Selasa, 05 Mei 2020

Diskursus Teologi sebagai Ilmu Pengetahuan



Oleh: Muhammad Rusydi

            Teologi merupakan suatu ilmu yang dipelajari oleh manusia dalam mempersepsi berbagai realitas berdasarkan kaca mata iman. Penggunaan iman dalam kerangka kerja teologi tersebut tidak terlepas dari posisi iman sebagai salah satu barometer yang mengatur bagaimana manusia mampu mewujudkan komitmen primordialnya, "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi"  (QS. al-A’raf, 172), sebagai seorang hamba yang senantiasa mengacu pada kerangka teologis normatif yang telah ditetapkan oleh Allah Swt. Konsekuensinya, teologi telah menegaskan posisinya sebagai salah satu disiplin ilmu pengetahuan yang menjadikan keimanan sebagai platform pengembangannya sehingga antara teologi dan iman telah terbangun relasi konstruktif yang saling menguatkan satu sama lain. Dalam perkembangannya, teologi memiliki beberapa nama lain, yang boleh jadi lebih banyak digunakan dalam lingkungan lembaga pendidikan Islam, seperti ilmu kalam, ushuluddin, akidah, dan yang lainnya. Ketertarikan penulis untuk menggunakan istilah “teologi” karena pembahasan antara teologi dan ilmu pengetahuan terasa belum lengkap tanpa memaparkan  jejak historis tradisi keilmuan Islam dan di luar Islam dimana istilah “teologi” memiliki makna yang lebih umum dan bisa diterapkan pada berbagai tradisi keilmuan lintas agama dan keyakinan tersebut.
            Dalam kerangka teoretisnya, teologi dan ilmu pengetahuan merupakan dua entitas yang tidak terpisahkan mengingat teologi merupakan bagian dari ilmu pengetahuan itu sendiri. Yang menarik kemudian untuk dicermati dalam kerangka praksisnya dimana seolah-seolah keduanya dibentuk dalam sebuah diskursus bahwa keduanya merupakan entitas yang terpisah. Teologi terpasung pada dimensi teosentris sementara ilmu pengetahuan terpasung pada dimensi antroposentrisnya. Konsekuensinya, teologi digiring masuk pada suatu ruang hampa yang rigid untuk mewarnai ilmu pengetahuan yang profan dengan nilai-nilai normatif teologisnya. Salah satu jejak historis dari fenomena tersebut adalah ketika al-Farabi yang merupakan tokoh filsafat paripatetik-emanasionis menempatkan teologi pada posisi terbawah dalam hirarki ilmu yang disusunnya dengan hirarki dari yang teratas sampai ke yang terbawah terdiri atas filsafat, metafisika, matematika, fisika, dan ilmu politik dengan mendudukkan teologi sebagai sub-bagian dari ilmu politik tersebut. Hal sebaliknya terjadi di Eropa saat memasuki fase sejarah yang disebut dengan zaman kegelapan dimana teologi yang saat itu diperkuat dengan otoritas gereja telah mereduksi perkembangan ilmu pengetahuan. Berbagai fakta historis tersebut menunjukkan bahwa sekalipun teologi dan ilmu pengetahuan merupakan dua entitas yang tidak terpisahkan dalam relasi idealnya tapi dalam relasi historis keduanya berbagai benturan kepentingan profan manusia yang imanen dalam teologi dan ilmu pengetahuan menggiring keduanya pada lingkaran pergumulan, baik teoretis ataupun praksis.
        Diskursus teologi sebagai ilmu pengetahuan mencoba menelusuri sejauhmana posisi teologi dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang dalam perspektif Michael Foucault diskursus digambarkan sebagai sebuah sistem berpikir yang dibangun atas berbagai asumsi umum yang kemudian menjadi ciri khas dari sebuah perspektif yang imanen pada suatu komunitas dalam kurung waktu tertentu. Makna diskursus seperti apa yang digambarkan Michael Foucault ini tentu saja memberikan suatu alternatif dalam memahami pergumulan antara teologi dan ilmu pengetahuan. Ketegangan yang muncul antara teologi dan ilmu pengetahuan dari dulu sampai sekarang tidak bisa menafikan bahwa keduanya juga memiliki relasi konstruktif yang saling menguatkan satu sama lain seperti yang tergambar dalam pernyataan Albert Einsten, science without religion is lame, religion without science is blind. Hal yang menarik kemudian untuk diperhatikan dalam melihat relasi konstruktif antara teologi dan ilmu pengetahuan adalah apa yang digambarkan oleh Ian G. Barbour yang menyatakan bahwa agama yang merupakan bagian dari teologi dan sains yang merupakan bagian dari ilmu pengetahuan memiliki empat model relasi yaitu, 1) konflik yang merupakan model relasi antara agama dan sains yang tidak bisa disatukan karena keduanya merujuk pada klaim sepihak yang saling menyalahkan dan melemahkan, 2) independensi yang merupakan model relasi antara agama dan sains yang meskipun tidak terlibat konflik yang saling menyalahkan dan melemahkan satu sama lain tapi keduanya berdiri pada posisi yang tidak terhubung satu sama lain, 3) dialog yang merupakan model relasi antara agama dan sains yang mengupayakan adanya dialog antara keduanya karena melihat bahwa baik agama dan sains dapat didialogkan satu sama lain karena keduanya terkait satu sama lain, 4) serta integrasi yang merupakan model relasi antara agama dan sains yang lebih intens dari sekedar dialog tapi sudah ada upaya untuk menyelaraskan keduanya dalam sebuah relasi sistemik-konstruktif.
         Diskursus teologi sebagai ilmu pengetahuan merupakan suatu fenomena dalam transformasi keilmuan pada berbagai lintas ruang dan waktu. Teologi dalam jejak historisnya telah terbukti memberikan banyak kontribusi dalam perkembangan ilmu pengetahuan sehingga upaya untuk meletakkan keduanya pada wilayah konflik merupakan suatu kesalahan metodis dalam pengembangan ilmu pengetahuan. John Polkinghorne bahkan pernah menyatakan bahwa doktrin-doktrin teologis seperti mengenai penciptaan dengan penekanannya pada rasionalitas Penciptanya telah memberikan model dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Hal yang sama bisa ditemukan dalam tradisi keilmuan Islam, berbagai isyarat normatif dalam al-Qur’an bukan hanya memberikan motivasi untuk mengembangkan ilmu pengetahuan seperti yang termaktub dalam QS. al-Mujadilah, 11, tapi juga berfungsi sebagai sumber-sumber inspirasi pengembangan ilmu pengetahuan itu sendiri seperti dorongan manusia untuk mempergunakan indera dan akal yang merupakan alat pemerolehan ilmu pengetahuan yang sangat diandalkan oleh dua aliran utama dalam filsafat ilmu yaitu empirisme (indera) serta rasionalisme (akal). Tidak diragukan lagi bahwa diskursus teologi sebagai ilmu pengetahuan merupakan suatu realitas yang tidak terbantahkan baik secara teoretis ataupun praksis. Ketika diskursus tersebut kembali dipertanyakan pada kurung waktu tertentu oleh komunitas tertentu, menarik apa yang dikemukakan oleh Thomas Kuhn dijadikan sebagai sebuah jawaban bahwa sebagian besar waktu para ilmuwan digunakan untuk mengurai sebuah permasalahan yang sampai pada konsensus, tapi adakalanya seiring dengan perjalanan waktu, konsensus tersebut yang kadang-kadang menjadi subyek revisi sampai pada yang bersifat radikal sekalipun.
           
