Rabu, 06 Mei 2020

Filosofi Iqra'


Oleh: Muhammad Rusydi
          Iqra’ adalah sebuah bentuk kata kerja perintah (fi’il amr) yang disebutkan pada awal QS. al-‘Alaq. Sebagai ayat yang pertama kali turun, penggunaan kata Iqra’ bukan hanya dipahami sebagai bentuk komunikasi yang terjadi antara Jibril selaku pembawa wahyu kepada Rasulullah Saw untuk membaca  ayat yang pertama kali diturunkan bertepatan dengan 17 Ramadhan tersebut. Sekalipun  jawaban yang disampaikan oleh Rasulullah Saw pada waktu itu adalah “aku tidak bisa membaca” merupakan bentuk respon langsung yang berterima dengan instruksi untuk membaca tersebut, tapi fakta bahwa kata Iqra’ menjadi bagian yang imanen dalam teks QS. al-‘Alaq mengisyaratkan bahwa perintah untuk membaca tersebut telah menembus sekat ruang dan waktu yang berlaku secara universal. Filosofi Iqra’ mengisyaratkan bahwa siapa yang membaca apa? dengan cara apa? kapan dan dimana?, serta berbagai pertanyaan eksploratif lainnya sudah bertransformasi pada berbagai dimensi kehidupan manusia yang sangat dinamis. 
        Dalam menggambarkan transformasi makna filosofis dari kata Iqra’ tersebut, Nasaruddin Umar, dalam salah satu ceramah beliau, merinci bahwa filosofi Iqra’ pada tingkatan yang paling terendah yaitu how to read yang tidak lebih dari kemampuan untuk mengeja huruf dan kata ketika membaca al-Qur’an dengan tartil. Tingkatan berikutnya adalah how to learn dimana Iqra’ telah bertransformasi pada upaya untuk melibatkan kemampuan intelektual untuk menelaah setiap makna yang imanen pada setiap kata, baik secara etimologis ataupun terminologis. Pada tingkatan ketiga, filosofi Iqra’ bertransformasi dari tingkatan sebelumnya yang sekedar how to read ataupun how to learn menjadi how to understand. Pada tingkatan ini, kata Iqra’ dalam makna filosofisnya harus mengantarkan pembaca (Qari’) pada suatu sikap yang dilandasi oleh kecerdasan emosional untuk memahami keberadaan dirinya dalam lingkup mikrokosmos dan makrokosmos. Adapun tingkatan tertinggi dari filosofi Iqra’ adalah how to meditate dimana nilai-nilai yang terserap dalam proses membaca tersebut mampu meresap dalam dimensi spiritual yang terdalam (Mukasyafah) sehingga membentuk pribadi yang berkepribadian dan berprilaku Qur’ani. 
         Filosofi Iqra’ sarat dengan makna filosofis yang memiliki keterkaitan dengan kehidupan manusia yang profan, langsung atau tidak langsung.  Dalam kerangka filosofisnya, ontologi Iqra’ dapat dipahami sebagai proses menghimpun satuan huruf menjadi kata, kata menjadi kalimat, dan seterusnya, sehingga melahirkan pemahaman yang holistik atas suatu makna yang imanen dengan teks. Dalam pengembanganya, ontologi Iqra' meniscayakan multi referensi yang telah banyak diisyaratkan dalam tradisi keilmuan Islam seperti Moh. Abed al-Jabiri dalam kritik nalar Arabnya yang terbangun atas tiga referensi yaitu bayani, burhani, dan irfani, Muhammad Naquib al-Attas dengan gagasan Islamisasi pengetahuannya yang terbangun atas referensi inderawi dan referensi non-inderawi, serta masih banyak lagi referensi lainnya. Konsekuensinya, ontologi Iqra’ juga bisa berimplikasi pada hal-hal yang berada di luar teks atau yang mewujud dalam kon”teks”. Dalam sudut pandang epistemologi, kon“teks” tersebut bisa menjadi semotaksis dalam mengungkap makna-makna yang tersirat dalam teks yang diyakini lebih luas dan aktual dari apa yang tersurat. Oleh karena itu, pembacaan atas teks perlu dikaitkan dengan kon"teks" berupa perpaduan apik antara normativitas dan historitas dengan kreativitas pembaca dalam mensintesakan perpaduannya. Fenomena ini telah diungkapkan dalam hermeneutika Gadamerian yang menyatakan bahwa makna dalam teks sangat ditentukan oleh kreativitas pembaca untuk memahaminya. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana filosofi Iqra’ bisa menjaga otentitas makna penafsiran teks yang diserahkan pada pembaca? Kerangka filosofis dari aksiologi Iqra’ menunjukkan bahwa etika membaca harus mengacu pada isyarat normatif yang ada pada QS. al-‘Alaq yang dengan tegas menyebutkan “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang Menciptakan”. 
Perintah membaca yang imanen dalam filosofi Iqra’ memiliki kerangka filosofis yang sistemik baik dari sisi ontologis, epistemologis, sampai aksiologis. Konsekuensinya, ketika kita diperintahkan untuk membaca segala obyek Iqra’, qauliyah dan kauniyah, dengan penekanan pada landasan teologis normatif “dengan nama Tuhanmu yang Menciptakan”, jadikan al-Khaliq (Pencipta) sebagai pembimbing atas diri kita sebagai al-makhluq (yang dicipta). Dengan jalan ini, Iqra’ telah menjadi titian kita untuk semakin ber-taqarrub kepada Yang Maha Menciptakan. Efek yang lebih jauh, rangkaian lima ayat pertama dalam QS. al-‘Alaq yang ditutup dengan “yang mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya” menunjukkan bahwa ketika kita sebagai seorang pembaca (Qari) semakin ber-taqarrub kepada-Nya, maka Iqra’  bukan hanya memberikan pemahaman kepada kita atas obyek Iqra’, qauliyah dan kauniyah, yang berdimensi hushuli tapi mampu membawa kita pada suatu pemahaman yang berdimensi hudhuri.   


1 komentar:

Berlebaran Serba Baru: Idul Fitri sebagai Momentum Pembaruan Diri

Menyambut Idul Fitri kerap dimaknai sebagai perayaan kemenangan. Kemenangan yang dimaksud bukanlah sekadar keberhasilan melewati fase Ramadh...