Kamis, 19 Februari 2026

Solidaritas Puasa Ramadhan: Hati yang Merengkuh Sesama

Ketika seseorang menahan lapar saat berpuasa dalam altar Ramadhan, hakikatnya, dia sedang menjalani transformasi spiritualitas dari “aku” menuju “kita” Selama 11 bulan sebelum memasuki bulan yang mulia ini, manusia boleh jadi terperangkap dalam lingkaran kecil yang bernama “diri” yang pada gilirannya membuatnya terjebak pada sikap egosentris. Semua serba “aku”, kebutuhanku, keinginanku, obsesiku, dan sederet ke”aku”an yang membuat manusia lupa bahwa ada “kita” yang menggambarkan relasi kosmik yang menghubungkan berbagai entitas hidup yang berbeda. Lapar mengasah spiritualitas manusia untuk memecahkan lingkaran “diri” karena dengan berpuasa manusia menanamkan bahasa universal dalam kesadaran kosmiknya. Universalitas bahasa tersebut bersifat kosmopolitan sehingga dapat dipahami oleh setiap manusia tanpa perlu terjemahan parsial orang per orang, kelompok per kelompok. Berawal dari sini, Puasa Ramadhan membangun solidaritas berdasarkan kesamaan pengalaman spritualitas. Orang yang kenyang boleh jadi pandai berbicara tentang kepedulian tapi orang yang lapar mulai merasakannya. Saat perut kosong dengan berpuasa, jarak antara rumah yang hangat dan jalanan yang dingin tiba-tiba terasa tipis. Muncul kesadaran sosial bahwa kemiskinan bukan sekadar angka statistik semata tapi kemiskinan yang dirasakan orang lain ada karena adanya ruang dalam hati mereka yang dititipkan kesejahteraan lebih yang tidak terisi oleh solidaritas yang berbuah empati pada sesama. Konsekuensinya, zakat, infaq, dan sedekah tak lagi menjadi kewajiban normatif, melainkan kebutuhan jiwa. Puasa Ramadhan menanamkan solidaritas bukan lewat ceramah, tetapi lewat rasa. Jalaluddin Rumi pernah menulis, “Luka adalah tempat cahaya masuk ke dalam dirimu.” Dalam puasa Ramadhan, luka lapar menjadi pintu cahaya sosial yang mencerahkan pandangan mata hati seseorang bahwa ada saudara-saudaranya yang merasakan lapar sepanjang hidup mereka. Puasa Ramadhan mengubah cara seseorang memandang kepemilikan. Harta tidak lagi berdiri sebagai milik mutlak melainkan amanah yang beredar dalam bingkai kasih Ilahi. Seseorang memberi bukan karena berlebih tetapi karena adanya perasaan terhubung. Sebuah transformasi dari keterhubungan fisik (shilah jasadiyah), keterhubungan psikis (shilah nafsiyah), sampai keterhubungan spiritualitas (shilah ruhiyah) Ketika tangan memberi, sebenarnya hati sedang disembuhkan dari kesepian terdalam yaitu merasa terpisah dari yang lain. Puasa Ramadhan menumbuhkan solidaritas yang memahami bahwa berbagai entitas hidup yang berbeda itu ibarat satu tubuh. Apabila satu bagian lapar, bagian lain akan merasakan ketidakstabilan. Solidaritas bukan lagi pilihan moral melainkan kesadaran eksistensial bahwa merengkuh sesama berarti merengkuh diri sendiri.

1 komentar:

Berlebaran Serba Baru: Idul Fitri sebagai Momentum Pembaruan Diri

Menyambut Idul Fitri kerap dimaknai sebagai perayaan kemenangan. Kemenangan yang dimaksud bukanlah sekadar keberhasilan melewati fase Ramadh...