Senin, 04 Mei 2020

Pendidikan itu apa?


Oleh : Muhammad Rusydi

Pendidikan merupakan proses akselerasi menjadi lebih baik. Ketika John Locke menyatakan bahwa manusia seperti kertas putih dan dipertegas dalam QS. al-Nahl/16:78 “لاتعلمون شيئا”, pendidikan memiliki peran strategis untuk mengakselerasi potensi dalam diri manusia untuk menjadi lebih baik. Menjadi lebih baik, seperti yang diisyaratkan Huston Smith, harus berjenjang dari dimensi lahiriyah (body) yang hanya bisa mempersepsi alam kebendaan (terrestrial) menuju dimensi ruhiyah (spirit) yang bisa mempersepsi alam tak terhingga (infinite). Dalam konteks ini, menjadi lebih baik sudah mewujud dalam transformasi nalar akademik menuju ruh akademik.

Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang memerdekakan seperti kata Paulo Freire. Dialektika konstruktif antara pendidik dan peserta didik harus terjalin selama proses pendidikan  berlangsung. Pendidik tidak selamanya akan berbicara tapi ada kalanya mereka harus meluangkan waktu untuk mendengar. Sebaliknya, peserta didik tidak selamanya akan mendengar karena ada kalanya harus memberanikan diri untuk berbicara. Dialektika konstruktif telah membuka peluang ilmu bisa berasal dari mana saja tanpa harus terpasung status profan, pendidik atau peserta didik, karena dalam filosofi Bugis dikenal nilai kearifan “siliweng tessirapi” 

Pendidikan bukan proses yang sebentar seperti kata John Dewey dalam salah satu pernyataannya “educational process has no end beyond itself in its own and end”. Proses pendidikan tersebut akan terus mewarnai keber“ada”an manusia sebagai makhluk pedagogik, andragogik sampai heutagogik. Bukankah Rene Descartes pernah menyatakan “cogito ergo sum”, saya berpikir maka saya ada? Ketika berpikir yang dianalogikan sebagai proses pendidikan menjadi prasyarat keber“ada”an manusia, maka proses pendidikan akan terus berlangsung selama manusia ada yang dalam lokus normatif teologisnya dari buaian sampai ke liang lahat. Tidak salah ketika Immanuel Kant menyatakan bahwa manusia bisa disebut manusia hanya kerena adanya pendidikan.

Pendidikan tidak hanya di sekolah seperti kata Ki Hajar Dewantara yang menginisiasi lahirnya konsep tri pusat pendidikan berbasis keluarga, sekolah, dan masyarakat. Pendidikan adalah tanggung jawab bersama sehingga tidak terjebak pada anekdot bahwa kesuksesan peserta didik menjadi kesuksesan orang tua sementara kegagalan mereka menjadi tanggung jawab pihak sekolah. Oleh karena itu, Ki Hajar Dewantara telah meletakkan tiga fondasi akseleratif  dalam proses tersebut yaitu, 1) ing ngarso sun tulodho yang berarti di depan memberi teladan, 2) ing madyo mangun karso yang berarti di tengah memberi bimbingan, 3) serta tut wuri handayani yang berarti di belakang memberi motivasi yang harus imanen dalam relasi konstruktif tri pusat pendidikan berbasis keluarga, sekolah, dan masyarakat tersebut.

Ketika semboyang “Stay at Home” menggiring hampir seluruh aktivitas pembelajaran peserta didik ke rumah, boleh jadi banyak yang gagap dan kikuk ketika didaulat jadi pendidik dadakan di hadapan anak-anak seperti penulis ketika penulis ditanya tentang rumus menghitung luas dan keliling segi tiga, nama-nama planet dengan urutannya, dan yang lainnya. Akhirnya, kita diajak untuk merenungkan hakikat pendidikan itu seperti apa? Jawabannya kadangkala tidak perlu dengan rangkaian kata yang mengaburkan fakta, yang ditunggu adalah membumikan nilai-nilai pendidikan berupa aksi nyata, apapun bentuknya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berlebaran Serba Baru: Idul Fitri sebagai Momentum Pembaruan Diri

Menyambut Idul Fitri kerap dimaknai sebagai perayaan kemenangan. Kemenangan yang dimaksud bukanlah sekadar keberhasilan melewati fase Ramadh...