Jumat, 28 Februari 2025

RAMADHAN UNGGUL BERSIKLUS PPEPP

 

Muhammad Rusydi

Gugus Penjaminan Mutu Prodi PPG FTK UIN Alauddin Makassar

Ramadhan adalah bulan transformasi spiritualitas manusia dari level nasut ke level lahut. Dalam konteks tersebut, berbagai ke”ego”an manusia yang imanen pada fisik harus diarahkan sejalan dengan konsep-konsep spiritualitas yang tercerahkan dari ruh yang pada dasarnya imanen dalam “self-cosnciousness” manusia sejak berumur empat bulan sepuluh hari di alam rahim. Ramadhan adalah bulan ber-fastabiqul khairat demi mengejar akreditasi predikat unggul “ahsan taqwim” dan bukan justru terpuruk pada akreditasi  predikat “asfal safilin”. Sosok hamba Ilahi yang sukses dalam memahami transformasi spiritualitas tersebut dalam level ilm al-yaqin, ‘ain al-yaqin, sampai pada haq al-yaqin akan mampu menjabarkan makna doa “balligna Ramadhan” sebagai bentuk ketersampaian ber-shilah jasadiyah, ber-shilah nafsiyah, serta ber-shilah ruhiyah dan bukan sekedar sampai yang alih-alih dijadikan sebagai ajang ketercapaian kriteria Ramadhan unggul justru dijadikan sebagai ajang reinterpretasi ulang atas kriteria unggul tersebut berdasarkan pemaknaan ego yang rawan terjebak pada hal-hal yang bersifat profan, pragmatis, atau bahkan hedonis.  Ramadhan unggul mengisyaratkan perlunya pemenuhan standar ta’abbudi yang melebihi dari standar beribadah yang biasa dilakukan di luar Ramadhan layaknya akreditasi unggul pada sebuah APT ataupun APS yang hanya dapat diraih ketika mampu melampaui SN-DIKTI.  Socrates menyatakan “it’s not living that matters, but living rightly” yang intinya menegaskan bahwa manusia bukan jalurnya pada siklus hidup yang sekedar hidup tapi manusia harus mempertahankan fitrah spiritulitasnya pada siklus yang benar yang dalam hal ini tetap ajeg mengarah pada lokus “ahsan taqwim”

Dalam Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) yang berimplikasi praktis pada Sistem Penjaminan Mutu Eksternal (SPME), Siklus PPEPP yang merupakan akronim dari Penetapan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian, serta Peningkatan memiliki persinggungan ontologis, epistemologis, dan aksiologis dengan konsep pencapaian Ramadhan unggul. Dalam siklus penetapan misalnya, Ramadhan telah ditetapkan sebagai bulan yang mulia tempat pintu-pintu rahmat dan ampunan dibuka selebar-lebarnya. Banyak pijakan teologis normatif dalam al-Qur’an ataupun hadits yang menegaskan bagaimana kemuliaan Ramadhan dengan samudra hikmah yang terhampar di dalamnya yang menetapkan manusia sebagai salah satu ciptaan Allah swt. yang harus menyelami samudera hikmah tersebut baik dalam lokus ta’abudi ataupun ta’aqquli. Manusia adalah hamba Allah swt. yang diciptakan untuk beribadah (QS adz-Dzariyat/51:56), manusia adalah khalifatullah (QS. al-Baqarah/02:30), manusia adalah pengembang amar ma’ruf nahi mungkar (QS. Ali Imran/03:110). Pertanyaannya kemudian adalah sejauhmana manusia dalam meraih keunggulan diri dalam Ramadhan mampu untuk melaksanakan visi penciptaan tersebut pada tataran praktisnya. Disini, siklus kedua dari PPEPP dibuktikan dengan relasi triadik antara iqrar bi al-lisan, tashdiq bi al-qalb, dan amal bi al-arkan yang selanjutnya harus dilakukan introspeksi diri (muhasabah) sebagai bagian yang imanen dari siklus ketiga dari PPEPP yaitu evaluasi. Proses evaluasi dalam bentuk introspeksi diri (muhasabah) penting untuk dilakukan untuk memastikan berbagai amaliyah Ramadhan yang dilakukan sudah sejalan dengan kriteria-kriteria penilaian Ramadhan unggul dan ketika ditemukan adanya kriteria yang kurang maksimal pemenuhannya maka siklus keempat dari PPEPP yaitu pengendalian perlu untuk dilakukan. Berbagai bentuk sifat-sifat destruktif yang imanen dalam sisi nasut manusia seperti riya, hasad, dengki, dan semacamnya harus dikendalikan dengan jalan taubat dimana manusia kembali ke sisi fitrahnya yang suci, takhalli dimana manusia mengikis sifat-sifat destruktif tersebut, tahallli dimana manusia memenuhi diri dengan sifat-sifat terpuji, sampai pada tajalli dimana manusia menyibak tabir spiritualitas yang membuatnya didera rindu untuk senantiasa ber-taqarrub kepada Tuhannya. Setelah siklus pengendalian, maka siklus PPEPP yang terakhir adalah peningkatan dimana Ramadhan unggul bersiklus PPEPP meniscayakan adanya peningkatan mutu ta’abudi ataupun ta’aqquli dalam perjalanan manusia menyelami samudera hikmah yang terhampar dalam Ramadhan. Ketika siklus terakhir ini dalam SPMI salah satunya bisa dilakukan dengan benchmarking, maka yang menjadi pertanyaannya kemudian adalah seberapa intens kita melakukan “benchmarking” ke asal penciptaan kita yang diciptakan oleh Allah swt. dari saripati tanah? Atau jangan sampai kita sudah terjebak dalam pusaran kehidupan dunia yang profan, pragmatis, atau bahkan hedonis sehingga justru kita yang disinggung dalam QS. at-Takatsur/102:1-2 sebagai mereka yang harus dikembalikan ke liang kubur dari tanah dalam keadaan lalai mengenal asal penciptaannya (minallah), visi penciptaannya (lillah), karakter penciptaannya (ma’allah), dan arah penciptannya (ilallah). Ngaji dan kaji mutlak dilakukan sebagai wadah transformasi spiritualitas manusia untuk tetap bertahan pada akreditasi predikat unggul “ahsan taqwim” dan alih-alih bisa meningkat secara bertahap dari muslimin, mu’minin, muhsinin, mukhlishin, sampai pada muttaqin. Wallahu A’lam!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berlebaran Serba Baru: Idul Fitri sebagai Momentum Pembaruan Diri

Menyambut Idul Fitri kerap dimaknai sebagai perayaan kemenangan. Kemenangan yang dimaksud bukanlah sekadar keberhasilan melewati fase Ramadh...