Minggu, 03 Mei 2020

Nalar Kritis Covid-19, Konstruktif vs Destruktif


Oleh: Muhammad Rusydi
Pandemik Covid-19 telah menjadi persoalan global. Meminjam slogan Pemilihan Miss Indonesia “Semua Mata Tertuju Padamu”, pandemik Covid-19 telah menjadi isu global yang mengisi pembicaraan dari tingkat kepala negara sampai ke rakyat biasa. Ketika isu tersebut telah menjadi pemantik diskusi dalam berbagai forum, dari yang resmi sampai ke yang tidak resmi sekalipun, nalar kritis-konstruktif yang memahami sebuah fenomena untuk mengembangkan solusi inovatif harus mampu mengalahkan nalar kritis-destruktif yang tidak lebih dari sebuah upaya untuk menjadikan pandemik Covid-19 sebagai sebuah panggung menyebar sensasi tanpa solusi. Bahkan alih-alih berharap solusi, nalar kritis-destruktif telah bermetamorfosis menjadi “virus” individu atau kelompok yang berinkubasi dan sewaktu-waktu dapat meruntuhkan sebuah tatanan sosial kemasyarakatan, yang disadari atau tidak, yang boleh jadi melemah seiring dengan semakin meningkatnya grafik dari yang ODP, PDP, Positif, sampai yang meninggal sekalipun. Ketika nalar kritis-destruktif tersebut yang terus mengambil kendali dan membentuk sterotip kita dalam memahami fenomena global berupa pandemik Covid-19 ini, boleh jadi kepanikan, perasaan stress, sikap apatis, dan semacamnya telah membentuk mental kita dan secara tidak langsung kita sendiri telah mendudukkan diri kita sebagai “lahan subur” bagi inkubasi virus termasuk Covid-19 ini. Dalam dunia kesehatan, imunitas tubuh seseorang yang panik, stress, apatis, dan semacamnya dapat melemah karena berbagai dzat immune booster yang selama ini dipersiapkan oleh tubuh dalam menangkal serangan virus terbuang boros. Ibarat bahan bakar kendaraan bermotor yang dalam kondisi normal sudah ada takaran jarak tempuhnya, ternyata bisa habis lebih cepat alias boros karena adanya komponen kendaraan tersebut yang bermasalah seperti rantai aus, kanvas gundul, dan semacamnya.
Berkaca pada masyarakat Wuhan sebagai episentrum awal penyebaran Covid-19, mereka saling menguatkan dengan semboyang “Wuhan Jiayou”  yang berarti “Wuhan, Semangat” merupakan suatu inspirasi solidaritas sebagai obyek nalar kritis-konstruktif kita. Ketika banyak bermunculan berita-berita hoaks terkait Covid-19 yang cenderung menyalahkan dan menggiring sterotip berujung pembunuhan karakter individu atau kelompok tertentu, saatnya kita memaksimalkan nalar kritis-konstruktif kita dengan membalikkan fenomena tersebut dengan belajar dari fenomena vaksinasi dengan menggunakan virus yang sudah dikendalikan untuk mengatasi virus yang jahat. Ketika ada berita-berita hoaks terkait Covid-19 yang diarahkan untuk menjatuhkan individu atau kelompok tertentu atau bahkan mental kita sendiri untuk selanjutnya terjatuh pada panik, stress, apatis, dan semacamnya, kita tangkal “virus” jahat berupa berita-berita hoaks terkait Covid-19 dengan menggunakan “virus” yang sudah dikendalikan dengan tinggal menambahkan kata “tidak atau bukan”, misalnya ketika ada berita hoaks bahwa “Covid-19 penyakit kutukan” maka tinggal ditambahkan kata “bukan” sehingga menjadi “Covid-19 (bukan) penyakit kutukan”. Bukankah hal ini sejalan dengan rumus Matematika bahwa negatif yang dikalikan negatif maka hasilnya adalah positif?  Bukan saatnya saling menyalahkan di tengah pandemik Covid-19, apalagi melekatkan kesalahan pada agama atau negara apapun karena pada dasarnya kolom agama pada KTP makhluk menghebohkan yang bernama Covid-19 tidak terisi sebagai bukti bahwa dia tidak beragama, eh maaf, ternyata KTP juga dia tidak punya sebagai bukti bahwa dia tidak bernegara. Pandemik  Covid-19 adalah musuh bersama masyarakat global tanpa harus dibatasi oleh sekat-sekat agama dan negara. Kita semua diikat oleh sebuah semangat kebersamaan yang beraltar nilai kemanusiaan. “Indonesia, Jiayou”, kata saudara-saudara kita dari Wuhan memberi semangat, kusambut di Makassar dengan semboyang  “Ewako Indonesiaku”, semoga Pandemik Covid-19 segera berlalu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berlebaran Serba Baru: Idul Fitri sebagai Momentum Pembaruan Diri

Menyambut Idul Fitri kerap dimaknai sebagai perayaan kemenangan. Kemenangan yang dimaksud bukanlah sekadar keberhasilan melewati fase Ramadh...