Minggu, 03 Mei 2020

Physical Distancing ala "Daeng" Penjual Sayur


Oleh: Muhammad Rusydi     
            Penularan Covid-19 yang sangat masif dari orang yang terpapar ke orang yang sehat menjadi salah satu alasan munculnya prinsip “Physical Distancing”. Bisa dibayangkan, hanya dengan percikan air ludah saat penderita bersin penularan sudah dapat terjadi bahkan saat berjabat tangan sekalipun. Tidak mengherankan kemudian apabila kampanye untuk melakukan “Physical Distancing” terus menggema seiring dengan semakin meningkatnya grafik pasien positif tertular Covid-19 di Indonesia. Yang menarik kemudian untuk dicermati adalah ketika masih banyak masyarakat yang beraktivitas di luar rumah dalam berbagai interaksi sosial yang rawan melanggar prinsip “Physical Distancing” tersebut, apa bisa dikatakan bahwa prinsip tersebut tidak lebih dari sebuah ungkapan verbal yang validitasnya dipertanyakan dalam lokus teori validitas performatif?
            Iseng-iseng penulis bertanya pada “daeng” penjual sayur yang lewat depan rumah yang tentu saja selalu ramai dikerumuni ibu-ibu kompleks setiap datang, apakah mereka tidak mengerti tentang prinsip “Physical Distancing” dalam memutus mata rantai penularan Covid-19? Apakah mereka tidak sebaiknya menuruti himbauan pemerintah dengan patuh pada slogan “belajar di rumah, bekerja di rumah dan beribadah di rumah” untuk sementara waktu? Jawaban yang diberikan “daeng” penjual sayur tersebut sangat menyentuh nurani ketika dikatakan bahwa ada keluarga yang harus dihidupi sehingga mereka terpaksa mengabaikan prinsip “Physical Distancing” tersebut. Menurut saya, mereka menerima ini sebagai “keharusan” dan bukan sebagai “pilihan” apalagi sebuah bentuk “pembangkangan” atas himbauan pemerintah agar “stay at home” untuk sementara waktu.
            Fenomena di atas mengugah nalar kritis kita bahwa prinsip “Physical Distancing” selama ini, disadari atau tidak, telah mewujud dalam relasi sosial kita. Relasi antara kelompok borjuis yang kaya dan proletar yang miskin, misalnya, telah merefleksikan “Physical Distancing” dalam wujud empirik lain. Ketika Karl Marx mengubah istilah kelompok proletarian tersebut yang tadinya tidak lebih dari sebuah ungkapan penghinaan bagi lapisan strata sosial terbawah menjadi kelas pekerja, relasi sosial mereka yang sifatnya vertikal-koordinatif dengan kelompok borjuis tetap dipertahankan oleh pihak-pihak yang mengambil keuntungan dari kesenjangan sosial tersebut.  Implikasinya, posisi kelompok proletarian seperti “daeng” penjual sayur di atas tetap berada di bawah kelompok borjuis selaku pemilik modal yang boleh jadi dalam konteks lain bisa dikatakan sebagai penentu kebijakan. Kelompok borjuis selaku penghuni strata sosial menengah ke atas boleh saja begitu gencar mengkampanyekan prinsip “Physical Distancing” karena tanpa bekerja di luar mereka bisa melakukan pekerjaannya dari rumah atau bahkan tanpa bekerja sekalipun modal mereka sudah bekerja untuk mereka. Hal yang berbeda tentu akan didapatkan oleh mereka kelompok proletarian yang harus berjibaku dengan resiko terpapar Covid-19 karena pekerjaan mereka kadang-kadang terpaksa mengabaikan prinsip “Physical Distancing
            Apakah wajar kalau “daeng” penjual sayur dikatakan sebagai pembangkang karena abai atas prinsip “Physical Distancing”? Merujuk lpada teori keadilan John Rawls yang menyatakan bahwa keadilan sosial hanya akan terwujud apabila terbentuk suatu relasi sosial yang pihak-pihak di dalamnya saling bekerjasama dalam mendistribusikan beban dan keuntungan sosial berupa pendapatan, makanan, perlindungan, dan semacamnya, sudah sepatutnya kelompok yang mampu membantu mereka yang kurang mampu dalam mewujudkan prinsip “Physical Distancing” tersebut. Posisi “daeng” penjual sayur ini adalah potret kelompok proletarian yang perlu dibantu untuk menerapkan prinsip “Physical Distancing” agar terhindar dari penularan Covid-19 tanpa harus mematikan kepulan asap dapurnya. Pemerintah bisa dengan kebijakannya, orang kaya bisa dengan modalnya, ataupun akademisi bisa dengan inovasi intelektualnya karena mereka butuh kita dan kita butuh mereka. Akhirnya, prinsip “Physical Distancing” mengajarkan kita untuk menjaga jarak, menjauh “fisik” sekaligus mendekat “hati” pada sesama. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berlebaran Serba Baru: Idul Fitri sebagai Momentum Pembaruan Diri

Menyambut Idul Fitri kerap dimaknai sebagai perayaan kemenangan. Kemenangan yang dimaksud bukanlah sekadar keberhasilan melewati fase Ramadh...