Ketika seseorang menahan lapar
saat berpuasa dalam altar Ramadhan, hakikatnya, dia sedang menjalani transformasi
spiritualitas dari “aku” menuju “kita” Selama 11 bulan sebelum memasuki bulan
yang mulia ini, manusia boleh jadi terperangkap dalam lingkaran kecil yang
bernama “diri” yang pada gilirannya membuatnya terjebak pada sikap egosentris.
Semua serba “aku”, kebutuhanku, keinginanku, obsesiku, dan sederet ke”aku”an
yang membuat manusia lupa bahwa ada “kita” yang menggambarkan relasi kosmik
yang menghubungkan berbagai entitas hidup yang berbeda. Lapar mengasah
spiritualitas manusia untuk memecahkan lingkaran “diri” karena dengan berpuasa
manusia menanamkan bahasa universal dalam kesadaran kosmiknya. Universalitas
bahasa tersebut bersifat kosmopolitan sehingga dapat dipahami oleh setiap
manusia tanpa perlu terjemahan parsial orang per orang, kelompok per kelompok. Berawal
dari sini, Puasa Ramadhan membangun solidaritas berdasarkan kesamaan pengalaman
spritualitas. Orang yang kenyang boleh jadi pandai berbicara tentang kepedulian
tapi orang yang lapar mulai merasakannya. Saat perut kosong dengan berpuasa, jarak
antara rumah yang hangat dan jalanan yang dingin tiba-tiba terasa tipis. Muncul
kesadaran sosial bahwa kemiskinan bukan sekadar angka statistik semata tapi
kemiskinan yang dirasakan orang lain ada karena adanya ruang dalam hati mereka
yang dititipkan kesejahteraan lebih yang tidak terisi oleh solidaritas yang
berbuah empati pada sesama. Konsekuensinya, zakat, infaq, dan sedekah tak lagi
menjadi kewajiban normatif, melainkan kebutuhan jiwa. Puasa Ramadhan menanamkan
solidaritas bukan lewat ceramah, tetapi lewat rasa. Jalaluddin Rumi pernah
menulis, “Luka adalah tempat cahaya masuk ke dalam dirimu.” Dalam puasa Ramadhan,
luka lapar menjadi pintu cahaya sosial yang mencerahkan pandangan mata hati
seseorang bahwa ada saudara-saudaranya yang merasakan lapar sepanjang hidup
mereka. Puasa Ramadhan mengubah cara seseorang
memandang kepemilikan. Harta tidak lagi berdiri sebagai milik mutlak melainkan
amanah yang beredar dalam bingkai kasih Ilahi. Seseorang memberi bukan karena
berlebih tetapi karena adanya perasaan terhubung. Sebuah transformasi dari
keterhubungan fisik (shilah jasadiyah), keterhubungan psikis (shilah
nafsiyah), sampai keterhubungan spiritualitas (shilah ruhiyah) Ketika
tangan memberi, sebenarnya hati sedang disembuhkan dari kesepian terdalam yaitu
merasa terpisah dari yang lain. Puasa Ramadhan menumbuhkan solidaritas yang
memahami bahwa berbagai entitas hidup yang berbeda itu ibarat satu tubuh. Apabila
satu bagian lapar, bagian lain akan merasakan ketidakstabilan. Solidaritas
bukan lagi pilihan moral melainkan kesadaran eksistensial bahwa merengkuh
sesama berarti merengkuh diri sendiri.
Kamis, 19 Februari 2026
Solidaritas Puasa Ramadhan: Hati yang Merengkuh Sesama
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Berlebaran Serba Baru: Idul Fitri sebagai Momentum Pembaruan Diri
Menyambut Idul Fitri kerap dimaknai sebagai perayaan kemenangan. Kemenangan yang dimaksud bukanlah sekadar keberhasilan melewati fase Ramadh...
-
Ketika seseorang menahan lapar saat berpuasa dalam altar Ramadhan, hakikatnya, dia sedang menjalani transformasi spiritualitas dari “aku” me...
-
Memahami puasa sekedar menahan diri dari makan hanya akan mereduksi fungsi puasa sebagai wadah untuk mendengarkan. Puasa mengajak manusia be...
-
Dalam ritme kehidupan yang dipenuhi hiruk-pikuk dan tuntutan duniawi, hadirnya bulan Ramadhan seperti semesta yang merendah. Menjelma dalam ...
Masya Allah' ustad sy juga punya blogspot
BalasHapus