Selasa, 16 Juni 2020

Ngainun Naim: Sang Inspirator Literasi



Oleh: Muhammad Rusydi
          Perkenalan saya dengan sosok Ngainun Naim, yang selanjutnya cukup saya sapa dengan Gus dalam tulisan ini, berawal dari kegiatan review proposal penelitian dosen IAIN Bone yang difasilitasi oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) pada awal 2019. Kesan pertama yang saya tangkap dari sosok Gus adalah sosok akademisi yang sangat terbuka untuk diajak berdiskusi tanpa memperdulikan posisi beliau sebagai seorang reviewer dalam kaitannya dengan posisi saya sebagai seorang calon peneliti, yang pada dasarnya, memiliki reviewer lain atas proposal penelitian yang kami ajukan dengan judul “Penguatan Antropologi Pembelajaran Bahasa Arab dalam Tradisi Keilmuan PTKIN di Sulawesi Selatan: Perspektif Antropolinguistik”. Mungkin ini salah satu ikhitiar peneliti dalam menghadapi review proposal penelitian dari reviewer yang berbeda sebagai  review awal dari reviewer lain seperti nasehat orang dulu bahwa menghadapi guru silat harus dihadapi dengan jurus guru silat yang setara. Konsekuensinya, untuk sukses menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari seorang reviewer maka yang saya harus lakukan adalah belajar pada reviewer lain yang setara. Tiap masukan yang beliau berikan demi perbaikan proposal penelitian yang kami ajukan menjadi catatan tersendiri sehingga mengantarkan penelitian kami lolos pada Kategori Penelitian Pengembangan Pendidikan Tinggi.
Proses pendampingan Gus kemudian berlanjut setelah  Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) IAIN Bone memberikan waktu tersendiri bagi beliau untuk membimbing literasi dosen dalam sebuah workshop sehari. Ada beberapa inspirasi menulis yang beliau kemukakan dalam workshop tersebut seperti perlunya menuangkan ide dalam bentuk tulisan agar seorang dosen dapat melakukan aktualisasi diri. Menurut beliau, aktulisasi diri dengan menulis boleh jadi memiliki efek apresiasi dari pihak lain yang melebihi dari sekedar berkomunikasi langsung sekalipun. Kita mungkin pernah mengagumi seseorang dari berbagai karya tulis ilmiah yang ditulisnya sehingga sterotip yang tertanam dalam benak kita tentang sosok penulis tersebut adaah orang yang sangat sempurna tapi saat bertemu langsung dengan penulisnya maka kita sendiri kaget karena sosoknya adalah orang yang biasa-biasa saja dari sisi penampilannya. Penulis sendiri pernah merasakan hal tersebut dimana sosok Mujamil Qomar adalah sosok penulis yang sangat menginspirasi perjalanan akademik penulis dengan beberapa karya tulis beliau terkhusus “Epistemologi Pendidikan Islam: Dari Metode Rasional hingga Metode Kritik” yang kemudian menginspirasi pemilihan judul disertasi penulis pada Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tentang “Epistemologi Pembaharuan Pembelajaran Bahasa Arab dalam Pemikiran Azhar Arsyad” Sosok Mujamil Qomar yang penulis bayangkan serba “wow” sebelum bertemu ternyata beliau adalah sosok yang sangat sederhana dari sisi penampilan meski jujur penulis rela duduk berlama-lama untuk mendengarkan kuliah-kuliah beliau yang sangat berisi dan menginspirasi. Oleh karena itu, Gus selalu mendorong peserta workshop saat itu untuk menulis apapun yang bisa ditulis sebagai proses pembelajaran ke depannya. Satu lembar yang ditulis hari ini boleh jadi akan bermetamorfosis menjadi buku tebal yang di sampulnya tertulis nama kita di masa mendatang karena buku tebal yang di sampulnya tertulis nama orang juga pada awalnya berawal dari satu lembar yang ditulis oleh mereka pada saat mereka mau memulai untuk menulis. Persoalannya bukan seberapa “mampu” kita untuk menulis tapi seberapa “mau” kita untuk memulai menulis seperti kata orang bijak “Don’t ask me, am I able? But, ask yourself, do I want?
Dalam kaitannya dengan kiat menulis, Gus memberikan  penekanan untuk selalu mendahulukan prior knowledge yang kami miliki untuk selanjutnya diperkuat dengan kutipan dari berbagai referensi yang ditulis orang lain. Jangan yang terjadi adalah sebaliknya dimana seorang penulis memberi kalimat sedikit kalimat pembuka lalu mengumpulkan kutipan-kutipan panjang dari berbagai referensi yang ditulis orang lain untuk selanjutnya ditutup dengan komentar pendek dari penulis itu sendiri. Dalam konteks ini, penulis tersebut tidak lebih dari “master of ceremony” yang membuka sebuah acara dengan “basmalah” dan menutup dengan “hamdalah” sementara acara inti diisi oleh pembicara-pembicara lain. Untuk menjadi seorang penulis yang bisa menjadi “keynote speaker” dalam tulisan yang dibuatnya, Gus menegaskan perlunya banyak membaca memperluas wawasan sehingga ide dalam menulis akan mengalir seiring dengan pemahaman yang mendalam atas topik yang ditulis. Banyak kiat-kiat menulis yang Gus sampaikan dalam workshop tersebut yang pada intinya penulis tangkap bahwa untuk bisa menulis maka syaratnya hanya ada tiga yaitu, mau, mau dan mau.
Dalam mengakselerasi budaya literasi di kalangan dosen, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) IAIN Bone memfasilitasi Gus untuk melakukan pendampingan budaya literasi melalui group WA dimana masing-masing peserta diwajibkan menyetor satu artikel wajib setiap pekan dan artikel sunnah yang tidak dibatasi jumlahnya. Strategi ini juga telah beliau terapkan pada beberapa PTKIN lain yang meminta jasa beliau untuk melakukan pendampingan budaya literasi. Dari kegiatan pendampingan budaya literasi beliau pada dosen IAIN Bone, telah terbit buku dengan judul “Guru Inspiratif” yang merupakan kumpulan tulisan peserta pendampingan ditambah puluhan artikel lintas keilmuan berbasis blog yang siap diterbitkan sebagai buku berikutnya. Penulis sendiri, berbekal dari inspirasi dari beliau untuk terus menulis dengan pendampingan kiat-kiat menulis tentunya, dalam dua tahun terakhir 2019 dan 2020, telah menulis dua buku dengan judul “Pembelajaran Bahasa Arab Komunikatif: Perspektif Psikolinguistik” dan “Filsafat Analitik: Menyelami Makna dalam Semantik Bahasa Arab” yang dibiayai oleh Program Buku Referensi dan Program Gemuk, dua program penulisan buku di kalangan dosen yang dibiayai oleh DIPA IAIN Bone.
Ketika Rene Descartes menyatakan bahwa “segala sesuatu harus diragukan (du omnibus dubitandum)”, penulis sepakat karena tokoh sekelas Imam al-Ghazali sendiri membangun konstruk epistemologi pemikiran beliau dalam lokus keraguan (skeptitisme), tapi penulis sangat tidak sepakat terhadap “keraguan” untuk mengakui peran Gus Ngainun Naim sebagai salah seorang inspirator literasi yang banyak menginspirasi penulis dan penulis lainnya.
              
              
                 

2 komentar:

Berlebaran Serba Baru: Idul Fitri sebagai Momentum Pembaruan Diri

Menyambut Idul Fitri kerap dimaknai sebagai perayaan kemenangan. Kemenangan yang dimaksud bukanlah sekadar keberhasilan melewati fase Ramadh...