Rabu, 18 Februari 2026

Ramadhan Mubarak: Memantaskan Diri dengan Berkah

Seiring masuknya Ramadhan, ungkapan “Ramadhan Mubarak” banyak terpampang pada berbagai ruang publik sampai pada ruang-ruang digital. Ada kerinduan yang sebenarnya tidak cukup terungkapkan hanya dengan narasi kata mengingat bulan yang penuh rahmat dan magfirah telah menjelma di pelupuk mata. Datangnya Ramadhan seolah menjadi jawaban dari doa-doa yang selama ini mengisi ruang kontemplasi kita pada Dzat yang Maha Mendengar “Allahumma Barik Lana fi Rajab wa Sya’ban wa Balligna Ramadhan”. Keberkahan yang ada di dalam Ramadhan memiliki makna yang sangat mendalam. Kata “al-barakah” yang bermakna keberkahan memiliki kedekatan struktur morfologis dengan kata “al-birkah” yang bermakna kolam. Kenapa harus kolam yang dijadikan sebagai salah satu media interpretasi simbolik dari kehidupan mereka yang terberkahi menyambut Ramadhan? Pertama, kolam identik dengan sumber kehidupan, kedua, kolam identik dengan ketenangan, serta ketiga, kolam identik dengan kesegaran. Interpretasi simboliknya seperti apa? Seorang hamba yang terberkahi hidupnya dalam menyambut Ramadhan dalam simbol yang pertama yaitu kolam sebagai sumber kehidupan adalah mereka yang diberkahi dengan umur yang panjang, tubuh yang sehat, ataupun waktu yang lapang. Mereka yang terberkahi hidupnya dalam menyambut Ramadhan dalam simbol yang kedua yaitu kolam identik dengan ketenangan adalah mereka yang hatinya tenang dalam menyambut Ramadhan dengan dibersihkannya hati itu dari berbagai sifat-sifat was-was yang membelenggu fitrah manusia. Mereka yang terberkahi hidupnya dalam menyambut Ramadhan dalam simbol yang ketiga yaitu kolam identik dengan kesegaran adalah mereka yang diliputi optimisme yang tinggi untuk ber-fastabiqul khairat mengisi Ramadhan dengan berbagai amal kebaikan.  Pertanyaan pemantiknya adalah seberapa pantas kita menjadi terberkahi dalam menyambut Ramadhan. Ilustrasi sederhananya adalah ketika pancaran hidayah Ilahi dalam bulan yang penuh berkah ini diibaratkan sebagai bibit unggul maka ketersambungan ruang fisik (shilah jasadiyah), ruang psikis (shilah nafsiyah), ataupun ruang spiritualitas (shilah ruhiyah) kita ibarat lahan yang subur ketika terberkahi. Bibit unggul yang bertemu dengan lahan yang subur tentu akan menumbuhkan tanaman yang sehat dan berbuah lebat nantinya. Sebaliknya, ketika bibit unggul ditanam pada lahan yang dipenuhi rerumputan liar maka proses tumbuhnya akan terganggu. Tentu lahan yang dipenuhi rerumputan liar itu adalah simbol dari fisik yang masih banyak terjebak pada jebakan dunia yang profan, pragmatis, bahkan hedonis, psikis yang masih diliputi ego destruktif seperti hasad, iri, dan dengki, serta spiritualitas yang kering akan pencerahan kesejatian diri dari hidayah Ilahi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berlebaran Serba Baru: Idul Fitri sebagai Momentum Pembaruan Diri

Menyambut Idul Fitri kerap dimaknai sebagai perayaan kemenangan. Kemenangan yang dimaksud bukanlah sekadar keberhasilan melewati fase Ramadh...