Minggu, 05 Juli 2020

Sekolah yang Membahagiakan


Oleh: Muhammad Rusydi dan Anjasmara
Elly Risman, seorang psikolog anak, mengemukakan “Anak itu pintar ada waktunya karena yang berkembang pertama kali adalah pusat perasaannya. Anak usia dini harus jadi anak yang bahagia bukan jadi anak yang pintar”. Apa yang dikemukakan tersebut memberikan suatu peluang untuk melakukan nalar kritis terkait sistem pendidikan kita yang, disadari atau tidak, banyak terpasung oleh target “kepintaran” berbasis barometer angka yang statis. Implikasinya, peserta didik yang berprestasi bisa diukur berdasarkan perolehan nilai rata-ratanya dari rangkaian mata pelajaran yang diujikan. Mengukur prestasi peserta didik berdasarkan data-data kuantitatif tersebut, pada dasarnya, tidak salah selama sekolah mampu menyediakan barometer penilaian pendukung yang mampu untuk menyingkap fakta pencapaian prestasi peserta didik dalam dimensi yang lain. Memaksakan satu barometer penilaian untuk mengukur prestasi peserta didik, khususnya yang menggunakan angka dengan mengacu pada akumulasi jawaban mereka pada lembaran soal ujian seperti yang banyak terjadi selama ini, hanya akan mengantarkan peserta didik pada predikat “pintar” tapi gagal membawa mereka pada predikat “bahagia”.  Ketika ke”pintar”an dan ke”bahagia”an didudukkan dalam relasi kausalitas dimana satu sama lain terjalin sebagai sebab atau penyebab atas yang lainnya, kadang muncul pertanyaan apakah peserta didik yang pintar yang membuat mereka menjadi bahagia atau justru sebaliknya peserta didik yang bahagia yang membuat mereka menjadi pintar? Meskipun perbedaan jawaban atas pertanyaaan tersebut boleh jadi melahirkan dua kutub ide yang saling berseberangan satu sama lain tapi pertanyaan ini sepertinya bisa menjadi pintu masuk untuk menelusuri lebih jauh beberapa kerangka konseptual dan empiris yang mendukung pendapat Elly Risman di atas.
Penulis termasuk orang yang memilih jawaban bahwa peserta didik yang bahagia akan menjadikan mereka sebagai orang yang pintar. Alasan yang menguatkan penulis untuk mendudukkan kebahagiaan peserta didik sebagai prioritas untuk dikembangkan terlebih dahulu untuk selanjutnya menjadi prasyarat untuk mengembangkan kepintaran mereka mengacu pada apa yang dikemukakan oleh Bobbi DePorter dan Mike Hernacki dalam paradigma pembelajaran Quantum Teaching yang dikemukakan mereka bahwa peserta didik memiliki tiga bagian otak yang terjalin sistemik yang dalam hal ini adalah reptilia atau batang otak yang memiliki fungsi motor sensorik dan kelangsungan hidup dengan menentukan hadapi atau lari, otak mamalia atau sistem limbik yang memiliki fungsi untuk mengolah emosi, perasaan, dan ingatan, serta otak neokorteks atau otak berpikir yang memiliki fungsi mengolah potensi menalar, berpikir intelek, serta untuk mencapai kepintaran dalam tingkatan yang lebih tinggi. Dalam kaitannya dengan upaya untuk mewujudkan sekolah yang membahagiakan, fungsi motor sensorik dan kelangsungan hidup dengan menentukan hadapi atau lari dari bagian otak reptilia atau batang otak mengisyaratkan bahwa peserta didik selalu memiliki pilihan-pilihan dalam proses pembelajaran yang diberikan dimana mereka bisa mengambil keputusan konstruktif untuk mengikuti proses pembelajaran dengan dengan antusias atau justru mereka mengambil keputusan destruktif untuk mengabaikan atau bahkan sampai meninggalkan proses pembelajaran. Yang namanya otak reptilia, analogi binatang reptilia, ular misalnya, ketika merasa terancam maka ada dua keputusan yang dapat diambil yaitu menyerang atau melarikan diri. Hal yang sama juga dapat terjadi pada peserta didik yang dalam proses pembelajaran yang dihadapinya tidak mampu membawa mereka pada kebahagiaan belajar maka mereka sangat rentang melakukan berbagai tindakan destruktif seperti memprovokasi pendidik dengan sikap acuh tak acuh dalam belajar, menggangu teman belajarnya, dan semacamnya seperti binatang reptilia tadi yang bisa menyerang ketika memungkinkan atau justru akan melarikan diri ketika tidak memungkinkan. Sikap melarikan diri seperti ini dapat ditemukan dalam diri peserta didik ketika mereka memilih untuk meninggalkan proses pembelajaran tanpa alasan yang dapat dibenarkan. Keberhasilan proses pembelajaran yang membahagiakan dalam meredam berbagai perilaku agresivitas yang bisa muncul dari otak reptilia dapat menjadi modal utama untuk mengakselerasi potensi otak mamalia dengan dimensi emosinya serta otak neokorteks dengan dimensi penalarannya pada tahap proses pembelajaran berikutnya.
