Oleh: Muhammad Rusydi
Teologi merupakan
suatu ilmu yang dipelajari oleh manusia dalam mempersepsi berbagai realitas
berdasarkan kaca mata iman. Penggunaan iman dalam kerangka kerja teologi
tersebut tidak terlepas dari posisi iman sebagai salah satu barometer yang
mengatur bagaimana manusia mampu mewujudkan komitmen primordialnya, "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" mereka
menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi" (QS. al-A’raf, 172), sebagai seorang hamba
yang senantiasa mengacu pada kerangka teologis normatif yang telah ditetapkan
oleh Allah Swt. Konsekuensinya, teologi
telah menegaskan posisinya sebagai salah satu disiplin ilmu pengetahuan yang
menjadikan keimanan sebagai platform pengembangannya sehingga antara teologi
dan iman telah terbangun relasi konstruktif yang saling menguatkan satu sama
lain. Dalam perkembangannya, teologi memiliki beberapa nama lain, yang boleh
jadi lebih banyak digunakan dalam lingkungan lembaga pendidikan Islam, seperti ilmu
kalam, ushuluddin, akidah, dan yang lainnya. Ketertarikan penulis untuk
menggunakan istilah “teologi” karena pembahasan antara teologi dan ilmu
pengetahuan terasa belum lengkap tanpa memaparkan jejak historis tradisi keilmuan Islam dan di
luar Islam dimana istilah “teologi” memiliki makna yang lebih umum dan bisa
diterapkan pada berbagai tradisi keilmuan lintas agama dan keyakinan tersebut.
Dalam
kerangka teoretisnya, teologi dan ilmu pengetahuan merupakan dua entitas yang
tidak terpisahkan mengingat teologi merupakan bagian dari ilmu pengetahuan itu sendiri.
Yang menarik kemudian untuk dicermati dalam kerangka praksisnya dimana
seolah-seolah keduanya dibentuk dalam sebuah diskursus bahwa keduanya merupakan
entitas yang terpisah. Teologi terpasung pada dimensi teosentris sementara ilmu
pengetahuan terpasung pada dimensi antroposentrisnya. Konsekuensinya, teologi
digiring masuk pada suatu ruang hampa yang rigid untuk mewarnai ilmu
pengetahuan yang profan dengan nilai-nilai normatif teologisnya. Salah satu jejak historis dari
fenomena tersebut adalah ketika al-Farabi yang merupakan tokoh filsafat
paripatetik-emanasionis menempatkan teologi pada posisi terbawah dalam hirarki
ilmu yang disusunnya dengan hirarki dari yang teratas sampai ke yang terbawah
terdiri atas filsafat, metafisika, matematika, fisika, dan ilmu politik dengan
mendudukkan teologi sebagai sub-bagian dari ilmu politik tersebut. Hal sebaliknya
terjadi di Eropa saat memasuki fase sejarah yang disebut dengan zaman kegelapan
dimana teologi yang saat itu diperkuat dengan otoritas gereja telah mereduksi
perkembangan ilmu pengetahuan. Berbagai fakta historis tersebut menunjukkan
bahwa sekalipun teologi dan ilmu pengetahuan merupakan dua entitas yang tidak
terpisahkan dalam relasi idealnya tapi dalam relasi historis keduanya berbagai benturan
kepentingan profan manusia yang imanen dalam teologi dan ilmu pengetahuan
menggiring keduanya pada lingkaran pergumulan, baik teoretis ataupun praksis.
Diskursus teologi sebagai ilmu pengetahuan mencoba menelusuri sejauhmana posisi teologi dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang dalam perspektif Michael Foucault diskursus digambarkan sebagai sebuah sistem berpikir yang dibangun atas berbagai asumsi umum yang kemudian menjadi ciri khas dari sebuah perspektif yang imanen pada suatu komunitas dalam kurung waktu tertentu. Makna diskursus seperti apa yang digambarkan Michael Foucault ini tentu saja memberikan suatu alternatif dalam memahami pergumulan antara teologi dan ilmu pengetahuan. Ketegangan yang muncul antara teologi dan ilmu pengetahuan dari dulu sampai sekarang tidak bisa menafikan bahwa keduanya juga memiliki relasi konstruktif yang saling menguatkan satu sama lain seperti yang tergambar dalam pernyataan Albert Einsten, science without religion is lame, religion without science is blind. Hal yang menarik kemudian untuk diperhatikan dalam melihat relasi konstruktif antara teologi dan ilmu pengetahuan adalah apa yang digambarkan oleh Ian G. Barbour yang menyatakan bahwa agama yang merupakan bagian dari teologi dan sains yang merupakan bagian dari ilmu pengetahuan memiliki empat model relasi yaitu, 1) konflik yang merupakan model relasi antara agama dan sains yang tidak bisa disatukan karena keduanya merujuk pada klaim sepihak yang saling menyalahkan dan melemahkan, 2) independensi yang merupakan model relasi antara agama dan sains yang meskipun tidak terlibat konflik yang saling menyalahkan dan melemahkan satu sama lain tapi keduanya berdiri pada posisi yang tidak terhubung satu sama lain, 3) dialog yang merupakan model relasi antara agama dan sains yang mengupayakan adanya dialog antara keduanya karena melihat bahwa baik agama dan sains dapat didialogkan satu sama lain karena keduanya terkait satu sama lain, 4) serta integrasi yang merupakan model relasi antara agama dan sains yang lebih intens dari sekedar dialog tapi sudah ada upaya untuk menyelaraskan keduanya dalam sebuah relasi sistemik-konstruktif.
Diskursus teologi sebagai ilmu pengetahuan mencoba menelusuri sejauhmana posisi teologi dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang dalam perspektif Michael Foucault diskursus digambarkan sebagai sebuah sistem berpikir yang dibangun atas berbagai asumsi umum yang kemudian menjadi ciri khas dari sebuah perspektif yang imanen pada suatu komunitas dalam kurung waktu tertentu. Makna diskursus seperti apa yang digambarkan Michael Foucault ini tentu saja memberikan suatu alternatif dalam memahami pergumulan antara teologi dan ilmu pengetahuan. Ketegangan yang muncul antara teologi dan ilmu pengetahuan dari dulu sampai sekarang tidak bisa menafikan bahwa keduanya juga memiliki relasi konstruktif yang saling menguatkan satu sama lain seperti yang tergambar dalam pernyataan Albert Einsten, science without religion is lame, religion without science is blind. Hal yang menarik kemudian untuk diperhatikan dalam melihat relasi konstruktif antara teologi dan ilmu pengetahuan adalah apa yang digambarkan oleh Ian G. Barbour yang menyatakan bahwa agama yang merupakan bagian dari teologi dan sains yang merupakan bagian dari ilmu pengetahuan memiliki empat model relasi yaitu, 1) konflik yang merupakan model relasi antara agama dan sains yang tidak bisa disatukan karena keduanya merujuk pada klaim sepihak yang saling menyalahkan dan melemahkan, 2) independensi yang merupakan model relasi antara agama dan sains yang meskipun tidak terlibat konflik yang saling menyalahkan dan melemahkan satu sama lain tapi keduanya berdiri pada posisi yang tidak terhubung satu sama lain, 3) dialog yang merupakan model relasi antara agama dan sains yang mengupayakan adanya dialog antara keduanya karena melihat bahwa baik agama dan sains dapat didialogkan satu sama lain karena keduanya terkait satu sama lain, 4) serta integrasi yang merupakan model relasi antara agama dan sains yang lebih intens dari sekedar dialog tapi sudah ada upaya untuk menyelaraskan keduanya dalam sebuah relasi sistemik-konstruktif.
Diskursus
teologi sebagai ilmu pengetahuan merupakan suatu fenomena dalam transformasi
keilmuan pada berbagai lintas ruang dan waktu. Teologi dalam jejak historisnya
telah terbukti memberikan banyak kontribusi dalam perkembangan ilmu pengetahuan
sehingga upaya untuk meletakkan keduanya pada wilayah konflik merupakan suatu
kesalahan metodis dalam pengembangan ilmu pengetahuan. John Polkinghorne bahkan
pernah menyatakan bahwa doktrin-doktrin teologis seperti mengenai penciptaan
dengan penekanannya pada rasionalitas Penciptanya telah memberikan model dalam pengembangan
ilmu pengetahuan. Hal yang sama bisa ditemukan dalam tradisi keilmuan Islam,
berbagai isyarat normatif dalam al-Qur’an bukan hanya memberikan motivasi untuk
mengembangkan ilmu pengetahuan seperti yang termaktub dalam QS. al-Mujadilah, 11,
tapi juga berfungsi sebagai sumber-sumber inspirasi pengembangan ilmu
pengetahuan itu sendiri seperti dorongan manusia untuk mempergunakan indera dan
akal yang merupakan alat pemerolehan ilmu pengetahuan yang sangat diandalkan
oleh dua aliran utama dalam filsafat ilmu yaitu empirisme (indera) serta
rasionalisme (akal). Tidak diragukan lagi bahwa diskursus teologi sebagai ilmu
pengetahuan merupakan suatu realitas yang tidak terbantahkan baik secara
teoretis ataupun praksis. Ketika diskursus tersebut kembali dipertanyakan pada kurung
waktu tertentu oleh komunitas tertentu, menarik apa yang dikemukakan oleh
Thomas Kuhn dijadikan sebagai sebuah jawaban bahwa sebagian besar waktu para
ilmuwan digunakan untuk mengurai sebuah permasalahan yang sampai pada konsensus,
tapi adakalanya seiring dengan perjalanan waktu, konsensus tersebut yang kadang-kadang
menjadi subyek revisi sampai pada yang bersifat radikal sekalipun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar