Bagi seorang mu’min, doa adalah bentuk kontemplasi spiritual yang menghubungkan antara yang dicipta (makhluq) dengan Sang Pencipta (Khaliq), antara yang menyembah (‘abid) dan Yang Disembah (Ma’bud). Doa bukan hanya sebatas rentetan harapan yang tersampaikan tapi sebuah oase kerinduan seorang hamba yang senantiasa ingin terhubung pada sumbu axis-nya yaitu Allah yang Maha Mendengar. Dalam setiap untaian doa, ada hasrat jiwa yang boleh jadi tidak bisa terlukis dengan kata, tidak termuat dengan kalimat, tidak terdeskripsi dengan wacana. Sebuah hasrat yang sangat privat yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang memanjatkan doa-doa. Hasrat yang tak terkatakan itu meronta merindukan jawaban namun jawaban yang dirindukan itu tidak selalu berbentuk realitas wujud yang dapat diindera ataupun sketsa logika yang dapat dinalar. Hasrat itu merindu hadirnya sinar terang yang meresap dalam relung-relung sanubari yang dahaga akan cinta Ilahi. Doa-doa yang diijabah bukan milik mereka yang fasih dalam melafadz doa dalam sederet pinta yang boleh jadi masih terjebak dalam barometer kuantitas ataupun kualitas yang membumi, tapi doa-doa yang diijabah adalah doa tersampaikan dalam altar kejujuran hati yang disinari kerinduan akan ridha Ilahi. Pertanyaan sederhananya adalah bagaimana mungkin seorang hamba mengharapkan doa-doanya mampu untuk mengetuk pintu langit yang berdimensi teosentris sementara dirinya masih terjebak pada berbagai barometer kuantitas ataupun kualitas berdimensi antroposentirs yang membumi? Doa yang diijabah bukanlah milik mereka yang paling fasih kata-katanya tetapi milik mereka yang melafalkannya dengan kejujuran hati. Doa menjadi seperti aliran sungai yang tak pernah kering. Doa mengalir dari kedalaman keheningan dengan membawa serta harapan yang ditempa oleh renungan. Ada kalanya langit terasa seperti sekat yang tegak dan tak terjamah namun sesungguhnya setiap doa yang tulus adalah ketukan lembut pada pintu langit dan pintu itu selalu membuka meski kadang hanya lewat bisikan yang tak kasat mata. Doa adalah “nafas cinta” yang menghubungkan hamba dengan yang Maha Cinta. Ketika manusia berdoa, dirinnya mengangkat segala kepasrahan, segala kerinduan, dan segala harapan pada satu titik Tunggal yaitu Dia yang Maha Mendengar. Dan di sinilah keajaiban Ramadhan hadir–ketika detik-detik manusia dipenuhi dengan kesadaran bahwa bukan waktu yang mengabulkan doa melainkan Tuhan yang hadir dalam ruang hening itu sendiri. Doa yang diijabah bukan penghapusan semua luka tetapi kehadiran kekuatan batin untuk melihat luka itu sendiri sebagai jalan menuju cahaya. Maka doa menjadi panggilan abadi, bukan semata untuk dipenuhi, tetapi untuk disadari, dirasakan, dan dihayati sebagai kerinduan jiwa mengetuk pintu langit ber-taqarrub kepada Sang Maha Pencipta.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Berlebaran Serba Baru: Idul Fitri sebagai Momentum Pembaruan Diri
Menyambut Idul Fitri kerap dimaknai sebagai perayaan kemenangan. Kemenangan yang dimaksud bukanlah sekadar keberhasilan melewati fase Ramadh...
-
Ketika seseorang menahan lapar saat berpuasa dalam altar Ramadhan, hakikatnya, dia sedang menjalani transformasi spiritualitas dari “aku” me...
-
Memahami puasa sekedar menahan diri dari makan hanya akan mereduksi fungsi puasa sebagai wadah untuk mendengarkan. Puasa mengajak manusia be...
-
Dalam ritme kehidupan yang dipenuhi hiruk-pikuk dan tuntutan duniawi, hadirnya bulan Ramadhan seperti semesta yang merendah. Menjelma dalam ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar