Jumat, 27 Mei 2022

Nalar Konotatif “Kampus Hadis”: Dari Kelembagaan Sampai Keilmuan

 Oleh: Dr. Muhammad Rusydi, S.Pd.I., M.Pd.I.

        Tagline “Kampus Hadis” menjadi salah satu pijakan aksiomatik dari pengembangan berbagai kebijakan kelembagaan lingkup IAIN Bone dalam implementasi tri dharma perguruan tinggi yang terdiri atas pendidikan dan pengajaran, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat pada perguruan tinggi keagamaaan Islam negeri di pesisir timur Sulawesi Selatan ini. Sebagai sebuah akronim dari kampus yang humanis, adaptif, dedikatif, inovatif, dan selebritif, tagline tersebut memiliki nalar epistemologi yang kuat sebagai sebuah entitas yang terjalin sistemik-konstruktif dengan beberapa tagline pengembangan kelembagaan lingkup kampus kebanggaan masyarakat Kabupaten Bone ini seperti “Kampus Unggul dan Humanis”, “Kampus Ber-K4 (Berkualitas, Berkesesuaian, Berkarakter, serta Berkelanjutan)”, dan beberapa tagline yang mendahuluinya dengan akar filosofis yang kuat, baik pada wilayah normativitas ataupun historitasnya. Merujuk pada semiotika Roland Barthes yang merupakan kelanjutan dari apa yang telah dilakukan Ferdinand de Saussure bahwa relasi konstruktif antara signifier dan signified, antara penanda dan petanda, terlihat bahwa “Kampus Hadis” dengan nalar epistemologi yang bersifat konstruktif-transformatif disamping bisa dinalar dalam makna denotatifnya sebagai akronim dari humanis, adaptif, dedikatif, inovatif, dan selebritif, juga bisa dinalar dengan memahaminya sebagai makna konotatif dari berbagai deiksis kata “hadis” itu sendiri yang dalam hal ini di antaranya adalah:

1.  Makna konotatif dari kata “hadis” identik dengan posisi sumber otoritas kedua setelah al-Qur’an yang menjadi magnum opus dalam tradisi keilmuan Islam yang dalam hal ini adalah segala perkataan, perbuatan, ataupun taqrir Rasulullah saw. Relasi triadik yang menghubungkan antara perkataan, perbuatan, serta taqrir Rasulullah saw. dalam makna konotatif kata “hadis” mengisyaratkan bahwa “Kampus Hadis” selalu menekankan konsistensi antara perkataan dan perbuatan, konsistensi antara aturan dengan penerapan, meskipun taqrir dalam proses pemaknaan konotatif tersebut bisa mengisyaratkan bahwa penjabaran dari dimensi perkataan ke dimensi perbuatan, dari dimensi aturan ke dimensi penerapan, selalu menyisakan ruang dialektis antara antara normativitas yang ideal-ahistoris dan historitas yang empiris-historis. Lahirnya kebijakan-kebijakan pengembangan kelembagaan yang inovatif, kolaboratif, serta inklusif dalam bingkai ke-Islaman dan ke-Indonesiaan sebagaimana termaktub dalam rancang bangun visi kelembagan IAIN Bone 2022-2026 menjadi suatu hal yang perlu selama tidak melanggar esensi ataupun substansi berbagai aturan tata kelola kelembagaan yang ada.

2.  Makna konotatif dari kata “hadis” adalah adanya tawaran-tawaran kebaruan, sesuai dengan salah satu makna denotatif dari kata “hadis” adalah baru, pada setiap periode kepemimpinan yang ada sebagai sebuah siklus transformasi kelembagaan IAIN Bone yang dalam relung sanubari terdalam semua civitas akademika ada harapan bisa naik level dari institut ke universitas. Berbagai upaya konstruktif yang telah dilakukan oleh siklus kepemimpinan sebelumnya dalam merintis jalan menuju transformasi kelembagaan tersebut tentu menjadi kontribusi yang sangat berharga dalam meramu tawaran-tawaran kebaruan dalam tagline “Kampus Hadis”. Meminjam kaidah Ushul Fiqhi “al-Muhafazah ala al-Qadim al-Shalih wa al-Akhdzu ala al-Jadid al-Ashlah”, relasi sintesis antara paradigma keilmuan yang imanen pada tagline-tagline kelembagaan sebelumnya dengan tagline “Kampus Hadis” akan melahirkan kekuatan yang bersifat konstruktif-transformatif sebagai sebuah weltanschauung dalam setiap siklus kepemimpinan dan kelembagaan sebagaimana tiga fase yang digambarkan George Wilhelm Friedrich Hegel dalam pemikiran filsafatnya yaitu tesis, antitesis, serta sinteis. Dalam jejak historisnya, IAIN Bone telah memberikan suatu kerangka pengembangan paradigma keilmuan yang memberikan tawaran-tawaran kebaruan tapi tetap menjadikan tagline sebelumnya sebagai salah satu pijakan pengembangannya. Terbentuknya tagline “Kampus Unggul dan Humanis” tidak bisa terlepas dari Tagline sebelumnya yaitu “Kampus Ber-K4 (Berkualitas, Berkesesuaian, Berkarakter, serta Berkelanjutan)” sehingga makna yang imanen dalam kata “unggul” merujuk pada konsep ber-K4 tersebut. Hal yang sama juga terlihat dalam tagline “Kampus Hadis” yang mendudukkan kata “humanis” sebagai makna yang imanen pada huruf awal dari kata “hadis” yang tentu memiliki sintesis ontologis, epistemologis, ataupun aksiologis dengan makna yang imanen dari kata “humanis” dari tagline “Kampus Unggul dan Humanis” yaitu “Sipakatau, Sipakalebbi, Sipakainge”. Semangat dalam menawarkan kebaruan dalam setiap tagline pengembangan kelembagaan yang mewarnai transformasi kepemimpinan lingkup IAIN Bone yang memiliki ikatan filosofis dengan berbagai tagline sebelumnya tersebut merupakan pengejewantahan dari sikap yang inovatif, kolaboratif, dan inklusif yang bisa secara ekplisit terlihat sebagai relasi triadik pada visi kelembagaan IAIN Bone 2022-2026. Penulis teringat dengan pembaharuan ala Jepang yang tetap kokoh dalam mengakomodir tradisi yang telah ada dan ternyata mampu mengantarkan Jepang sebagai bangsa yang disegani dengan suar peradabannya sementara pembaharuan ala Turki di bawah kepemimpinan Mustafa Kemal Ataturk dengan semangat westernisme, sekularisme, dan nasionalisme yang justru membawa Turki pada kegamangan peradabannya.

3. Makna konotatif dari kata “hadis” adalah modernisasi ilmu pengetahuan berbasis integrasi keilmuan yang interkonektif. Tagline “Kampus Hadis” meniscayakan IAIN Bone harus terus mengembangkan corak keilmuan yang dikembangkan di dalamnya yang bukan hanya berkutat pada ilmu-ilmu agama tapi juga ilmu-ilmu umum dengan menekankan integrasi keilmuan yang interkonektif. Kesuksesan saintis Muslim asal Pakistan, Abdus Salam, yang bekerjasama dengan saintis Barat non-Muslim, Steven Winberg dan Sidney Glashow, yang pada gilirannya meraih penghargaan Nobel Fisika pada 1979 membuktikan bahwa integrasi keilmuan yang interkonektif yang dikembangkan dalam semangat inovatif, kolaboratif, dan inklusif selalu memberikan modernisasi ilmu pengetahuan demi kemaslahatan manusia dalam jejak peradabannya. Ketika makna konotatif dari kata “hadis” dikaitkan dengan modernisme sebagai suatu aliran dalam filsafat kemanusiaan,  modernisasi ilmu pengetahuan berbasis integrasi keilmuan yang interkonektif tidak cukup hanya mendudukkan IAIN Bone sebagai lembaga pendidikan tinggi yang mampu menciptakan luaran yang memiliki kemampuan berpikir dan bernalar sebagai corak aliran modernisme tapi jauh lebih dari itu modernisasi ilmu pengetahuan berbasis integrasi keilmuan yang interkonektif dalam tagline “Kampus Hadis” membawa semangat post-modernisme sebagai sintesis aras filosofis dari modernisme sehingga kemampuan berpikir harus dibarengi dengan progresivitas berpikir sementara kemampuan bernalar harus dibarengi dengan emosi konstruktif sebagai ciri luaran IAIN Bone ke depannya yang disebut dengan generasi “mattolapalallo” dalam Nawacita IAIN Bone 2022-2026.

 Tulisan ini hanya sebagai nalar pembacaan penulis yang masih sangat terbatas terhadap tagline “Kampus Hadis” itu sendiri. Semangat yang mendasari penulis dalam menulis artikel lepas ini adalah rasa kecintaan pada lembaga tempat penulis mengabdi kurang lebih 10 tahun ini. Mengutip kata Jalaluddin Rumi “ketika otakmu tidak mampu lagi bernalar, maka biarkan cintamu menulis ceritanya”. Semoga Allah swt. membalas kebaikan para pemimpin-pemimpin kami sebelumnya yang telah berjasa dalam membangun kampus ini dan semoga Allah swt. senantiasa memberikan keberkahan bagi pemimpin kami sekarang ini dalam membawa IAIN Bone yang inovatif, kolaboratif, dan inklusif dalam bingkai ke-Islaman dan ke-Indonesiaan sebagaimana termaktub dalam rancang bangun visi kelembagan IAIN Bone 2022-2026. Jayalah selalu kampusku. IAIN Boneku, IAIN Boneta, IAIN Bone kita semua.

Minggu, 01 Mei 2022

Spiritualitas Idul Fitri: Dari Antroposentrisme ke Teosentrisme

 Dr. Muhammad Rusydi, S.Pd.I., M.Pd.I. dan Muh. Yakub, S.Pd.I.

Hari ini, Senin, 02 Mei 2022, gema takbir, tahlil, tasbih, dan tahmid memenuhi angkasa raya, sahut bersahut menembus rasa, dayu mendayu mengguncang sukma sebagai sebuah deklarasi kemenangan manusia yang telah sukses meraih sebuah transformasi spiritual dalam spektrum idul fitri. Pertanyaan menarik yang kemudian menarik untuk diajukan adalah seberapa penting pencapaian ini harus diklaim sebagai sebuah kemenangan? Bukankah idul fitri tidak lebih dari sebuah proses kembalinya manusia pada titik kulminasi penciptaannya yang fitrah setelah setahun lamanya mereka terpasung oleh berbagai ego destruktif duniawi yang profan, hedonis, dan pragmatis? Dengan menjadikan fitrah, sebuah realitas spiritualitas yang terbebas dari pasungan ego destruktif duniawi yang profan, hedonis, dan pragmatis tersebut, sebagai maqam pencapaiannya, deklarasi kemenangan manusia di hari raya idul fitri ini adalah sebuah gerak siklis kehidupan yang akan terus berputar dimana manusia akan terus berproses dalam lokus gerak siklis tersebut setiap tahunnya layaknya perputaran kosmos siang dan malam, pagi dan petang, dan sebagainya. Tidak berlebihan apabila dikatakan bahwa idul fitri bukan pencapaian yang bersifat progresif dan eksploratif tapi sekedar pencapaian yang bersifat statis karena maqam fitrah tersebut sebenarnya sudah imanen dengan penciptaan manusia yaitu ketika mereka dilahirkan “kullu mauluidin yuladu ala al-fitrah”. Dalam usia kita sekarang ini, 20 tahun, 30 tahun, 40 tahun, dan seterusnya, predikat “idul fitri” tersebut sedikit menggugah nalar kritis kita untuk mempertanyakan ulang apa makna progresif dan eksploratif dari kehidupan yang selama ini kita jalani kurang lebih 20 tahun, 30 tahun, 40 tahun, dan seterusnya ketika pada hari ini kita kembali pada fitrah penciptaan layaknya ketika ketika pertama kali dilahirkan.

Melalui tulisan singkat ini, penulis ingin mencoba menghadirkan sebuah sudut pandang alternatif dalam memahami spiritualitas idul fitri dari antroposentrisme ke teosentrisme. Fitrah manusia ibarat sebuah cermin ego yang pada dasarnya selalu aktif dalam merefleksikan berbagai obyek visual di depannya yang dalam term al-Ghazali digambarkan sebagai hati yang perlu untuk terus disucikan. Hati yang suci seperti cermin yang bersih yang pada gilirannya akan selalu merefleksikan semua obyek visual dengan terang sehingga hati yang tercerahkan dalam spektrum idul fitri akan memiliki sikap yang positif, optimistis, konstruktif, dan transformatif dalam kehidupan manusia yang profan, hedonis, dan pragmatis. Dengan kata lain, hati yang tercerahkan selalu berpikir positif dan konstruktif sementara hati yang belum tercerahkan cenderung terjebak dalam pikiran-pikiran negatif dan destruktif sehingga bertabir dengan maqam fitrah yang seharusnya imanen dalam deklarasi kemenangan di hari raya idul fitri pada hari ini. Maqam fitrah tersebut, pada dasarnya, identik dengan dimensi teosentrisme dalam spiritualitas idul fitri. Sebuah kondisi dimana manusia selalu teringat dengan komitmen primordialnya untuk hanya berharap pada “sentris” segala yang ada yang dalam hal ini adalah Allah swt. Ibarat perputaran kosmik, manusia dan kehidupannya akan selalu bergerak siklis dalam berbagai dimensi kehidupannya seperti planet-planet dalam sistem tata surya yang terus berotasi pada garis orbitnya dalam lokus ta’abbudi sebagaimana tergambar dalam munajat Maulana Abd. Khaliq al-Ghudjuwani yang artinya“Ya Allah hanya Engkaulah yang hamba maksud, ridha-Mu yang hamba dambakan, berikanlah hamba kemampuan untuk dapat mencinta-Mu dan bermakrifat kepada-Mu” atau lebih spesifik lagi apa yang tergambar dalam al-Qur’an sebagai magnum opus ajaran Islam tepatnya pada QS. al-An’am/06:162 yang terjemahnya “Sesungguhnya sembahyangku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam

Dalam perkembangannya, dimensi antroposentrisme rentang menjauhkan manusia dari fitrah penciptaannya yang suci. Dimensi antroposentrisme tersebut membuat manusia merasakan superioritas dengan sikap yang ber-egosentries atas makhluk yang lainnya. Disinilah awal mula bergesernya manusia dari titik kulminasi fitrahnya sebagaimana digambarkan Sayyed Hossein Nasr bahwa kesalahan manusia biasa disebabkan kesalahan dalam mengkonsepsikan dirinya. Deklarasi kemenangan atas berbagai pasungan ego destruktif duniawi yang profan, hedonis, dan pragmatis jangan sampai justru kontra produktif membawa kita pada sebuah klaim yang sangat deklaratif, prediktif, bahkan spekulatif. Spiritualitas idul fitri masih terjebak pada berbagai dimensi antroposentrisme dan jauh dari dimensi teosentrisme. Spiritualitas idul fitri sangat identik dengan kekuatan ruh yang menjadi transmisi kearifan manusia dalam memahami berbagai fenomena kehidupan manusia yang profan, hedonis, dan pragmatis. Kekuatan dari ruh ini telah diisyaratkan oleh Huston Smith dalam karyanya “The Forgotten Truth” menggambarkan relasi kosmos tersebut dimana mikrokosmos dibahasakan sebagai level diri sementara makrokosmos dibahasakan sebagai level realitas. Tubuh (body) pada level diri bersenyawa dengan alam benda (terrestrial) pada level realitas, pikiran (mind) pada level diri bersenyawa dengan alam cakrawala (intermediate) pada level realitas, jiwa (soul) pada level diri berseyawa dengan alam langit (celestial) pada level realitas, sedangkan ruh (spirit) pada level diri bersenyawa dengan yang alam tak terhingga (infinite) pada level realitas. Persenyawaan kosmik pada level terakhir dalam memahami transformasi sipitualitas idul fitri dari antroposentrisme ke teosentrisme diisyaratkan seperti pada firman Allah swt. QS. al-Kahfi/18:65 yang terjemahnya “Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba kami, yang telah kami berikan kepadanya rahmat dari sisi kami, dan yang telah kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami”. Ketika spiritualitas berangkat dari kata “spirit” yang bermakna ruh maka seorang hamba Allah swt. yang tercerahkan dengan keberkahan “idul fitri” pada hari ini akan mampu melewati proses transformasi spiritual dari dimensi antroposentrisme ke dimensi teosentrisme sehingga ruh tersebut akan bermetamorfosis menjadi ruh(ani) yang menjadikan nur(ani) sebagai orbit ego bervisi progresif dan eksploratif.

Keluarga Besar Program Studi Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah IAIN Bone Mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1443 H. Taqabbalallahu Minna wa Minkum wa Taqabbal ya Karim.

 

Sabtu, 25 September 2021

PIJAR-PIJAR FILSAFAT BAHASA ARAB

Muhammad Rusydi dan Kurniawan
 

Seorang anak Aristoteles yang bernama Nicomachus mengedit karyanya dalam lokus teleologisnya. Hasilnya menyatakan bahwa semua obyek akan bergerak sesuai dengan daya dorong yang imanen dalam hakikat penciptaannya. Ibarat api yang melangit maka nyalanya selalu berdiri tegak menyapa langit sementara air yang membumi maka alirannya selalu memilih mengalir rendah ke sela-sela bumi. Demikian manusia ketika belajar bahasa sebagai suatu obyek ilmu yang sangat dipengaruhi oleh semangat mereka yang mempelajarinya. Angin yang bisa menggoyang tegaknya nyala api menjadi simbol tantangan sementara tanah yang legowo menyerap air menjadi simbol keikhlasan dalam lokus belajar.  Etika nikomachea ala Aristoles bisa menjadi pijakan filosofis dari belajar bahasa Arab sebagai alat komunikasi. Bahasa Arab dapat dipahami dalam empat sebab wujudnya yaitu sebab material, sebab formal, sebab efisien sampai bermuara pada sebab final. Dalam sebab material, bahasa Arab dipelajari sebagai sekumpulan unsur-unsur bahasa seperti mufradat, tata bahasa, sampai pada pelafalannya ataupun seperangkat keterampilan berbahasa seperti mendengar, berbicara, membaca, sampai menulis. Dalam sebab formal, bahasa Arab dipelajari sebagai sebuah proses pedagogis-sistemik yang berlangsung interaktif antara pendidik dengan peserta didik demi pembentukan dimensi kognitif, psikomotorik, dan afektif mereka seperti dalam taksonomi Benjamin S. Bloom. Dalam sebab efisien, pembelajaran bahasa Arab dilihat sebagai pihak-pihak yang harus aktif dalam merespon setiap stimulus menuju perubahan dari yang tidak tahu menjadi tahu dan aktor tersebut tidak lain adalah peserta didik sementara pendidik sebatas fasilitator. Adapun dalam sebab final, dimana bahasa Arab harus dilihat dalam kerangka aksiologisnya mengarahkan peserta didik pada sisi fitrah penciptaannya, maka kemampuan proses pembelajaran bahasa Arab untuk semakin mendekatkan diri pada Dzat yang Maha Tahu merupakan barometer sukses atau tidaknya proses pembelajaran yang dijalankan. Etika nikomachea ala Aristoteles tersebut telah mengajarkan kita bahwa setiap gerak siklis dalam pusaran kosmik akan kembali titik energinya pada pusaran yang paling awal dan menjadi motor penggerak pada kemunculan energi berikutnya. Temukan semangat belajar dengan berpasrah pada Dzat yang Maha Tahu beraltar ikhtiar karena semua akan mengarah pada-Nya sebagai “Titik Spot” pusaran kosmos (QS. al-An’am/06:162). Semoga Allah selalu merahmati ikhtiar kita untuk terus mempelajari bahasa Arab.

Pantha Rei ala Haraklitos

 

Ketika Haraklitos dalam tradisi filsafat Yunani mengemukakan konsep “Panta Rhei” yang berarti “semua yang ada dalam konstruk kosmos itu mengalir dan tidak ada yang abadi selain perubahan” maka bisa dipahami bahwa belajar tidak pernah mengenal kata berhenti sesuai dengan isyarat teologis normatifnya bahwa menuntut ilmu harus dari buaian sampai ke liang lahat. Konsep “Panta Rei” sarat dengan ajakan untuk terus berproses menuju perubahan yang terus bergerak sistemik dalam ruang-ruang hidup kita. Mereka yang terus berubah itulah yang bisa dikatakan abadi, paling tidak, dari kesan orang-orang yang ditinggalkan nantinya. Apakah kita anggap layak kalau nama kita hanya sebatas tertulis di batu nisan sekedar penanda bahwa kita ada di bawahnya? Ataukah nama kita lebih layak lagi kalau juga tertulis dalam karya-karya keilmuan kita, seperti pada sampul-sampul buku yang kita tulis, yang dinikmati oleh mereka yang hidup beberapa generasi setelah kita tiada? Konsep “Panta Rhei” mengisyaratkan bahwa mereka yang tanpa karya akan berhenti saat ajalnya telah tiba sementara mereka yang berbekal karya akan terus hidup melintasi masa. Semuanya kembali pada kita dimana perwujudannya  ditentukan oleh relasi sintesis i’tikad dan ikhtiar kita untuk menggelorakan semangat mencari ilmu dari dulu, sekarang, dan sampai saatnya nanti

Minggu, 26 Juli 2020

Pendidikan Berbasis Hikmah: Perspektif Philosophia Perennis


Oleh: Muhammad Rusydi

            Kata “hikmah” yang sering dipadankan dengan kata “filsafat” memiliki makna yang relevan dengan tujuan pendidikan yaitu terbentuknya pribadi yang memiliki pandangan hidup yang tercerahkan dengan cahaya ilmu sehingga pandangannya diwarnai dengan nilai-nilai kebijaksanaan. Hikmah, dalam proses ini, merupakan suatu konsep yang siap dijabarkan pada tataran praktis sehingga dalam tradisi keilmuan Islam dikenal dua jenis hikmah yaitu al-hikmah al-nazhariyah yang merupakan seperangkat konsep teoretis berupa kemampuan mempersepsi (hissiy) dan menelaah (aqly) berbagai fenomena kosmos, mikrokosmos dan makrokosmos, yang terjalin sistemik dengan sebab dan akibatnya, penanda dan yang ditandanya, untuk selanjutnya dikonfirmasikan dengan isyarat teologis normatif yang ada dalam magnum opus ajaran Islam yaitu al-Qur’an (naqly) sehingga tercapai apa yang disebut penyingkapan (kasyfy) sementara jenis hikmah yang kedua adalah al-hikmah al-‘amaliyah yang merupakan seperangkat langkah praktis dalam menjabarkan perpaduan antara berbagai isyarat teologis normatif (naqly) dengan dimensi hissy, aqly, dan kasyfi secara proporsional sehingga membentuk pribadi yang bijaksana dalam menempatkan sesuatu pada tempatnya baik itu perkataan ataupun tindakan, baik itu sifatnya individual ataupun komunal.
            Menyikapi peran strategis hikmah dalam proses akselerasi pencapaian tujuan pendidikan di atas, tidak mengherankan apabila kata “hikmah” yang disebutkan dalam al-Qur’an sebanyak 20 kali dalam al-Qur’an ini menjadi suatu maskot dari pencapaian seseorang dalam menyerap nilai-nilai pendidikan rabbani, suatu paradigma pendidikan paripatetik dengan metode diskursifnya dalam tradisi keilmuan Islam yang menekankan kehadiran Ilahi dalam proses pendidikan, sehingga Allah swt. menegaskan dalam QS. Lukman/31:12 “Dan sesungguhnya telah kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu "Bersyukurlah kepada Allah dan barangsiapa yang bersyukur kepada Allah swt., maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji". Anugerah yang telah Allah swt berikan pada Luqman berupa hikmah tersebut telah membentuk karakter Luqman sebagai sosok bijaksana yang sepanjang hidupnya sarat dengan pesan-pesan kebijaksanaan dalam menghadapi interaksi dunia yang profan dan menjadi sumber inspirasi sepanjang zaman. Oleh karena itu, sangat tepat kemudian apabila Allah swt. menegaskan bahwa anugerah-Nya berupa hikmah merupakan suatu anugerah yang sarat dengan nilai-nilai kebaikan yang salah satunya adalah kebujaksanaan tepatnya dalam QS. al-Baqarah/02:269 “Allah swt. menganugerahkan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak dan hanya orang-orang yang berakal yang dapat mengambil pelajaran”.
           Ketika hikmah didudukkan sebagai basis pendidikan dalam kerangka teosofisnya, dapat dipahami bahwa pendidikan berbasis hikmah telah menjadi suatu paradigma pendidikan karakter yang tidak terbatas pada sekat-sekat teologis lagi. Nilai-nilai kebijaksanaan dalam pendidikan berbasis hikmah yang pada dasarnya imanen pada semua ajaran agama telah bermetamorfosis dalam seperangkat nilai universal seperti keadilan, kemanusiaan, cinta, kasih sayang, dan yang lainnya sebagai barometernya. Persinggungan sekat teologis dalam lokus pendidikan berbasis hikmah tergambar dalam Summa Theologiae karya Santo Thomas Aquinas, seorang pendeta agama Katolik, yang menyatakan bahwa segala sesuatu yang bergerak, baik itu fisik ataupun metafisik, baik itu kerangka teoretis ataupun kerangka praktis, pasti berhulu pada penggerak pertama yang menggerakkan meskipun dia sendiri tidak digerakkan. Selain penggerak pertama tersebut, segala sesuatu seharusnya bergerak karena digerakkan dan tanpa penggerak maka gerakannya mesti tiada. Penggerak pertama inilah yang oleh Santo Thomas Aquinas disebut dengan “Tuhan, Sang Causa Prima” dalam Summa Theologiae-nya. Salah satu yang digerakkan oleh Tuhan, Sang Causa Prima tersebut adalah ilmu pengetahuan yang menekankan kebijaksanaan yang imanen dalam ajaran agama-agama seperti yang ditekankan dalam philosophia perennis. Ketika pendidikan berbasis hikmah mampu men-upgrade kesadaran komunal bahwa setiap manusia memiliki persinggungan sekat teologis menuju Tuhan, Sang Causa Prima, ego destruktif berkabut jubah duniawi yang profan-pragmatis dan biasanya menghalangi kebijaksanaan dapat diminimalisir. Mungkin hal ini pula yang melandasi kenapa umat Islam dianjurkan untuk menuntut ilmu pengetahuan meskipun sampai di negeri China yang kaya dengan kearifan budayanya.
       Konsep pendidikan berbasis hikmah juga digambarkan Plato dalam teori forma-nya. Melalui teori forma tersebut, Plato ingin menekankan bahwa ada sekelompok manusia dalam strata sosial yang dipersiapkan untuk menjadi pemimpin sehingga harus dibekali dengan pemahaman tentang hikmah. Terlepas dari perbedaaan dengan cakupan makna kepemimpinan dalam Islam yang bersifat holistik melalui hadits Rasulullah saw. “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya”, penulis melihat bahwa perbedaan tersebut hanya disebabkan oleh perbedaan definisi semata dimana ketika Islam melihatnya sebagai suatu pertanggungjawaban maka Plato melihatnya sebagai mekanisme sosial tapi pada intinya keduanya menekankan perlunya ada kebijaksanaan dalam pelaksanaannya.   Bagi Plato, forma adalah realitas konseptual pada dunia ide layaknya matahari yang memungkinkan seseorang melihat melihat obyek visual dalam dimensi kosmos. Dalam kaitannya dengan pendidikan berbasis hikmah, wujud forma tersebut adalah penguatan potensi ruh peserta didik yang memungkinkan mereka bisa bijaksana dalam memahami diri dan realitas sosial yang melingkupinya. Eksistensi ruh dalam teori forma ala Plato dianggap sebagai konsep ideal yang harus dimurnikan dari belenggu ego destruktif melalui proses pendidikan berbasis hikmah. Potensi ruh inilah yang kemudian bermetamorfosis menjadi spiritualitas sesuai dengan akar katanya “spirit” yang bermakna ruh. Ketika Nabi Ibrahim as berdoa lalu kemudian diabadikan dalam QS. as-Syuara/26:83 yang bunyinya “Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh”, hal tersebut adalah wujud persinggungan ontologis dari pendidikan berbasis hikmah dari teori forma ala Plato dengan konsep hikmah dalam dimensi spiritualitas yang digagas agama-agama dalam lokus philosophia perennis.

Berlebaran Serba Baru: Idul Fitri sebagai Momentum Pembaruan Diri

Menyambut Idul Fitri kerap dimaknai sebagai perayaan kemenangan. Kemenangan yang dimaksud bukanlah sekadar keberhasilan melewati fase Ramadh...