Minggu, 03 Mei 2020

Covid-19 dan Pledoi Milenial Rebahan

Oleh: Muhammad Rusydi

         “Stay at home, please!” himbauan ini yang mungkin seringkali terdengar di tengah merebaknya pandemik Covid-19. Bisa diterka, himbauan ini merupakan suatu langkah preventif dalam memutus mata rantai penyebaran virus yang cukup masif. Tidak heran kemudian apabila banyak kebijakan-kebijakan strategis diambil untuk mendukung langkah preventif ini seperti dengan pelaksanaan pembelajaran dan perkuliahan berbasis online, pelarangan terhadap berbagai kegiatan yang berpotensi mengundang kerumunan massa seperti konser, perkawinan, hari besar keagamaan, dan semacamnya, dan yang lebih menyayat hati adalah dayu adzan yang setiap waktu mengajak kita untuk meramaikan mesjid dengan shalat berjamaah sudah berganti dari “حي على الصلاة” menjadi “صلوا في بيوتكم”. Sebuah pilihan yang boleh jadi berat tapi mengharuskan kita untuk menerimanya karena itulah pilihan terbaik saat ini yang dikuatkan dengan slogan “belajar di rumah, bekerja di rumah dan beribadah di rumah”
            Seiring dengan menguatnya himbauan untuk “mengisolasi” diri dari keramaian sosial untuk selanjutya melakukan berbagai aktivitas di rumah, meningkatnya fenomena milenial rebahan sebagai komunitas muda yang identik dengan sterotip banyak berdiam, ini untuk lebih sopan dengan tidak mengatakan banyak tidur, di tempat tidur menjadi tidak terhindarkan. Di saat himbauan “Stay at home, please! semakin mengundang sikap apatis terhadap milenial rebahan sebagai komunitas potensial-produktif yang diharapkan membangun komunitas sosialnya tapi justru semakin susah “move on   dari kebiasaan bermalas-malasannya di tempat tidur, pledoi milenial rebahan perlu dipahami bahwa mereka pada dasarnya adalah orang-orang yang memiliki potensi yang luar biasa untuk menyelamatkan komunitas sosialnya saat ini. Kita tentu pernah membaca status media sosial yang berbunyi “Apabila kamu ingin berkontribusi dan rebahan adalah passion kamu, inilah kesempatanmu”, memang menjalani sebuah aktivitas yang sesuai dengan passion kita, apapun itu, akan terasa menyenangkan dan memberikan manfaat lebih seperti kata Brian Schmidt yang merupakan peraih Nobel Fisika Tahun 2011.
Sekilas pledoi milenial rebahan di atas tidak efektif amat dalam menghilangkan sterotip pada mereka sebagai komunitas yang kurang produktif karena terlalu banyak rebahan di tempat tidur, tapi apabila kemudian dicermati dari penyebaran virus pada masa pandemik Covid-19 ini, kaum milenial yang memiliki usia antara 17 sampai 37 ini bisa dikatakan memiliki imunitas tubuh yang kuat dibandingkan dengan mereka yang memiliki usia yang sudah tua. Mengutip Quartz, ditemukan data di Inggris dan China bahwa rata-rata dari 41 kematian pasien akibat Covid-19, 39 di antaranya adalah pasien yang berusia di atas 50 tahun dengan dua penyebab yaitu adanya riwayat penyakit kronis sebelumnya seperti paru-paru serta mulai menurunnya imunitas tubuh mereka. Sebaliknya, mereka yang tergolong milenial dengan riwayat penyakit kronis yang masih minim ditambah imunitas tubuh yang masih kuat boleh jadi membuat mereka lebih bertahan dari resiko terpapar Covid-19. Meskipun demikian, kelompok milenial ini sangat rentang menjadi “agen” penyebaran Covid-19 karena mereka memiliki mobilitas sosial yang sangat tinggi dan cenderung susah dideteksi sudah terpapar Covid-19 atau tidak karena mereka minim gejala. Dengan adanya kesadaran kaum milenial untuk membatasi pergerakan sosialnya yang kurang penting untuk banyak “rebahan” terlebih dulu di rumah, mereka telah berperan aktif dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Pledoi milenial rebahan juga menegaskan bahwa rebahan tidak selamanya diartikan dengan perilaku kurang produktif. Perkembangan teknologi informasi dalam era industri 4.0 sangat memungkinkan mereka melakukan berbagai upaya konstruktif dalam membangun komunitas sosialnya. Fasilitas kuliah online, belanja online, game online, dan semacamnya telah membuka mata kita bahwa milenial rebahan juga dapat melakukan aktivitas seperti yang kita lakukan dengan membawa raga lemah kita kesana kemari karena terlalu rigid atau parno berurusan dengan teknologi. Tetaplah produktif wahai anak-anakku milenial rebahan, pledoimu menyikapi himbauan “Stay at home, please!”membuat kami paham, karyamu belum berakhir. Teruslah bermimpi dalam rebahmu saat ini, paling tidak, sampai pandemik Covid-19 ini berlalu. Ada saatnya kamu harus bangkit menggantikan kami memoles negeri dengan karya terbaikmu dan semua itu berawal dari mimpi yang boleh jadi kalian peroleh dalam rebahmu, saat ini!
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berlebaran Serba Baru: Idul Fitri sebagai Momentum Pembaruan Diri

Menyambut Idul Fitri kerap dimaknai sebagai perayaan kemenangan. Kemenangan yang dimaksud bukanlah sekadar keberhasilan melewati fase Ramadh...