Jumat, 28 Februari 2025

RAMADHAN UNGGUL BERSIKLUS PPEPP

 

Muhammad Rusydi

Gugus Penjaminan Mutu Prodi PPG FTK UIN Alauddin Makassar

Ramadhan adalah bulan transformasi spiritualitas manusia dari level nasut ke level lahut. Dalam konteks tersebut, berbagai ke”ego”an manusia yang imanen pada fisik harus diarahkan sejalan dengan konsep-konsep spiritualitas yang tercerahkan dari ruh yang pada dasarnya imanen dalam “self-cosnciousness” manusia sejak berumur empat bulan sepuluh hari di alam rahim. Ramadhan adalah bulan ber-fastabiqul khairat demi mengejar akreditasi predikat unggul “ahsan taqwim” dan bukan justru terpuruk pada akreditasi  predikat “asfal safilin”. Sosok hamba Ilahi yang sukses dalam memahami transformasi spiritualitas tersebut dalam level ilm al-yaqin, ‘ain al-yaqin, sampai pada haq al-yaqin akan mampu menjabarkan makna doa “balligna Ramadhan” sebagai bentuk ketersampaian ber-shilah jasadiyah, ber-shilah nafsiyah, serta ber-shilah ruhiyah dan bukan sekedar sampai yang alih-alih dijadikan sebagai ajang ketercapaian kriteria Ramadhan unggul justru dijadikan sebagai ajang reinterpretasi ulang atas kriteria unggul tersebut berdasarkan pemaknaan ego yang rawan terjebak pada hal-hal yang bersifat profan, pragmatis, atau bahkan hedonis.  Ramadhan unggul mengisyaratkan perlunya pemenuhan standar ta’abbudi yang melebihi dari standar beribadah yang biasa dilakukan di luar Ramadhan layaknya akreditasi unggul pada sebuah APT ataupun APS yang hanya dapat diraih ketika mampu melampaui SN-DIKTI.  Socrates menyatakan “it’s not living that matters, but living rightly” yang intinya menegaskan bahwa manusia bukan jalurnya pada siklus hidup yang sekedar hidup tapi manusia harus mempertahankan fitrah spiritulitasnya pada siklus yang benar yang dalam hal ini tetap ajeg mengarah pada lokus “ahsan taqwim”

Dalam Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) yang berimplikasi praktis pada Sistem Penjaminan Mutu Eksternal (SPME), Siklus PPEPP yang merupakan akronim dari Penetapan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian, serta Peningkatan memiliki persinggungan ontologis, epistemologis, dan aksiologis dengan konsep pencapaian Ramadhan unggul. Dalam siklus penetapan misalnya, Ramadhan telah ditetapkan sebagai bulan yang mulia tempat pintu-pintu rahmat dan ampunan dibuka selebar-lebarnya. Banyak pijakan teologis normatif dalam al-Qur’an ataupun hadits yang menegaskan bagaimana kemuliaan Ramadhan dengan samudra hikmah yang terhampar di dalamnya yang menetapkan manusia sebagai salah satu ciptaan Allah swt. yang harus menyelami samudera hikmah tersebut baik dalam lokus ta’abudi ataupun ta’aqquli. Manusia adalah hamba Allah swt. yang diciptakan untuk beribadah (QS adz-Dzariyat/51:56), manusia adalah khalifatullah (QS. al-Baqarah/02:30), manusia adalah pengembang amar ma’ruf nahi mungkar (QS. Ali Imran/03:110). Pertanyaannya kemudian adalah sejauhmana manusia dalam meraih keunggulan diri dalam Ramadhan mampu untuk melaksanakan visi penciptaan tersebut pada tataran praktisnya. Disini, siklus kedua dari PPEPP dibuktikan dengan relasi triadik antara iqrar bi al-lisan, tashdiq bi al-qalb, dan amal bi al-arkan yang selanjutnya harus dilakukan introspeksi diri (muhasabah) sebagai bagian yang imanen dari siklus ketiga dari PPEPP yaitu evaluasi. Proses evaluasi dalam bentuk introspeksi diri (muhasabah) penting untuk dilakukan untuk memastikan berbagai amaliyah Ramadhan yang dilakukan sudah sejalan dengan kriteria-kriteria penilaian Ramadhan unggul dan ketika ditemukan adanya kriteria yang kurang maksimal pemenuhannya maka siklus keempat dari PPEPP yaitu pengendalian perlu untuk dilakukan. Berbagai bentuk sifat-sifat destruktif yang imanen dalam sisi nasut manusia seperti riya, hasad, dengki, dan semacamnya harus dikendalikan dengan jalan taubat dimana manusia kembali ke sisi fitrahnya yang suci, takhalli dimana manusia mengikis sifat-sifat destruktif tersebut, tahallli dimana manusia memenuhi diri dengan sifat-sifat terpuji, sampai pada tajalli dimana manusia menyibak tabir spiritualitas yang membuatnya didera rindu untuk senantiasa ber-taqarrub kepada Tuhannya. Setelah siklus pengendalian, maka siklus PPEPP yang terakhir adalah peningkatan dimana Ramadhan unggul bersiklus PPEPP meniscayakan adanya peningkatan mutu ta’abudi ataupun ta’aqquli dalam perjalanan manusia menyelami samudera hikmah yang terhampar dalam Ramadhan. Ketika siklus terakhir ini dalam SPMI salah satunya bisa dilakukan dengan benchmarking, maka yang menjadi pertanyaannya kemudian adalah seberapa intens kita melakukan “benchmarking” ke asal penciptaan kita yang diciptakan oleh Allah swt. dari saripati tanah? Atau jangan sampai kita sudah terjebak dalam pusaran kehidupan dunia yang profan, pragmatis, atau bahkan hedonis sehingga justru kita yang disinggung dalam QS. at-Takatsur/102:1-2 sebagai mereka yang harus dikembalikan ke liang kubur dari tanah dalam keadaan lalai mengenal asal penciptaannya (minallah), visi penciptaannya (lillah), karakter penciptaannya (ma’allah), dan arah penciptannya (ilallah). Ngaji dan kaji mutlak dilakukan sebagai wadah transformasi spiritualitas manusia untuk tetap bertahan pada akreditasi predikat unggul “ahsan taqwim” dan alih-alih bisa meningkat secara bertahap dari muslimin, mu’minin, muhsinin, mukhlishin, sampai pada muttaqin. Wallahu A’lam!


Rabu, 05 Juni 2024

NALAR MODERAT SALAM LINTAS IMAN

 Oleh:

Muhammad Rusydi, Sekretaris LPM IAIN Bone

        Nalar moderat adalah suatu paradigma bernalar yang meniscayakan kelapangan dada dengan mendudukkan obyek nalar pada lokus inklusivitas relasi antara penilai dan yang dinilai. Pada satu sisi, penilai harus mendudukkan yang dinilai sebagai bagian internal yang imanen dalam keberaadaannya sebagai relasi persenyawaan kosmik yang tidak terpisahkan satu sama lain (mutual belonging) sementara pada sisi yang lainnya penilai harus mendudukkan yang dinilai sebagai bagian eksternal dari dirinya yang pada gilirannya memunculkan obyektivitas bernalar dalam memahami keberadaan yang dinilai sebagai suatu obyek kosmik yang tidak rigid memahami adanya perbedaan wujud satu sama lain (mutual understanding). Relasi antara penilai dan yang dinilai, pada gilirannya, akan bertransformasi dari ontologi pasif (being) menjadi epistemologi aktif (becoming) sehingga nalar moderat selalu mengarah untuk membuka ruang terjadinya dialog lintas iman, mereduksi nilai-nilai sakral ke altar profan demi terjewantahkannya semangat agama-agama untuk menghadirkan nilai-nilai universal dalam kehidupan berupa kemanusiaan, keadilan, egalitarian, cinta, kasih sayang, dan semacamnya. Salam lintas iman merupakan wujud praktis dari nalar moderat yang mengarah pada adanya dialog spiritualitas antara agama-agama yang memiliki persentuhan ontologis, epistemologis, ataupun aksiologis dalam nilai-nilai universal tersebut. Hadirnya tembok sakral yang membatasi ruang dialog spiritualitas antara agama-agama telah menjadi suatu bendungan dalam menyumbat arus inklusivitas dalam beragama dan berkeyakinan. Isyarat teologis normatif al-Qur’an “untukmu agamamu dan untukku agamaku” seakan-akan menjadi teks yang bermakna tunggal dan statis bahwa salam lintas agama merupakan suatu perilaku yang telah menodai dan menciderai nilai-nilai sakral yang imanen dalam beragama dan berkeyakinan. Sebagai suatu paradigma yang bersifat responsif terhadap kemaslahatan umat manusia yang secara fitrah terbentuk dalam realitas keberagamaan yang plural, nalar moderat selalu berupaya untuk membuka ruang dialog spiritualitas antara agama-agama untuk saling menyapa dalam ikatan nilai-nilai universal dalam kehidupan berupa kemanusiaan, keadilan, egalitarian, cinta, kasih sayang, dan semacamnya dengan menggeser ruang pemaknaan salam lintas iman tersebut dari dimensi sakral ke dimensi profan (Watampone, 05 Juni 2024)

 

 

Sabtu, 10 Februari 2024

PSIKO-SUFISTIK ISRA’ MI’RAJ

Dr. Muhammad Rusydi, S.Pd.I., M.Pd.I.

Gusdurian/Sekretaris Lembaga Penjaminan Mutu IAIN Bone

Bulan Rajab dalam penanggalan hijriyah identik dengan peristiwa yang luar biasa yang terjadi pada sosok Rasulullah saw. yang dalam hal ini adalah Isra’ Mi’raj. Sifat luar biasa yang dilekatkan pada Isra’ Mi’raj tersebut bukan tanpa kebetulan karena Allah swt. sendiri telah memberikan penegasan akan status tersebut dengan mengawali QS. al-Isra’/17:01 dengan kalimat tasbih. Penggunaan redaksi ayat “subhanalladzi asraa bi ‘abdihi laylan minal masjidil harami ilal masjidil aqsha sarat dengan makna kepasrahan dalam ta’abbudi pasif (taken for granted) dalam menerima kebenaran Isra’ Mi’raj tanpa harus tereduksi dengan pola pikir yang sifatnya ta’aqquli aktif meski tidak bisa dipungkiri bahwa seiring dengan perjalanan waktu, sejalan dengan aktivasi potensi hushuli sekaligus hudhuri pemerolehan ilmu manusia, fenomena Isra Mi’raj tersebut sedikit demi sedikit dapat tersingkap tirai kebenarannya.

Hal yang menarik untuk dicermati dalam kelanjutan redaksi ayat di atas adalah “alladzi barakna hauwlahu linuriyahu min ayatina”. Dalam redaksi ayat tersebut tergambar bagaimana perjalanan yang ditempuh Rasulullah saw. tersebut diberkahi oleh Allah swt. sekelilingnya sebagai salah satu prasyarat untuk memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan Allah swt. Dengan kata lain, keberkahan (al-barakah) menjadi jalan bagi seorang hamba dalam menyingkap tirai keterbatasan mata lahir dan batinnya dalam mempersepsi berbagai memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan-Nya. Apabila kata “al-barakah” yang bermakna keberkahan memiliki kedekatan struktur morfologis dengan kata “al-birkah” yang bermakna kolam maka seorang hamba yang mendapatkan keberkahan akan memiliki potensi mata lahir dan batin yang sarat dengan kedalaman, ketenangan, dan kesegaran layaknya karakter kolam tersebut. Kondisi tersebut merupakan kondisi psikologis manusia yang sangat stabil dan potensial dalam mempersepsi tanda-tanda kekuasaan-Nya.

Hirarki normativitas dan historitas Isra’ Mi’raj mengajarkan bagaimana perlunya manusia mengelola kondisi psikologisnya secara maksimal agar mereka dapat mempersepsi tanda-tanda kekuasaan Allah swt. Bukankah Isra’ Mi’raj itu sendiri dapat dikatakan sebagai bagian dari terapi psikis yang diberikan kepada Rasulullah saw. setelah mengalami kesedihan yang cukup mendalam akibat berpulangnya ke sisi Allah swt. istri beliau “Khadijah” serta paman beliau “Abu Thalib” sehingga tahun itu dikenal dengan tahun kesedihan “Am al-Huzni” Sekarang muncul pertanyaan mendasar bahwa apabila sosok seperti Rasulullah saw. saja masih perlu untuk diberikan terapi psikis melalui Isra’ Mi’raj untuk mendapatkan kondisi psikologis yang mampu bertransformasi dari labil ke stabil maka bagaimana dengan kita umatnya yang tentu saja level kestabilan psikologis kita di bawah beliau? Bukankah Isra’ Mi’raj hanya dialami pada sosok yang telah terpilih yang dalam hal ini adalah Rasulullah saw.? Kiranya jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari keberadaan shalat yang diterima Rasulullah saw. dalam Isra’ Mi’raj dan menjadi wadah ber-mi’raj-nya orang-orang beriman (asshalatu mi’rajul mu’minin). Konsekuensinya, shalat dijadikan wadah untuk memberikan terapi psikis bagi hamba Allah swt. dan umat Rasulullah saw. yang beriman untuk senantiasa berdzikir kepada Sumbu Axis-nya yang dalam hal ini adalah Allah swt. (wa aqimissahalata lidzikriy) dimana dzikir tersebut akan membawa manusia pada kestabilan psikologis dengan adanya ketenangan hati (ala bidzikrillahi tatmainnul qulub)

Shalat yang diterima Rasulullah saw. sarat dengan pesan psiko-sufistik dalam mewujudkan hamba-hamba Allah swt. yang memperoleh ketenangan hati dalam kehidupannya. Redaksi teks “asshalatu mi’rajul mu’minin” menggambarkan relasi caturadik antara al-Khaliq (Sang Pencipta) yaitu Allah swt., al-makhluq (yang tercipta) yaitu semua makhluk, al-khalq (penciptaan) yaitu proses penciptaan dengan seperangkat misi penciptaan yang mendasarinya, serta al-khulq (akhlak, moral, etika, dan semacamnya) yaitu tujuan primordial diutusnya Rasullah saw. (innama buistu li utammima makarimal akhlaq). Dalam pertemuan relasi caturadik antara al-Khaliq (Sang Pencipta), al-makhluq (yang tercipta), al-khalq (penciptaan), serta al-khulq (akhlak, moral, etika, dan semacamnya) maka di dalamnya ada kata “al-shalah” yang bermakna shalat dan kata “al-shilah” yang bermakna ketersambungan yang mengejewantahkan makna psiko-sufistik Isra’ Mi’raj dalam lokus “asshalatu mi’rajul mu’minin” Al-makhluq (yang tercipta) akan menemukan jarak antara dirinya dengan al-Khaliq (Sang Pencipta). Dalam proses tersebut, manusia akan mendapatkan berbagai ketidakstabilan karena hati mereka yang tidak tenang. Layaknya sebuah telepon selular yang tidak memiliki pulsa (jiwa tidak terisi keimanan), tidak memiliki jaringan (fisik terjebak dalam pusaran kedurhakaan), ataupun lowbat (psikologi terpasung dalam keputusasaan), maka shalat (al-shalah) memainkan peran yang strategis dalam me-mi’raj-kan orang-orang beriman karena adanya ketersambungan (al-shilah)  antara dirinya sebagai al-makhluq (yang tercipta) dengan al-Khaliq (Sang Pencipta). Lalu apa tanda-tanda mereka yang berhasil ber-mi’raj kepada al-Khaliq (Sang Pencipta), maka hal tersebut dapat dilihat dari al-khulq (akhlak, moral, etika, dan semacamnya) yang berkorelasi konstruktif dengan shalat yang dilakukannya (innasshalata tanha ‘anil fahsyai wal munkar). Wallahu a’lam!

 

Selasa, 02 Januari 2024

IKHLAS BERAMAL: INDONESIA HEBAT BERSAMA UMAT

 Oleh:

Dr. Muhammad Rusydi, S.Pd.I., M.Pd.I.

Sekretaris Lembaga Penjaminan Mutu  IAIN Bone

           Hari Amal Bakti ke-78 Kementerian Agama Republik Indonesia memiliki suatu makna tersendiri dalam memahami keberadaannya sebagai salah satu lokomotif pembinaaan kehidupan umat beragama di Indonesia dalam berbagai dimensinya. Dengan mengusung motto Indonesia Hebat Bersama Umat”, Kementerian Agama Republik Indonesia menunjukkan komitmen yang kuat dalam memberikan pelayanan maksimal bagi umat dalam spektrum budaya kerja berbasis integritas, profesionalitas, inovasi, tanggung jawab, serta keteladanan. Usia 78 tahun dalam ukuran umur manusia bukan usia yang bisa dikatakan masih muda tapi bagi sebuah institusi besar sekelas Kementrian Agama Republik Indonesia usia tersebut masih bisa dikatakan muda dan masih harus disikapi dengan terus melakukan pembenahan serta akselerasi berbagai potensi di dalamnya dalam mewujudkan pelayanan yang lebih dekat bagi umat sejalan dengan motto yang diusung pada Hari Amal Bakti ke-78 kali ini. Motto “Ikhlas Beramal”, dengan pijakan yuridis normatif KMA No. 58 Tahun 1979, sebagai suatu refleksi simbolik dari komitmen Kementerian Agama Republik Indonesia dalam mewujudkan pelayanan yang ikhlas tidak cukup hanya dipahami sebagai komitmen untuk memberikan pelayanan semata-mata mengharapkan ridha Allah swt.  atau memaknai ikhlas pelayaanan tanpa pamrih. Kata “ikhlas” memiliki makna yang sangat filosofis dan esoteris sejalan dengan visi dan misi kelembagaan yang diusung oleh kementerian yang didirikan pada 03 Januari 1946 ini. Sikap ikhlas identik dengan kemurnian “ego” manusia yang berpusat pada hari yang murni untuk selanjutnya ditransformasikan pada langkah-langkah praktis dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan beragama yang bersifat empiris.  Konsekuensinya, mereka yang ikhlas beramal akan mampu untuk menetralisir berbagai bentuk ego destruktif yang sangat rentang muncul dan mengalihkan komitmen mewujudkan budaya kerja berbasis integritas, profesionalitas, inovasi, tanggung jawab, serta keteladanan dari sumbu axis-nya yang murni.

Keberadaan posisi ikhlas sebagai posisi yang terbebas dari jeratan dan belenggu ego destruktif berupa keinginan untuk meraih berbagai keuntungan pribadi atau kelompok yang bersifat profan, pragmatis, atau bahkan hedonis meski boleh jadi harus menghalalkan segala macam cara dengan mengambil hak-hak individu atau komunitas lain tergambar dalam QS. an-Nahl/16:66 yang terjemahannya “Dan sungguh, pada hewan ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari apa yang ada dalam perutnya (berupa) susu murni antara kotoran dan darah, yang mudah ditelan bagi orang yang meminumnya”. Susu murni yang dalam redaksi teks bahasa Arabnya adalah “labanan khalisan” digambarkan tetap berada dalam kondisi murni dan tidak tercemar meskipun terletak antara kotoran dan darah. Kondisi kejiwaan yang sama juga akan dirasakan oleh pegawai Kementerian Agama Republik Indonesia yang tercerahkan dengan motto “Ikhlas Beramal” akan senantiasa berkomitmen untuk menjalankan tugas pokok dan fungsi masing-masing sesuai aturan yang berlaku serta tidak akan terpengaruh ataupun terperdaya oleh berbagai sikap dan tindakan yang bertentangan dengan bisikan ego konstruktifnya yang “khalisan. Dalam perspektif filsafat perennialisme, Huston Smith menggambarkan bahwa posisi ikhlas dengan identitas kemurniaannya adalah suatu kondisi spiritualitas yang mempertemukan antara ego konstruktif sebagai The Spirit pada Levels of Selfhood dengan “Dzat yang Maha Sumber dan Maha Tujuan” sebagai The Infinite pada Levels of Reality. Dalam kondisi tersebut, berbagai jubah duniawi yang profan, pragmatis, atau bahkan hedonis yang dapat merusak integritas, profesionalitas, inovasi, tanggung jawab, serta keteladanan pegawai Kementerian Agama Republik Indonesia tidak akan berpengaruh karena ego konstruktifnya yang “khalisan” mampu untuk menghidupkan spiritualitas dalam dirinya dalam relasi (shilah) yang tidak terputus antara The Spirit danThe Infinite, shilah jismiyah, shilah nafsiyah, dan shilah ruhiyah. Ibarat ikan di lautan yang tidak menjadi asin sekalipun berenang dalam air garam yang asin tapi ketika ikan tersebut mati dan digarami maka ikan tersebut akan menjadi asin.

Motto “Ikhlas Beramal” sarat dengan pesan filosofis dan esoteris untuk mentransformasikan motto Hari Amal Bakti ke -78 Kementerian Agama kali ini yaitu “Indonesia Hebat Bersama Umatsebagai komitmen menuju aksi. Kata “Ikhlas” dan kata “Beramal” sebagai dua entitas yang bersintesis dalam motto tersebut mengisyaratkan bahwa apabila ikhlas adalah komitmen maka beramal adalah aksi. Sebuah komitmen yang tidak terjabarkan pada aksi tidak ada bedanya dengan pohon yang tidak berbuah “al-ilm bi la amalin ka as-syajari bi la tsamarin”. Perayaan Hari Amal Bakti ke-78 Kementerian Agama kali ini dengan mengusung motto “Indonesia Hebat Bersama Umat”mengisyaratkan perlunya suatu keterlibatan semua pihak untuk hadir dalam pelayanan yang lebih dekat pada umat sebagai stakeholder pertama dan utama dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya. Motto “Indonesia Hebat Bersama Umat” bisa melahirkan makna transformatif sebagai keberasamaan yang terbangun atas hubungan emosional sebagai umat yang yang dalam genealogi historisnya terikat dalam ikatan nasab kebangsaan dan kenegaraan yang bernama Indonesia. Upaya untuk mendudukkan motto “Ikhlas Beramal” sebagai sebuah komitmen yang perlu ditransformasikan ke tataran aksi dengan menjadikannya sebagai basis paradigmatik perayaan Hari Amal Bakti ke -78 Kementerian Agama kali ini dengan mengusung motto “Indonesia Hebat Bersama Umat” akan berpulang pada kata “ikhlas” itu sendiri yang kemudian bermuara pada kata “amal”.

Dengan adanya semangat ikhlas beramal dalam memberikan pelayanan yang lebih dekat pada umat, konsep ikhlas beramal sebagai basis paradigmatiknya bisa dipahami sebagai kondisi yang mengakselerasi makna persenyawaan kosmik segala sesuatu yang ada pada lingkup kosmos. Surat ke-112 dalam al-Qur’an disebut dengan “al-Ikhlas”, meskipun tidak sekalipun dalam ayat-ayatnya tidak disebutkan kata “ikhlas” tersebut secara eksplisit, mengajarkan tentang makna etika tauhidik yang sarat dengan makna persenyawaan kosmik tersebut. Dalam perspektif semantik Toshihiko Izutsu yang merekomendasikan bahwa bahasa adalah alat untuk membaca dunia di sekeliling bahasa, penamaan surat ke-112 al-Qur’an yang sarat dengan etika tauhidik dengan “al-Ikhlas” merekomendasikan bahwa ikhlas beramal dalam memberikan pelayanan yang lebih dekat pada umat merupakan wujud penyatuan komitmen bahwa setiap umat yang ada di muka bumi ini pada dasarnya adalah satu “kana an-nasu ummatan wahidah (QS. al-Baqarah/02:213)”. Dalam lokus etika tauhidik, ikhlas beramal menunjukkan bahwa pelayanan yang diberikan kepada pihak lain yang terikat dalam persenyawaan kosmik satu sama lain merupakan pelayanan yang efek kemaslahatannya mengarah secara resiprokal kepada si pemberi layanan “in ahsantum ahsantunm li anfusikum (QS. al-Isra/17:07)”. Makna lain dari motto “Ikhlas Beramal” dalam lokus etika tauhidik sesuai dengan akar kata “tauhid” yang berasal dari derivasi wahhada, yuwahhidu, tauhidan adalah menyatukan segala potensi dan sumber daya yang ada dalam memberikan pelayanan yang lebih dekat pada umat yang berbasis integritas, profesionalitas, inovasi, tanggung jawab, serta keteladanan sebagai budaya kerja Kementerian Agama Republik Indonesia. Potensi dan sumber daya yang terfokus dalam penerapannya akan memberikan efek konstruktif dalam mencapai visi kelembagaan ataupun meminimalisir berbagai hambatan yang ada dalam pencapaian visi kelembagaan tersebut layaknya sinar matahari yang dapat membakar selembar kertas ketika cahayanya difokuskan dengan kaca pembesar sebagai ilustrasi metaforisnya. Selamat Hari Amal Bakti ke-78 Kementerian Agama Republik Indonesia. Selamat berkarya dengan ikhlas beramal dalam mewujudkan Indonesia hebat bersama umat. Meminjam adagium Aa Gym, mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil, dan mulai dari sekarang.

Selasa, 15 Agustus 2023

PENDIDIKAN MEMERDEKAKAN

 

Penulis:

Dr. Muhammad Rusydi, S.Pd.I., M.Pd.I.

Dosen IAIN Bone/Komunitas Gusdurian

Dalam pandangan Ki Hajar Dewantara, pendidikan merupakan wadah asah berbagai potensi peserta didik, baik lahir ataupun batin, sehingga mereka bisa menjadi pribadi-pribadi yang merdeka dalam mengembangkan berbagai potensi yang imanen dalam penciptaan mereka sebagai “ahsan taqwim”. Semangat pendidikan dalam kerangka pedagogis, andragogis, ataupun heutagogisnya dalam mendudukkan manusia pada altar kemerdekaannya yang secara kodrati ataupun adikodrati merupakan semangat yang sejalan dengan beberapa gagasan para pemikir sekelas Asghar Ali Engineer ketika mengemukakan konsep teologi pembebasannya, Antonio Gramsci ketika mengemukakan teori hegemoninya, Muhammad Iqbal ketika mengemukakan pikiran kehendak bebasnya, dan serentetan gagasan yang meniscayakan bahwa pendidikan memerdekakan mutlak untuk diupayakan apabila istilah “diwujudkan” masih menyisakan rentang yang jauh antara das sollen dan das sein.  Determinisme teologis-fatalistis ala Jabariyah yang menyatakan bahwa segala kehendak manusia telah ditentukan oleh kehendak Tuhan tidak boleh menjadi paradigma yang menciptakan teror paradigmatik sehingga hal ini sangat beresiko mendudukkan peserta didik pada sebuah proses pendidikan satu arah berpola vertikal-kordinatif yang dalam perspektif Paulo Freire dikatakan sebagai pendidikan gaya bank.

Semangat untuk mewujudkan pendidikan memerdekakan telah menjadi salah satu basis dalam pengarusutamaan berbagai kebijakan strategis nasional dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia sehingga lahir kebijakan Kurikulum Merdeka, Merdeka Belajar Kampus Merdeka, dan sederet kebijakan strategis lainnya. Pendidikan memerdekakan meniscayakan adanya proses dialektis yang masif, inklusif, dan progresif antara pendidik dan peserta didik, pendidik menjadi fasilitator sementara peserta didik menjadi negosiator dalam lingkup mikro pendidikan serta menjadikan relasi triadik tri pusat pendidikan yang terbangun atas sekolah, keluarga, dan masyarakat sebagai relasi simbiosis mutualisme dalam lingkup makro pendidikan. Apabila ilustrasi tersebut menggambarkan bagaimana posisi peserta didik dengan berbagai pihak yang ada di sekitarnya dalam spektrum pendidikan memerdekakan, Ibnu Khaldun mengemukakan gagasannya yang sejalan dengan pendidikan memerdekakan dari sisi sumber pembelajaran bahwa pendidikan Islam yang menggunakan sumber-sumber naqliyah dengan basis al-Qur’an ataupun hadits sebagai magnum opus ajaran Islam harus dibarengi dengan perangkat sumber-sumber aqliyah dengan basis logika bebas, yang dalam perspektif penulis beririsan dengan makna logika merdeka atau berpikir merdeka, agar transformasi ilmu pengetahuan bisa berjalan lebih inklusif, progresif, dan kontekstual dan tidak terpasung pada ekslusivitas teks yang rigid.

Sebuah catatan kritis yang perlu untuk diangkat dalam menyikapi pendidikan memerdekakan adalah bahwa pendidikan memerdekakan tidak cukup hanya dipahami sebagai sebuah paradigma pendidikan yang lebih akomodatif terhadap kemerdekaan peserta didik dalam proses pembelajaran karena hal tersebut hanya akan berimplikasi praktis pada ruang sempit seukuran kelas belajar ataupun pada waktu sempit sedurasi jam pelajaran, tapi jauh dari itu pendidikan memerdekakan harus menjadi proses pendidikan yang mampu memerdekakan mereka dari berbagai bentuk antitesa dari kemerdekaan itu sendiri seperti kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan, hegemoni sosial, dan semacamnya dalam konteks kehidupan sosial yang lebih luas. Tidak berlebihan apabila dikatakan bahwa semua berawal dari kelas sehingga semangat yang imanen dalam pendidikan memerdekakan akan berhulu di ruang kelas dan akan bermuara di kehidupan sosial peserta didik ke depannya. Penulis mencoba merenungkan kenapa ketika dikejar anjing orang-orang bisa melompati pagar berduri yang tinggi maka jawabannya karena mereka adalah orang-orang yang merdeka dari rasa takut tersangkut pagar berduri. Mereka berhasil karena fokus agar tidak digigit anjing yang mengejarnya. Konsekuensinya, ketika peserta didik dididik dalam pendidikan memerdekakan maka mereka harus dimerdekakan dari rasa takut kegagalan belajar layaknya mereka yang bisa melompati pagar berduri karena mereka adalah orang-orang yang merdeka dari rasa takut tersangkut pagar berduri lalu mereka dibuat fokus bahwa mereka harus berhasil dalam belajar agar mereka merdeka dari berbagai bentuk kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan, hegemoni sosial, dan semacamnya layaknya mereka yang fokus agar tidak digigit anjing yang mengejarnya. Wallahu a’lam!

Kamis, 03 Agustus 2023

MENGUATKAN TOLERANSI DAN KEBANGSAAN DI RUANG DIGITAL

 

Penulis:

Dr. Muhammad Rusydi, S.Pd.I., M.Pd.I.

Dosen IAIN Bone/Sekretaris PW-RMI NU Sulawesi Selatan

Perkembangan kehidupan manusia modern yang semakin erat dengan teknologi telah membuka suatu ruang yang identik dengan berbagai karakteristik kehidupan manusia yang berbeda dengan kehidupan yang mewujud dan menyata. Ruang yang dikenal dengan ruang digital tersebut telah memberikan suatu model interaksi sosial manusia yang sedemikian cepat dan luas sehingga diperlukan suatu kemampuan bagi pihak-pihak yang berkutat pada ruang digital untuk mengantisipasi berbagai dampak destruktifnya pada satu sisi tapi juga harus mampu menangkap berbagai dampak konstruktifnya agar ruang digital menjadi ruang transformasi nilai toleransi dan kebangsaan yang efektif, masif, dan progresif. Ruang digital dapat diilustrasikan dalam metafora lahan yang sangat luas dan masih banyak bagian-bagiannya yang belum bertuan sehingga sangat terbuka diisi dengan berbagai nilai, dari nilai yang toleran sampai ke yang intoleran, dari yang optimis memperjuangkan nilai kebangsaan sampai ke yang apatis memperjuangkannya, semua memiliki akses yang sama untuk menanamkan nilai yang dianutnya.Merupakan suatu keniscayaan ketika lahan tersebut harus diisi oleh mereka yang perpandangan toleran dan memiliki komitmen kebangsaan. Masih dalam lingkup metafora lahan, ruang digital ini dapat diakses oleh siapapun dengan jangkauan yang sangat luas serta dalam tempo waktu yang sangat singkat sehingga fenomena ruang digital ini telah bermetamorfosis dan mengarah menjadi dunia tanpa sekat ruang dan waktu. Menarik untuk mencermati kata “digital”untuk selanjutnya dikaitkan dengan basis filosofis dalam menguatkan toleransi dan kebangsaan di ruang digital. Kata ini identik dengan dunia digit yang berafiliasi dengan angka. Dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan manusia, angka merupakan suatu bagian yang tidak terpisahkan dari paradigma positivistis yang bersifat statis dan vis a vis dengan kata dengan paradigma fenomenologis yang dinamis. Dari angka yang berakar pada filsafat alam lahir penelitian isu-isu toleransi dan kebangsaan berparadigma kuantitatif yang positivistis sementara dari kata yang berakar pada filsafat sosial lahir penelitian isu-isu toleransi dan kebangsaan berparadigma kualitatif yang fenomenologis. Tapi terlepas dari pembagian tersebut, apapun informasi yang diolah dalam ruang digital maka semua tidak hanya sebatas angka tapi juga berbentuk kata dengan tidak berlebihan apabila dikatakan bahwa kata yang lebih dominan dibandingkan dengan angka itu sendiri. Sifat angka statis ruang digital yang numerik menuntut pengolahan informasi di ruang digital harus diolah sedemikian rupa dengan relasi caturadik dari digital skill, digital culture, digital ethic, serta digital safety. Hal ini menjadi penting mengingat sebuah informasi yang diolah didalamnya akan dipersepsi oleh banyak pembaca dengan pembacaan yang sangat dinamis dalam pemaknaannya termasuk dalam kaitanya dengan nilai toleransi dan kebangsaan tersebut. Seperti metafora obyek yang apabila dilihat dari sudut pandang yang berbeda akan melahirkan pemahaman yang berbeda-beda pula sehingga bisa dikatakan bahwa informasi yang diolah di ruang digital ontologinya adalah positivistis tapi pada tataran aksiologis akan bermetamorfosa sebagai fenomenologis. Upaya untuk menguatkan toleransi dan kebangsaan di ruang digital harus mewujudkan moderasi bisektris antara literasi membaca (kata) yang fenomenologis dan literasi matematika (angka) yang positivistis sebagaimana yang telah diupayakan oleh pemerintah memulai Asesmen Nasional pada penyelenggaraan pendidikan khususnya pada bagian Asesmen Kompetensi Minimum. Wallahu A’lam (Sebuah Refleksi atas Sosialisasi Literasi Digital Kerjasama Kemenkominfo RI, RMI-NU, dan Ponpes An-Nahdlah Makassar. Tinumbu, 03 Agustus 2023)

Rabu, 05 Juli 2023

HAJI MABRUR, ETIKA TAUHIDIK, DAN SPIRITUALITAS KEBANGSAAN

 

Penulis:

Dr. Muhammad Rusydi, S.Pd.I., M.Pd.I.

Dosen IAIN Bone/Komunitas Gusdurian

            Perjalanan ibadah haji merupakan salah satu bentuk perjalanan spiritual yang dilakukan oleh seorang hamba Allah swt. dalam menegaskan relasi vertikal ibadah pada visi mula penciptaannya berbasis ta’abbudi. Dalam ritual haji yang sarat dengan berbagai syiar-syiar pengasahan, pendalaman, dan pencerahan spiritualitas, seorang hamba Allah swt. yang mampu untuk menangkap berbagai pesan-pesan simbolik yang imanen dalam setiap penyelenggaraan berbagai ritual haji, pada gilirannya, akan bertransformasi menjadi haji mabrur. Tidak berlebihan apabila dikatakan bahwa mereka yang berhasil memperoleh dimensi aksiologis ritual tahunan tersebut akan bermetamorfosis dimensi spiritualnya layaknya seekor ulat dalam kepompong yang awalnya terlihat biasa-biasa saja tapi ketika menjadi seekor kupu-kupu maka perhatian akan tertuju kepadanya karena kualitas elok rupa yang disandangnya. Demikian pula halnya dengan predikat haji mabrur, seorang hamba Allah swt. yang sampai pada pencapaian tersebut sebagai sebuah predikat kesuksesaan dalam menunaikan ibadah haji, akan mampu untuk menghayati berbagai pesan-pesan simboliknya berbasis ta’aqquli sehingga tidak berlebihan apabila dikatakan bahwa haji mabrur akan berimplikasi praktis pada penghayatan samudera hikmah yang berproses dari ‘ilm al-yaqin, ‘ain al-yaqin, haq al-yaqin, atau bahkan sampai pada ikmal al-yaqin. Basis ta’aqquli, dalam proses ini berproses dari belajar haji, belajar tentang haji, dan belajar “melalui” ibadah haji.

            Dalam perjalanan haji sebagaimana tergambar dalam QS. Ali Imran Ayat 97 yang terjemahnya “Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, di antaranya Maqam Ibrahim. Barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia. Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah swt., yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah swt.  Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”, tersirat napak tilas kehidupan manusia di muka bumi. Keberadaan Baitullah yang digambarkan sebagai tempat yang aman untuk dimasuki mengisyaratkan bahwa manusia dalam kehidupannya akan mendapatkan berbagai fenomena kehidupan yang sangat rentang mereduksi nilai lahut yang pada dasarnya imanen dalam fitrah penciptaannya. Ketika manusia semakin jauh dari sumbu axis penciptaanya yang fitrah maka pada saat itulah manusia semakin terjebak dalam kebutuhan-kebutuhan nasut-nya yang berdimensi profan, pragmatis, atau bahkan hedonis. Kembalinya manusia ke jalan Allah swt. yang diilustrasikan dengan masuknya manusia ke dalam Baitullah sebagai tempat yang aman merupakan jalan keselamatan bagi mereka dalam kehidupan dunia lebih-lebih dalam kehidupan akhirat.

Penyebutan Maqam Ibrahim dalam QS. Ali Imran Ayat 97 yang pemaknaan denotatifnya dipahami sebagai batu tempat Nabi Ibrahim as. berpijak saat membangun Baitullah dalam pemaknaan konotatifnya dapat dipahami sebagai upaya manusia untuk membangun semangat ber-etika tauhidik kepada Allah swt. yang pada dasarnya menjadi semangat mendasar dari Nabi Ibrahim as. ketika membangun Baitullah. Hal ini yang kemudian menjadikan sosok ayah kandung dari Nabi Ismail as. ini dikenal sebagai Bapak Tauhid dari manusia. Hal ini mengisyaratkan bagaimana kehidupan manusia di dunia yang sarat dengan berbagai godaan yang bersifat profan, pragmatis, atau bahkan hedonis harus senantiasa dinetralisir dengan nilai-nilai tauhid kepada Dzat yang Maha Pencipta yang dalam hal ini adalah Allah swt. Hanya dengan semangat tauhid tersebut, manusia bisa terlepas dari jebakan unsur-unsur nasut yang sangat rentang membawa mereka pada pengingkaran akan hakikat penciptaannya sebagai hamba Allah swt. Disini haji memberikan suatu penekanan terkait napak tilas kehidupan manusia yang harus senantiasa berada pada posisi yang dekat terhadap “Sumber Awal” yang dalam pandangan Huston Smith diilustrasikan sebagai relasi gnosis antara “The Infinite” pada dimensi teosentris yang memiliki samudera ke-Maha-an dengan “the spirit” pada dimensi antroposentris yang imanen dalam transformasi spiritualitas manusia menuju Tuhannya. Semakin manusia mendekat kepada “Sumber Awal”nya maka akan semakin terpancar potensi dasar penciptaan manusia yang luar biasa dalam menjalankan fungsi-fungsi kekhalifahan mereka sebagai khalifatullah fil ardh. Ibarat sebuah handphone yang pancaran sinyal yang diterimanya akan semakin kuat ketika handphone tersebut digunakan dekat pada antena pemancar sinyal dari penyedia seluler yang kartu datanya dipakai pada handpohone tersebut. Hal ini pula yang tergambar ketika manusia melakukan thawaf di sekitar Baitulllah yang di dekatnya ada Maqam Ibrahim sebagai jejak Bapak Tauhid, maka manusia dalam kehidupan sehari-harinya yang cenderung profan, pragmatis, atau bahkan hedonis harus senantiasa bergerak siklis dalam pusaran tauhid sehingga mereka tidak terperdaya oleh berbagai fatamorgana duniawi yang mereduksi potensi lahut yang pada dasarnya juga ada dalam diri manusia untuk menetralisir potensi nasut mereka. Kemampuan manusia untuk bertransformasi ke dalam nilai-nilai tauhid pada proses haji tersebut akan menjadikan mereka pribadi-pribadi yang ber-etika tauhidik dengan berbagai karakter akhlak mulia yang menghiasi kehidupannya pasca menunaikan ibadah haji.

Perjalanan ibadah haji dalam konteks ke-Indonesiaan yang setiap tahunnya memberangkatkan demikian banyak umat Islam tentu diharapkan mampu menjadi wadah dalam melahirkan hamba-hamba Allah swt. berpredikat haji mabrur yang dihiasi etika tauhidik yang pada gilirannya berimplikasi konstruktif dalam menciptakan spiritualitas kebangsaan di altar nusantara tercinta, Indonesia. Apabila mereka yang menunaikan ibadah haji adalah “duta-duta Indonesia” yang diberangkatkan ke tanah suci melalui Kementerian Agama RI sebagai lokomotif penyelenggaraannya maka sudah sepantasnya mereka yang memperoleh predikat haji mabrur akan menjadi “duta-duta Baitullah” dalam mengaktualisasikan etika tauhidik dalam kehidupan berbangsa dengan menjadi pribadi-pribadi yang progresif dalam mengarusutamakan kehidupan berbangsa yang lebih inklusif, moderat, dan toleran dalam beragama. Aktualisasi menjadi penting karena predikat “haji mabrur” bukan sekedar predikat “Being” yang statis melainkan ikhtiar “Becoming” yang teraktualisasikan. Mengutip pandangan Rene Descartes dalam membangun gagasan filosofisnya bahwa segala sesuatu harus terbangun dari pertanyaan bagaimana menilai kualitas sesuatu dan dari mana memulai sesuatu, maka kualitas pengarusutamaan nilai-nilai  predikat haji mabrur berupa etika tauhidik dalam kehidupan berbangsa oleh “duta-duta Baitullah” akan terasa sangat bermakna konstruktif apabila mengaktualiasikan apa yang biasa dikemukakan Aa Gym yaitu mulai dari sendiri, mulai dari hal-hal yang kecil, dan  mulai dari sekarang. Selamat Datang di Tanah Air Tamu-Tamu Allah, Duta-Duta Baitullah, Semoga Menjadi Haji Mabrur (Watampone, 06 Juli 2023)

Berlebaran Serba Baru: Idul Fitri sebagai Momentum Pembaruan Diri

Menyambut Idul Fitri kerap dimaknai sebagai perayaan kemenangan. Kemenangan yang dimaksud bukanlah sekadar keberhasilan melewati fase Ramadh...