Ramadhan banyak mengajarkan
bagaimana proses kembali manusia dari keterasingan menuju asal-usul diri. Dalam
lanskap spiritual Islam, fitrah bukan hanya dimaknai sebagai kesucian melainkan
kondisi primordial manusia yang bening, tempat ruh pertama kali bersaksi
tentang keesaan Ilahi. Fitrah adalah titik nol eksistensial, ketika manusia
belum ternodai oleh ego, ambisi, dan ilusi dunia. Menjemput fitrah dengan
demikian bukanlah gerak maju melainkan gerak Kembali sebagai regresi spiritual
menuju hakikat diri. Selama Ramadhan, manusia dididik melalui disiplin lahiriah
untuk mencapai kesadaran batiniah. Puasa bukan sekadar menahan tetapi sebuah
terapi untuk membakar nafsu, mereduksi ego, dan meluruhkan segala yang bukan
diri sejati. Dalam terapi itu, tersisa inti kemanusiaan yang jernih. Hati yang ringan untuk bersujud, jiwa yang
lapang untuk mencinta, dan kesadaran yang utuh untuk mengenal Ilahi. Di
penghujung perjalanan ini, muncul dialektika yang halus antara syukur dan
harap. Syukur lahir dari kesadaran bahwa kita telah diberi kemampuan untuk
beribadah dimana setiap rakaat, setiap doa, setiap lapar yang tertahan adalah
karunia. Bahkan kemampuan untuk taat pun adalah anugerah Ilahi yang tak layak
disombongkan. Maka syukur menjadi bentuk kerendahan hati yang berbuah i’tiraf
bahwa manusia sebagai hamba Ilahi tidak memiliki apa-apa selain pemberian-Nya. Di
sisi lain, harap adalah getaran batin yang tak pernah padam. Sebab tidak ada
satu pun ibadah yang benar-benar sebanding dengan keagungan-Nya. Di titik ini,
seorang hamba berdiri di antara dua kesadaran yaitu telah beramal namun tidak
pernah merasa cukup serta telah beribadah namun tetap diliputi kecemasan akan
penerimaan. Inilah maqam antara khauf dan raja’, antara gentar
dan harap. Ruang spiritual di mana keikhlasan menemukan maknanya. Idul Fitri,
dalam pengertian terdalamnya, bukanlah perayaan kemenangan lahiriah melainkan
isyarat bahwa manusia diberi kesempatan untuk kembali pada kesucian jiwa
sebagaimana awal penciptaannya. Namun, kembali kepada fitrah bukanlah akhir melainkan
awal dari tanggung jawab baru untuk menjaga kejernihan itu dalam kehidupan yang
kembali riuh pasca Ramadhan nantinya. Menjemput fitrah adalah perjalanan sunyi yang tak pernah selesai.
Menjemput fitrah dalam lokus Idul fitri bukan sekadar momen tahunan tetapi
kesadaran eksistensial yang harus terus dihidupkan. Di antara syukur atas
ibadah dan harap akan penerimaan, manusia menemukan dirinya sebagai hamba Ilahi
yang rapuh namun selalu dipanggil untuk kembali.
Rabu, 18 Maret 2026
Menjemput Fitrah: Antara Syukur atas Ibadah dan Harap akan Penerimaan Ilahi
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Berlebaran Serba Baru: Idul Fitri sebagai Momentum Pembaruan Diri
Menyambut Idul Fitri kerap dimaknai sebagai perayaan kemenangan. Kemenangan yang dimaksud bukanlah sekadar keberhasilan melewati fase Ramadh...
-
Ketika seseorang menahan lapar saat berpuasa dalam altar Ramadhan, hakikatnya, dia sedang menjalani transformasi spiritualitas dari “aku” me...
-
Memahami puasa sekedar menahan diri dari makan hanya akan mereduksi fungsi puasa sebagai wadah untuk mendengarkan. Puasa mengajak manusia be...
-
Dalam ritme kehidupan yang dipenuhi hiruk-pikuk dan tuntutan duniawi, hadirnya bulan Ramadhan seperti semesta yang merendah. Menjelma dalam ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar