Minggu, 01 Mei 2022

Spiritualitas Idul Fitri: Dari Antroposentrisme ke Teosentrisme

 Dr. Muhammad Rusydi, S.Pd.I., M.Pd.I. dan Muh. Yakub, S.Pd.I.

Hari ini, Senin, 02 Mei 2022, gema takbir, tahlil, tasbih, dan tahmid memenuhi angkasa raya, sahut bersahut menembus rasa, dayu mendayu mengguncang sukma sebagai sebuah deklarasi kemenangan manusia yang telah sukses meraih sebuah transformasi spiritual dalam spektrum idul fitri. Pertanyaan menarik yang kemudian menarik untuk diajukan adalah seberapa penting pencapaian ini harus diklaim sebagai sebuah kemenangan? Bukankah idul fitri tidak lebih dari sebuah proses kembalinya manusia pada titik kulminasi penciptaannya yang fitrah setelah setahun lamanya mereka terpasung oleh berbagai ego destruktif duniawi yang profan, hedonis, dan pragmatis? Dengan menjadikan fitrah, sebuah realitas spiritualitas yang terbebas dari pasungan ego destruktif duniawi yang profan, hedonis, dan pragmatis tersebut, sebagai maqam pencapaiannya, deklarasi kemenangan manusia di hari raya idul fitri ini adalah sebuah gerak siklis kehidupan yang akan terus berputar dimana manusia akan terus berproses dalam lokus gerak siklis tersebut setiap tahunnya layaknya perputaran kosmos siang dan malam, pagi dan petang, dan sebagainya. Tidak berlebihan apabila dikatakan bahwa idul fitri bukan pencapaian yang bersifat progresif dan eksploratif tapi sekedar pencapaian yang bersifat statis karena maqam fitrah tersebut sebenarnya sudah imanen dengan penciptaan manusia yaitu ketika mereka dilahirkan “kullu mauluidin yuladu ala al-fitrah”. Dalam usia kita sekarang ini, 20 tahun, 30 tahun, 40 tahun, dan seterusnya, predikat “idul fitri” tersebut sedikit menggugah nalar kritis kita untuk mempertanyakan ulang apa makna progresif dan eksploratif dari kehidupan yang selama ini kita jalani kurang lebih 20 tahun, 30 tahun, 40 tahun, dan seterusnya ketika pada hari ini kita kembali pada fitrah penciptaan layaknya ketika ketika pertama kali dilahirkan.

Melalui tulisan singkat ini, penulis ingin mencoba menghadirkan sebuah sudut pandang alternatif dalam memahami spiritualitas idul fitri dari antroposentrisme ke teosentrisme. Fitrah manusia ibarat sebuah cermin ego yang pada dasarnya selalu aktif dalam merefleksikan berbagai obyek visual di depannya yang dalam term al-Ghazali digambarkan sebagai hati yang perlu untuk terus disucikan. Hati yang suci seperti cermin yang bersih yang pada gilirannya akan selalu merefleksikan semua obyek visual dengan terang sehingga hati yang tercerahkan dalam spektrum idul fitri akan memiliki sikap yang positif, optimistis, konstruktif, dan transformatif dalam kehidupan manusia yang profan, hedonis, dan pragmatis. Dengan kata lain, hati yang tercerahkan selalu berpikir positif dan konstruktif sementara hati yang belum tercerahkan cenderung terjebak dalam pikiran-pikiran negatif dan destruktif sehingga bertabir dengan maqam fitrah yang seharusnya imanen dalam deklarasi kemenangan di hari raya idul fitri pada hari ini. Maqam fitrah tersebut, pada dasarnya, identik dengan dimensi teosentrisme dalam spiritualitas idul fitri. Sebuah kondisi dimana manusia selalu teringat dengan komitmen primordialnya untuk hanya berharap pada “sentris” segala yang ada yang dalam hal ini adalah Allah swt. Ibarat perputaran kosmik, manusia dan kehidupannya akan selalu bergerak siklis dalam berbagai dimensi kehidupannya seperti planet-planet dalam sistem tata surya yang terus berotasi pada garis orbitnya dalam lokus ta’abbudi sebagaimana tergambar dalam munajat Maulana Abd. Khaliq al-Ghudjuwani yang artinya“Ya Allah hanya Engkaulah yang hamba maksud, ridha-Mu yang hamba dambakan, berikanlah hamba kemampuan untuk dapat mencinta-Mu dan bermakrifat kepada-Mu” atau lebih spesifik lagi apa yang tergambar dalam al-Qur’an sebagai magnum opus ajaran Islam tepatnya pada QS. al-An’am/06:162 yang terjemahnya “Sesungguhnya sembahyangku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam

Dalam perkembangannya, dimensi antroposentrisme rentang menjauhkan manusia dari fitrah penciptaannya yang suci. Dimensi antroposentrisme tersebut membuat manusia merasakan superioritas dengan sikap yang ber-egosentries atas makhluk yang lainnya. Disinilah awal mula bergesernya manusia dari titik kulminasi fitrahnya sebagaimana digambarkan Sayyed Hossein Nasr bahwa kesalahan manusia biasa disebabkan kesalahan dalam mengkonsepsikan dirinya. Deklarasi kemenangan atas berbagai pasungan ego destruktif duniawi yang profan, hedonis, dan pragmatis jangan sampai justru kontra produktif membawa kita pada sebuah klaim yang sangat deklaratif, prediktif, bahkan spekulatif. Spiritualitas idul fitri masih terjebak pada berbagai dimensi antroposentrisme dan jauh dari dimensi teosentrisme. Spiritualitas idul fitri sangat identik dengan kekuatan ruh yang menjadi transmisi kearifan manusia dalam memahami berbagai fenomena kehidupan manusia yang profan, hedonis, dan pragmatis. Kekuatan dari ruh ini telah diisyaratkan oleh Huston Smith dalam karyanya “The Forgotten Truth” menggambarkan relasi kosmos tersebut dimana mikrokosmos dibahasakan sebagai level diri sementara makrokosmos dibahasakan sebagai level realitas. Tubuh (body) pada level diri bersenyawa dengan alam benda (terrestrial) pada level realitas, pikiran (mind) pada level diri bersenyawa dengan alam cakrawala (intermediate) pada level realitas, jiwa (soul) pada level diri berseyawa dengan alam langit (celestial) pada level realitas, sedangkan ruh (spirit) pada level diri bersenyawa dengan yang alam tak terhingga (infinite) pada level realitas. Persenyawaan kosmik pada level terakhir dalam memahami transformasi sipitualitas idul fitri dari antroposentrisme ke teosentrisme diisyaratkan seperti pada firman Allah swt. QS. al-Kahfi/18:65 yang terjemahnya “Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba kami, yang telah kami berikan kepadanya rahmat dari sisi kami, dan yang telah kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami”. Ketika spiritualitas berangkat dari kata “spirit” yang bermakna ruh maka seorang hamba Allah swt. yang tercerahkan dengan keberkahan “idul fitri” pada hari ini akan mampu melewati proses transformasi spiritual dari dimensi antroposentrisme ke dimensi teosentrisme sehingga ruh tersebut akan bermetamorfosis menjadi ruh(ani) yang menjadikan nur(ani) sebagai orbit ego bervisi progresif dan eksploratif.

Keluarga Besar Program Studi Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah IAIN Bone Mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1443 H. Taqabbalallahu Minna wa Minkum wa Taqabbal ya Karim.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berlebaran Serba Baru: Idul Fitri sebagai Momentum Pembaruan Diri

Menyambut Idul Fitri kerap dimaknai sebagai perayaan kemenangan. Kemenangan yang dimaksud bukanlah sekadar keberhasilan melewati fase Ramadh...