           


Senin, 04 Mei 2020

Literasi: Menjadi Penulis Terinspirasi

Oleh: Muhammad Rusydi

Apa yang saya dapatkan dari workshop?
Ketika mencari jawaban dari pertanyaan di atas, saya teringat dengan sebuah pesan bijak bahwa apa yang diperoleh dari suatu proses pembelajaran dapat diukur dari sejauh mana rentang perbedaan antara kemampuan sebelum mengikuti proses pembelajaran dan setelahnya. Tapi saya ingin menambahkan bahwa rentang perbedaan dari sisi progresivitas kemampuan dalam hal menulis belum cukup tanpa dibarengi dengan kemampuan untuk bermetamorfosis menjadi penulis yang tidak mampu menjadi penulis yang mampu lalu dari penulis yang mampu menjadi penulis yang terinspirasi.
Kemampuan untuk melewati fase metamorfosis menjadi penulis yang terinspirasi memerlukan suatu ikhtiar, ini kalau dianggap berlebihan dengan mengatakannya sebagai jihad, ilmiah untuk mengawali sebuah pemaparan ide dengan menulis. Dalam salah satu status instagram pada rusydi59, saya pernah menulis bahwa dengan menulis maka nama tidak hanya tertulis pada batu nisan tapi juga tercetak pada sampul-sampul buku sebagai bukti bahwa kita pernah ada. Kenapa menjadi bukti bahwa kita pernah ada? Rene Descartes pernah menyatakan bahwa “Cogito Ergo Sum” yang artinya “Saya Berpikir Maka Saya Ada, yang membuat saya yakin bahwa sebuah proses untuk disebut ada harus melewati metamorfosis meng”ada” yang disebut berpikir dan menulis tanpa berpikir itu ti”ada” yang dalam lokus rasa itu adalah non”sense” dan rasa (sense) itu adalah inspirasi.
Hadirnya sebuah workshop sebagai altar akademik dalam mengembangkan inspirasi  menulis telah memberikan suatu pengalaman yang sangat berharga bagi orang yang dalam menggugah inspirasi menulis saya sebut sebagai bimbingan me”rasa”.  Merasa itu perlu bagi seorang penulis khusunya untuk mengebangkan kreativitas menulis dengan memadukan dimensi mikrokosmos dan makrokosmos yang menjadi potensi fitrahnya meng”ada” di muka bumi. Workshop ini telah menginspirasi saya untuk lebih jeli memahami refleksi mikrokosmos dalam diri saya terkait dengan  fenomena makrokosmos yang melingkupi saya yang tidak hanya dituntut membaca ayat-ayat, baik qauliyah ataupun kauniyah, tapi juga dituntut mentransformasikannya dalam bentuk tulisan dengan pembacaan lintas perspektif. Dalam sistem persenyawaan kosmik seperti yang digambarkan Huston Smith, penulis yang terinspirasi itu, saya pahami,  lahir dari mereka yang mampu menjembatani dimensi tidak terbatas (infinite)  dengan dimensi ruh (spirit) yang juga saya pahami bahwa penulis terinspirasi itu selalu lahir dari mereka yang memiliki “spirit”





Literasi: Workshop Inspiratif yang Mengompori

Oleh: Muhammad Rusydi

Apa yang saya bayangkan dari workshop?
Ketika membayangkan sebuah workshop tentang penulisan, terbayang suatu proses peningkatan kapasitas menulis  yang mensinergikan antara teori dan praktek secara simultan. Menulis memang bukan hanya sekedar teori tapi perlu dibuktikan dalam tindakan nyata. Merangkai huruf demi huruf menjadi kata lalu dari kata menjadi kalimat yang bermatemorfosis menjadi paragraf sebelum menjadi sebuah wacana yang enak dibaca.
Menulis merupakan suatu aktivitas yang kadang-kadang sulit untuk dimulai tapi saat proses menulis tersebut sudah berjalan maka semuanya akan berjalan dengan baik. Saya teringat dengan sebuah uneg-uneg teman saat mengikuti akselerasi percepatan penulisan disertasi di Kota Batu, dia yang tadinya tidak tahu apa yang harus ditulis ternyata setelah dikompori untuk menulis dengan berani menulis beberapa kalimat, aneh bin ajaib, dia mampu menulis bahkan tidak tahu bagaimana caranya berhenti dan menutup tulisannya dengan sebuah rangkaian ide yang koheren dari awal sampai akhir. Konsekuensiya, keberanian untuk memulai ini yang perlu ditumbuhkembangkan dengan “kompor” inspirasi sambil dilengkapi dengan kiat-kiat menulis yang baik.
Membayangkan workshop tersebut sebagai workshop inspiratif yang mengompori  tentu bukan sekedar asumsi penulis yang hadir sebagai pemanis wacana. Hadirnya group bimbingan menulis via whatsapp ini adalah refleksi empiris dari apa yang saya bayangkan tadi. Workshop yang tidak sempat saya hadiri karena sedang berada di Makassar telah menjelma menjadi kompor yang siap mematangkan komitmen dari penulis pemula seperti saya yang mungkin tidak sampai pada level penulis inspiratif tapi masuk dalam kategori penulis terinspirasi.

Literasi: Penulis Bervisi

Oleh: Muhammad Rusydi

Mengapa saya memutuskan ikut?
Jawaban dari pertanyaan ini menjadi suatu gambaran visi seorang penulis dalam melewati tahap eksplorasi intelektual di tengah dialektika aksara dan makna. Dengan menjawab pertanyaan ini, seorang penulis telah mengukuhkan dirinya sebagai seorang penulis bervisi untuk selanjutnya memiliki suatu rel penulisan yang dipedomani sehingga lokomotif ide pokoknya tinggal fokus menarik rangkaian gerbong ie pendukung yang bisa saja muncul di tengah proses tulisan berlangsung.  Dalam lokus teologisnya, “Innama al-A’mal bi al-Niyat” menjadi semacam pijakan seorang penulis untuk mengembangkan visi dalam penulisan sebagai sarana transformasi ide yang tidak tersekat ruang dan waktu. Pahami orang lain dengan membaca tulisannya tapi jangan karena sibuk mengenal orang lain anda lupa memperkenalkan diri dengan menulis!, merupakan salah satu pesan dari Prof. Raihani, Dosen UIN Sultan Syarif Kasim Riau  yang melakukan Sabbatical  Leave Dalam Negeri di IAIN Bone” saat berbagi inspirasi menulis di sambil meneguk secangkir kopi penambah inspirasi.
Mengikuti bimbingan kelas menulis yang dipandu langsung oleh Gus Ngainun Naiem merupakan suatu pengalaman yang berharga dan langka. Pola bimbingan yang beliau berikan sangat inspiratif untuk membentuk karakter seorang penulis yang memiliki visi dalam menulis serta langkah-langkah konstruktif dalam mengembangkan visi penulisan tersebut. Meminjam istilah Abdullah Gymnastiar, mulai dari diri sendiri, mulai dari hal-hal yang kecil, serta mulai dari sekarang, Gus Ngainun Naiem telah memberikan suatu kerangka penulisan berjenjang untuk selanjutnya mengarahkan visi penulisan pada suatu rangkaian ide yang sistemik seperti cara beliau mengarahkan penulis dengan pertanyaan-pertanyaan eksploratif-konstruktif mulai dari sumber informasi workshop sampai rencana setelah workshop. Semua materi dipresentasikan sangat professional sehingga menghipnotis peserta seperti sedang melahap makanan favorit dengan bumbu tahapan-tahapannya.
Sepertinya butuh banyak kata untuk dirangkaian menjadi kalimat untuk menggambarkan alasan mengapa penulis memutuskan untuk mengikuti bimbingan menulis oleh Gus Ngainun Naiem, di samping karena saya tahu bahwa beliau adalah salah seorang  penulis dengan karya-karya yang best seller, beliau juga adalah motivator ulung untuk menulis. Menjadi penulis bervisi membutuhkan sosok inspiratif seperti beliau yang seringkali beliau dengan metafora kompor. Kenapa kompor? Mungkin karena beliau melihat banyaknya potensi menulis yang dimiliki oleh dosen-dosen PTKI tapi terlalu dingin, untuk tidak mengatakan rigid, menulis sehingga harus dipanaskan di atas “kompor” motivasi. Saya yakin kalau Rahmat Darmawan dengan tangan dinginnya mampu menciptakan tim nasional sepak bola yang solid, maka sosok seperti Gus Ngainun Naiem mampu  menciptakan penulis bervisi dalam pengembangan ide-idenya dan ini adalah salah satu alasan dari sekian banyak alasan kenapa saya memutuskan ikut dalam bimbingan beliau.

Literasi: Menjadi "Tuan Rumah" Informasi



Literasi: Menjadi  “Tuan Rumah” Informasi
Oleh: Muhammad Rusydi
Dari Mana Saya Mendapatkan Informasi?
Pertanyaan di atas menarik untuk dijawab ketika ada kebingungan saat ingin menuangkan ide dalam bentuk tulisan. Faktanya, apa yang ditulis oleh seorang penulis tidak bisa dilepaskan dari apa yang diketahui sebelumnya yang tentu saja memiliki sumber untuk bisa dikatakan sebagai informasi. Tentu saja seorang penulis tidak boleh terjebak pada pola-pola pragmatis dalam menulis dengan memanfaatkan tulisan yang banyak tersedia dalam bentuk soft file yang tinggal di-copypaste lalu di-paraphrase dan dengan sedikit membuang rasa malu mengganti nama penulis asli dengan penulis “palsu” tadi, ini kalau menyebutnya sebagai pencuri bertopeng akademik dianggap tidak layak. 
Dalam upaya mendapatkan informasi, seorang penulis tidak salah apabila mengutip ide-ide dari penulis selama hal tersebut dilakukan dengan etika akademik ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan. Dalam upaya mendapatkan informasi melalui tradisi kutip mengutip tersebut, saya sangat terinspirasi dengan arahan Gus Ngainun Naiem, seorang dosen dan mentor literasi yang dihadirkan LP2M IAIN Bone dari IAIN Tulungagung, bahwa seorang penulis hendaknya mempergunakan kreativitas berpikir yang dimilikinya yang tentunya dipadukan dengan berbagai informasi yang telah diketahuinya sebagai langkah awal dalam menulis lalu mengutip berbagai sumber informasi dari penulis lain sebagai pelengkap atas apa yang ditulisnya. Kesalahan yang biasa dilakukan oleh penulis, kata beliau, adalah saat menulis dengan fokus pada suatu topik lalu sibuk mengoleksi tulisan orang lain untuk disusun yang tinggal ditambahkan dengan ide-ide asli penulis yang sebenarnya hanya bersifat tambahan saja. Yang saya tangkap dari ide beliau adalah bahwa jadilah “tuan rumah” informasi dalam tulisan yang anda buat.
Menjadi “tuan rumah” informasi dalam tulisan yang dibuat, khusus bagi saya, rasanya membutuhkan suatu jihad akademik yang luar biasa di tengah godaan berbagai artikel soft file yang tinggal di-copypaste lalu di-paraphrase. Lebih mudah rasanya menundukkan pandangan saat memandang wanita cantik dibandingkan menahan jari telunjuk kanan untuk tidak meng-klik kanan mouse dengan meng-copy paste. Saya sangat tertarik dengan bimbingan menulis ini, saya mendapatkan banyak informasi dari sisi formal dan materilnya untuk berani mengungkapkan apa yang saya bisa sampaikan dari informasi yang saya pernah dapatkan. Saya tertarik saat menonton salah satu adegan pertarungan dua orang ninja yang memilih bertarung dengan menutup mata karena yakin, mungkin sudah sampai pada tahap haqqul yaqin” bahwa dalam dirinya ada potensi untuk menghadapi pertarungan tanpa terpasung dengan inderanya. Mungkin sebagai penulis, seperti kata Gus Ngainun Naiem, perlu mengandalkan kemampuan mengelola informasi yang pada dasarnya sudah ada dalam ide masing-masing penulis untuk selanjutnya dipoles dan dilengkapi dengan sumber informasi dari ide-ide orang lain agar seorang penulis bisa benar-benar menjadi “tuan rumah” informasi dalam tulisan yang dibuatnya

Pendidikan itu apa?


