawali sebuah pemaparan ide dengan menulis. Dalam salah satu status
instagram pada rusydi59, saya pernah menulis bahwa dengan menulis maka nama
tidak hanya tertulis pada batu nisan tapi juga tercetak pada sampul-sampul buku
sebagai bukti bahwa kita pernah ada. Kenapa menjadi bukti bahwa kita pernah
ada? Rene Descartes pernah menyatakan bahwa “Cogito Ergo Sum” yang
artinya “Saya Berpikir Maka Saya Ada, yang membuat saya yakin bahwa sebuah proses
untuk disebut ada harus melewati metamorfosis meng”ada” yang disebut berpikir
dan menulis tanpa berpikir itu ti”ada” yang dalam lokus rasa itu adalah
non”sense” dan rasa (sense) itu adalah inspirasi.
Hadirnya sebuah workshop sebagai
altar akademik dalam mengembangkan inspirasi
menulis telah memberikan suatu pengalaman yang sangat berharga bagi
orang yang dalam menggugah inspirasi menulis saya sebut sebagai bimbingan
me”rasa”. Merasa itu perlu bagi seorang
penulis khusunya untuk mengebangkan kreativitas menulis dengan memadukan
dimensi mikrokosmos dan makrokosmos yang menjadi potensi fitrahnya meng”ada” di
muka bumi. Workshop ini telah menginspirasi saya untuk lebih jeli memahami
refleksi mikrokosmos dalam diri saya terkait dengan fenomena makrokosmos yang melingkupi saya
yang tidak hanya dituntut membaca ayat-ayat, baik qauliyah ataupun kauniyah,
tapi juga dituntut mentransformasikannya dalam bentuk tulisan dengan pembacaan
lintas perspektif. Dalam sistem persenyawaan kosmik seperti yang digambarkan
Huston Smith, penulis yang terinspirasi itu, saya pahami, lahir dari mereka yang mampu menjembatani
dimensi tidak terbatas (infinite) dengan
dimensi ruh (spirit) yang juga saya pahami bahwa penulis terinspirasi itu
selalu lahir dari mereka yang memiliki “spirit”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar