Selasa, 24 Februari 2026

Doa-Doa yang Diijabah: Mengetuk Pintu Langit

Bagi seorang mu’min, doa adalah bentuk kontemplasi spiritual yang menghubungkan antara yang dicipta (makhluq) dengan Sang Pencipta (Khaliq), antara yang menyembah (‘abid) dan Yang Disembah (Ma’bud). Doa bukan hanya sebatas rentetan harapan yang tersampaikan tapi sebuah oase kerinduan seorang hamba yang senantiasa ingin terhubung pada sumbu axis-nya yaitu Allah yang Maha Mendengar. Dalam setiap untaian doa, ada hasrat jiwa yang boleh jadi tidak bisa terlukis dengan kata, tidak termuat dengan kalimat, tidak terdeskripsi dengan wacana. Sebuah hasrat yang sangat privat yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang memanjatkan doa-doa. Hasrat yang tak terkatakan itu meronta merindukan jawaban namun jawaban yang dirindukan itu tidak selalu berbentuk realitas wujud yang dapat diindera ataupun sketsa logika yang dapat dinalar. Hasrat itu merindu hadirnya sinar terang yang meresap dalam relung-relung sanubari yang dahaga akan cinta Ilahi. Doa-doa yang diijabah bukan milik mereka yang fasih dalam melafadz doa dalam sederet pinta yang boleh jadi masih terjebak dalam barometer kuantitas ataupun kualitas yang membumi, tapi doa-doa yang diijabah adalah doa tersampaikan dalam altar kejujuran hati yang disinari kerinduan akan ridha Ilahi. Pertanyaan sederhananya adalah bagaimana mungkin seorang hamba mengharapkan doa-doanya mampu untuk mengetuk pintu langit yang berdimensi teosentris sementara dirinya masih terjebak pada berbagai barometer kuantitas ataupun kualitas berdimensi antroposentirs yang membumi? Doa yang diijabah bukanlah milik mereka yang paling fasih kata-katanya tetapi milik mereka yang melafalkannya dengan kejujuran hati. Doa menjadi seperti aliran sungai yang tak pernah kering. Doa mengalir dari kedalaman keheningan dengan membawa serta harapan yang ditempa oleh renungan. Ada kalanya langit terasa seperti sekat yang tegak dan tak terjamah namun sesungguhnya setiap doa yang tulus adalah ketukan lembut pada pintu langit dan pintu itu selalu membuka meski kadang hanya lewat bisikan yang tak kasat mata. Doa adalah “nafas cinta” yang menghubungkan hamba dengan yang Maha Cinta. Ketika manusia berdoa, dirinnya mengangkat segala kepasrahan, segala kerinduan, dan segala harapan pada satu titik Tunggal yaitu Dia yang Maha Mendengar. Dan di sinilah keajaiban Ramadhan hadir–ketika detik-detik manusia dipenuhi dengan kesadaran bahwa bukan waktu yang mengabulkan doa melainkan Tuhan yang hadir dalam ruang hening itu sendiri. Doa yang diijabah bukan penghapusan semua luka tetapi kehadiran kekuatan batin untuk melihat luka itu sendiri sebagai jalan menuju cahaya. Maka doa menjadi panggilan abadi, bukan semata untuk dipenuhi, tetapi untuk disadari, dirasakan, dan dihayati sebagai kerinduan jiwa mengetuk pintu langit ber-taqarrub kepada Sang Maha Pencipta.

Senin, 23 Februari 2026

Shalat Tarawih: Gerakan Tubuh Menuju Keheningan Jiwa

Dalam ritme kehidupan yang dipenuhi hiruk-pikuk dan tuntutan duniawi, hadirnya bulan Ramadhan seperti semesta yang merendah. Menjelma dalam bisikan, bukan bising. Dalam senyap, bukan keributan. Shalat tarawih sebagai bagian dari qiyam al-lail, bukan sekadar rangkaian rakaat, melainkan sebuah perjalanan existensial di mana tubuh berirama menuju keheningan jiwa. Ketika kaki melangkah ke masjid, mushalla, surau, ataupun langar setelah lepas dari proses berbuka puasa, tiap langkah adalah dialog antara raga dan rindu. Gerakan tubuh dalam shalat berupa rukuk, sujud, dan rentetan gerakan lainnya bukan sekadar mekanik ritual tetapi simbol interaksi kosmis. Tubuh menyatakan tunduk kepada sesuatu yang tak terkatakan sementara jiwa perlahan terlepas dari tirani egosentris. Dalam proses ini, dimensi sufistis shalat tarawih terlihat. Ketika tubuh bergerak, jiwa diam. Bukan hening karena tiadanya suara tetapi karena kedalaman makna yang diam-diam berbicara. Dalam setiap takbir shalat tarwih yang tertutur, manusia membayangkan alunan suara yang melampaui batas diri. Suara itu bukan sekadar bunyi tetapi energi yang menggetarkan relung hati, menumbuhkan keheningan yang menjalar lebih dalam daripada diam biasa. Shalat tarawih menjadi meditasi bergerak.  Ruang di mana raga menelusuri syair ketundukan dan jiwa merasakan denyut keabadian. Tubuh yang sujud adalah tubuh yang belajar rapuh dan jiwa yang tersentuh adalah jiwa yang mengerti makna penyerahan diri. Ada paradoks indah dalam shalat tarawih. Semakin mendalam raka’at yang dilalui, semakin sunyi batin yang dirasakan. Sunyi bukan kekosongan tetapi keheningan jiwa. Bukan jauh dari suara tetapi dekat dengan arti. Di balik setiap doa tersamar, ada bisik-bisik harapan yang tidak perlu diucapkan keras karena jiwa telah memahami tanpa harus berkata. Inilah keheningan sejati yang membangun keselarasan antara apa yang manusia lakukan dengan apa yang mereka rasakan dalam relung terdalam. Shalat tarawih membimbing manusia melebihi batas kegiatan ritual dan tanpa disadari menyeret mereka ke dalam kontemplasi tentang takdir, kasih, dan kerendahan hati. Shalat tarawih mengajarkan bahwa gerakan tubuh, ketika dipandu oleh niat yang dalam, mampu membuka pintu-pintu hening yang tak terjamah oleh kata-kata. Di sanalah, dalam sujud yang panjang dan doa yang tenang, tubuh dan jiwa bertaut menelusuri keheningan jiwa lalu menggapai makna.

Minggu, 22 Februari 2026

Berbuka dan Kebersamaan: Ketika Rasa Menjadi Narasi

Ketika waktu berbuka sudah dekat, senja turun perlahan seperti doa yang dipanjatkan lirih. Semesta seolah ikut berpuasa dari terang menanti saat yang dijanjikan. Saat dahaga tenggorokan akan terbasuh dengan air, lapar perut akan terganjal makanan. Di antara denting sendok dan garpu yang berdetak, aroma makanan yang menggugah selera, dan uap hangat teh yang mengepul, berbuka bukan sekadar mengakhiri haus dan lapar tapi berbuka adalah perjamuan makna. Rasa lapar yang sejak pagi dipelihara menjelma menjadi pendidik dalam keheningan rasa yang mengajarkan bahwa kekosongan adalah pintu menuju kepenuhan paham. Di meja sederhana tempat berbuka, kebersamaan tumbuh bukan dari kemewahan hidangan melainkan dari getar yang sama. Setiap tangan yang terulur mengambil makanan adalah tangan yang sebelumnya terangkat dalam doa. Ada perjalanan batin dari menahan menuju menerima, dari sabar menuju syukur. Seolah-olah jiwa berbisik, “Bukankah aku cukup bagimu?” Dan manusia menjawab dengan seteguk air pertama yang membasahi kerongkongan, merasakan rahmat mengalir hingga ke relung terdalam. Berbuka adalah pertemuan antara dzahir dan batin. Tubuh menyambut rezeki sementara hati menyambut cahaya. Lapar telah merobek tirai kesombongan dengan mengingatkan bahwa manusia hanyalah makhluk yang bergantung pada kemurahan Ilahi. Dalam suapan pertama, ada kesadaran bahwa segala yang dinikmati bukan hasil kuasa diri melainkan anugerah yang tak pernah benar-benar bisa diklaim. Kebersamaan di waktu berbuka adalah cermin persaudaraan hakiki. Duduk sejajar, kaya dan sederhana, tua dan muda, dilebur dalam ritme yang sama menunggu adzan. Momen berbuka mengajarkan kesetaraan. Tidak ada yang lebih cepat berbuka sebelum seruan tiba. Semua tunduk pada waktu yang sama, pada panggilan yang sama. Di situlah rasa menjadi narasi kisah tentang ketergantungan, tentang kasih yang memeluk tanpa syarat. Ketika adzan berkumandang, bukan hanya puasa yang berakhir, tetapi juga jarak-jarak profan ataupun pragmatis yang memisahkan hati. Dalam kebersamaan itu, manusia belajar bahwa cinta Ilahi sering hadir melalui wajah-wajah di sekitar meja. Dan mungkin, di antara doa yang terucap ataupun senyum yang merekah, manusia mulai belajar dan semakin menyadari bahwa berbuka sesungguhnya adalah membuka diri agar cahaya-Nya menetap lebih lama di dalam diri. 

Sabtu, 21 Februari 2026

Puasa dan Empati: Melangkah dari Keheningan ke Kepedulian

Puasa dan empati adalah dua entitas yang terjalin sistemik. Saat fajar belum sempurna, manusia bergerak dari keheningan dengan memutus percakapan yang paling purba berupa dialog tubuh dengan dunia. Rasa lapar bukan sekadar kekosongan biologis melainkan ruang yang sengaja disediakan agar jiwa berbicara tanpa gangguan. Dalam keheningan itu, manusia belajar bahwa dirinya bukan pusat semesta. Manusia hanya satu titik kecil dalam jaringan kehidupan yang luas. Para arif memahami puasa sebagai proses pengosongan agar hati menjadi cermin. Selama perut kenyang, kesadaran cenderung padat oleh diri sendiri. Sebaliknya, ketika kebutuhan tubuh sejenak ditahan, ego menjadi transparan. Dari siklus lahir pengetahuan yang tidak diajarkan oleh buku berupa pengetahuan rasa. Puasa mengembalikan manusia pada pengalaman dasar yaitu merasakan kebutuhan. Dari kebutuhan itu, muncul kemampuan memahami kebutuhan orang lain. Lapar menjadi bahasa universal yang menyatukan semua kelas sosial. Orang kaya tiba-tiba mengerti makna sepotong roti yang selama ini hanya lewat di meja makan. Di sinilah empati lahir, bukan dari teori moral melainkan dari pengalaman eksistensial. Manusia tidak lagi melihat fakir sebagai objek sedekah melainkan sebagai cermin dirinya dalam wujud yang lain. Laparnya adalah laparku. Ketika tenggorokan kering, ia memahami bahwa penderitaan bukan statistik semata melainkan realitas yang berdenyut. Oleh karena itu, puasa tidak berhenti pada menahan makan tetapi bergerak menuju berbagi. Puasa bukan sekadar ibadah privat melainkan energi sosial. Kesalehan yang tidak melahirkan kepedulian hanyalah kesunyian yang gagal berbuah. Sesuatu yang ideal melangit tapi efek konstruktifnya tidak kunjung membumi. Puasa sebagai perjalanan dari “aku” menuju “kita”. Siang hari mendidik kesabaran, malam hari menumbuhkan kelembutan. Dalam proses itu hati dilunakkan dari keras menjadi peka, dari peka menjadi pengasih. Rasa lapar membongkar ilusi kemandirian manusia bahwa ternyata hidup selalu bergantung pada yang lain, pada bumi, pada sesama, dan akhirnya bermuara pada Tuhan sebagai “Sumber” dari segala yang ada. Tujuan akhir puasa bukanlah menaklukkan tubuh tetapi membebaskan hati. Dari keheningan batin lahir perhatian dan dari perhatian lahir tindakan. Ketika seseorang memberi makan orang lain saat berbuka sebenarnya ia sedang memberi makan sisi kemanusiaannya sendiri. Puasa berakhir bukan ketika azan maghrib terdengar melainkan ketika empati menjadi kebiasaan. Dalam proses transformasi ini rahasia diungkapkan. Tuhan tidak hanya ingin manusia menahan diri tetapi juga membuka diri. Melangkah dari keheningan ke kepedulian

Jumat, 20 Februari 2026

Puasa dan Kesunyian Kosmik: Menemukan Suara yang Tak Terucap

Memahami puasa sekedar menahan diri dari makan hanya akan mereduksi fungsi puasa sebagai wadah untuk mendengarkan. Puasa mengajak manusia beralih sejenak dari hiruk piruk inderawi menuju ruang batin yang luas seumpama semesta. Dalam keadaan terperdaya dengan kenyang, daya dengar manusia melemah karena keinginan ego begitu kuat ibarat gema yang saling bersahutan. Sebaliknya, ketika lapar hadir dalam keberkahan puasa, gema itu mulai mereda sehingga yang tersisa adalah kesunyian, bukan ketiadaan, melainkan kepenuhan yang belum berlabel nama. Kesunyian puasa menyerupai samudra sebelum ombak lahir. Di situ manusia merasakan bahwa dirinya tidak berdiri sebagai pusat semesta melainkan sebagai getaran kecil dalam irama kosmik. Lapar mengikis ilusi kedaulatan diri lalu menghapus klaim kepemilikan. Tubuh yang melemah justru membuka mata batin bahwa ternyata kehidupan tidak digerakkan oleh apa yang kita genggam tetapi oleh apa yang terus mengalir tanpa kita kuasai. Diam adalah bahasa hakikat terdalam dan tidak cukup dinarasikan dengan kata-kata. Kata-kata lahir dari jarak sementara hakikat lahir dari kedekatan. Puasa memperpendek jarak itu. Saat perut tidak lagi memerintah, hati mulai mendengar sesuatu yang tak pernah diucapkan yaitu panggilan asal. Kehadirannya bukan suara yang terdengar oleh telinga tetapi kejelasan yang tiba-tiba memenuhi kesadaran seperti cahaya fajar yang tidak berbunyi namun mengubah seluruh warna langit. Kesunyian kosmik ini menyingkap bahwa diri manusia bukan entitas tertutup. Setiap napas adalah titipan, setiap detak adalah gema dari kehendak yang lebih luas. Karena itu orang yang berpuasa sering merasakan kelembutan tanpa sebab. Mudah memaafkan, ringan memberi, dan enggan melukai. Bukan karena ia berusaha menjadi baik, tetapi karena ia tidak lagi merasa terpisah. Di penghujung hari, saat seteguk air membasuh dahaga setelah seharian berpuasa, rasa syukur muncul bukan hanya karena dahaga berakhir. Ada pengenalan spiritualitas bahwa yang memberi minum bukan semata air melainkan realitas yang sejak awal menopang keberadaan. Puasa pun menjadi titik balik perjalanan pulang dari kebisingan ego menuju keheningan asal, tempat suara yang tak terucap selalu memanggil, dan akhirnya terdengar.

Kamis, 19 Februari 2026

Solidaritas Puasa Ramadhan: Hati yang Merengkuh Sesama

Ketika seseorang menahan lapar saat berpuasa dalam altar Ramadhan, hakikatnya, dia sedang menjalani transformasi spiritualitas dari “aku” menuju “kita” Selama 11 bulan sebelum memasuki bulan yang mulia ini, manusia boleh jadi terperangkap dalam lingkaran kecil yang bernama “diri” yang pada gilirannya membuatnya terjebak pada sikap egosentris. Semua serba “aku”, kebutuhanku, keinginanku, obsesiku, dan sederet ke”aku”an yang membuat manusia lupa bahwa ada “kita” yang menggambarkan relasi kosmik yang menghubungkan berbagai entitas hidup yang berbeda. Lapar mengasah spiritualitas manusia untuk memecahkan lingkaran “diri” karena dengan berpuasa manusia menanamkan bahasa universal dalam kesadaran kosmiknya. Universalitas bahasa tersebut bersifat kosmopolitan sehingga dapat dipahami oleh setiap manusia tanpa perlu terjemahan parsial orang per orang, kelompok per kelompok. Berawal dari sini, Puasa Ramadhan membangun solidaritas berdasarkan kesamaan pengalaman spritualitas. Orang yang kenyang boleh jadi pandai berbicara tentang kepedulian tapi orang yang lapar mulai merasakannya. Saat perut kosong dengan berpuasa, jarak antara rumah yang hangat dan jalanan yang dingin tiba-tiba terasa tipis. Muncul kesadaran sosial bahwa kemiskinan bukan sekadar angka statistik semata tapi kemiskinan yang dirasakan orang lain ada karena adanya ruang dalam hati mereka yang dititipkan kesejahteraan lebih yang tidak terisi oleh solidaritas yang berbuah empati pada sesama. Konsekuensinya, zakat, infaq, dan sedekah tak lagi menjadi kewajiban normatif, melainkan kebutuhan jiwa. Puasa Ramadhan menanamkan solidaritas bukan lewat ceramah, tetapi lewat rasa. Jalaluddin Rumi pernah menulis, “Luka adalah tempat cahaya masuk ke dalam dirimu.” Dalam puasa Ramadhan, luka lapar menjadi pintu cahaya sosial yang mencerahkan pandangan mata hati seseorang bahwa ada saudara-saudaranya yang merasakan lapar sepanjang hidup mereka. Puasa Ramadhan mengubah cara seseorang memandang kepemilikan. Harta tidak lagi berdiri sebagai milik mutlak melainkan amanah yang beredar dalam bingkai kasih Ilahi. Seseorang memberi bukan karena berlebih tetapi karena adanya perasaan terhubung. Sebuah transformasi dari keterhubungan fisik (shilah jasadiyah), keterhubungan psikis (shilah nafsiyah), sampai keterhubungan spiritualitas (shilah ruhiyah) Ketika tangan memberi, sebenarnya hati sedang disembuhkan dari kesepian terdalam yaitu merasa terpisah dari yang lain. Puasa Ramadhan menumbuhkan solidaritas yang memahami bahwa berbagai entitas hidup yang berbeda itu ibarat satu tubuh. Apabila satu bagian lapar, bagian lain akan merasakan ketidakstabilan. Solidaritas bukan lagi pilihan moral melainkan kesadaran eksistensial bahwa merengkuh sesama berarti merengkuh diri sendiri.

Rabu, 18 Februari 2026

Ramadhan Mubarak: Memantaskan Diri dengan Berkah

Seiring masuknya Ramadhan, ungkapan “Ramadhan Mubarak” banyak terpampang pada berbagai ruang publik sampai pada ruang-ruang digital. Ada kerinduan yang sebenarnya tidak cukup terungkapkan hanya dengan narasi kata mengingat bulan yang penuh rahmat dan magfirah telah menjelma di pelupuk mata. Datangnya Ramadhan seolah menjadi jawaban dari doa-doa yang selama ini mengisi ruang kontemplasi kita pada Dzat yang Maha Mendengar “Allahumma Barik Lana fi Rajab wa Sya’ban wa Balligna Ramadhan”. Keberkahan yang ada di dalam Ramadhan memiliki makna yang sangat mendalam. Kata “al-barakah” yang bermakna keberkahan memiliki kedekatan struktur morfologis dengan kata “al-birkah” yang bermakna kolam. Kenapa harus kolam yang dijadikan sebagai salah satu media interpretasi simbolik dari kehidupan mereka yang terberkahi menyambut Ramadhan? Pertama, kolam identik dengan sumber kehidupan, kedua, kolam identik dengan ketenangan, serta ketiga, kolam identik dengan kesegaran. Interpretasi simboliknya seperti apa? Seorang hamba yang terberkahi hidupnya dalam menyambut Ramadhan dalam simbol yang pertama yaitu kolam sebagai sumber kehidupan adalah mereka yang diberkahi dengan umur yang panjang, tubuh yang sehat, ataupun waktu yang lapang. Mereka yang terberkahi hidupnya dalam menyambut Ramadhan dalam simbol yang kedua yaitu kolam identik dengan ketenangan adalah mereka yang hatinya tenang dalam menyambut Ramadhan dengan dibersihkannya hati itu dari berbagai sifat-sifat was-was yang membelenggu fitrah manusia. Mereka yang terberkahi hidupnya dalam menyambut Ramadhan dalam simbol yang ketiga yaitu kolam identik dengan kesegaran adalah mereka yang diliputi optimisme yang tinggi untuk ber-fastabiqul khairat mengisi Ramadhan dengan berbagai amal kebaikan.  Pertanyaan pemantiknya adalah seberapa pantas kita menjadi terberkahi dalam menyambut Ramadhan. Ilustrasi sederhananya adalah ketika pancaran hidayah Ilahi dalam bulan yang penuh berkah ini diibaratkan sebagai bibit unggul maka ketersambungan ruang fisik (shilah jasadiyah), ruang psikis (shilah nafsiyah), ataupun ruang spiritualitas (shilah ruhiyah) kita ibarat lahan yang subur ketika terberkahi. Bibit unggul yang bertemu dengan lahan yang subur tentu akan menumbuhkan tanaman yang sehat dan berbuah lebat nantinya. Sebaliknya, ketika bibit unggul ditanam pada lahan yang dipenuhi rerumputan liar maka proses tumbuhnya akan terganggu. Tentu lahan yang dipenuhi rerumputan liar itu adalah simbol dari fisik yang masih banyak terjebak pada jebakan dunia yang profan, pragmatis, bahkan hedonis, psikis yang masih diliputi ego destruktif seperti hasad, iri, dan dengki, serta spiritualitas yang kering akan pencerahan kesejatian diri dari hidayah Ilahi.

Jumat, 28 Februari 2025

RAMADHAN UNGGUL BERSIKLUS PPEPP

 

Muhammad Rusydi

Gugus Penjaminan Mutu Prodi PPG FTK UIN Alauddin Makassar

Ramadhan adalah bulan transformasi spiritualitas manusia dari level nasut ke level lahut. Dalam konteks tersebut, berbagai ke”ego”an manusia yang imanen pada fisik harus diarahkan sejalan dengan konsep-konsep spiritualitas yang tercerahkan dari ruh yang pada dasarnya imanen dalam “self-cosnciousness” manusia sejak berumur empat bulan sepuluh hari di alam rahim. Ramadhan adalah bulan ber-fastabiqul khairat demi mengejar akreditasi predikat unggul “ahsan taqwim” dan bukan justru terpuruk pada akreditasi  predikat “asfal safilin”. Sosok hamba Ilahi yang sukses dalam memahami transformasi spiritualitas tersebut dalam level ilm al-yaqin, ‘ain al-yaqin, sampai pada haq al-yaqin akan mampu menjabarkan makna doa “balligna Ramadhan” sebagai bentuk ketersampaian ber-shilah jasadiyah, ber-shilah nafsiyah, serta ber-shilah ruhiyah dan bukan sekedar sampai yang alih-alih dijadikan sebagai ajang ketercapaian kriteria Ramadhan unggul justru dijadikan sebagai ajang reinterpretasi ulang atas kriteria unggul tersebut berdasarkan pemaknaan ego yang rawan terjebak pada hal-hal yang bersifat profan, pragmatis, atau bahkan hedonis.  Ramadhan unggul mengisyaratkan perlunya pemenuhan standar ta’abbudi yang melebihi dari standar beribadah yang biasa dilakukan di luar Ramadhan layaknya akreditasi unggul pada sebuah APT ataupun APS yang hanya dapat diraih ketika mampu melampaui SN-DIKTI.  Socrates menyatakan “it’s not living that matters, but living rightly” yang intinya menegaskan bahwa manusia bukan jalurnya pada siklus hidup yang sekedar hidup tapi manusia harus mempertahankan fitrah spiritulitasnya pada siklus yang benar yang dalam hal ini tetap ajeg mengarah pada lokus “ahsan taqwim”

Dalam Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) yang berimplikasi praktis pada Sistem Penjaminan Mutu Eksternal (SPME), Siklus PPEPP yang merupakan akronim dari Penetapan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian, serta Peningkatan memiliki persinggungan ontologis, epistemologis, dan aksiologis dengan konsep pencapaian Ramadhan unggul. Dalam siklus penetapan misalnya, Ramadhan telah ditetapkan sebagai bulan yang mulia tempat pintu-pintu rahmat dan ampunan dibuka selebar-lebarnya. Banyak pijakan teologis normatif dalam al-Qur’an ataupun hadits yang menegaskan bagaimana kemuliaan Ramadhan dengan samudra hikmah yang terhampar di dalamnya yang menetapkan manusia sebagai salah satu ciptaan Allah swt. yang harus menyelami samudera hikmah tersebut baik dalam lokus ta’abudi ataupun ta’aqquli. Manusia adalah hamba Allah swt. yang diciptakan untuk beribadah (QS adz-Dzariyat/51:56), manusia adalah khalifatullah (QS. al-Baqarah/02:30), manusia adalah pengembang amar ma’ruf nahi mungkar (QS. Ali Imran/03:110). Pertanyaannya kemudian adalah sejauhmana manusia dalam meraih keunggulan diri dalam Ramadhan mampu untuk melaksanakan visi penciptaan tersebut pada tataran praktisnya. Disini, siklus kedua dari PPEPP dibuktikan dengan relasi triadik antara iqrar bi al-lisan, tashdiq bi al-qalb, dan amal bi al-arkan yang selanjutnya harus dilakukan introspeksi diri (muhasabah) sebagai bagian yang imanen dari siklus ketiga dari PPEPP yaitu evaluasi. Proses evaluasi dalam bentuk introspeksi diri (muhasabah) penting untuk dilakukan untuk memastikan berbagai amaliyah Ramadhan yang dilakukan sudah sejalan dengan kriteria-kriteria penilaian Ramadhan unggul dan ketika ditemukan adanya kriteria yang kurang maksimal pemenuhannya maka siklus keempat dari PPEPP yaitu pengendalian perlu untuk dilakukan. Berbagai bentuk sifat-sifat destruktif yang imanen dalam sisi nasut manusia seperti riya, hasad, dengki, dan semacamnya harus dikendalikan dengan jalan taubat dimana manusia kembali ke sisi fitrahnya yang suci, takhalli dimana manusia mengikis sifat-sifat destruktif tersebut, tahallli dimana manusia memenuhi diri dengan sifat-sifat terpuji, sampai pada tajalli dimana manusia menyibak tabir spiritualitas yang membuatnya didera rindu untuk senantiasa ber-taqarrub kepada Tuhannya. Setelah siklus pengendalian, maka siklus PPEPP yang terakhir adalah peningkatan dimana Ramadhan unggul bersiklus PPEPP meniscayakan adanya peningkatan mutu ta’abudi ataupun ta’aqquli dalam perjalanan manusia menyelami samudera hikmah yang terhampar dalam Ramadhan. Ketika siklus terakhir ini dalam SPMI salah satunya bisa dilakukan dengan benchmarking, maka yang menjadi pertanyaannya kemudian adalah seberapa intens kita melakukan “benchmarking” ke asal penciptaan kita yang diciptakan oleh Allah swt. dari saripati tanah? Atau jangan sampai kita sudah terjebak dalam pusaran kehidupan dunia yang profan, pragmatis, atau bahkan hedonis sehingga justru kita yang disinggung dalam QS. at-Takatsur/102:1-2 sebagai mereka yang harus dikembalikan ke liang kubur dari tanah dalam keadaan lalai mengenal asal penciptaannya (minallah), visi penciptaannya (lillah), karakter penciptaannya (ma’allah), dan arah penciptannya (ilallah). Ngaji dan kaji mutlak dilakukan sebagai wadah transformasi spiritualitas manusia untuk tetap bertahan pada akreditasi predikat unggul “ahsan taqwim” dan alih-alih bisa meningkat secara bertahap dari muslimin, mu’minin, muhsinin, mukhlishin, sampai pada muttaqin. Wallahu A’lam!


Berlebaran Serba Baru: Idul Fitri sebagai Momentum Pembaruan Diri

Menyambut Idul Fitri kerap dimaknai sebagai perayaan kemenangan. Kemenangan yang dimaksud bukanlah sekadar keberhasilan melewati fase Ramadh...