Upaya untuk mewujudkan sekolah yang membahagiakan sebagai prasyarat dalam mengakselerasi kepintaran peserta didik pada tahap berikutnya memerlukan suatu kompetensi pedagogis yang baik. Fakta empiris menunjukkan bahwa kehidupan peserta didik di luar sekolah, baik itu dalam keluarga atau dalam masyarakat, telah sarat dengan berbagai fasilitas yang bisa membawa mereka pada dimensi kebahagiaan dalam perspektif mereka seperti bahagia ketika mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam bermain game online, bahagia ketika mereka bisa menghabiskan waktu nongki-nongki bersama teman sebayanya di warung kopi, bahagia ketika mereka bisa menghabiskan satu album di rumah bernyanyi, dan berbagai perilaku hedonis kekinian. Lalu bagaimana strategi menggiring opini mereka bahwa apa yang mereka dapat di sekolah bisa lebih membahagiakan dari apa yang mereka dapatkan di luar sekolah? Ibarat menghadapi seorang anak kecil yang asyik bermain dengan mainan mobil-mobilannya lalu ingin diajak untuk tidur siang oleh orang tuanya. Kegagalan untuk meyakinkan anak kecil tersebut bahwa tidur siang lebih menyenangkan daripada bermain mobil-mobilan tersebut akan membuat sang anak menangis ketika diminta untuk berpindah aktivitas dari bermain ke tidur siang. Tapi ketika orang tua mampu memberikan magical opening berupa ilustasi bahwa tidur siang sambil diayung sebagai proses naik pesawat terbang yang menyenangkan dan lebih hebat dari sekedar naik mobil maka sang anak boleh jadi akan dengan sukarela bahkan menjadi sangat antusias untuk berpindah aktivitas dari bermain ke tidur siang. Disinilah letak peran kompetensi pedagogis dari seorang pendidik dalam mewujudkan sekolah yang membahagiakan untuk lebih cermat dan jeli melihat berbagai aktivitas yang digemari oleh peserta didik di luar sekolah untuk selanjutnya diadopsi dan diramu sedemikian rupa dalam bentuk aktivitas pembelajaran inovatif yang menyenangkan. Di samping itu, sekolah yang membahagiakan juga mampu mengakselerasi potensi tersembunyi peserta didik ibarat orang yang sedang jatuh cinta yang boleh jadi tidak memiliki ketertarikan dalam dunia sastra selama ini ternyata mampu menuliskan bait-bait puisi penuh pesan kasih sayang kepada orang dikasihinya. Mungkin pesan ini pula yang terkandung dalam Film Hayya: The Power of Love 2 bahwa cinta suci yang dibarengi cinta pada Pencipta yang dicinta akan menghadirkan energi positif yang tiada terduga maka demikian pula apabila makna cinta tersebut ditransformasikan pada kebahagiaan yang pada dasarnya imanen dalam diri peserta didik dalam dunia pendidikan. Biarkan mereka bahagia, biarkan mereka menjadi pintar, jangan ditekan, jangan diintimidasi, cukup bimbing, arahkan, dan doakan.
    Butuh aksi nyata dari setiap pendidik dalam mewujudkan sekolah yang membahagiakan, dengan meminjam istilah Aa Gym, mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil, dan mulai dari sekarang, daripada sekedar konsep yang berjilid-jilid dibukukan ataupun diseminarkan tapi miskin aksi nyata pada tataran empiris seperti yang diisyaratkan Maria Montessori “jika anda memberitahu mereka, mereka hanya melihat gerakan bibir anda, tapi jika anda menunjukkan pada mereka, mereka akan tergoda untuk melakukannya sendiri

9 komentar:

Berlebaran Serba Baru: Idul Fitri sebagai Momentum Pembaruan Diri

Menyambut Idul Fitri kerap dimaknai sebagai perayaan kemenangan. Kemenangan yang dimaksud bukanlah sekadar keberhasilan melewati fase Ramadh...