Oleh : Muhammad Rusydi

Pendidikan merupakan proses akselerasi menjadi lebih baik. Ketika John Locke menyatakan bahwa manusia seperti kertas putih dan dipertegas dalam QS. al-Nahl/16:78 “لاتعلمون شيئا”, pendidikan memiliki peran strategis untuk mengakselerasi potensi dalam diri manusia untuk menjadi lebih baik. Menjadi lebih baik, seperti yang diisyaratkan Huston Smith, harus berjenjang dari dimensi lahiriyah (body) yang hanya bisa mempersepsi alam kebendaan (terrestrial) menuju dimensi ruhiyah (spirit) yang bisa mempersepsi alam tak terhingga (infinite). Dalam konteks ini, menjadi lebih baik sudah mewujud dalam transformasi nalar akademik menuju ruh akademik.

Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang memerdekakan seperti kata Paulo Freire. Dialektika konstruktif antara pendidik dan peserta didik harus terjalin selama proses pendidikan  berlangsung. Pendidik tidak selamanya akan berbicara tapi ada kalanya mereka harus meluangkan waktu untuk mendengar. Sebaliknya, peserta didik tidak selamanya akan mendengar karena ada kalanya harus memberanikan diri untuk berbicara. Dialektika konstruktif telah membuka peluang ilmu bisa berasal dari mana saja tanpa harus terpasung status profan, pendidik atau peserta didik, karena dalam filosofi Bugis dikenal nilai kearifan “siliweng tessirapi” 

Pendidikan bukan proses yang sebentar seperti kata John Dewey dalam salah satu pernyataannya “educational process has no end beyond itself in its own and end”. Proses pendidikan tersebut akan terus mewarnai keber“ada”an manusia sebagai makhluk pedagogik, andragogik sampai heutagogik. Bukankah Rene Descartes pernah menyatakan “cogito ergo sum”, saya berpikir maka saya ada? Ketika berpikir yang dianalogikan sebagai proses pendidikan menjadi prasyarat keber“ada”an manusia, maka proses pendidikan akan terus berlangsung selama manusia ada yang dalam lokus normatif teologisnya dari buaian sampai ke liang lahat. Tidak salah ketika Immanuel Kant menyatakan bahwa manusia bisa disebut manusia hanya kerena adanya pendidikan.

Pendidikan tidak hanya di sekolah seperti kata Ki Hajar Dewantara yang menginisiasi lahirnya konsep tri pusat pendidikan berbasis keluarga, sekolah, dan masyarakat. Pendidikan adalah tanggung jawab bersama sehingga tidak terjebak pada anekdot bahwa kesuksesan peserta didik menjadi kesuksesan orang tua sementara kegagalan mereka menjadi tanggung jawab pihak sekolah. Oleh karena itu, Ki Hajar Dewantara telah meletakkan tiga fondasi akseleratif  dalam proses tersebut yaitu, 1) ing ngarso sun tulodho yang berarti di depan memberi teladan, 2) ing madyo mangun karso yang berarti di tengah memberi bimbingan, 3) serta tut wuri handayani yang berarti di belakang memberi motivasi yang harus imanen dalam relasi konstruktif tri pusat pendidikan berbasis keluarga, sekolah, dan masyarakat tersebut.

Ketika semboyang “Stay at Home” menggiring hampir seluruh aktivitas pembelajaran peserta didik ke rumah, boleh jadi banyak yang gagap dan kikuk ketika didaulat jadi pendidik dadakan di hadapan anak-anak seperti penulis ketika penulis ditanya tentang rumus menghitung luas dan keliling segi tiga, nama-nama planet dengan urutannya, dan yang lainnya. Akhirnya, kita diajak untuk merenungkan hakikat pendidikan itu seperti apa? Jawabannya kadangkala tidak perlu dengan rangkaian kata yang mengaburkan fakta, yang ditunggu adalah membumikan nilai-nilai pendidikan berupa aksi nyata, apapun bentuknya.


Berlebaran Serba Baru: Idul Fitri sebagai Momentum Pembaruan Diri

Menyambut Idul Fitri kerap dimaknai sebagai perayaan kemenangan. Kemenangan yang dimaksud bukanlah sekadar keberhasilan melewati fase Ramadh...