Oleh: Muhammad Rusydi
Perkenalan saya dengan sosok Ngainun Naim, yang selanjutnya cukup
saya sapa dengan Gus dalam tulisan ini, berawal dari kegiatan review proposal penelitian
dosen IAIN Bone yang difasilitasi oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada
Masyarakat (LP2M) pada awal 2019. Kesan pertama yang saya tangkap dari sosok
Gus adalah sosok akademisi yang sangat terbuka untuk diajak berdiskusi tanpa
memperdulikan posisi beliau sebagai seorang reviewer dalam kaitannya dengan
posisi saya sebagai seorang calon peneliti, yang pada dasarnya, memiliki
reviewer lain atas proposal penelitian yang kami ajukan dengan judul “Penguatan
Antropologi Pembelajaran Bahasa Arab dalam Tradisi Keilmuan PTKIN di Sulawesi
Selatan: Perspektif Antropolinguistik”. Mungkin ini salah satu ikhitiar
peneliti dalam menghadapi review proposal penelitian dari reviewer yang berbeda
sebagai review awal dari reviewer lain seperti
nasehat orang dulu bahwa menghadapi guru silat harus dihadapi dengan jurus guru
silat yang setara. Konsekuensinya, untuk sukses menghadapi
pertanyaan-pertanyaan dari seorang reviewer maka yang saya harus lakukan adalah
belajar pada reviewer lain yang setara. Tiap
masukan yang beliau berikan demi perbaikan proposal penelitian yang kami ajukan
menjadi catatan tersendiri sehingga mengantarkan penelitian kami lolos pada Kategori
Penelitian Pengembangan Pendidikan Tinggi.
Proses pendampingan Gus kemudian berlanjut setelah Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
(LP2M) IAIN Bone memberikan waktu tersendiri bagi beliau untuk membimbing
literasi dosen dalam sebuah workshop sehari. Ada beberapa inspirasi menulis
yang beliau kemukakan dalam workshop tersebut seperti perlunya menuangkan ide
dalam bentuk tulisan agar seorang dosen dapat melakukan aktualisasi diri. Menurut
beliau, aktulisasi diri dengan menulis boleh jadi memiliki efek apresiasi dari
pihak lain yang melebihi dari sekedar berkomunikasi langsung sekalipun. Kita
mungkin pernah mengagumi seseorang dari berbagai karya tulis ilmiah yang
ditulisnya sehingga sterotip yang tertanam dalam benak kita tentang sosok
penulis tersebut adaah orang yang sangat sempurna tapi saat bertemu langsung
dengan penulisnya maka kita sendiri kaget karena sosoknya adalah orang yang
biasa-biasa saja dari sisi penampilannya. Penulis sendiri pernah merasakan hal
tersebut dimana sosok Mujamil Qomar adalah sosok penulis yang sangat
menginspirasi perjalanan akademik penulis dengan beberapa karya tulis beliau
terkhusus “Epistemologi Pendidikan Islam: Dari Metode Rasional hingga Metode Kritik”
yang kemudian menginspirasi pemilihan judul disertasi penulis pada Pascasarjana
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tentang “Epistemologi Pembaharuan
Pembelajaran Bahasa Arab dalam Pemikiran Azhar Arsyad” Sosok Mujamil Qomar
yang penulis bayangkan serba “wow” sebelum bertemu ternyata beliau adalah
sosok yang sangat sederhana dari sisi penampilan meski jujur penulis rela duduk berlama-lama untuk
mendengarkan kuliah-kuliah beliau yang sangat berisi dan menginspirasi. Oleh
karena itu, Gus selalu mendorong peserta workshop saat itu untuk menulis apapun
yang bisa ditulis sebagai proses pembelajaran ke depannya. Satu lembar yang
ditulis hari ini boleh jadi akan bermetamorfosis menjadi buku tebal yang di
sampulnya tertulis nama kita di masa mendatang karena buku tebal yang di
sampulnya tertulis nama orang juga pada awalnya berawal dari satu lembar yang
ditulis oleh mereka pada saat mereka mau memulai untuk menulis. Persoalannya
bukan seberapa “mampu” kita untuk menulis tapi seberapa “mau”
kita untuk memulai menulis seperti kata orang bijak “Don’t ask me, am I
able? But, ask yourself, do I want?
Dalam kaitannya dengan kiat menulis, Gus memberikan penekanan untuk selalu mendahulukan prior
knowledge yang kami miliki untuk selanjutnya diperkuat dengan kutipan dari
berbagai referensi yang ditulis orang lain. Jangan yang terjadi adalah sebaliknya dimana seorang penulis
memberi kalimat sedikit kalimat pembuka lalu mengumpulkan kutipan-kutipan panjang dari berbagai referensi yang ditulis orang
lain untuk selanjutnya ditutup dengan komentar pendek dari penulis itu sendiri.
Dalam konteks ini, penulis tersebut tidak lebih dari “master of ceremony”
yang membuka sebuah acara dengan “basmalah” dan menutup dengan “hamdalah”
sementara acara inti diisi oleh pembicara-pembicara lain. Untuk menjadi seorang
penulis yang bisa menjadi “keynote speaker” dalam tulisan yang
dibuatnya, Gus menegaskan perlunya banyak membaca memperluas wawasan sehingga
ide dalam menulis akan mengalir seiring dengan pemahaman yang mendalam atas
topik yang ditulis. Banyak kiat-kiat menulis yang Gus sampaikan dalam workshop
tersebut yang pada intinya penulis tangkap bahwa untuk bisa menulis maka
syaratnya hanya ada tiga yaitu, mau, mau dan mau.
Dalam mengakselerasi budaya literasi di kalangan dosen, Lembaga
Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) IAIN Bone memfasilitasi Gus
untuk melakukan pendampingan budaya literasi melalui group WA dimana
masing-masing peserta diwajibkan menyetor satu artikel wajib setiap pekan dan
artikel sunnah yang tidak dibatasi jumlahnya. Strategi ini juga telah beliau
terapkan pada beberapa PTKIN lain yang meminta jasa beliau untuk melakukan pendampingan
budaya literasi. Dari kegiatan pendampingan budaya literasi beliau pada dosen
IAIN Bone, telah terbit buku dengan judul “Guru Inspiratif” yang
merupakan kumpulan tulisan peserta pendampingan ditambah puluhan artikel lintas
keilmuan berbasis blog yang siap diterbitkan sebagai buku berikutnya. Penulis
sendiri, berbekal dari inspirasi dari beliau untuk terus menulis dengan pendampingan
kiat-kiat menulis tentunya, dalam dua tahun terakhir 2019 dan 2020, telah
menulis dua buku dengan judul “Pembelajaran Bahasa Arab Komunikatif:
Perspektif Psikolinguistik” dan “Filsafat Analitik: Menyelami Makna
dalam Semantik Bahasa Arab” yang dibiayai oleh Program Buku Referensi dan
Program Gemuk, dua program penulisan buku di kalangan dosen yang dibiayai oleh DIPA
IAIN Bone.
Ketika Rene Descartes menyatakan bahwa “segala sesuatu
harus diragukan (du omnibus dubitandum)”, penulis sepakat karena tokoh
sekelas Imam al-Ghazali sendiri membangun konstruk epistemologi pemikiran
beliau dalam lokus keraguan (skeptitisme), tapi penulis sangat tidak sepakat
terhadap “keraguan” untuk mengakui peran Gus Ngainun Naim sebagai salah seorang
inspirator literasi yang banyak menginspirasi penulis dan penulis lainnya.
Mantap pak
BalasHapusKereennn
BalasHapus