Oleh: Muhammad
Rusydi
Mengapa
saya memutuskan ikut?
Jawaban dari pertanyaan ini
menjadi suatu gambaran visi seorang penulis dalam melewati tahap eksplorasi
intelektual di tengah dialektika aksara dan makna. Dengan menjawab pertanyaan
ini, seorang penulis telah mengukuhkan dirinya sebagai seorang penulis bervisi
untuk selanjutnya memiliki suatu rel penulisan yang dipedomani sehingga
lokomotif ide pokoknya tinggal fokus menarik rangkaian gerbong ie pendukung
yang bisa saja muncul di tengah proses tulisan berlangsung. Dalam lokus teologisnya, “Innama al-A’mal
bi al-Niyat” menjadi semacam pijakan seorang penulis untuk mengembangkan visi
dalam penulisan sebagai sarana transformasi ide yang tidak tersekat ruang dan
waktu. Pahami orang lain dengan membaca tulisannya tapi jangan karena sibuk
mengenal orang lain anda lupa memperkenalkan diri dengan menulis!, merupakan
salah satu pesan dari Prof. Raihani, Dosen UIN Sultan Syarif Kasim Riau yang melakukan Sabbatical Leave Dalam Negeri di IAIN Bone” saat berbagi
inspirasi menulis di sambil meneguk secangkir kopi penambah inspirasi.
Mengikuti bimbingan kelas
menulis yang dipandu langsung oleh Gus Ngainun Naiem merupakan suatu pengalaman
yang berharga dan langka. Pola bimbingan yang beliau berikan sangat inspiratif
untuk membentuk karakter seorang penulis yang memiliki visi dalam menulis serta
langkah-langkah konstruktif dalam mengembangkan visi penulisan tersebut.
Meminjam istilah Abdullah Gymnastiar, mulai dari diri sendiri, mulai dari
hal-hal yang kecil, serta mulai dari sekarang, Gus Ngainun Naiem telah
memberikan suatu kerangka penulisan berjenjang untuk selanjutnya mengarahkan
visi penulisan pada suatu rangkaian ide yang sistemik seperti cara beliau
mengarahkan penulis dengan pertanyaan-pertanyaan eksploratif-konstruktif mulai
dari sumber informasi workshop sampai rencana setelah workshop. Semua materi
dipresentasikan sangat professional sehingga menghipnotis peserta seperti
sedang melahap makanan favorit dengan bumbu tahapan-tahapannya.
Sepertinya butuh banyak kata
untuk dirangkaian menjadi kalimat untuk menggambarkan alasan mengapa penulis
memutuskan untuk mengikuti bimbingan menulis oleh Gus Ngainun Naiem, di samping
karena saya tahu bahwa beliau adalah salah seorang penulis dengan karya-karya yang best seller,
beliau juga adalah motivator ulung untuk menulis. Menjadi penulis bervisi
membutuhkan sosok inspiratif seperti beliau yang seringkali beliau dengan metafora
kompor. Kenapa kompor? Mungkin karena beliau melihat banyaknya potensi menulis
yang dimiliki oleh dosen-dosen PTKI tapi terlalu dingin, untuk tidak mengatakan
rigid, menulis sehingga harus dipanaskan di atas “kompor” motivasi. Saya yakin
kalau Rahmat Darmawan dengan tangan dinginnya mampu menciptakan tim nasional
sepak bola yang solid, maka sosok seperti Gus Ngainun Naiem mampu menciptakan penulis bervisi dalam
pengembangan ide-idenya dan ini adalah salah satu alasan dari sekian banyak
alasan kenapa saya memutuskan ikut dalam bimbingan beliau.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar