Penulis:
Dr. Muhammad Rusydi, S.Pd.I., M.Pd.I.
Dosen
IAIN Bone/Komunitas Gusdurian
Dalam pandangan Ki Hajar Dewantara,
pendidikan merupakan wadah asah berbagai potensi peserta didik, baik
lahir ataupun batin, sehingga mereka bisa menjadi pribadi-pribadi yang merdeka
dalam mengembangkan berbagai potensi yang imanen dalam penciptaan mereka
sebagai “ahsan taqwim”. Semangat pendidikan dalam kerangka pedagogis,
andragogis, ataupun heutagogisnya dalam mendudukkan manusia pada altar kemerdekaannya
yang secara kodrati ataupun adikodrati merupakan semangat yang sejalan dengan
beberapa gagasan para pemikir sekelas Asghar Ali Engineer ketika mengemukakan
konsep teologi pembebasannya, Antonio Gramsci ketika mengemukakan teori
hegemoninya, Muhammad Iqbal ketika mengemukakan pikiran kehendak bebasnya, dan
serentetan gagasan yang meniscayakan bahwa pendidikan memerdekakan mutlak
untuk diupayakan apabila istilah “diwujudkan” masih menyisakan rentang yang
jauh antara das sollen dan das sein. Determinisme teologis-fatalistis ala Jabariyah
yang menyatakan bahwa segala kehendak manusia telah ditentukan oleh kehendak
Tuhan tidak boleh menjadi paradigma yang menciptakan teror paradigmatik sehingga
hal ini sangat beresiko mendudukkan peserta didik pada sebuah proses pendidikan
satu arah berpola vertikal-kordinatif yang dalam perspektif Paulo Freire
dikatakan sebagai pendidikan gaya bank.
Semangat untuk mewujudkan pendidikan
memerdekakan telah menjadi salah satu basis dalam pengarusutamaan berbagai
kebijakan strategis nasional dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia
sehingga lahir kebijakan Kurikulum Merdeka, Merdeka Belajar Kampus Merdeka, dan
sederet kebijakan strategis lainnya. Pendidikan memerdekakan meniscayakan
adanya proses dialektis yang masif, inklusif, dan progresif antara pendidik dan
peserta didik, pendidik menjadi fasilitator sementara peserta didik menjadi
negosiator dalam lingkup mikro pendidikan serta menjadikan relasi triadik tri
pusat pendidikan yang terbangun atas sekolah, keluarga, dan masyarakat sebagai
relasi simbiosis mutualisme dalam lingkup makro pendidikan. Apabila ilustrasi
tersebut menggambarkan bagaimana posisi peserta didik dengan berbagai pihak
yang ada di sekitarnya dalam spektrum pendidikan memerdekakan, Ibnu Khaldun mengemukakan
gagasannya yang sejalan dengan pendidikan memerdekakan dari sisi sumber
pembelajaran bahwa pendidikan Islam yang menggunakan sumber-sumber naqliyah
dengan basis al-Qur’an ataupun hadits sebagai magnum opus ajaran Islam harus
dibarengi dengan perangkat sumber-sumber aqliyah dengan basis logika bebas, yang dalam perspektif penulis beririsan dengan makna logika merdeka atau berpikir merdeka, agar transformasi ilmu pengetahuan bisa berjalan lebih inklusif, progresif, dan
kontekstual dan tidak terpasung pada ekslusivitas teks yang rigid.
Sebuah catatan kritis yang perlu
untuk diangkat dalam menyikapi pendidikan memerdekakan adalah bahwa pendidikan
memerdekakan tidak cukup hanya dipahami sebagai sebuah paradigma pendidikan
yang lebih akomodatif terhadap kemerdekaan peserta didik dalam proses
pembelajaran karena hal tersebut hanya akan berimplikasi praktis pada ruang
sempit seukuran kelas belajar ataupun pada waktu sempit sedurasi jam pelajaran,
tapi jauh dari itu pendidikan memerdekakan harus menjadi proses pendidikan yang
mampu memerdekakan mereka dari berbagai bentuk antitesa dari kemerdekaan itu
sendiri seperti kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan, hegemoni sosial, dan
semacamnya dalam konteks kehidupan sosial yang lebih luas. Tidak berlebihan apabila
dikatakan bahwa semua berawal dari kelas sehingga semangat yang imanen dalam
pendidikan memerdekakan akan berhulu di ruang kelas dan akan bermuara di kehidupan
sosial peserta didik ke depannya. Penulis mencoba merenungkan kenapa ketika
dikejar anjing orang-orang bisa melompati pagar berduri yang tinggi maka
jawabannya karena mereka adalah orang-orang yang merdeka dari rasa takut tersangkut
pagar berduri. Mereka berhasil karena fokus agar tidak digigit anjing yang mengejarnya.
Konsekuensinya, ketika peserta didik dididik dalam pendidikan memerdekakan maka
mereka harus dimerdekakan dari rasa takut kegagalan belajar layaknya mereka
yang bisa melompati pagar berduri karena mereka adalah orang-orang yang merdeka
dari rasa takut tersangkut pagar berduri lalu mereka dibuat fokus bahwa mereka
harus berhasil dalam belajar agar mereka merdeka dari berbagai bentuk kebodohan,
kemiskinan, keterbelakangan, hegemoni sosial, dan semacamnya layaknya mereka
yang fokus agar tidak digigit anjing yang mengejarnya. Wallahu a’lam!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar