Oleh: Muhammad Rusydi
Kata
“hikmah” yang sering dipadankan dengan kata “filsafat” memiliki
makna yang relevan dengan tujuan pendidikan yaitu terbentuknya pribadi yang memiliki
pandangan hidup yang tercerahkan dengan cahaya ilmu sehingga pandangannya
diwarnai dengan nilai-nilai kebijaksanaan. Hikmah, dalam proses ini, merupakan
suatu konsep yang siap dijabarkan pada tataran praktis sehingga dalam tradisi
keilmuan Islam dikenal dua jenis hikmah yaitu al-hikmah al-nazhariyah
yang merupakan seperangkat konsep teoretis berupa kemampuan mempersepsi (hissiy)
dan menelaah (aqly) berbagai fenomena kosmos, mikrokosmos dan
makrokosmos, yang terjalin sistemik dengan sebab dan akibatnya, penanda dan
yang ditandanya, untuk selanjutnya dikonfirmasikan dengan isyarat teologis
normatif yang ada dalam magnum opus ajaran Islam yaitu al-Qur’an (naqly)
sehingga tercapai apa yang disebut penyingkapan (kasyfy) sementara jenis
hikmah yang kedua adalah al-hikmah al-‘amaliyah yang merupakan
seperangkat langkah praktis dalam menjabarkan perpaduan antara berbagai isyarat
teologis normatif (naqly) dengan dimensi hissy, aqly, dan
kasyfi secara proporsional sehingga membentuk pribadi yang bijaksana dalam
menempatkan sesuatu pada tempatnya baik itu perkataan ataupun tindakan, baik itu
sifatnya individual ataupun komunal.
Menyikapi
peran strategis hikmah dalam proses akselerasi pencapaian tujuan pendidikan di
atas, tidak mengherankan apabila kata “hikmah” yang disebutkan dalam
al-Qur’an sebanyak 20 kali dalam al-Qur’an ini menjadi suatu maskot dari
pencapaian seseorang dalam menyerap nilai-nilai pendidikan rabbani, suatu
paradigma pendidikan paripatetik dengan metode diskursifnya dalam tradisi
keilmuan Islam yang menekankan kehadiran Ilahi dalam proses pendidikan, sehingga Allah swt. menegaskan dalam QS. Lukman/31:12
“Dan sesungguhnya telah kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu
"Bersyukurlah kepada Allah dan barangsiapa yang bersyukur kepada Allah swt.,
maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang
tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".
Anugerah yang telah Allah swt berikan pada Luqman berupa hikmah tersebut telah
membentuk karakter Luqman sebagai sosok bijaksana yang sepanjang hidupnya sarat
dengan pesan-pesan kebijaksanaan dalam menghadapi interaksi dunia yang profan
dan menjadi sumber inspirasi sepanjang zaman. Oleh karena itu, sangat tepat
kemudian apabila Allah swt. menegaskan bahwa anugerah-Nya berupa hikmah
merupakan suatu anugerah yang sarat dengan nilai-nilai kebaikan yang salah
satunya adalah kebujaksanaan tepatnya dalam QS. al-Baqarah/02:269 “Allah
swt. menganugerahkan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa
yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak
dan hanya orang-orang yang berakal yang dapat mengambil pelajaran”.
Ketika hikmah didudukkan sebagai basis pendidikan dalam kerangka teosofisnya, dapat dipahami bahwa pendidikan berbasis hikmah telah menjadi suatu paradigma pendidikan karakter yang tidak terbatas pada sekat-sekat teologis lagi. Nilai-nilai kebijaksanaan dalam pendidikan berbasis hikmah yang pada dasarnya imanen pada semua ajaran agama telah bermetamorfosis dalam seperangkat nilai universal seperti keadilan, kemanusiaan, cinta, kasih sayang, dan yang lainnya sebagai barometernya. Persinggungan sekat teologis dalam lokus pendidikan berbasis hikmah tergambar dalam Summa Theologiae karya Santo Thomas Aquinas, seorang pendeta agama Katolik, yang menyatakan bahwa segala sesuatu yang bergerak, baik itu fisik ataupun metafisik, baik itu kerangka teoretis ataupun kerangka praktis, pasti berhulu pada penggerak pertama yang menggerakkan meskipun dia sendiri tidak digerakkan. Selain penggerak pertama tersebut, segala sesuatu seharusnya bergerak karena digerakkan dan tanpa penggerak maka gerakannya mesti tiada. Penggerak pertama inilah yang oleh Santo Thomas Aquinas disebut dengan “Tuhan, Sang Causa Prima” dalam Summa Theologiae-nya. Salah satu yang digerakkan oleh Tuhan, Sang Causa Prima tersebut adalah ilmu pengetahuan yang menekankan kebijaksanaan yang imanen dalam ajaran agama-agama seperti yang ditekankan dalam philosophia perennis. Ketika pendidikan berbasis hikmah mampu men-upgrade kesadaran komunal bahwa setiap manusia memiliki persinggungan sekat teologis menuju Tuhan, Sang Causa Prima, ego destruktif berkabut jubah duniawi yang profan-pragmatis dan biasanya menghalangi kebijaksanaan dapat diminimalisir. Mungkin hal ini pula yang melandasi kenapa umat Islam dianjurkan untuk menuntut ilmu pengetahuan meskipun sampai di negeri China yang kaya dengan kearifan budayanya.
Konsep pendidikan berbasis hikmah juga digambarkan Plato dalam teori forma-nya. Melalui teori forma tersebut, Plato ingin menekankan bahwa ada sekelompok manusia dalam strata sosial yang dipersiapkan untuk menjadi pemimpin sehingga harus dibekali dengan pemahaman tentang hikmah. Terlepas dari perbedaaan dengan cakupan makna kepemimpinan dalam Islam yang bersifat holistik melalui hadits Rasulullah saw. “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya”, penulis melihat bahwa perbedaan tersebut hanya disebabkan oleh perbedaan definisi semata dimana ketika Islam melihatnya sebagai suatu pertanggungjawaban maka Plato melihatnya sebagai mekanisme sosial tapi pada intinya keduanya menekankan perlunya ada kebijaksanaan dalam pelaksanaannya. Bagi Plato, forma adalah realitas konseptual pada dunia ide layaknya matahari yang memungkinkan seseorang melihat melihat obyek visual dalam dimensi kosmos. Dalam kaitannya dengan pendidikan berbasis hikmah, wujud forma tersebut adalah penguatan potensi ruh peserta didik yang memungkinkan mereka bisa bijaksana dalam memahami diri dan realitas sosial yang melingkupinya. Eksistensi ruh dalam teori forma ala Plato dianggap sebagai konsep ideal yang harus dimurnikan dari belenggu ego destruktif melalui proses pendidikan berbasis hikmah. Potensi ruh inilah yang kemudian bermetamorfosis menjadi spiritualitas sesuai dengan akar katanya “spirit” yang bermakna ruh. Ketika Nabi Ibrahim as berdoa lalu kemudian diabadikan dalam QS. as-Syuara/26:83 yang bunyinya “Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh”, hal tersebut adalah wujud persinggungan ontologis dari pendidikan berbasis hikmah dari teori forma ala Plato dengan konsep hikmah dalam dimensi spiritualitas yang digagas agama-agama dalam lokus philosophia perennis.
Ketika hikmah didudukkan sebagai basis pendidikan dalam kerangka teosofisnya, dapat dipahami bahwa pendidikan berbasis hikmah telah menjadi suatu paradigma pendidikan karakter yang tidak terbatas pada sekat-sekat teologis lagi. Nilai-nilai kebijaksanaan dalam pendidikan berbasis hikmah yang pada dasarnya imanen pada semua ajaran agama telah bermetamorfosis dalam seperangkat nilai universal seperti keadilan, kemanusiaan, cinta, kasih sayang, dan yang lainnya sebagai barometernya. Persinggungan sekat teologis dalam lokus pendidikan berbasis hikmah tergambar dalam Summa Theologiae karya Santo Thomas Aquinas, seorang pendeta agama Katolik, yang menyatakan bahwa segala sesuatu yang bergerak, baik itu fisik ataupun metafisik, baik itu kerangka teoretis ataupun kerangka praktis, pasti berhulu pada penggerak pertama yang menggerakkan meskipun dia sendiri tidak digerakkan. Selain penggerak pertama tersebut, segala sesuatu seharusnya bergerak karena digerakkan dan tanpa penggerak maka gerakannya mesti tiada. Penggerak pertama inilah yang oleh Santo Thomas Aquinas disebut dengan “Tuhan, Sang Causa Prima” dalam Summa Theologiae-nya. Salah satu yang digerakkan oleh Tuhan, Sang Causa Prima tersebut adalah ilmu pengetahuan yang menekankan kebijaksanaan yang imanen dalam ajaran agama-agama seperti yang ditekankan dalam philosophia perennis. Ketika pendidikan berbasis hikmah mampu men-upgrade kesadaran komunal bahwa setiap manusia memiliki persinggungan sekat teologis menuju Tuhan, Sang Causa Prima, ego destruktif berkabut jubah duniawi yang profan-pragmatis dan biasanya menghalangi kebijaksanaan dapat diminimalisir. Mungkin hal ini pula yang melandasi kenapa umat Islam dianjurkan untuk menuntut ilmu pengetahuan meskipun sampai di negeri China yang kaya dengan kearifan budayanya.
Konsep pendidikan berbasis hikmah juga digambarkan Plato dalam teori forma-nya. Melalui teori forma tersebut, Plato ingin menekankan bahwa ada sekelompok manusia dalam strata sosial yang dipersiapkan untuk menjadi pemimpin sehingga harus dibekali dengan pemahaman tentang hikmah. Terlepas dari perbedaaan dengan cakupan makna kepemimpinan dalam Islam yang bersifat holistik melalui hadits Rasulullah saw. “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya”, penulis melihat bahwa perbedaan tersebut hanya disebabkan oleh perbedaan definisi semata dimana ketika Islam melihatnya sebagai suatu pertanggungjawaban maka Plato melihatnya sebagai mekanisme sosial tapi pada intinya keduanya menekankan perlunya ada kebijaksanaan dalam pelaksanaannya. Bagi Plato, forma adalah realitas konseptual pada dunia ide layaknya matahari yang memungkinkan seseorang melihat melihat obyek visual dalam dimensi kosmos. Dalam kaitannya dengan pendidikan berbasis hikmah, wujud forma tersebut adalah penguatan potensi ruh peserta didik yang memungkinkan mereka bisa bijaksana dalam memahami diri dan realitas sosial yang melingkupinya. Eksistensi ruh dalam teori forma ala Plato dianggap sebagai konsep ideal yang harus dimurnikan dari belenggu ego destruktif melalui proses pendidikan berbasis hikmah. Potensi ruh inilah yang kemudian bermetamorfosis menjadi spiritualitas sesuai dengan akar katanya “spirit” yang bermakna ruh. Ketika Nabi Ibrahim as berdoa lalu kemudian diabadikan dalam QS. as-Syuara/26:83 yang bunyinya “Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh”, hal tersebut adalah wujud persinggungan ontologis dari pendidikan berbasis hikmah dari teori forma ala Plato dengan konsep hikmah dalam dimensi spiritualitas yang digagas agama-agama dalam lokus philosophia perennis.
Mantap kanda Doktor
BalasHapusMantap pak..
BalasHapusLuar biasa pak tulisanta.
BalasHapus