Literasi: Menjadi “Tuan Rumah” Informasi
Oleh:
Muhammad Rusydi
Dari
Mana Saya Mendapatkan Informasi?
Pertanyaan di atas menarik untuk
dijawab ketika ada kebingungan saat ingin menuangkan ide dalam bentuk tulisan.
Faktanya, apa yang ditulis oleh seorang penulis tidak bisa dilepaskan dari apa
yang diketahui sebelumnya yang tentu saja memiliki sumber untuk bisa dikatakan
sebagai informasi. Tentu saja seorang penulis tidak boleh terjebak pada
pola-pola pragmatis dalam menulis dengan memanfaatkan tulisan yang banyak
tersedia dalam bentuk soft file yang tinggal di-copypaste lalu di-paraphrase
dan dengan sedikit membuang rasa malu mengganti nama penulis asli dengan
penulis “palsu” tadi, ini kalau menyebutnya sebagai pencuri bertopeng akademik
dianggap tidak layak.
Dalam upaya mendapatkan
informasi, seorang penulis tidak salah apabila mengutip ide-ide dari penulis
selama hal tersebut dilakukan dengan etika akademik ilmiah yang bisa
dipertanggungjawabkan. Dalam upaya mendapatkan informasi melalui tradisi kutip
mengutip tersebut, saya sangat terinspirasi dengan arahan Gus Ngainun Naiem,
seorang dosen dan mentor literasi yang dihadirkan LP2M IAIN Bone dari IAIN
Tulungagung, bahwa seorang penulis hendaknya mempergunakan kreativitas berpikir
yang dimilikinya yang tentunya dipadukan dengan berbagai informasi yang telah
diketahuinya sebagai langkah awal dalam menulis lalu mengutip berbagai sumber
informasi dari penulis lain sebagai pelengkap atas apa yang ditulisnya.
Kesalahan yang biasa dilakukan oleh penulis, kata beliau, adalah saat menulis
dengan fokus pada suatu topik lalu sibuk mengoleksi tulisan orang lain untuk
disusun yang tinggal ditambahkan dengan ide-ide asli penulis yang sebenarnya
hanya bersifat tambahan saja. Yang saya tangkap dari ide beliau adalah bahwa
jadilah “tuan rumah” informasi dalam tulisan yang anda buat.
Menjadi “tuan rumah” informasi
dalam tulisan yang dibuat, khusus bagi saya, rasanya membutuhkan suatu jihad
akademik yang luar biasa di tengah godaan berbagai artikel soft file yang
tinggal di-copypaste lalu di-paraphrase. Lebih mudah rasanya menundukkan
pandangan saat memandang wanita cantik dibandingkan menahan jari telunjuk kanan
untuk tidak meng-klik kanan mouse dengan meng-copy paste. Saya sangat
tertarik dengan bimbingan menulis ini, saya mendapatkan banyak informasi dari
sisi formal dan materilnya untuk berani mengungkapkan apa yang saya bisa
sampaikan dari informasi yang saya pernah dapatkan. Saya tertarik saat menonton
salah satu adegan pertarungan dua orang ninja yang memilih bertarung dengan
menutup mata karena yakin, mungkin sudah sampai pada tahap haqqul yaqin” bahwa
dalam dirinya ada potensi untuk menghadapi pertarungan tanpa terpasung dengan
inderanya. Mungkin sebagai penulis, seperti kata Gus Ngainun Naiem, perlu
mengandalkan kemampuan mengelola informasi yang pada dasarnya sudah ada dalam
ide masing-masing penulis untuk selanjutnya dipoles dan dilengkapi dengan
sumber informasi dari ide-ide orang lain agar seorang penulis bisa benar-benar
menjadi “tuan rumah” informasi dalam tulisan yang dibuatnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar