Minggu, 03 Mei 2020

Covid-19 dan Pentas Pelakon: Protagonis vs Antagonis


Oleh: Muhammad Rusydi

Covid-19 adalah suatu wabah yang bermetaforfosis sebagai panggung fenomena sosial sekaligus sebagai pembuktian sejauh mana manusia mampu memposisikan fungsi kekhalifahannya sebagai pelakon protagonis atau justru lebih memilih “kafir” sebagai pelakon antagonis. Kafir dalam konteks ini tidak dipahami sebagai kafir teologis dimana seorang hamba telah memutuskan primordialisme keyakinannya atas Tuhannya tapi lebih pada kafir etimologis  yang mewujud berupa ketertutupan nur (cahaya) dalam “nur”aninya yang hanif untuk memahami bahwa dirinya dan saudara-saudaranya memiliki relasi kosmik satu sama lain. Boleh jadi eksistensi kita dari dulu, saat ini, ataupun di masa mendatang dalam suka dan duka imanen dengan hal sama yang ada pada orang-orang di lingkungan sosial kita. Dalam metafora hadits dari Rasulullah Saw, kita diumpamakan seperti tanaman (كمثل الزرع), bangunan (كالبنيان), tubuh (مثل الجسد), dan beberapa ilustrasi metaforis lainnya dan menggambarkan bahwa kita diikat oleh kesadaran kolektif yang oleh Emile Durkheim dipandang sebagai konsensus yang mengatur manusia dalam relasi sosialnya. Penetapan konsensus atas berbagai model relasi sosial sebagaimana dalam metafora hadits dari Rasulullah Saw tersebut merupakan konsekuensi logis atas syahadat kita sebagai bentuk komitmen atas misi yang beliau bawa, Islam, Rahmatan lil ‘Alamin.
            Sejak pandemik Covid-19 mulai terdengar memakan korban dari Wuhan sebagai episentrum awalnya, Dokter Li Wenliang menjadi pelakon protagonis yang memberitahukan akan adanya ancaman virus mematikan yang bernama Covid-19. Apakah dia dianggap pahlawan saat itu? Jawabnya tidak, sebaliknya dia dianggap sebagai pelakon antagonis karena dianggap menyebarkan berita meresahkan terkait adanya patogen membahayakan kesehatan manusia sehingga akhirnya harus berurusan dengan pihak keamanan saat itu. Kematian yang menjemputnya pada 07 Pebruari 2020 telah menjadi akhir perjuangannya di garda terdepan menghadapi pandemik Covid-19 sekaligus merubah sterotip perannya sebagai pelakon protagonis yang pantas menuai SIMPATI, bukan ANTIPATI. Para tenaga medis seperti dokter, perawat, dan yang lainnya adalah para pelakon protagonis di garda terdepan yang telah mempertaruhkan jiwa raganya dalam resiko kerja yang besar atas nama kemanusiaan. Tidak salah apabila Eka Gustiwana menjadi salah seorang yang memberikan apresiasi kepada tenaga medis lewat karyanya “Demi Raga yang Lain”. Saat ini, pelakon protagonis bisa mewujud dalam berbagai bentuknya sesuai dengan alur skenario sunnatullah ketika masing-masing dari kita, berjuang segenap hati, mempertaruhkan jiwa raga demi memutus mata rantai penyebaran Covid-19 yang telah menjadi pandemik global saat ini.
            Hadirnya pelakon protagonis dengan segenap peran konstruktifnya tidak selamanya akan berjalan mulus karena mereka pasti akan diuji dengan hadirnya pelakon antagonis dengan peran destruktifnya. Seperti epos “Mahabharata” karya Begawan Vyasa yang mempertemukan Pandawa sebagai pelakon protagonis dan Kurawa sebagai pelakon antagonis.  Perjuangan para tenaga medis, pemerintah pusat dan daerah, tokoh agama, aparat keamanan, dan yang lainnya sebagai pelakon protagonis akan berhadapan dengan pihak-pihak yang mengambil keuntungan atau semakin memperkeruh suasana di tengah pandemik Covid-19 seperti mulai dari penyebar berita hoaks, penimbung berbagai kebutuhan pokok, orang mampu yang tidak mau berbagi dengan mereka yang tidak mampu, sampai pada mereka yang abai menerapkan berbagai prosedur kesehatan dan interaksi, baik vertikal (ibadah) ataupun horizontal (muamalah), demi mempercepat pemutusan mata rantai penyebaran Covid-19. Berangkat dari pandangan Plato dan Aristoteles yang menyatakan bahwa struktur sosial dengan segala dinamikanya merupakan cerminan kosmos yang abadi dimana masing-masing pihak harus memainkan peran-peran konstruktif demi keselamatan dirinya dan orang-orang di sekitarnya, penulis melihat bahwa mereka yang lebih memilih peran sebagai pelakon antagonis adalah mereka yang gagal untuk tinggal landas dari sisi kemanusiaannya yang profan dengan berbagai karakter destruktif yang digambarkan dalam al-Qur’an seperti ingkar kepada Tuhannya (QS. al-‘Adiyat, 6), lemah (QS. an-Nisa, 28), suka berkeluh kesah dan kikir (QS. al-Ma’arij, 19), suka tergesa-gesa (QS. al-Isra, 11), dzalim dan bodoh (al-Ahzab, 72), pembantah (QS. al-Nahl, 4), melampaui batas (QS. al-‘Alaq, 6), dan yang lainnya sehingga hal tersebut pada saatnya nanti akan kembali pada mereka sendiri karena relasi kosmik kita terhubung secara sistemik. Hanya persoalan waktu saja.
            Akhirnya, pandemik Covid-19 ini menjadi pentas pelakon yang merefleksikan pilihan kita apa menjadi protagonis atau antagonis. Terlepas dari berbagai karakter destruktif yang digambarkan dalam al-Qur’an sebagai magnum opus ajaran Islam di atas, kita semua memiliki kesempatan untuk bermetamorfosis dari antagonis menuju protagonis. Ibarat seekor ulat dalam kepompong yang boleh jadi awalnya dipandang jijik (antipati) tapi pada gilirannya dapat berubah menjadi seekor kupu-kupu yang indah mengundang kekaguman (simpati). Ketika penulis melihat tayangan TV dimana seorang Bapak di Bogor mencuri sebuah tabung gas karena istri dan empat anaknya kelaparan di tengah pandemik Covid-19 meski harus babak belur diamuk massa, timbul keraguan dalam hati bermuara tanya dalam “nur”ani, apa betul menjadi protagonis atau antagonis adalah sebuah pilihan?, Apa betul yang selama ini bangga mengklaim diri sebagai pelakon protagonis betul-betul orang baik?, Apa betul yang selama ini dicaci sebagai pelakon antagonis betul-betul orang jahat?, Jangan sampai yang menjadi pelakon antagonis adalah mereka yang tidak punya pilihan lain karena kita yang sibuk memuji diri sebagai pelakon protagonis tapi minim membantu sesama pada tataran aksi?, Jadi siapa sebenarnya yang layak disebut pelakon protagonis atau antagonis?, Mungkin lagu Ebiet G. Ade “Berita Kepada Kawan” bisa memberikan jawabannya atau kita kembali diminta untuk bertanya pada rumput yang bergoyang.Wallahu A’lam.

Mungkin Tuhan mulai bosan. Melihat tingkah kita. Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa. Atau alam mulai enggan. Bersahabat dengan kita. Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang (Ebiet G. Ade “Berita Kepada Kawan”)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berlebaran Serba Baru: Idul Fitri sebagai Momentum Pembaruan Diri

Menyambut Idul Fitri kerap dimaknai sebagai perayaan kemenangan. Kemenangan yang dimaksud bukanlah sekadar keberhasilan melewati fase Ramadh...