Minggu, 31 Mei 2020

Mendidik untuk Berpikir


Oleh: Muhammad Rusydi


      Manusia adalah makhluk pedagogis yang meniscayakan manusia selalu terkait dengan proses pendidikan. Pendidikan, pada gilirannya, dapat dipahami sebagai proses akselerasi segala potensi yang imanen dalam diri manusia yang salah satunya adalah potensi pikir. Ada sebuah cuitan tweeter dari Rocky Gerung yang cukup menggelitik tapi pada hakikatnya menggugah nalar kritis kita terkait sejauhmana pendidikan telah mampu mengakselerasi potensi pikir tersebut. Rocky Gerung dalam cuitannya kira-kira seperti ini “ijazah itu tanda pernah sekolah, bukan tanda pernah berpikir”. Pendidikan dan berpikir merupakan dua entitas yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Hubungan keduanya terjalin seperti lampu dengan pancaran cahayanya yang dalam lokus teori performatif bisa dikatakan bahwa pendidikan bisa dikatakan memiliki validitas apabila mampu membawa manusia pada suatu proses pendidikan yang disebut berpikir.  
Dalam jejak historisnya, berpikir telah menjadi suatu tradisi keilmuan umat manusia sehingga Aristoteles menyebutnya dengan hewan yang rasional (animal rationale). Dengan menggunakan analisis rasionya, manusia membangun kerangka pikir untuk memahami berbagai fenomena kosmos, baik itu mikrokosmos seperti yang tergambar dalam QS. ar-Rum/30:8 ataupun makrokosmos seperti yang tergambar dalam QS. ar-Rad/13:3. Munculnya teori pembentukan alam semesta yang berasal dari air menurut Thales, dari udara menurut Anaximenes, dan yang lainnya pada masa-masa awal sampai pada teori terbentuknya alam semesta seperti teori Nebula menurut Immanuel Kant dan Patere de Laplece, teori Tidal menurut James Jeans dan Harold Jeffrey, dan yang lainnya pada masa berikutnya merupakan bukti dari transformasi berpikir kosmosentris manusia dalam memahami berbagai fenomena kosmos yang sangat masif. Di samping itu, kemampuan berpikir juga telah membawa manusia pada suatu lokus peradaban dari yang tadinya terjebak pada hal-hal yang bersifat mitosentris untuk selanjutnya menuju ke hal-hal yang bersifat logosentris. Berpikir merupakan suatu jalan yang harus ditempuh oleh manusia sebagai “being” untuk membuktikan keber “ada” annya sehingga sangat tepat apabila Rene Descartes, yang merupakan tokoh aliran Rasionalisme, menyatakan bahwa “saya berpikir maka saya ada (cogito ergo sum)”
Sebagai suatu proses pendidikan, berpikir merupakan suatu prasyarat dalam pemerolehan pengetahuan. Tidak heran apabila Kahlil Gibran menyatakan “tanpa saudara kandungnya pengetahuan, akal yang merupakan instrumen berfikir manusia bagaikan si miskin yang tidak memiliki rumah, sedangkan pengetahuan tanpa akal seperti rumah yang tidak terjaga. Bahkan, cinta, keadilan, dan kebaikan akan terbatas kegunaannya jika akal yang merupakan instrumen berfikir manusia tidak hadir”. Mendidik untuk berpikir merupakan suatu paradigma pendidikan yang perlu dikembangkan dengan memposisikan peserta didik sebagai subyek pembelajaran yang aktif daripada sekedar mendudukkan mereka sebagai obyek pasif yang tinggal diisi dengan seperangkat pengetahuan yang sifatnya taken for granted. Mereka adalah negoisator yang berhak untuk melakukan konstruk berpikir sekaligus autokritik dalam menyikapi materi pembelajaran yang disajikan kepada mereka, baik mereka menerima secara langsung, menerima dengan beberapa catatan, atau bahkan menolak sama sekali. Ilustrasi sederhananya adalah mereka seperti disajikan semangkuk bakso dimana boleh jadi masing-masing individu memiliki respon yang berbeda-beda. Ada yang langsung menyantapnya sampai habis karena memang suka dengan bakso sebagai ilustrasi dari mereka yang berpikir lalu memutuskan untuk menerima materi pembelajaran secara langsung, ada yang tidak langsung menyantapnya tapi meminta beberapa bumbu tambahan terlebih dahulu seperti  jeruk nipis sebagai  ilustrasi dari mereka yang berpikir lalu memutuskan untuk menerima materi pembelajaran dengan beberapa catatan, bahkan ada yang langsung menolak karena alergi bakso misalnya sebagai ilustrasi dari mereka yang berpikir lalu memutuskan untuk menolak materi pembelajaran sama sekali. Merujuk pada pernyataan Kahlil Gibran di atas, dapat dipahami bahwa cinta, keadilan, dan kebaikan hanya akan bisa dirasakan sebagai sesuatu yang ada dalam proses pendidikan apabila mendidik untuk berpikir tersebut diwujudkan.
Implikasi praktis dari mendidik untuk berpikir akan sangat terasa bagi peserta didik setelah mereka berada di tengah-tengah kehidupan masyarakat di luar lembaga pendidikan. Mereka yang terbiasa diajarkan untuk berpikir akan memahami bahwa seperangkat pengetahuan yang diperolehnya merupakan stimulus berpikir yang dapat menghasilkan berbagai alternatif keputusan dalam penyelesaian masalah. Berbeda dengan peserta didik yang lebih banyak diajarkan untuk menerima materi pembelajaran dengan taken for granted cenderung akan banyak mengalami kesulitan karena apa yang dipelajari dalam lingkup  ruang pembelajaran yang kira-kira seluas delapan meter persegi tidak sama persis dengan apa yang dihadapi dalam kehidupan sosial yang memiliki skala bertingkat dari lokal, regional, nasional, bahkan sampai internasional. Mendidik untuk berpikir merupakan upaya untuk membangun weltanschauung peserta didik agar mereka memiliki landasan pengembangan ilmu pengetahuan dalam menghadapi situasi sosial yang berbeda-beda. Ketika fakta yang dihadapi oleh peserta didik tersebut dalam kehidupan sosial dikatakan sebagai dimensi empiris sementara kurangnya kemampuan mereka untuk mentransfomasikan analogi-analogi pengetahuan yang telah diperoleh karena disampaikan dengan taken for granted dikatakan sebagai dimensi rasional, penulis memahami bahwa mendidik untuk berpikir merupakan perpaduan dimensi empiris dan rasional karena teringat dengan pernyataan Immanuel Kant dalam filsafat kritis sintetisnya ketika mencoba mendamaikan empirisme dan rasionalisme yaitu “pengamatan tanpa konsep berpikir adalah buta sementara tanggapan tanpa penglihatan adalah hampa.
Boleh jadi, pembahasan nantinya bukan hanya berkutat pada fakta pedagogis, andragogis ataupun heutagogis bagaimana peserta didik yang semakin terdidik semakin berpikir, tapi kita sebagai pendidik akan merasakan bahwa semakin kita mendidik juga semakin "mendidik" kita untuk berpikir dalam artian terus meng-upgrade berbagai pendekatan, metode, teknik dan semacamnya agar maksimal dalam mendidik peserta didik untuk berpikir.  






6 komentar:

Berlebaran Serba Baru: Idul Fitri sebagai Momentum Pembaruan Diri

Menyambut Idul Fitri kerap dimaknai sebagai perayaan kemenangan. Kemenangan yang dimaksud bukanlah sekadar keberhasilan melewati fase Ramadh...