Oleh:
Muhammad Rusydi
Sejak World
Health Organization (WHO) mengumumkan bahwa Covid-19 merupakan suatu
pandemi global, hampir semua negara sudah bersiap-bersiap dengan berbagai
dampak negatif dari wabah yang episentrum awalnya ada di Wuhan China ini. Di
samping itu, penetapannya sebagai suatu pandemi global juga telah menggeser stigma
bahwa Covid-19 adalah wabah yang identik dengan label wilayah atau negara yang
dalam hal ini adalah Wuhan China. Dalam perkembangannya, beberapa negara di
Benua Amerika dan Eropa justru menunjukkan tingkat penyebaran wabah berikut
pasien meninggal dunia yang melebihi jumlah yang ada di Wuhan China sebagai
episentrum awalnya seperti yang bisa ditemukan di Amerika Serikat, Italia, dan
Spanyol. Fenomena global ini menunjukkan bagaimana cepatnya penyebaran Covid-19
sekaligus mengingatkan bahwa negara-negara yang terkenal dengan perkembangan
teknologi medis dan sumber daya manusia di bidang kesehatan yang maju sekalipun
juga harus dipaksa kerja ekstra dalam meredam penyebaran Covid-19 yang masih
terus menunjukkan grafik peningkatan setiap harinya.
Jumlah pasien meninggal dunia yang
terus mengiringi penyebaran Covid-19 di berbagai belahan dunia merupakan suatu
tragedi kemanusiaan global yang tidak terbantahkan. Dalam kerangka
filosofisnya, manusia dan haknya atas kesempatan untuk hidup merupakan sisi kemanusiaan
yang paling mendasar. Hilangnya kesempatan untuk hidup tersebut akan merampas
kesempatan manusia untuk menunjukkan sisi kemanusiaannya meskipun kadang-kadang
masih terbungkus dengan berbagai jubah duniawi yang profan sekalipun.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah siapakah yang berpotensi memperparah
tragedi kemanusiaan global tersebut dengan menjadi “perampas” kesempatan untuk
hidup bagi orang-orang yang ada di sekitarnya? Jawabnya bisa diterka dengan merujuk pada
berbagai fakta sosial-empiris yang mewujud dalam altar ikhtiar manusia melawan
makhluk kecil yang bernama Covid-19.
Kelompok “perampas” kesempatan
untuk hidup tersebut adalah mereka yang abai terhadap himbauan untuk
menjaga social distancing demi memutus mata rantai penyebaran Covid-19
padahal boleh jadi mereka adalah pembawa Covid-19 tanpa gejala sehingga sangat
membahayakan orang-orang, khususnya orang tua, yang lebih beresiko terpapar di
lingkungan sosialnya , mereka yang mengambil keuntungan dari kebutuhan tenaga medis
terhadap berbagai alat pelindung diri dengan penjualan di atas rata-rata normal
dari harga semestinya, sampai pada mereka
yang memborong berbagai bahan pokok akibat sindrom panik berlebih sehingga
memicu kenaikan harga di pasar dan pada gilirannya semakin melemahkan kemampuan
daya beli rakyat kecil yang ekonominya pas-pasan.
Ketika Thomas Hobbes dengan
romantisme konfliknya dalam buku “De Cive” mengemukakan bahwa manusia
adalah serigala atas manusia yang lainnya (homo homini lupus), krisis
kemanusiaan telah menampakkan diri sebagai penyebab timbulnya tragedi
kemanusiaan dalam berbagai dimensinya. Tragedi kemanusiaan yang mengiringi
penyebaran Covid-19, apapun bentuknya, ketika dikatakan bahwa hal tersebut
merupakan efek dari krisis kemanusiaan, maka salah satu cara yang bisa
diupayakan untuk mereduksi tragedi kemanusiaan tersebut adalah dengan
meminimalisir krisis kemanusiaan itu sendiri karena keduanya memiliki relasi
kausalitas yang imanen satu sama lain. Saatnya manusia meneguhkan sisi
kemanusiaannya yang hanif seperti yang diilustrasikan oleh Rasulullah Saw.
seperti sebuah bangunan yang masing-masing komponennya saling menguatkan satu
sama lain. Penyebaran Covid-19 yang sangat mengancam keberlangsungan hidup
manusia memang merupakan suatu fakta empirik yang tidak terbantahkan tapi
ancaman tersebut akan semakin menemukan momentum ketika krisis kemanusiaan
telah menggerogoti sisi kemanusiaan manusia. Saatnya sisi kemanusiaan kita
diuji dalam bingkai solidaritas sosial untuk meredam tragedi kemanusiaan akibat
krisis kemanusiaan dalam berbagai bentuknya, yang boleh jadi bagi sebagian
orang, lebih menyakitkan dari sebuah kematian. Saya menyebutnya kelaparan,
kesakitan, keterisolasian sosial, dan yang lainnya yang mungkin saja sudah ada
di lingkungan sosial kita tapi kita tidak tahu atau memang kita yang rigid
untuk tahu. Wallahu A’lam!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar