Oleh: Muhammad
Rusydi dan Anjasmara
Elly Risman,
seorang psikolog anak, mengemukakan “Anak itu pintar ada waktunya karena
yang berkembang pertama kali adalah pusat perasaannya. Anak usia dini harus
jadi anak yang bahagia bukan jadi anak yang pintar”. Apa yang dikemukakan
tersebut memberikan suatu peluang untuk melakukan nalar kritis terkait sistem
pendidikan kita yang, disadari atau tidak, banyak terpasung oleh target
“kepintaran” berbasis barometer angka yang statis. Implikasinya, peserta didik
yang berprestasi bisa diukur berdasarkan perolehan nilai rata-ratanya dari
rangkaian mata pelajaran yang diujikan. Mengukur prestasi peserta didik
berdasarkan data-data kuantitatif tersebut, pada dasarnya, tidak salah selama
sekolah mampu menyediakan barometer penilaian pendukung yang mampu untuk
menyingkap fakta pencapaian prestasi peserta didik dalam dimensi yang lain. Memaksakan
satu barometer penilaian untuk mengukur prestasi peserta didik, khususnya yang
menggunakan angka dengan mengacu pada akumulasi jawaban mereka pada lembaran
soal ujian seperti yang banyak terjadi selama ini, hanya akan mengantarkan
peserta didik pada predikat “pintar” tapi gagal membawa mereka pada
predikat “bahagia”. Ketika ke”pintar”an
dan ke”bahagia”an didudukkan dalam relasi kausalitas dimana satu sama
lain terjalin sebagai sebab atau penyebab atas yang lainnya, kadang muncul
pertanyaan apakah peserta didik yang pintar yang membuat mereka menjadi bahagia
atau justru sebaliknya peserta didik yang bahagia yang membuat mereka menjadi
pintar? Meskipun perbedaan jawaban atas pertanyaaan tersebut boleh jadi
melahirkan dua kutub ide yang saling berseberangan satu sama lain tapi pertanyaan
ini sepertinya bisa menjadi pintu masuk untuk menelusuri lebih jauh beberapa
kerangka konseptual dan empiris yang mendukung pendapat Elly Risman di atas.
Penulis
termasuk orang yang memilih jawaban bahwa peserta didik yang bahagia akan
menjadikan mereka sebagai orang yang pintar. Alasan yang menguatkan penulis
untuk mendudukkan kebahagiaan peserta didik sebagai prioritas untuk
dikembangkan terlebih dahulu untuk selanjutnya menjadi prasyarat untuk mengembangkan
kepintaran mereka mengacu pada apa yang dikemukakan oleh Bobbi DePorter dan
Mike Hernacki dalam paradigma pembelajaran Quantum Teaching yang
dikemukakan mereka bahwa peserta didik memiliki tiga bagian otak yang terjalin
sistemik yang dalam hal ini adalah reptilia atau batang otak yang memiliki
fungsi motor sensorik dan kelangsungan hidup dengan menentukan hadapi atau
lari, otak mamalia atau sistem limbik yang memiliki fungsi untuk mengolah emosi,
perasaan, dan ingatan, serta otak neokorteks atau otak berpikir yang memiliki
fungsi mengolah potensi menalar, berpikir intelek, serta untuk mencapai
kepintaran dalam tingkatan yang lebih tinggi. Dalam kaitannya dengan upaya
untuk mewujudkan sekolah yang membahagiakan, fungsi motor sensorik dan
kelangsungan hidup dengan menentukan hadapi atau lari dari bagian otak reptilia
atau batang otak mengisyaratkan bahwa peserta didik selalu memiliki
pilihan-pilihan dalam proses pembelajaran yang diberikan dimana mereka bisa
mengambil keputusan konstruktif untuk mengikuti proses pembelajaran dengan dengan
antusias atau justru mereka mengambil keputusan destruktif untuk mengabaikan
atau bahkan sampai meninggalkan proses pembelajaran. Yang namanya otak reptilia,
analogi binatang reptilia, ular misalnya, ketika merasa terancam maka ada dua
keputusan yang dapat diambil yaitu menyerang atau melarikan diri. Hal yang sama
juga dapat terjadi pada peserta didik yang dalam proses pembelajaran yang
dihadapinya tidak mampu membawa mereka pada kebahagiaan belajar maka mereka
sangat rentang melakukan berbagai tindakan destruktif seperti memprovokasi
pendidik dengan sikap acuh tak acuh dalam belajar, menggangu teman belajarnya,
dan semacamnya seperti binatang reptilia tadi yang bisa menyerang ketika
memungkinkan atau justru akan melarikan diri ketika tidak memungkinkan. Sikap
melarikan diri seperti ini dapat ditemukan dalam diri peserta didik ketika
mereka memilih untuk meninggalkan proses pembelajaran tanpa alasan yang dapat dibenarkan.
Keberhasilan proses pembelajaran yang membahagiakan dalam meredam berbagai perilaku
agresivitas yang bisa muncul dari otak reptilia dapat menjadi modal utama untuk
mengakselerasi potensi otak mamalia dengan dimensi emosinya serta otak
neokorteks dengan dimensi penalarannya pada tahap proses pembelajaran
berikutnya.
Upaya untuk mewujudkan
sekolah yang membahagiakan sebagai prasyarat dalam mengakselerasi kepintaran
peserta didik pada tahap berikutnya memerlukan suatu kompetensi pedagogis yang
baik. Fakta empiris menunjukkan bahwa kehidupan peserta didik di luar sekolah,
baik itu dalam keluarga atau dalam masyarakat, telah sarat dengan berbagai
fasilitas yang bisa membawa mereka pada dimensi kebahagiaan dalam perspektif
mereka seperti bahagia ketika mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam bermain
game online, bahagia ketika mereka bisa menghabiskan waktu nongki-nongki
bersama teman sebayanya di warung kopi, bahagia ketika mereka bisa menghabiskan
satu album di rumah bernyanyi, dan berbagai perilaku hedonis kekinian. Lalu
bagaimana strategi menggiring opini mereka bahwa apa yang mereka dapat di
sekolah bisa lebih membahagiakan dari apa yang mereka dapatkan di luar sekolah?
Ibarat menghadapi seorang anak kecil yang asyik bermain dengan mainan
mobil-mobilannya lalu ingin diajak untuk tidur siang oleh orang tuanya.
Kegagalan untuk meyakinkan anak kecil tersebut bahwa tidur siang lebih
menyenangkan daripada bermain mobil-mobilan tersebut akan membuat sang anak
menangis ketika diminta untuk berpindah aktivitas dari bermain ke tidur siang.
Tapi ketika orang tua mampu memberikan magical opening berupa ilustasi
bahwa tidur siang sambil diayung sebagai proses naik pesawat terbang yang
menyenangkan dan lebih hebat dari sekedar naik mobil maka sang anak boleh jadi
akan dengan sukarela bahkan menjadi sangat antusias untuk berpindah aktivitas
dari bermain ke tidur siang. Disinilah letak peran kompetensi pedagogis dari
seorang pendidik dalam mewujudkan sekolah yang membahagiakan untuk lebih cermat
dan jeli melihat berbagai aktivitas yang digemari oleh peserta didik di luar
sekolah untuk selanjutnya diadopsi dan diramu sedemikian rupa dalam bentuk
aktivitas pembelajaran inovatif yang menyenangkan. Di samping itu, sekolah yang membahagiakan juga mampu mengakselerasi potensi tersembunyi peserta didik ibarat orang yang sedang jatuh cinta yang boleh jadi tidak memiliki ketertarikan dalam dunia sastra selama ini ternyata mampu menuliskan bait-bait puisi penuh pesan kasih sayang kepada orang dikasihinya. Mungkin pesan ini pula yang terkandung dalam Film Hayya: The Power of Love 2 bahwa cinta suci yang dibarengi cinta pada Pencipta yang dicinta akan menghadirkan energi positif yang tiada terduga maka demikian pula apabila makna cinta tersebut ditransformasikan pada kebahagiaan yang pada dasarnya imanen dalam diri peserta didik dalam dunia pendidikan. Biarkan mereka bahagia, biarkan mereka menjadi pintar, jangan ditekan, jangan diintimidasi, cukup bimbing, arahkan, dan doakan.
Butuh aksi nyata dari setiap pendidik dalam mewujudkan sekolah yang membahagiakan, dengan meminjam istilah Aa Gym, mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil, dan mulai dari sekarang, daripada sekedar konsep yang berjilid-jilid dibukukan ataupun diseminarkan tapi miskin aksi nyata pada tataran empiris seperti yang diisyaratkan Maria Montessori “jika anda memberitahu mereka, mereka hanya melihat gerakan bibir anda, tapi jika anda menunjukkan pada mereka, mereka akan tergoda untuk melakukannya sendiri”
Butuh aksi nyata dari setiap pendidik dalam mewujudkan sekolah yang membahagiakan, dengan meminjam istilah Aa Gym, mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil, dan mulai dari sekarang, daripada sekedar konsep yang berjilid-jilid dibukukan ataupun diseminarkan tapi miskin aksi nyata pada tataran empiris seperti yang diisyaratkan Maria Montessori “jika anda memberitahu mereka, mereka hanya melihat gerakan bibir anda, tapi jika anda menunjukkan pada mereka, mereka akan tergoda untuk melakukannya sendiri”
Luar biasa...
BalasHapusMksh byk Ndi
HapusKeren pak...
BalasHapusMksh byk Bu
HapusMasya Allah pak dosen...
BalasHapusMasya Allah pak dosen...
BalasHapusSekolah yang membahagiakan sepertinya yg dikatakan oleh bapak pendidkan Indonesia Ki Hajar Dewantara Sekolah adalaah taman siswa...sangat bagus diterapkan untuk mahasiswa juga pak.trima kasih pak Dr
BalasHapusTulisan bermakna pak. MasyaAllah
BalasHapusLuar bias pak... inspiratif
BalasHapus