Minggu, 03 Mei 2020

Covid-19 dan Kemanusiaan: Krisis vs Tragedi

Oleh: Muhammad Rusydi
          Sejak World Health Organization (WHO) mengumumkan bahwa Covid-19 merupakan suatu pandemi global, hampir semua negara sudah bersiap-bersiap dengan berbagai dampak negatif dari wabah yang episentrum awalnya ada di Wuhan China ini. Di samping itu, penetapannya sebagai suatu pandemi global juga telah menggeser stigma bahwa Covid-19 adalah wabah yang identik dengan label wilayah atau negara yang dalam hal ini adalah Wuhan China. Dalam perkembangannya, beberapa negara di Benua Amerika dan Eropa justru menunjukkan tingkat penyebaran wabah berikut pasien meninggal dunia yang melebihi jumlah yang ada di Wuhan China sebagai episentrum awalnya seperti yang bisa ditemukan di Amerika Serikat, Italia, dan Spanyol. Fenomena global ini menunjukkan bagaimana cepatnya penyebaran Covid-19 sekaligus mengingatkan bahwa negara-negara yang terkenal dengan perkembangan teknologi medis dan sumber daya manusia di bidang kesehatan yang maju sekalipun juga harus dipaksa kerja ekstra dalam meredam penyebaran Covid-19 yang masih terus menunjukkan grafik peningkatan setiap harinya.
            Jumlah pasien meninggal dunia yang terus mengiringi penyebaran Covid-19 di berbagai belahan dunia merupakan suatu tragedi kemanusiaan global yang tidak terbantahkan. Dalam kerangka filosofisnya, manusia dan haknya atas kesempatan untuk hidup merupakan sisi kemanusiaan yang paling mendasar. Hilangnya kesempatan untuk hidup tersebut akan merampas kesempatan manusia untuk menunjukkan sisi kemanusiaannya meskipun kadang-kadang masih terbungkus dengan berbagai jubah duniawi yang profan sekalipun. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah siapakah yang berpotensi memperparah tragedi kemanusiaan global tersebut dengan menjadi “perampas” kesempatan untuk hidup bagi orang-orang yang ada di sekitarnya?  Jawabnya bisa diterka dengan merujuk pada berbagai fakta sosial-empiris yang mewujud dalam altar ikhtiar manusia melawan makhluk kecil yang bernama Covid-19.  Kelompok “perampas”  kesempatan untuk hidup tersebut adalah mereka yang abai terhadap himbauan untuk menjaga social distancing demi memutus mata rantai penyebaran Covid-19 padahal boleh jadi mereka adalah pembawa Covid-19 tanpa gejala sehingga sangat membahayakan orang-orang, khususnya orang tua, yang lebih beresiko terpapar di lingkungan sosialnya , mereka yang mengambil keuntungan dari kebutuhan tenaga medis terhadap berbagai alat pelindung diri dengan penjualan di atas rata-rata normal dari harga semestinya,  sampai pada mereka yang memborong berbagai bahan pokok akibat sindrom panik berlebih sehingga memicu kenaikan harga di pasar dan pada gilirannya semakin melemahkan kemampuan daya beli rakyat kecil yang ekonominya pas-pasan.
            Ketika Thomas Hobbes dengan romantisme konfliknya dalam buku “De Cive” mengemukakan bahwa manusia adalah serigala atas manusia yang lainnya (homo homini lupus), krisis kemanusiaan telah menampakkan diri sebagai penyebab timbulnya tragedi kemanusiaan dalam berbagai dimensinya. Tragedi kemanusiaan yang mengiringi penyebaran Covid-19, apapun bentuknya, ketika dikatakan bahwa hal tersebut merupakan efek dari krisis kemanusiaan, maka salah satu cara yang bisa diupayakan untuk mereduksi tragedi kemanusiaan tersebut adalah dengan meminimalisir krisis kemanusiaan itu sendiri karena keduanya memiliki relasi kausalitas yang imanen satu sama lain. Saatnya manusia meneguhkan sisi kemanusiaannya yang hanif seperti yang diilustrasikan oleh Rasulullah Saw. seperti sebuah bangunan yang masing-masing komponennya saling menguatkan satu sama lain. Penyebaran Covid-19 yang sangat mengancam keberlangsungan hidup manusia memang merupakan suatu fakta empirik yang tidak terbantahkan tapi ancaman tersebut akan semakin menemukan momentum ketika krisis kemanusiaan telah menggerogoti sisi kemanusiaan manusia. Saatnya sisi kemanusiaan kita diuji dalam bingkai solidaritas sosial untuk meredam tragedi kemanusiaan akibat krisis kemanusiaan dalam berbagai bentuknya, yang boleh jadi bagi sebagian orang, lebih menyakitkan dari sebuah kematian. Saya menyebutnya kelaparan, kesakitan, keterisolasian sosial, dan yang lainnya yang mungkin saja sudah ada di lingkungan sosial kita tapi kita tidak tahu atau memang kita yang rigid untuk tahu. Wallahu A’lam!








         

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berlebaran Serba Baru: Idul Fitri sebagai Momentum Pembaruan Diri

Menyambut Idul Fitri kerap dimaknai sebagai perayaan kemenangan. Kemenangan yang dimaksud bukanlah sekadar keberhasilan melewati fase Ramadh...