Kamis, 03 Agustus 2023

MENGUATKAN TOLERANSI DAN KEBANGSAAN DI RUANG DIGITAL

 

Penulis:

Dr. Muhammad Rusydi, S.Pd.I., M.Pd.I.

Dosen IAIN Bone/Sekretaris PW-RMI NU Sulawesi Selatan

Perkembangan kehidupan manusia modern yang semakin erat dengan teknologi telah membuka suatu ruang yang identik dengan berbagai karakteristik kehidupan manusia yang berbeda dengan kehidupan yang mewujud dan menyata. Ruang yang dikenal dengan ruang digital tersebut telah memberikan suatu model interaksi sosial manusia yang sedemikian cepat dan luas sehingga diperlukan suatu kemampuan bagi pihak-pihak yang berkutat pada ruang digital untuk mengantisipasi berbagai dampak destruktifnya pada satu sisi tapi juga harus mampu menangkap berbagai dampak konstruktifnya agar ruang digital menjadi ruang transformasi nilai toleransi dan kebangsaan yang efektif, masif, dan progresif. Ruang digital dapat diilustrasikan dalam metafora lahan yang sangat luas dan masih banyak bagian-bagiannya yang belum bertuan sehingga sangat terbuka diisi dengan berbagai nilai, dari nilai yang toleran sampai ke yang intoleran, dari yang optimis memperjuangkan nilai kebangsaan sampai ke yang apatis memperjuangkannya, semua memiliki akses yang sama untuk menanamkan nilai yang dianutnya.Merupakan suatu keniscayaan ketika lahan tersebut harus diisi oleh mereka yang perpandangan toleran dan memiliki komitmen kebangsaan. Masih dalam lingkup metafora lahan, ruang digital ini dapat diakses oleh siapapun dengan jangkauan yang sangat luas serta dalam tempo waktu yang sangat singkat sehingga fenomena ruang digital ini telah bermetamorfosis dan mengarah menjadi dunia tanpa sekat ruang dan waktu. Menarik untuk mencermati kata “digital”untuk selanjutnya dikaitkan dengan basis filosofis dalam menguatkan toleransi dan kebangsaan di ruang digital. Kata ini identik dengan dunia digit yang berafiliasi dengan angka. Dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan manusia, angka merupakan suatu bagian yang tidak terpisahkan dari paradigma positivistis yang bersifat statis dan vis a vis dengan kata dengan paradigma fenomenologis yang dinamis. Dari angka yang berakar pada filsafat alam lahir penelitian isu-isu toleransi dan kebangsaan berparadigma kuantitatif yang positivistis sementara dari kata yang berakar pada filsafat sosial lahir penelitian isu-isu toleransi dan kebangsaan berparadigma kualitatif yang fenomenologis. Tapi terlepas dari pembagian tersebut, apapun informasi yang diolah dalam ruang digital maka semua tidak hanya sebatas angka tapi juga berbentuk kata dengan tidak berlebihan apabila dikatakan bahwa kata yang lebih dominan dibandingkan dengan angka itu sendiri. Sifat angka statis ruang digital yang numerik menuntut pengolahan informasi di ruang digital harus diolah sedemikian rupa dengan relasi caturadik dari digital skill, digital culture, digital ethic, serta digital safety. Hal ini menjadi penting mengingat sebuah informasi yang diolah didalamnya akan dipersepsi oleh banyak pembaca dengan pembacaan yang sangat dinamis dalam pemaknaannya termasuk dalam kaitanya dengan nilai toleransi dan kebangsaan tersebut. Seperti metafora obyek yang apabila dilihat dari sudut pandang yang berbeda akan melahirkan pemahaman yang berbeda-beda pula sehingga bisa dikatakan bahwa informasi yang diolah di ruang digital ontologinya adalah positivistis tapi pada tataran aksiologis akan bermetamorfosa sebagai fenomenologis. Upaya untuk menguatkan toleransi dan kebangsaan di ruang digital harus mewujudkan moderasi bisektris antara literasi membaca (kata) yang fenomenologis dan literasi matematika (angka) yang positivistis sebagaimana yang telah diupayakan oleh pemerintah memulai Asesmen Nasional pada penyelenggaraan pendidikan khususnya pada bagian Asesmen Kompetensi Minimum. Wallahu A’lam (Sebuah Refleksi atas Sosialisasi Literasi Digital Kerjasama Kemenkominfo RI, RMI-NU, dan Ponpes An-Nahdlah Makassar. Tinumbu, 03 Agustus 2023)

1 komentar:

Berlebaran Serba Baru: Idul Fitri sebagai Momentum Pembaruan Diri

Menyambut Idul Fitri kerap dimaknai sebagai perayaan kemenangan. Kemenangan yang dimaksud bukanlah sekadar keberhasilan melewati fase Ramadh...