Oleh:
Muhammad Rusydi
“Stay at home, please!” himbauan ini
yang mungkin seringkali terdengar di tengah merebaknya pandemik Covid-19. Bisa
diterka, himbauan ini merupakan suatu langkah preventif dalam memutus mata rantai
penyebaran virus yang cukup masif. Tidak heran kemudian apabila banyak
kebijakan-kebijakan strategis diambil untuk mendukung langkah preventif ini
seperti dengan pelaksanaan pembelajaran dan perkuliahan berbasis online,
pelarangan terhadap berbagai kegiatan yang berpotensi mengundang kerumunan
massa seperti konser, perkawinan, hari besar keagamaan, dan semacamnya, dan
yang lebih menyayat hati adalah dayu adzan yang setiap waktu mengajak kita
untuk meramaikan mesjid dengan shalat berjamaah sudah berganti dari “حي على الصلاة” menjadi “صلوا في بيوتكم”. Sebuah pilihan yang boleh jadi berat tapi mengharuskan kita
untuk menerimanya karena itulah pilihan terbaik saat ini yang dikuatkan dengan
slogan “belajar di rumah, bekerja di rumah dan beribadah di rumah”
Seiring dengan menguatnya himbauan
untuk “mengisolasi” diri dari keramaian sosial untuk selanjutya melakukan
berbagai aktivitas di rumah, meningkatnya fenomena milenial rebahan sebagai
komunitas muda yang identik dengan sterotip banyak berdiam, ini untuk lebih
sopan dengan tidak mengatakan banyak tidur, di tempat tidur menjadi tidak
terhindarkan. Di saat himbauan “Stay at home, please! semakin mengundang sikap
apatis terhadap milenial rebahan sebagai komunitas potensial-produktif yang
diharapkan membangun komunitas sosialnya tapi justru semakin susah “move on” dari kebiasaan bermalas-malasannya di tempat
tidur, pledoi milenial rebahan perlu dipahami bahwa mereka pada dasarnya adalah
orang-orang yang memiliki potensi yang luar biasa untuk menyelamatkan komunitas
sosialnya saat ini. Kita tentu pernah membaca status media sosial yang berbunyi
“Apabila kamu ingin berkontribusi dan rebahan adalah passion kamu, inilah
kesempatanmu”, memang menjalani sebuah aktivitas yang sesuai dengan passion
kita, apapun itu, akan terasa menyenangkan dan memberikan manfaat lebih seperti
kata Brian Schmidt yang merupakan peraih Nobel Fisika Tahun 2011.
Sekilas pledoi milenial rebahan di atas
tidak efektif amat dalam menghilangkan sterotip pada mereka sebagai komunitas
yang kurang produktif karena terlalu banyak rebahan di tempat tidur, tapi
apabila kemudian dicermati dari penyebaran virus pada masa pandemik Covid-19 ini,
kaum milenial yang memiliki usia antara 17 sampai 37 ini bisa dikatakan
memiliki imunitas tubuh yang kuat dibandingkan dengan mereka yang memiliki usia
yang sudah tua. Mengutip Quartz, ditemukan data di Inggris dan China bahwa
rata-rata dari 41 kematian pasien akibat Covid-19, 39 di antaranya adalah
pasien yang berusia di atas 50 tahun dengan dua penyebab yaitu adanya riwayat
penyakit kronis sebelumnya seperti paru-paru serta mulai menurunnya imunitas
tubuh mereka. Sebaliknya, mereka yang tergolong milenial dengan riwayat
penyakit kronis yang masih minim ditambah imunitas tubuh yang masih kuat boleh
jadi membuat mereka lebih bertahan dari resiko terpapar Covid-19. Meskipun
demikian, kelompok milenial ini sangat rentang menjadi “agen” penyebaran
Covid-19 karena mereka memiliki mobilitas sosial yang sangat tinggi dan
cenderung susah dideteksi sudah terpapar Covid-19 atau tidak karena mereka
minim gejala. Dengan adanya kesadaran kaum milenial untuk membatasi pergerakan
sosialnya yang kurang penting untuk banyak “rebahan” terlebih dulu di rumah,
mereka telah berperan aktif dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19.
Pledoi milenial rebahan juga menegaskan bahwa rebahan tidak selamanya diartikan
dengan perilaku kurang produktif. Perkembangan teknologi informasi dalam era
industri 4.0 sangat memungkinkan mereka melakukan berbagai upaya konstruktif
dalam membangun komunitas sosialnya. Fasilitas kuliah online, belanja online,
game online, dan semacamnya telah membuka mata kita bahwa milenial rebahan juga
dapat melakukan aktivitas seperti yang kita lakukan dengan membawa raga lemah
kita kesana kemari karena terlalu rigid atau parno berurusan dengan teknologi.
Tetaplah produktif wahai anak-anakku milenial rebahan, pledoimu menyikapi
himbauan “Stay at home, please!”membuat kami paham, karyamu belum berakhir.
Teruslah bermimpi dalam rebahmu saat ini, paling tidak, sampai pandemik
Covid-19 ini berlalu. Ada saatnya kamu harus bangkit menggantikan kami memoles
negeri dengan karya terbaikmu dan semua itu berawal dari mimpi yang boleh jadi
kalian peroleh dalam rebahmu, saat ini!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar