Jumat, 06 Maret 2026

Nuzulul Quran: Filosofi “Iqra” pada 17 Ramadhan

Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah tetapi juga bulan ketika langit membuka pintu pengetahuan bagi bumi. Dalam sejarah Islam, salah satu peristiwa paling monumental adalah Nuzulul Quran, yang secara luas diperingati pada 17 Ramadhan, saat wahyu pertama turun kepada Nabi Muhammad di Goa Hira melalui malaikat Jibril. Wahyu tersebut adalah lima ayat pertama dari Surah al-‘Alaq yang dimulai dengan kata “Iqra” dengan makna “bacalah!” Kata “iqra” sering dipahami secara sederhana sebagai perintah membaca. Namun secara filosofis, perintah itu jauh lebih luas dari sekadar aktivitas intelektual. Iqra’ adalah seruan kosmik agar manusia membuka kesadaran. Dalam konteks itu, membaca tidak hanya berarti menatap huruf tetapi juga membaca semesta, membaca diri, dan membaca tanda-tanda Tuhan yang tersebar di seluruh kehidupan. Menariknya, perintah pertama ini turun kepada seorang hamba Allah yang tidak dikenal sebagai pembaca teks. Dalam dimensi sufistik, hal itu mengandung simbol mendalam bahwa pengetahuan sejati bukan hanya lahir dari teks tetapi dari kesadaran batin yang tercerahkan oleh wahyu. Dengan kata lain, iqra adalah panggilan agar manusia menghidupkan akal sekaligus hati. Jika direnungkan, perintah tersebut mengubah arah sejarah manusia. Iqra’ menandai lahirnya sebuah peradaban yang menjadikan ilmu sebagai fondasi spiritual. Dalam surat yang sama ditegaskan bahwa Tuhan “mengajarkan manusia dengan perantaraan pena dan mengajarkan apa yang tidak diketahui. Artinya, wahyu tidak menolak akal justru mengundang manusia untuk terus belajar dengan mengasah potensi bernalar.  Iqra dalam perspektif Ramadhan bukan hanya aktivitas intelektual. Membaca adalah proses tazkiyah kesadaran. Membaca berarti menyingkap makna kehidupan, menafsirkan penderitaan, dan menemukan cahaya di balik pengalaman manusia. Ketika seseorang membaca dengan kesadaran spiritual, huruf-huruf berubah menjadi jalan menuju Tuhan. Di sinilah filosofi Nuzulul Quran menemukan relevansinya. Turunnya wahyu bukan hanya peristiwa historis tetapi peristiwa eksistensial yang terus berlangsung. Setiap kali manusia membaca dengan hati yang jernih, wahyu seakan turun kembali dalam kesadarannya. Oleh karena itu, memperingati 17 Ramadhan seharusnya tidak berhenti pada seremoni. Nuzulul Quran adalah pengingat bahwa kehidupan manusia pada dasarnya adalah perjalanan membaca dengan terus membaca diri, membaca sejarah, dan membaca tanda-tanda Ilahi dalam diri (mikrokosmos) dan alam semesta (makrokosmos). Iqra adalah panggilan abadi agar manusia tidak hanya menjadi makhluk yang sekedar hidup tetapi juga makhluk yang sadar akan makna hidupnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berlebaran Serba Baru: Idul Fitri sebagai Momentum Pembaruan Diri

Menyambut Idul Fitri kerap dimaknai sebagai perayaan kemenangan. Kemenangan yang dimaksud bukanlah sekadar keberhasilan melewati fase Ramadh...