Oleh:
Muhammad Rusydi
Pandemik Covid-19 telah menjadi
persoalan global. Meminjam slogan Pemilihan Miss Indonesia “Semua Mata
Tertuju Padamu”, pandemik Covid-19 telah menjadi isu global yang mengisi
pembicaraan dari tingkat kepala negara sampai ke rakyat biasa. Ketika isu
tersebut telah menjadi pemantik diskusi dalam berbagai forum, dari yang resmi
sampai ke yang tidak resmi sekalipun, nalar kritis-konstruktif yang memahami
sebuah fenomena untuk mengembangkan solusi inovatif harus mampu mengalahkan
nalar kritis-destruktif yang tidak lebih dari sebuah upaya untuk menjadikan
pandemik Covid-19 sebagai sebuah panggung menyebar sensasi tanpa solusi. Bahkan
alih-alih berharap solusi, nalar kritis-destruktif telah bermetamorfosis
menjadi “virus” individu atau kelompok yang berinkubasi dan sewaktu-waktu dapat
meruntuhkan sebuah tatanan sosial kemasyarakatan, yang disadari atau tidak,
yang boleh jadi melemah seiring dengan semakin meningkatnya grafik dari yang
ODP, PDP, Positif, sampai yang meninggal sekalipun. Ketika nalar
kritis-destruktif tersebut yang terus mengambil kendali dan membentuk sterotip
kita dalam memahami fenomena global berupa pandemik Covid-19 ini, boleh jadi
kepanikan, perasaan stress, sikap apatis, dan semacamnya telah membentuk mental
kita dan secara tidak langsung kita sendiri telah mendudukkan diri kita sebagai
“lahan subur” bagi inkubasi virus termasuk Covid-19 ini. Dalam dunia kesehatan,
imunitas tubuh seseorang yang panik, stress, apatis, dan semacamnya dapat
melemah karena berbagai dzat immune booster yang selama ini dipersiapkan
oleh tubuh dalam menangkal serangan virus terbuang boros. Ibarat bahan bakar
kendaraan bermotor yang dalam kondisi normal sudah ada takaran jarak tempuhnya,
ternyata bisa habis lebih cepat alias boros karena adanya komponen kendaraan
tersebut yang bermasalah seperti rantai aus, kanvas gundul, dan semacamnya.
Berkaca pada masyarakat Wuhan sebagai
episentrum awal penyebaran Covid-19, mereka saling menguatkan dengan semboyang
“Wuhan Jiayou” yang berarti “Wuhan,
Semangat” merupakan suatu inspirasi solidaritas sebagai obyek nalar
kritis-konstruktif kita. Ketika banyak bermunculan berita-berita hoaks terkait Covid-19
yang cenderung menyalahkan dan menggiring sterotip berujung pembunuhan karakter
individu atau kelompok tertentu, saatnya kita memaksimalkan nalar
kritis-konstruktif kita dengan membalikkan fenomena tersebut dengan belajar
dari fenomena vaksinasi dengan menggunakan virus yang sudah dikendalikan untuk
mengatasi virus yang jahat. Ketika ada berita-berita hoaks terkait Covid-19
yang diarahkan untuk menjatuhkan individu atau kelompok tertentu atau bahkan
mental kita sendiri untuk selanjutnya terjatuh pada panik, stress, apatis, dan
semacamnya, kita tangkal “virus” jahat berupa berita-berita hoaks terkait Covid-19
dengan menggunakan “virus” yang sudah dikendalikan dengan tinggal menambahkan
kata “tidak atau bukan”, misalnya ketika ada berita hoaks bahwa “Covid-19
penyakit kutukan” maka tinggal ditambahkan kata “bukan” sehingga menjadi “Covid-19
(bukan) penyakit kutukan”. Bukankah hal ini sejalan dengan rumus Matematika
bahwa negatif yang dikalikan negatif maka hasilnya adalah positif? Bukan saatnya saling menyalahkan di tengah pandemik
Covid-19, apalagi melekatkan kesalahan pada agama atau negara apapun karena
pada dasarnya kolom agama pada KTP makhluk menghebohkan yang bernama Covid-19
tidak terisi sebagai bukti bahwa dia tidak beragama, eh maaf, ternyata KTP juga
dia tidak punya sebagai bukti bahwa dia tidak bernegara. Pandemik Covid-19 adalah musuh bersama masyarakat
global tanpa harus dibatasi oleh sekat-sekat agama dan negara. Kita semua
diikat oleh sebuah semangat kebersamaan yang beraltar nilai kemanusiaan. “Indonesia,
Jiayou”, kata saudara-saudara kita dari Wuhan memberi semangat, kusambut di
Makassar dengan semboyang “Ewako
Indonesiaku”, semoga Pandemik Covid-19 segera berlalu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar