Sabtu, 10 Februari 2024

PSIKO-SUFISTIK ISRA’ MI’RAJ

Dr. Muhammad Rusydi, S.Pd.I., M.Pd.I.

Gusdurian/Sekretaris Lembaga Penjaminan Mutu IAIN Bone

Bulan Rajab dalam penanggalan hijriyah identik dengan peristiwa yang luar biasa yang terjadi pada sosok Rasulullah saw. yang dalam hal ini adalah Isra’ Mi’raj. Sifat luar biasa yang dilekatkan pada Isra’ Mi’raj tersebut bukan tanpa kebetulan karena Allah swt. sendiri telah memberikan penegasan akan status tersebut dengan mengawali QS. al-Isra’/17:01 dengan kalimat tasbih. Penggunaan redaksi ayat “subhanalladzi asraa bi ‘abdihi laylan minal masjidil harami ilal masjidil aqsha sarat dengan makna kepasrahan dalam ta’abbudi pasif (taken for granted) dalam menerima kebenaran Isra’ Mi’raj tanpa harus tereduksi dengan pola pikir yang sifatnya ta’aqquli aktif meski tidak bisa dipungkiri bahwa seiring dengan perjalanan waktu, sejalan dengan aktivasi potensi hushuli sekaligus hudhuri pemerolehan ilmu manusia, fenomena Isra Mi’raj tersebut sedikit demi sedikit dapat tersingkap tirai kebenarannya.

Hal yang menarik untuk dicermati dalam kelanjutan redaksi ayat di atas adalah “alladzi barakna hauwlahu linuriyahu min ayatina”. Dalam redaksi ayat tersebut tergambar bagaimana perjalanan yang ditempuh Rasulullah saw. tersebut diberkahi oleh Allah swt. sekelilingnya sebagai salah satu prasyarat untuk memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan Allah swt. Dengan kata lain, keberkahan (al-barakah) menjadi jalan bagi seorang hamba dalam menyingkap tirai keterbatasan mata lahir dan batinnya dalam mempersepsi berbagai memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan-Nya. Apabila kata “al-barakah” yang bermakna keberkahan memiliki kedekatan struktur morfologis dengan kata “al-birkah” yang bermakna kolam maka seorang hamba yang mendapatkan keberkahan akan memiliki potensi mata lahir dan batin yang sarat dengan kedalaman, ketenangan, dan kesegaran layaknya karakter kolam tersebut. Kondisi tersebut merupakan kondisi psikologis manusia yang sangat stabil dan potensial dalam mempersepsi tanda-tanda kekuasaan-Nya.

Hirarki normativitas dan historitas Isra’ Mi’raj mengajarkan bagaimana perlunya manusia mengelola kondisi psikologisnya secara maksimal agar mereka dapat mempersepsi tanda-tanda kekuasaan Allah swt. Bukankah Isra’ Mi’raj itu sendiri dapat dikatakan sebagai bagian dari terapi psikis yang diberikan kepada Rasulullah saw. setelah mengalami kesedihan yang cukup mendalam akibat berpulangnya ke sisi Allah swt. istri beliau “Khadijah” serta paman beliau “Abu Thalib” sehingga tahun itu dikenal dengan tahun kesedihan “Am al-Huzni” Sekarang muncul pertanyaan mendasar bahwa apabila sosok seperti Rasulullah saw. saja masih perlu untuk diberikan terapi psikis melalui Isra’ Mi’raj untuk mendapatkan kondisi psikologis yang mampu bertransformasi dari labil ke stabil maka bagaimana dengan kita umatnya yang tentu saja level kestabilan psikologis kita di bawah beliau? Bukankah Isra’ Mi’raj hanya dialami pada sosok yang telah terpilih yang dalam hal ini adalah Rasulullah saw.? Kiranya jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari keberadaan shalat yang diterima Rasulullah saw. dalam Isra’ Mi’raj dan menjadi wadah ber-mi’raj-nya orang-orang beriman (asshalatu mi’rajul mu’minin). Konsekuensinya, shalat dijadikan wadah untuk memberikan terapi psikis bagi hamba Allah swt. dan umat Rasulullah saw. yang beriman untuk senantiasa berdzikir kepada Sumbu Axis-nya yang dalam hal ini adalah Allah swt. (wa aqimissahalata lidzikriy) dimana dzikir tersebut akan membawa manusia pada kestabilan psikologis dengan adanya ketenangan hati (ala bidzikrillahi tatmainnul qulub)

Shalat yang diterima Rasulullah saw. sarat dengan pesan psiko-sufistik dalam mewujudkan hamba-hamba Allah swt. yang memperoleh ketenangan hati dalam kehidupannya. Redaksi teks “asshalatu mi’rajul mu’minin” menggambarkan relasi caturadik antara al-Khaliq (Sang Pencipta) yaitu Allah swt., al-makhluq (yang tercipta) yaitu semua makhluk, al-khalq (penciptaan) yaitu proses penciptaan dengan seperangkat misi penciptaan yang mendasarinya, serta al-khulq (akhlak, moral, etika, dan semacamnya) yaitu tujuan primordial diutusnya Rasullah saw. (innama buistu li utammima makarimal akhlaq). Dalam pertemuan relasi caturadik antara al-Khaliq (Sang Pencipta), al-makhluq (yang tercipta), al-khalq (penciptaan), serta al-khulq (akhlak, moral, etika, dan semacamnya) maka di dalamnya ada kata “al-shalah” yang bermakna shalat dan kata “al-shilah” yang bermakna ketersambungan yang mengejewantahkan makna psiko-sufistik Isra’ Mi’raj dalam lokus “asshalatu mi’rajul mu’minin” Al-makhluq (yang tercipta) akan menemukan jarak antara dirinya dengan al-Khaliq (Sang Pencipta). Dalam proses tersebut, manusia akan mendapatkan berbagai ketidakstabilan karena hati mereka yang tidak tenang. Layaknya sebuah telepon selular yang tidak memiliki pulsa (jiwa tidak terisi keimanan), tidak memiliki jaringan (fisik terjebak dalam pusaran kedurhakaan), ataupun lowbat (psikologi terpasung dalam keputusasaan), maka shalat (al-shalah) memainkan peran yang strategis dalam me-mi’raj-kan orang-orang beriman karena adanya ketersambungan (al-shilah)  antara dirinya sebagai al-makhluq (yang tercipta) dengan al-Khaliq (Sang Pencipta). Lalu apa tanda-tanda mereka yang berhasil ber-mi’raj kepada al-Khaliq (Sang Pencipta), maka hal tersebut dapat dilihat dari al-khulq (akhlak, moral, etika, dan semacamnya) yang berkorelasi konstruktif dengan shalat yang dilakukannya (innasshalata tanha ‘anil fahsyai wal munkar). Wallahu a’lam!

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berlebaran Serba Baru: Idul Fitri sebagai Momentum Pembaruan Diri

Menyambut Idul Fitri kerap dimaknai sebagai perayaan kemenangan. Kemenangan yang dimaksud bukanlah sekadar keberhasilan melewati fase Ramadh...