Oleh:
Muhammad Rusydi
Covid-19 adalah suatu wabah yang
bermetaforfosis sebagai panggung fenomena sosial sekaligus sebagai pembuktian
sejauh mana manusia mampu memposisikan fungsi kekhalifahannya sebagai pelakon
protagonis atau justru lebih memilih “kafir” sebagai pelakon antagonis. Kafir
dalam konteks ini tidak dipahami sebagai kafir teologis dimana seorang hamba
telah memutuskan primordialisme keyakinannya atas Tuhannya tapi lebih pada kafir
etimologis yang mewujud berupa
ketertutupan nur (cahaya) dalam “nur”aninya yang hanif untuk memahami
bahwa dirinya dan saudara-saudaranya memiliki relasi kosmik satu sama lain.
Boleh jadi eksistensi kita dari dulu, saat ini, ataupun di masa mendatang dalam
suka dan duka imanen dengan hal sama yang ada pada orang-orang di lingkungan
sosial kita. Dalam metafora hadits dari Rasulullah Saw, kita diumpamakan
seperti tanaman (كمثل الزرع), bangunan
(كالبنيان), tubuh (مثل الجسد), dan beberapa ilustrasi metaforis lainnya dan menggambarkan
bahwa kita diikat oleh kesadaran kolektif yang oleh Emile Durkheim dipandang
sebagai konsensus yang mengatur manusia dalam relasi sosialnya. Penetapan
konsensus atas berbagai model relasi sosial sebagaimana dalam metafora hadits
dari Rasulullah Saw tersebut merupakan konsekuensi logis atas syahadat kita
sebagai bentuk komitmen atas misi yang beliau bawa, Islam, Rahmatan lil
‘Alamin.
Sejak pandemik Covid-19 mulai
terdengar memakan korban dari Wuhan sebagai episentrum awalnya, Dokter Li
Wenliang menjadi pelakon protagonis yang memberitahukan akan adanya ancaman
virus mematikan yang bernama Covid-19. Apakah dia dianggap pahlawan saat itu?
Jawabnya tidak, sebaliknya dia dianggap sebagai pelakon antagonis karena
dianggap menyebarkan berita meresahkan terkait adanya patogen membahayakan
kesehatan manusia sehingga akhirnya harus berurusan dengan pihak keamanan saat
itu. Kematian yang menjemputnya pada 07 Pebruari 2020 telah menjadi akhir
perjuangannya di garda terdepan menghadapi pandemik Covid-19 sekaligus merubah
sterotip perannya sebagai pelakon protagonis yang pantas menuai SIMPATI, bukan
ANTIPATI. Para tenaga medis seperti dokter, perawat, dan yang lainnya adalah
para pelakon protagonis di garda terdepan yang telah mempertaruhkan jiwa
raganya dalam resiko kerja yang besar atas nama kemanusiaan. Tidak salah
apabila Eka Gustiwana menjadi salah seorang yang memberikan apresiasi kepada
tenaga medis lewat karyanya “Demi Raga yang Lain”. Saat ini, pelakon
protagonis bisa mewujud dalam berbagai bentuknya sesuai dengan alur skenario sunnatullah
ketika masing-masing dari kita, berjuang segenap hati, mempertaruhkan jiwa raga
demi memutus mata rantai penyebaran Covid-19 yang telah menjadi pandemik global
saat ini.
Hadirnya pelakon protagonis dengan
segenap peran konstruktifnya tidak selamanya akan berjalan mulus karena mereka
pasti akan diuji dengan hadirnya pelakon antagonis dengan peran destruktifnya.
Seperti epos “Mahabharata” karya Begawan Vyasa yang mempertemukan
Pandawa sebagai pelakon protagonis dan Kurawa sebagai pelakon antagonis. Perjuangan para tenaga medis, pemerintah pusat
dan daerah, tokoh agama, aparat keamanan, dan yang lainnya sebagai pelakon
protagonis akan berhadapan dengan pihak-pihak yang mengambil keuntungan atau
semakin memperkeruh suasana di tengah pandemik Covid-19 seperti mulai dari
penyebar berita hoaks, penimbung berbagai kebutuhan pokok, orang mampu yang
tidak mau berbagi dengan mereka yang tidak mampu, sampai pada mereka yang abai
menerapkan berbagai prosedur kesehatan dan interaksi, baik vertikal (ibadah)
ataupun horizontal (muamalah), demi mempercepat pemutusan mata rantai
penyebaran Covid-19. Berangkat dari pandangan Plato dan Aristoteles yang
menyatakan bahwa struktur sosial dengan segala dinamikanya merupakan cerminan
kosmos yang abadi dimana masing-masing pihak harus memainkan peran-peran
konstruktif demi keselamatan dirinya dan orang-orang di sekitarnya, penulis melihat
bahwa mereka yang lebih memilih peran sebagai pelakon antagonis adalah mereka
yang gagal untuk tinggal landas dari sisi kemanusiaannya yang profan dengan
berbagai karakter destruktif yang digambarkan dalam al-Qur’an seperti ingkar
kepada Tuhannya (QS. al-‘Adiyat, 6), lemah (QS. an-Nisa, 28), suka berkeluh
kesah dan kikir (QS. al-Ma’arij, 19), suka tergesa-gesa (QS. al-Isra, 11), dzalim
dan bodoh (al-Ahzab, 72), pembantah (QS. al-Nahl, 4), melampaui batas (QS.
al-‘Alaq, 6), dan yang lainnya sehingga hal tersebut pada saatnya nanti akan
kembali pada mereka sendiri karena relasi kosmik kita terhubung secara
sistemik. Hanya persoalan waktu saja.
Akhirnya, pandemik Covid-19 ini
menjadi pentas pelakon yang merefleksikan pilihan kita apa menjadi protagonis
atau antagonis. Terlepas dari berbagai karakter destruktif yang digambarkan
dalam al-Qur’an sebagai magnum opus ajaran Islam di atas, kita semua
memiliki kesempatan untuk bermetamorfosis dari antagonis menuju protagonis.
Ibarat seekor ulat dalam kepompong yang boleh jadi awalnya dipandang jijik
(antipati) tapi pada gilirannya dapat berubah menjadi seekor kupu-kupu yang
indah mengundang kekaguman (simpati). Ketika penulis melihat tayangan TV dimana
seorang Bapak di Bogor mencuri sebuah tabung gas karena istri dan empat anaknya
kelaparan di tengah pandemik Covid-19 meski harus babak belur diamuk massa,
timbul keraguan dalam hati bermuara tanya dalam “nur”ani, apa betul menjadi
protagonis atau antagonis adalah sebuah pilihan?, Apa betul yang selama ini
bangga mengklaim diri sebagai pelakon protagonis betul-betul orang baik?, Apa
betul yang selama ini dicaci sebagai pelakon antagonis betul-betul orang
jahat?, Jangan sampai yang menjadi pelakon antagonis adalah mereka yang tidak
punya pilihan lain karena kita yang sibuk memuji diri sebagai pelakon
protagonis tapi minim membantu sesama pada tataran aksi?, Jadi siapa sebenarnya
yang layak disebut pelakon protagonis atau antagonis?, Mungkin lagu Ebiet G.
Ade “Berita Kepada Kawan” bisa memberikan jawabannya atau kita kembali
diminta untuk bertanya pada rumput yang bergoyang.Wallahu A’lam.
Mungkin Tuhan
mulai bosan. Melihat tingkah kita. Yang selalu salah dan bangga dengan
dosa-dosa. Atau alam mulai enggan. Bersahabat dengan kita. Coba kita bertanya
pada rumput yang bergoyang (Ebiet G. Ade “Berita
Kepada Kawan”)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar