Penulis:
Dr.
Muhammad Rusydi, S.Pd.I., M.Pd.I.
Dosen
IAIN Bone/Sekretaris PW-RMI NU Sulawesi Selatan
Perkembangan kehidupan manusia modern yang semakin erat
dengan teknologi telah membuka suatu ruang yang identik dengan berbagai
karakteristik kehidupan manusia yang berbeda dengan kehidupan yang mewujud dan
menyata. Ruang yang dikenal dengan ruang digital tersebut telah
memberikan suatu model interaksi sosial manusia yang sedemikian cepat dan luas
sehingga diperlukan suatu kemampuan bagi pihak-pihak yang berkutat pada ruang
digital untuk mengantisipasi berbagai dampak destruktifnya pada satu sisi tapi
juga harus mampu menangkap berbagai dampak konstruktifnya agar ruang digital
menjadi ruang transformasi nilai toleransi dan kebangsaan yang efektif, masif, dan progresif. Ruang
digital dapat diilustrasikan dalam metafora lahan yang sangat luas dan masih
banyak bagian-bagiannya yang belum bertuan sehingga sangat terbuka diisi dengan
berbagai nilai, dari nilai yang toleran sampai ke yang intoleran, dari yang optimis
memperjuangkan nilai kebangsaan sampai ke yang apatis memperjuangkannya, semua
memiliki akses yang sama untuk menanamkan nilai yang dianutnya.Merupakan suatu keniscayaan ketika lahan tersebut harus diisi oleh mereka yang perpandangan toleran dan memiliki komitmen kebangsaan. Masih dalam
lingkup metafora lahan, ruang digital ini dapat diakses oleh siapapun dengan
jangkauan yang sangat luas serta dalam tempo waktu yang sangat singkat sehingga fenomena
ruang digital ini telah bermetamorfosis dan mengarah menjadi dunia tanpa sekat
ruang dan waktu. Menarik untuk mencermati kata “digital”untuk
selanjutnya dikaitkan dengan basis filosofis dalam menguatkan toleransi dan
kebangsaan di ruang digital. Kata ini identik dengan dunia digit yang berafiliasi
dengan angka. Dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan manusia, angka
merupakan suatu bagian yang tidak terpisahkan dari paradigma positivistis yang bersifat statis dan vis a vis
dengan kata dengan paradigma fenomenologis yang dinamis. Dari angka yang
berakar pada filsafat alam lahir penelitian isu-isu toleransi dan kebangsaan berparadigma
kuantitatif yang positivistis sementara dari kata yang berakar pada filsafat
sosial lahir penelitian isu-isu toleransi dan kebangsaan berparadigma kualitatif
yang fenomenologis. Tapi terlepas dari pembagian tersebut, apapun informasi
yang diolah dalam ruang digital maka semua tidak hanya sebatas angka tapi juga
berbentuk kata dengan tidak berlebihan apabila dikatakan bahwa kata yang lebih
dominan dibandingkan dengan angka itu sendiri. Sifat angka statis ruang digital
yang numerik menuntut pengolahan informasi di ruang digital harus diolah sedemikian
rupa dengan relasi caturadik dari digital skill, digital culture, digital
ethic, serta digital safety. Hal ini menjadi penting mengingat sebuah
informasi yang diolah didalamnya akan dipersepsi oleh banyak pembaca dengan
pembacaan yang sangat dinamis dalam pemaknaannya termasuk dalam kaitanya dengan
nilai toleransi dan kebangsaan tersebut. Seperti metafora obyek yang apabila dilihat
dari sudut pandang yang berbeda akan melahirkan pemahaman yang berbeda-beda
pula sehingga bisa dikatakan bahwa informasi yang diolah di ruang digital ontologinya
adalah positivistis tapi pada tataran aksiologis akan bermetamorfosa sebagai
fenomenologis. Upaya untuk menguatkan toleransi dan kebangsaan di ruang digital
harus mewujudkan moderasi bisektris antara literasi membaca (kata) yang fenomenologis
dan literasi matematika (angka) yang positivistis sebagaimana yang telah diupayakan
oleh pemerintah memulai Asesmen Nasional pada penyelenggaraan pendidikan khususnya
pada bagian Asesmen Kompetensi Minimum. Wallahu A’lam (Sebuah Refleksi
atas Sosialisasi Literasi Digital Kerjasama Kemenkominfo RI, RMI-NU, dan Ponpes
An-Nahdlah Makassar. Tinumbu, 03 Agustus 2023)
MashaAllah, sukses selalu pak prof
BalasHapus